Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Menabung yang Banyak
Mireya membeku. Pertanyaan itu menghantam pada sesuatu yang selama ini ia simpan.
Tangannya yang semula mencengkeram kerah piyama Arven perlahan terlepas. Tatapannya dialihkan melirik ke sisi lain.
Arven memperhatikan perubahan itu dengan jelas. Pikiran Mireya bagai melayang pada sesuatu yang berat, tetapi tak sanggup ia ceritakan. Entah kenapa Mireya terlihat ketakutan. Ketakutan yang bahkan tidak bisa disembunyikan oleh Mireya.
“Mireya," ucap Arven dengan suara rendah.
Mireya menelan ludah. “A-aku…” Kata itu berhenti di ujung lidah.
Ia hampir saja mengatakan alasan di baliknya. Namun, bayangan akan dilempar dari rumah ini langsung menghantuinya. Mungkin saja Arven akan merasa ditipu atau alasan apa pun. Bagaimana pun juga, saat itu Mireya tak memiliki pilihan selain bertahan hidup.
“Aku takut.”
Arven mengerutkan kening. “Takut kepadaku?”
Mireya mengigit bibirnya.. “A-aku ...”
“Katakan saja! Kenala berputar-putar?”
Mireya menundukan wajahnya, memejamkan mata mengingat semua kejadian yang begitu cepat. Namun akhirnya, perasaan itu ruruh menjadi air mata yang jatuh tanpa sempat ditahannya.
“Aku takut suatu hari nanti jika kamu mengetahuinya, mungkin saja Mas akan ...” ia hanya sanggup melanjutkan di dalam hati. 'Membenciku.'
Arven terdiam. Tangannya yang tadi mengepal perlahan mengendur. “Kenapa?”
Mireya tak tahu lagi harus menjawab apa,
Arven memperhatikan wajahnya.
Semakin lama, semakin jelas bahwa perempuan itu sedang menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar yang perlahan membuat Arven semakin penasaran.
“Mungkin kamu memiliki sesuatu yang belum kamu ceritakan?”
Mireya membuka mata dan tatapan mereka bertemu.
Tatapan Arven membuat Mireya semakin takut. "Jadi, benar?”
"S-sebenarnya kita—"
Bibir Mireya bergetar. Namun sebelum ucapannya semakin jelas, suara kecil terdengar dari tengah ranjang.
“Ibu…”
Keduanya langsung menoleh. Elden masih setengah tertidur. Tangannya bergerak mencari-cari sesuatu di sampingnya.
Mireya segera mendekat. “Iya, Nak. Ibu di sini.”
Elden menggenggam tangan Mireya dan kembali tertidur.
Arven hanya diam memperhatikan.
Beberapa detik kemudian, ia mengembuskan napas panjang. “Sudah.”
Mireya menoleh.
“Kita bicarakan nanti," ucap Arven.
“Mas…”
“Malam ini sepertinya bukan waktu yang tepat.”
Mireya menjepit bibirnya..
Arven kembali ke posisinya dan berbaring. Namun sebelum memejamkan mata, ia menatap Mireya sekali lagi.
“Tapi jangan pernah berpikir aku hanya akan diam saja dengan ketidaktahuanku."
Mireya menatapnya.
“Karena aku ingin mengenalmu lebih jauh.” Arven mengalihkan pandangan kepada Elden. “Bukan hanya sebagai ibu Elden.”
Kemudian matanya kembali kepada Mireya. “Juga sebagai istriku.”
Dada Mireya terasa sesak. Ia perlahan berbaring kembali.
Elden tetap berada di antara mereka.
'Sedikit lagi. Ya sedikit lagi. Aku akan...' Mireya memejamkan mata.
Malam kembali sunyi.
Hanya terdengar napas Elden yang teratur di antara mereka. Namun, justru kesunyian itu membuat pikiran Mireya semakin kacau.
Jika saja rahasia itu terbongkar, apakah tatapan Arven terhadapnya akan tetap sama? Mungkin saja pria itu akan jijik padanya, demi uang bisa melakukan segalanya, bahkan melampaui ketentuan norma yang telah ditentukan.
Meski matanya terpejam, pikirannya tak bisa berhenti berbicara. 'Setidaknya, aku tahu harus bagaimana. Paling tidak, aku harus bertahan hingga Mas Arven tahu dan menendangku dari posisi ini. Aku sudah memiliki cukup banyak tabungan semenjak menjadi ibu tiri Elden.'
'Saat ini, lebih baik aku fokus pada Elden aaja., dan kebun yang aku buat bersama Elden. Selagi masih punya kesempatan, aku harus kumpulkan uang.'
*bersambung*
kepercayaan itu ga tumbuh dalam semalem..
dia udah pernah mencoba mempercayai seseorang dengan segenap jiwa dan raganya ,dan endingnya menyakitkan.
jadi cobalah kau bangun kepercayaan nya dulu
ambil simpatinya, dan sembuh kan lukanya
baru dia akan bisa membuka hatinya🥹
lucu amet si mereka🤣🤣
kontrak oh kontrak🤔
mending jujur daripada mantan mertua yang mengacaukan semua greget sama Mire
trauma diselingkuhi itu kyk kangker dufalam tubuh,ga keliatan tapi sakitnya nyata. merasuk Ampe kedalam aliran darah dan otak kita tanpa kita sadari
selalu mempertanyakan apakah kita cukup baik
apakah ini semua karena salah kita?
apakah ada g kurang dr kita?
sampai mati pasti kebawa🥹🥹
Mau nya lupa
maunya ga dipikirin
tapi...🫣🥹🥹
Dia takut nasib pernikahannya akan sama dgn sebelumnya
bahkan sekelas artis sebelah aj yg lagi rame
ketemu yg baru,setengah mampus nyerein istrinya 🤣🤣.
katanya yg baru dipilih karena lemah lembut.
hei...kami juga awalnya kembang desa
pas lama nikah jadi kembang api🤣🤣🤣
apalagi pengalaman mireya yg paket komplit...🥹
hatinya aja ga ada gerbang nya di KK
ga ada yg jagain🤣🤣🤣
Iddah itu berlaku pas suami ngucapin talak kan?
nah...si b4ngs4t itukan nalak nya udah lama...lebih dr 3 bulan kali
di pengadilan mah tinggal ketik pali doank
wahhhh....begini orang yg ga ngerti agama sok sok an mau pake dalili agama
tapi bener Lo
kita yg terbiasa di sajikan pisau didepan mata,tetibaan dikasih bunga
pasti bingung kan ya🫣🥹🥹