NovelToon NovelToon
Memilih Terbawa Arus

Memilih Terbawa Arus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Mengubah Takdir
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: CICAK rawa

Selama tujuh malam, dia memimpikan hal buruk tentang pria yang selama ini dicintainya. Ketika hari lamaran tiba, dia memilih membatalkan perjodohan dan menjadikan Arus, pria berandal yang dibenci warga desa, sebagai alasannya.

Namun, semakin dekat dengan Arus, semakin dia menyadari bahwa pria itu tidak seperti yang orang-orang katakan. Di balik luka dan reputasinya, tersimpan kehidupan yang tak pernah dia bayangkan.

Awalnya hanya pelarian. Tapi bagaimana jika arus yang dia ikuti justru membawanya menemukan cinta yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

"ke hotel..."

jawaban arus baru membuat Alya paham kalau ini adalah jawaban dari pertanyaannya tadi.

"jadi gak pernah Bawak pacar ke hotel."

"emang kenapa...? Kamu cemburu kalok aku pernah bawak pacar ke hotel."

blus.....

Pipi Alya memerah seketika.

"ngapain cemburu." ungkapnya sambil memalingkan wajah.

Melihat wajah memerah Alya, arus sedikit menyunggingkan senyum..

Sangat tipis, tapi ini masih di sadari oleh Alya.

"kamu tersenyum..." tanya Alya.

"enggak..." kali ini arus yang memalingkan wajah.

Walau begitu, wajahnya masih datar. Tak ada raut memerah ataupun sejenisnya, hanya wajah datar yang terlihat.

"beneran...." tanya Alya.

Alya sedikit mendekat kan tubuhnya, namun arus sama sekali tak menggubrisnya.

"masuk..." ungkap arus setelah menempelkan kartu akses ke pintu.

Alya hanya menurut, saat masuk Alya kagum dengan ruangan ini. Ia bahkan sedikit berlari ke dalam ruangan..

Lagi dan lagi arus menyunggingkan senyumnya.

"dasar bocah" gumamnya.

Arus duduk sambil membawa tas laptopnya.

Mengeluarkan benda itu tanpa memperdulikan istrinya yang asik dengan dunianya sendiri.

Saat lelah, Alya menjatuhkan dirinya di ranjang..

"kamu gak pernah nginep di hotel..." tanya arus.

mendengar ini Alya sama sekali tak tersinggung, ia hanya menggelengkan kepalanya..

"sekalipun...?" tanya arus lagi.

Walaupun mereka tinggal di desa, tapi desa mereka tak terlalu jauh dari perkotaan. Dan tak sedikit juga warga di desa itu yang pergi bermalam dengan teman ke hotel.

"enggak, aku gak di bolehin pergi sendiri sama papa. Jadi paling jauh paling ke warung sama ke gerbang desa.".

"sama temen...?".

"temenku cuma suci sama kak Lia, mereka juga sama gak pernah main ke kota. Paling suci itupun pergi kerja, jadi gak mungkin aku ikut. Lagi pula nginep di hotel kayak gini pasti mahal, dari pada uangnya untuk nginep di hotel lebih baik untuk tambah modal usaha keripik singkong" jawab Alya tenang.

"apa kamu gak pengen pergi pergi ke tempat baru...?"

Alya sedikit berguling.

"pengenlah, siapa si yang gak pengen pergi jalan jalan. Cuma aku bukan dari keluarga berada, aku juga suka panik sendiri kalok di tempat rame"

arus terdiam mendengar ini, jari jarinya yang sebelumnya masih menari di atas keyboard seketika berhenti.

Arus menoleh, melihat Alya yang terlihat ceria.

ia cukup sedih menatap istrinya, walau ekspresi Alya masih terlihat ceria. Tapi arus tau teman seumuran Alya sudah banyak yang pergi bermain dan bersenang senang dengan teman mereka, sedangkan istrinya ini hanya diam di desa seakan terkurung karena keadaan ekonomi.

"kalok gitu, biasakan dirimu. Jadi istriku kamu harus ikut aku pergi jauh" ungkap arus akhirnya.

Alya langsung terduduk dengan mata berbinar.

"beneran, apa nanti kita naik motor ngelilingi kota...?" tanya Alya.

arus kini sudah kembali menatap laptopnya.

"enggak..." jawab arus.

"kenapa....?"

"bahaya, nanti naik mobil aja".

Alya langsung mendengus kesal.

"kucing aja di bonceng masak aku enggak."gumamnya.

Arus tak memperdulikan itu, ia tetap diam dengan laptopnya.

Setelah menutup benda itu, arus menatap Alya yang sudah terlelap dalam tidurnya.

Arus berdiri menghampiri sang istri, dengan lengannya arus sedikit menggoyangkan tubuh Alya.

Sampai Alya akhirnya membuka mata.

"ada apa" tanya Alya.

"mandi..."

Alya terduduk dengan mata yang masih satu, matanya mengedar ke sekeliling.

"di mana kamar mandinya"

arus menunjuk salah satu tempat dengan pembatas kaca.

Melihat kamar mandi yang hanya di dekat oleh kaca, mata Alya langsung terbuka seutuhnya.

"gak ah, kelihatan" ungkapnya sambil memeluk diri sendiri.

"kenapa....? Kita suami istri..."

Alya semakin kencang mendekap tubuhnya.

"jangan macem macem ya kak.."

"mau mandi gak...?" tanya arus.

"kakak duluan, aku tunggu di balkon. Kalo udah selesai gantian."

Alya benar benar langsung berlari ke balkon kamar, sedangkan arus hanya menggeleng.

Alya duduk terdiam di balkon, ia mencoba merogoh saku. Namun ponselnya tertinggal di meja sebelah kasur saat ia hendak tidur tadi.

Alhasil Alya hanya bolak balik duduk dan berdiri, sesekali ia mengelus dan mencium bunga di sana.

"kok lama banget" gumamnya.

Alya menempelkan telinga di pintu, namun tak ada suara sedikitpun.

"apa belom selesai, tapi ini kan sudah setengah jam..." batinnya.

Karena sudah takut akan mati bosan, Alya akhirnya masuk namun ia berjalan mundur agar tak melihat arus yang tengah mandi.

Bug....

Alya terlonjak saat tubuhnya menabrak sesuatu, hampir saja ia terjatuh.

Beruntungnya arus cepat mendekapnya.

Alya langsung menegang, apa lagi saat matanya menatap ke arah dada bidang dan perut sixpack suaminya, seketika tubuhnya meremang dan terasa panas.

saat sadar Alya buru buru menjauh.

"kalo udah siap kenapa gak bilang" marahnya.

Ia ingin memukul, namun saat melihat otot lengan arus. Keberaniannya langsung runtuh.

Ia tau, jika arus marah bisa saja dia di lempar dari lantai 12 ini hanya dengan sekali ayunan.

"udahlah, sekarang ke luar aku mau nutup pintu. Mau mandi"

"gak keliatan" ungkap arus sambil menunjuk kamar mandi..

Alya mengikuti arah yang arus tuju, melihat dinding kaca yang sebelumnya sudah buram dan dalamnya tak terlihat sama sekali.

"kok bisa...?" bingungnya.

Arus menarik Alya ke kamar mandi, ia menunjukkan tombol di sana.

Setelah Alya mengerti, arus ke luar kamar mandi.

Aaaaa ......

mendengar teriakan Alya dari dalam kamar mandi membuat arus panik, bahkan saat Alya berlari ke luar arus langsung menghampirinya.

"kenapa...?"

"airnya tiba tiba jadi panas..." ungkap Alya.

Mendengar ini arus ingin tertawa, namun saat melihat wajah cemberut istrinya ia jadi tak tega untuk tertawa.

Akhirnya arus mengulang kembali ajarannya, ia menerangkan seperti guru killer karena nada bicaranya.

Untungnya Alya bisa mengerti dengan cepat, jadi arus tak perlu mengulang ulang apa yang ia katakan.

Setelah mandi, Alya terlihat sudah memakai hijabnya lagi. Arus bisa melihat hijab Alya sedikit basah.

"gak ngeringin rambut...?"

Alya menggeleng....

"gak bisa makeknya, Gak ada tombol."

arus berdiri, ia mengajak Alya duduk di depan cermin dan mengambil pengering itu.

"buka hijab"

Alya langsung memegang kepalanya.

"mau ngapain....? Rambut adalah mahkota untuk wanita, jadi jangan macem macem kak".

"aku suamimu, jadi gak masalah." tegas arus.

Mengingat ini, Alya tak punya pilihan lain.

Dia sendiri tak bisa menggunakan pengering itu, jadi mau tak mau arus harus membantunya, lagi pula arus sekarang adalah suaminya. Dia pun sebenarnya tak nyaman mengenakan hijab dengan rambut basah seperti ini..

Setelah rambut hitam lurus Alya terlihat, bau wangi langsung tercium di hidung arus.

"kenapa diem kak" tanya Alya.

Arus menggeleng, ia mengambil pengering itu dan langsung mengarahkannya ke rambut Alya.

"kok nyala...?" kaget Alya.

"ini makek sensor...." jawab arus.

"oh, jadi kalok di arahin ke rambut bisa hidup sendiri ya." tanya Alya yang mendapatkan anggukan dari arus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!