NovelToon NovelToon
Ketika Wanita Licik Diselingkuhi

Ketika Wanita Licik Diselingkuhi

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Pelakor / Selingkuh / Cinta Terlarang / Kaya Raya / Playboy
Popularitas:22.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ocean Na Vinli

Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.

Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.

Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...

Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

S.O.S

Jeritan itu berasal dari Norman. Darah mulai mengalir dari telapak tangan Norman.

Allison terperangah, baru sadar tindakannya barusan telah melukai salah satu anaknya. Pisau yang dipegangnya pun seketika terlepas dari tangannya.

Orang-orang di ruangan hanya bisa mematung, menyaksikan pemandangan tersebut.

Mona yang melihatnya langsung panik. Tanpa berpikir panjang, dia melangkah mendekati Norman.

"Norman, tanganmu..." Mona hampir menyentuh lengan Norman.

Namun, Norman langsung menatap Mona dengan tajam. "Jangan."

Mona lantas terdiam. Tangannya langsung berhenti di udara.

"Maaf," ucap Mona cepat. "Aku hanya refleks."

Grace yang berdiri tidak jauh dari mereka memperhatikan keduanya. Dia menahan ekspresinya agar tetap terlihat panik.

Grace kemudian segera mendekati Norman. "Berikan tanganmu."

Norman menyerahkan tangannya. Kemudian Grace mengambil kain yang ada di dekatnya lalu menekan luka di telapak tangan Norman.

"Darahnya banyak," kata Grace dengan wajah cemas.

"Aku tidak apa-apa," jawab Norman.

"Kau terluka seperti ini dan masih bilang tidak apa-apa?"

Grace menggeleng sejenak lalu mengangkat wajah dan mengedarkan pandangan di sekitar.

"Cukup!" Suara Grace terdengar lantang.

Semua orang yang masih berada di ballroom langsung menoleh.

Grace berdiri tegak sambil menatap orang-orang di sekelilingnya. "Pesta ini sudah cukup! Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan di sini."

Grace kemudian menoleh kepada Roy, orang kepercayaan keluarga Turner.

"Roy, tolong bawa Mama ke kamar."

Roy segera mengangguk. "Mari, Nyonya Allison."

"Aku tidak mau pergi!" bentak Allison. Rupanya amarah Allison belum juga mereda.

Grace mendekati Allison. "Mama, tolong. Kita selesaikan semuanya dengan kepala dingin."

Allison masih terlihat marah. Air matanya mengalir, tetapi akhirnya dia membiarkan Roy membawanya pergi.

Grace kemudian menoleh kepada Henry.

"Papa, kembalilah ke kamar. Kita selesaikan semuanya setelah keadaan tenang."

Henry hanya diam. Sementara itu, Jacob membantu Rara meninggalkan ballroom.

Grace kemudian meminta orang kepercayaan keluarga Turner untuk membantu membubarkan para tamu.

"Atas nama keluarga Turner, saya meminta maaf atas kejadian malam ini."

Grace menundukkan kepala kepada para tamu undangan.

"Saya juga berharap tidak ada satu pun dari kalian yang menyebarkan video tadi. Apa pun yang terjadi malam ini adalah masalah keluarga kami," lanjut Grace.

Para tamu mulai meninggalkan ballroom.

Grace tetap berdiri di sana sampai suasana benar-benar sepi. Wajahnya masih menunjukkan kekhawatiran. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik wajah itu, Grace justru sedang menahan rasa puas.

'Ini baru permulaan, besok akan lebih meriah lagi.' batin Grace sejenak.

Semuanya berjalan lebih cepat dari yang dia bayangkan.

Malam itu, keluarga Turner kembali ke kamar masing-masing. Namun, Norman, Grace, Allison, Henry dan Ruby berada di kamar yang sama. Jacob dan Rara di kamar lain.

Kini, Norman duduk di sofa dengan telapak tangan yang sudah dibalut. Grace duduk di sampingnya dan sesekali memperhatikan balutan tersebut.

"Masih sakit?" tanya Grace, pura-pura menunjukkan perhatian. Padahal dia sangat senang melihat Norman terluka.

Luka Norman mungkin tidak sebanding dengan rasa sakit yang selama ini Grace rasakan akibat pengkhianatan suaminya.

"Sedikit."

Grace menghela napas. "Kau seharusnya lebih berhati-hati."

Norman tersenyum tipis. "Aku tidak mungkin membiarkan Mama melukai seseorang."

Grace terdiam. Dia hanya menatap Norman beberapa saat.

Sementara itu, tak jauh dari mereka, Allison duduk di tepi ranjang dengan mata masih basah.

"Aku ingin bercerai!"

Henry yang berjalan mondar-mandir di hadapan Allison langsung menghentikan langkah, dan menatap tajam. "Apakah kau benar-benar berani menceraikanku?"

Allison mengusap air matanya dengan kasar. "Kenapa tidak?"

"Video itu bisa saja palsu," kata Henry.

Allison tertawa getir. "Palsu?"

Henry mengangguk cepat. "Video itu bisa saja diedit oleh seseorang yang ingin menghancurkan keluarga kita," katanya lalu menarik napas panjang sejenak.

"Kau lupa? Norman juga pernah menjadi korban video yang telah diedit."

Allison terdiam. Namun, beberapa detik kemudian, dia menggeleng. "Aku tidak peduli."

Henry menatap Allison.

"Aku tetap ingin bercerai," kata Allison tegas.

Henry tidak menjawab. Rahangnya hanya terlihat mengeras.

Tiba-tiba—

Tok! Tok! Tok!

Orang-orang di ruangan langsung menoleh ke daun pintu.

Pintu kamar terbuka.

Edmund masuk dengan wajah memerah. Dia baru saja mengantar Julian pulang setelah pria itu memilih meninggalkan hotel.

Edmund menutup pintu dengan sedikit keras, lalu menatap orang-orang yang berada di dalam kamar.

"Kalian ini sebenarnya sudah gila, ya?!"

Tidak ada yang menjawab.

Edmund berjalan beberapa langkah ke dalam kamar.

"Kenapa kalian bisa seperti ini?"

Henry hanya diam.

Edmund mulai mengusap wajahnya dengan kasar. "Lihat apa yang sudah kalian lakukan!"

Dia menunjuk ke arah mereka.

"Gara-gara kalian, Tuan Julian dari tadi bahkan tidak mau berbicara denganku!"

Norman mengangkat wajah. Edmund menatap Norman, tajam.

"Aku sudah susah payah membangun kerja sama dengannya!"

Tidak ada yang menyela.

"Awas saja kalau gara-gara ulah kalian dia sampai tidak mau bekerja sama denganku!" lanjut Edmund dengan napas memburu.

Ruangan kembali sunyi. Allison hanya menunduk. Henry mengatupkan rahangnya. Norman juga tidak mengatakan apa-apa. Ruby memilih terlihat syok dengan hubungan kedua orang tuanya.

Hanya Grace yang sejak tadi memperhatikan Edmund dengan seksama. Sejak awal, Grace memang sudah merasa ada alasan tertentu di balik sikap Edmund yang tiba-tiba begitu baik kepadanya. Namun, dia belum benar-benar yakin.

Kini, melihat Edmund begitu panik hanya karena Tuan Julian marah, dugaan Grace ternyata benar. Edmund memang takut kehilangan kerja sama dengan Julian.

Pandangan Edmund seketika terhenti pada Grace, baru sadar ada Grace di ruangan. "Benar-benar keluarga yang membuat masalah."

Edmund kemudian berbalik dan keluar dari kamar.

Pintu tertutup.

Untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun yang berbicara.

Sampai akhirnya, mereka terpaksa kembali ke kamar masing-masing, berharap besok tidak ada keributan lagi.

***

Keesokan paginya, harapan mereka langsung pupus. Suasana hotel kembali kacau. Mereka kemudian berkumpul di sebuah ruangan khusus, kecuali Allison yang masih tak mau menatap wajah Henry.

Ponsel beberapa anggota keluarga terus berbunyi. Awalnya mereka mengira hanya pesan biasa.

Namun, ketika Norman membuka salah satu pesan yang masuk, wajahnya langsung berubah.

Sebuah video dari pesta semalam muncul di layar ponselnya.

Norman membuka video tersebut. Matanya langsung menyipit. Video itu sudah tersebar di internet.

Bukan hanya satu orang yang melihat.

Komentar demi komentar mulai bermunculan. Nama keluarga Turner menjadi bahan pembicaraan.

Henry yang melihat layar ponsel Norman langsung mengambilnya. "Ini sudah tersebar?"

Norman mengangguk.

Henry mengembalikan ponsel itu.

"Norman, cari tahu siapa yang melakukan ini."

Norman menatap ayahnya. "Jangan-jangan orang yang sama yang pernah menjebakku."

Norman menyampaikan dugaannya.

Henry mulai mengepalkan tangan sekarang.

"Kalau memang orang yang sama, kita harus menemukannya."

Norman terdiam sejenak. "Aku akan meminta Kevin datang."

Namun, beberapa saat kemudian, Norman melihat Grace yang masih berada di hotel.

"Grace, kau pulang saja."

Grace mengerutkan kening. "Kenapa?"

"Aku tidak ingin kau ikut terseret dalam masalah ini."

Grace menatap Norman. "Justru karena aku keluargamu, aku ingin tahu apa yang terjadi."

Norman menggeleng. "Grace."

Nada suaranya lebih tegas sekarang. "Pulanglah, Grace."

Tapi Grace bukanlah wanita yang penurut seperti dulu. Tatapannya berubah tajam sekarang. "Kenapa kau mengusirku? Apa ada yang kau sembunyikan dariku?"

Mendapat balasan itu, Norman tergugu. "Astaga, tentu saja tidak, baiklah kau di sini."

Pada akhirnya Grace masih di hotel bersama keluarga Turner.

Beberapa waktu kemudian, Kevin datang.

Lelaki itu membawa laptop miliknya dan langsung duduk tanpa banyak bicara.

Norman dan Grace duduk berhadapan dengan Kevin.

"Bisa kau cari tahu siapa yang menyebarkan video ini?" tanya Norman.

Kevin menatap layar laptop. "Berikan."

Norman menyerahkan ponselnya.

Kevin melihat video tersebut beberapa saat sebelum mulai bekerja. Jarinya bergerak cepat di atas papan ketik.

Tidak ada banyak kata, tidak ada ekspresi berlebihan. Hanya tatapan dingin yang terus tertuju pada layar.

Henry berdiri tidak jauh darinya. "Berapa lama?"

Kevin tidak menoleh. "Entahlah."

Jawaban singkat itu membuat Henry menghela napas.

Beberapa jam berlalu.

Suasana mulai sedikit lebih tenang.

Namun, nama keluarga Turner masih terus muncul di berbagai pemberitaan dan media sosial.

Norman kembali menghampiri Kevin. "Bagaimana?"

Kevin menghentikan gerakan jarinya. Dia menatap layar beberapa detik, kemudian laptop itu ditutup.

Semua orang yang berada di ruangan langsung menoleh kepadanya. Berbeda dengan Grace, dari tadi berusaha menyembunyikan kepanikannya.

Henry maju selangkah. "Jadi?"

Kevin terdiam sebentar, kemudian melirik ke arah Grace sekilas lalu berkata, "Sepertinya aku tahu siapa yang mengirim video itu."

1
Susan Paulina
Mantap Thor, di tunggu Up selanjutnya 😘
Susan Paulina
Lanjut lagi Thor, saya suka sekali ceritanya, gk berbelit belit 👍
Lovita BM
Grace kakean omong, sudah berkali-kali disakitin, lsg jambak rambutnya seret keluar, itu baru perempuan Badas sbg istri sah 😏
yula
💪💪💪💪💪thor
mery harwati
Perusahaan sebesar Siera Sunwork tidak punya nama tamu yang mengundangnya 🫣 Aneh klo relasi bisnis tidak mencantumkan nama perusahaan & nama orang yang akan menghadiri rapat kan? Disabotase, alasan klise itu
Bodyguard pun tak ada bwt Grace ☹️
mery harwati
Grace, aq kasih vote ya bwt kamu biar kamu semakin waspada dengan segala kelicikan keluarga Turner meski mereka taringnya sudah patah💪
Hati² sama Norman ya Grace
mery harwati
Gimana anak keturunan Edmund mau bener kelakuannya, klo biangnya aja udah berotak kotor 🤣
yula
💪💪💪💪💪thor lanjut
yula
💪💪💪💪💪thor
mery harwati
Tragis nasib Johan 😔
Mungkin Julian menjadi tau arti kesetiaan setelah kematian Johan anak tunggalnya
Bagaimana nasib Omar yang menembak Johan? Matikah atw dipenjara?
yula
💪💪💪💪💪thor
Nurhartiningsih
suka deh sama tokoh wanita yg ngga cengeng
Lovita BM
👏🏼👏🏼😲
Lovita BM
nah moment ini yg aq tunggu 😁
Lovita BM
WOWW plot twist nih 👍
mery harwati
Jacob, Hendry, Edmund masih tetep menyalahakan Grace & ingin Grace celaka🙈
Dew666
Siapa yg bantu Grace ? Kevin kah?
Oma Gavin
norman kah atau justru mona
mery harwati
Waahh tak tau klo Grace dalam perlindungan Julian Sinclair meski Grace sendiri tak menyadari perlindungan tersebut 🤭
Belum lagi pasukan bayangan Kevin Cloud & Mia dan jangan lupakan Carmen meski berkhianat pada Grace tapi Carmen berniat menebus kesalahannya dengan membantu Grace menghadapi Norman meski tak harus tampil di depan Grace
Susan Paulina
Di tunggu Up selanjutnya Thor 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!