Keira Anindita menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik perusahaan besar demi menjaga harga diri Arsen, pria yang pernah menolongnya dan kemudian menjadi suaminya. Selama empat tahun, Keira diam-diam membantu Arsen membangun bisnis dari nol hingga menjadi perusahaan yang disegani.
Namun, kesuksesan membuat keluarga Arsen berubah. Keira yang dulu begitu disayang, kini dianggap perempuan miskin yang tidak pantas mendampingi Arsen.
Puncaknya terjadi dalam sebuah pesta ketika ibu mertuanya memperkenalkan Clarissa sebagai calon istri Arsen. Saat Keira diperlakukan bak pembantu yang melayani para tamu, Arsen hanya diam. Malam itu juga Keira pergi tanpa membawa satu pun harta keluarga Wijaya.
Tak lama kemudian, fondasi perusahaan Arsen mulai runtuh karena Keira melucuti semua dukungan.
Saat Arsen akhirnya mengetahui identitas asli istrinya, penyesalan datang terlambat. Keira telah bertemu Elvano, pria jauh lebih berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02. Keira memilih pergi
.
Keira pergi dari kediaman utama keluarga Wijaya tanpa menunggu pesta itu berakhir.
Begitu kalimat terakhir Marissa menggema di aula, dan sepatah yang ia tunggu dari Arsen sama sekali tidak terdengar wanita itu segera berbalik dan berjalan meninggalkan kerumunan. Tidak ada air mata. Tidak ada kemarahan. Bahkan tidak ada satu pun kata yang ia ucapkan kepada Arsen.
Untuk apa yang baru saja ia dengar setelah empat tahun menjadi istri pria itu, Keira merasa tidak perlu menjelaskan apa pun. Keira mengambil tas kecil yang tadi diletakkan di meja dekat pantry, lalu berjalan keluar.
Beberapa tamu tampak memperhatikannya. Sebagian berbisik, sebagian merasa iba, sebagian hanya menatap penasaran. Namun Keira tidak peduli. Malam ini, harga dirinya sudah diinjak di depan semua orang. Ia tidak akan menambah penghinaan itu dengan memohon penjelasan.
*
*
*
Sesampainya di rumah yang sudah 2 tahun ini ia tempati bersama Arsen, Keira langsung naik ke kamar. Kamar itu masih sama. Ada foto pernikahan mereka yang tergantung di dinding, dan ada pula beberapa hadiah pernikahan tersimpan di lemari, bahkan vas bunga pemberian Arsen masih berada di atas meja. Namun, malam itu semuanya terasa asing.
Keira berdiri di tengah kamar beberapa saat. Dulu, ia mengira rumah ini adalah tempatnya pulang. Ternyata selama ini ia hanya menempati sebuah rumah milik keluarga orang lain.
Keira membuka lemari dan mulai mengambil pakaian miliknya satu per satu. Ia memilih barang-barang yang memang ia bawa ketika menikah dengan Arsen. Tidak ada perhiasan pemberian keluarga Wijaya. Tidak ada tas mahal yang dibelikan Arsen. Tidak ada satu pun barang yang bisa membuat mereka menuduhnya pergi membawa harta keluarga. Ia hanya mengambil miliknya.
Keira memasukkan pakaian ke dalam koper. Sedangkan beberapa dokumen pribadi dompet dan juga ponsel dimasukkan ke dalam tas.
Tangan Keira sempat berhenti ketika melihat sebuah kotak kecil di sudut lemari. Keira mengambil dan membukanya. Ada beberapa foto lama dalam kotak itu. Salah satunya adalah ketika dirinya dan Arsen empat tahun lalu belum memiliki apa-apa. Namun di sampingnya, Arsen tersenyum begitu lebar.
Keira ikut tersenyum melihat foto itu. Teringat janji yang pernah mereka ucapkan bersama, bahwa Keira akan selalu berada di samping Arsen. Untuk tidak meninggalkan Arsen saat pria itu masih belum memiliki apa-apa. Dan dia sudah menepati janji itu. Ia pernah berjanji akan membantunya mencapai impian. Ia juga sudah melakukannya.
“Tapi aku tidak pernah berjanji akan bertahan jika kamu sendiri memilih diam saat aku dipermalukan,” ucapnya pelan sambil mengembalikan foto itu ke tempatnya lalu menutup koper.
Keira berdiri di tengah ruangan dan memandang kamar tersebut untuk terakhir kalinya.
“Selamat tinggal,” gumamnya pelan sambil mengusap permukaan meja rias yang selama ini menjadi bagian dari kesehariannya. Wanita itu sama sekali tidak menangis, juga tidak menyesal, hanya saja ia sudah memutuskan. Mulai saat ini, ia hanya akan hidup untuk dirinya sendiri.
Keira kemudian turun ke lantai bawah. Rumah sedang sepi. Para pelayan masih berada di rumah utama karena pesta keluarga belum selesai. Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa Keira sudah bersiap meninggalkan rumah.
Keira berjalan menuju ruang keluarga. Di sana terdapat sebuah meja kecil tempat Arsen biasa meletakkan kunci mobil dan dompetnya. Keira menatap cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya selama empat tahun. Perlahan Keira melepaskan cincin itu hingga terlihat bekas tipis di kulit jarinya.
Selama empat tahun, cincin itu menjadi tanda bahwa ia adalah istri Arsen Wijaya. Tapi malam ini tanda itu sudah berakhir. Keira meletakkan cincin tersebut di atas meja.
Setelah itu, ia mengambil selembar kertas dan menulis beberapa kalimat yang ingin ia sampaikan untuk terakhir kalinya.
“Arsen,
Aku pergi karena aku sudah memahami posisiku di rumah ini. Terima kasih untuk empat tahun yang pernah kita jalani bersama. Aku tidak membawa apa pun selain barang-barang yang memang menjadi milikku. Mulai malam ini, jangan cari aku. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu.”
Keira melipat kertas itu dan meletakkannya di samping cincin. Ia menatap kedua benda tersebut sekali lagi lalu berbalik. Suara sol sepatunya yang berbenturan dengan lantai marmer terdengar begitu nyaring di antara suasana yang begitu sunyi.
Keira membuka pintu rumah dan dinginnya udara malam langsung menerpa wajahnya. Wanita itu menarik nafas dalam-dalam merasakan sesuatu yang aneh. Dadanya memang terasa berat, tetapi langkahnya justru terasa jauh lebih ringan.
Selama ini ia selalu takut kehilangan Arsen. Ternyata yang paling menakutkan bukan kehilangan seorang suami. Melainkan kehilangan diri sendiri demi mempertahankan seseorang yang sudah tidak menghargai kita.
Taksi online yang tadi mengantar dirinya pulang ke rumah masih menunggu di depan gerbang. Sopir membantu Keira untuk memasukkan koper ke bagasi lalu berlari kecil masuk kembali ke kursi kemudi. Perlahan, mobil itu melaju membelah malam setelah Keira menyebutkan satu alamat.
Keira hanya diam sepanjang perjalanan. Empat tahun hidup bersama dengan arsen, ada begitu banyak kenangan di dalamnya. Ada hari ketika mereka makan malam hanya dengan lauk sederhana. Ada malam ketika Arsen pulang membawa kabar bahwa usahanya mendapatkan kontrak baru. Ada saat ketika pria itu memeluknya sambil berkata bahwa suatu hari nanti ia akan membuat Keira hidup bahagia.
Keira tersenyum tipis. Janji itu ternyata sudah lama kehilangan makna.
Wanita itu sedikit terjingkat ketika ponselnya yang berada di dalam tas bergetar. Bergegas ia mengambilnya dan melihat ada nama Arsen muncul di layar. Keira hanya menatapnya tanpa ada keinginan untuk menerima panggilan itu.
Dering ponsel berhenti sendiri karena lama tidak diangkat, lalu sedetik kemudian berbunyi lagi, lagi, lagi. Dan Keira tidak memiliki keinginan untuk mengangkatnya. Bahkan ketika menyadari sopir yang duduk di depan meliriknya melalui kaca spion karena mungkin menganggap dering itu terlalu berisik, Keira tetap diam. Wanita itu merasa tidak ada lagi yang perlu untuk dibicarakan.
Tiba-tiba Keira teringat untuk menghubungi seseorang. Ia kembali membuka ponselnya dan mencari kontak orang itu. Daren Antasena, orang kepercayaannya.
“Yes, Bos?” Suara berat seorang pria terdengar begitu panggilan tersambung.
“Lakukan sesuatu!” perintah Keira.
Daren terdiam sesaat. “Apakah ini tentang perusahaan Arsen?”
“Benar. Mulai besok pagi, hentikan seluruh fasilitas yang selama ini kita berikan kepada Wijaya Group.”
“Termasuk jalur pendanaan?” Suara Daren berubah serius.
Keira memejamkan mata selama beberapa detik sebelum menjawab tegas. “Semuanya!”
Selama empat tahun, ia tidak pernah meminta Arsen meminta Arsen membalas Budi padanya. Ketika perusahaan itu hampir bangkrut, Keira yang mengatur investor di belakang layar. Ketika bank menolak memberikan pinjaman, Keira yang menggunakan perusahaan miliknya untuk menjadi penjamin. Bahkan beberapa kontrak besar yang membuat nama Wijaya Group naik sebenarnya datang melalui jaringan bisnis miliknya.
Arsen tidak pernah tahu. Pria itu mengira keberhasilan perusahaannya sepenuhnya hasil kerja kerasnya.
Biasanya Keira tidak pernah mempermasalahkannya. Karena saat itu, melihat suaminya bahagia sudah cukup baginya. Tetapi malam ini berbeda. Mereka sendiri yang dengan pongah telah membuang dirinya.
“Aku mau mereka memuntahkan kembali apa yang telah mereka telan!” perintah final dari Keira.
Daren segera memahami maksudnya. “Baik, Bos!”
pegangin nyawa ny pak darma yg udh muak tinggal di raga ny sendiri ,,
selama ini anda begitu sombong ,, menyepelekan keira ,,
skarang kenyataan siapa keiraa ,,
jantungan kn andaa ,,
🤭🤭😁😁😁
ga nyangka kn kl wnita yg jd babu d rmh klian,bhkn d usir krna wnita lain trnyta holang kaya????
mkanya,jgn songong jd orng.....😛😛😛
up lagi thor 🤭🙏