Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DELAPAN
## Bab 8: Kunjungan ke Rumah Ibu Mertua
Setiap dua bulan sekali, kami menyempatkan diri berkunjung ke rumah orang tua Bayu di pinggiran kota, sekitar satu setengah jam perjalanan dari rumah kami. Ibu mertuaku, Bu Sri, seorang wanita paruh baya yang ramah namun cukup cerewet soal urusan rumah tangga anak-anaknya, selalu menyambut kedatangan kami dengan hangat, lengkap dengan meja makan yang dipenuhi masakan rumahan kesukaan Bayu.
"Ayu, kamu makin cantik aja," sapa Bu Sri begitu kami sampai, memelukku sebentar sebelum mempersilakan kami masuk.
"Ibu bisa aja," aku tersenyum, menyerahkan bingkisan buah dan kue yang sudah kubawa dari kota.
Rumah itu selalu terasa hangat setiap kali kami berkunjung—penuh cerita masa kecil Bayu yang sering diceritakan ulang oleh Bu Sri, foto-foto keluarga yang terpajang rapi di ruang tamu, dan aroma masakan yang selalu berhasil membuat perutku keroncongan meski baru saja makan siang di perjalanan.
"Bayu, ayo bantu Bapak di belakang, katanya keran air lagi bocor," panggil Bu Sri, mengarahkan Bayu ke halaman belakang di mana bapak mertuaku sedang berkutat dengan peralatan tukang.
Bayu beranjak, meninggalkanku berdua bersama Bu Sri di ruang tamu. Aku duduk santai, membantu Bu Sri menyiapkan minuman untuk kami semua, sambil mengobrol ringan seperti biasa.
"Ayu, kapan nih kasih Ibu cucu? Udah empat tahun loh, Ibu udah nggak sabar," kata Bu Sri, pertanyaan yang sudah sering kudengar setiap kali berkunjung ke sini.
"Doain aja ya, Bu. Lagi usaha," jawabku sambil tersenyum, sudah cukup terbiasa dengan pertanyaan semacam ini hingga tidak lagi merasa canggung menjawabnya.
"Iya, Ibu doain terus kok. Soalnya Ibu pengen banget gendong cucu sebelum terlalu tua," Bu Sri tertawa kecil, lalu melanjutkan menyusun kue-kue di atas piring.
---
Di tengah obrolan itu, ponsel Bu Sri berbunyi. Ia mengangkatnya sebentar, berbicara dalam bahasa daerah yang tidak terlalu kupahami, sebelum akhirnya menutup telepon dengan raut wajah yang sedikit berubah.
"Siapa, Bu?" tanyaku, sekadar basa-basi.
"Oh, temen arisan Ibu," jawabnya cepat, meski ada jeda kecil sebelum jawaban itu keluar—jeda yang, kalau saja aku lebih peka, mungkin sudah bisa membuatku curiga.
Tidak lama kemudian, Bu Sri melanjutkan obrolan yang sempat terputus, kali ini beralih ke topik keponakan-keponakannya yang baru saja lulus sekolah, tanpa memberi kesempatan bagiku untuk bertanya lebih lanjut soal telepon tadi. Aku pun tidak terlalu memikirkannya, menganggapnya hanya urusan pribadi ibu mertuaku yang tidak perlu kucampuri.
Sebenarnya, telepon itu berasal dari salah satu saudara jauh Bu Sri yang tinggal tidak jauh dari kontrakan Wulan—seseorang yang beberapa kali secara tidak sengaja melihat Bayu keluar masuk kontrakan itu, dan mulai penasaran dengan hubungan sebenarnya antara Bayu dan perempuan yang tinggal di sana bersama seorang anak kecil. Bu Sri, yang entah bagaimana caranya sudah mencium sedikit kejanggalan dari cerita-cerita saudaranya itu, memilih untuk tidak langsung percaya, menganggapnya hanya gosip yang tidak berdasar—meski jauh di dalam hatinya, ada secercah kekhawatiran kecil yang mulai tumbuh, kekhawatiran yang belum ia utarakan pada siapa pun, termasuk pada anaknya sendiri.
---
Menjelang sore, kami makan bersama di meja makan besar keluarga—aku, Bayu, Bu Sri, dan Pak Hendra, bapak mertuaku. Suasana makan berlangsung hangat seperti biasa, diselingi obrolan ringan dan candaan khas keluarga.
"Bay, kudengar proyek kamu lagi banyak ya akhir-akhir ini. Sering ke luar kota terus," kata Pak Hendra, membuka obrolan sambil menyendok nasi.
"Iya, Pak. Lumayan padat belakangan," jawab Bayu, singkat.
"Ya bagus lah kalau kerjaan lancar. Tapi jangan lupa juga sama keluarga, jangan sampe kecapean," sahut Pak Hendra, memberi nasihat khas orang tua pada umumnya.
"Siap, Pak," Bayu mengangguk, sesekali melirikku dengan senyum kecil, seolah ingin memastikan aku tidak menaruh curiga apa pun dari percakapan itu.
Aku sendiri tidak menaruh curiga sedikit pun. Obrolan itu terdengar begitu normal, begitu wajar untuk sebuah keluarga yang membicarakan pekerjaan salah satu anggotanya. Aku bahkan sempat menambahkan komentar sendiri, membanggakan kerja keras Bayu di depan orang tuanya, tanpa tahu bahwa sebagian dari kerja keras yang kubanggakan itu sebenarnya adalah alasan yang digunakan untuk menutupi kunjungan-kunjungan rutinnya ke tempat lain.
Setelah makan, Bu Sri sempat menarikku ke dapur, membantu mencuci piring bersama sambil melanjutkan obrolan yang lebih personal.
"Ayu," katanya, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Kamu sama Bayu baik-baik aja kan?"
Pertanyaan itu sedikit mengejutkanku, mengingat biasanya Bu Sri tidak pernah menanyakan hal semacam itu secara langsung. "Baik-baik aja kok, Bu. Kenapa emangnya?"
"Nggak, cuma nanya aja. Kadang firasat Ibu suka aneh-aneh," jawabnya, mencoba tersenyum meski matanya tidak sepenuhnya meyakinkan.
"Ibu tenang aja, kami baik-baik aja kok," jawabku, meyakinkan Bu Sri sekaligus meyakinkan diriku sendiri, meski sebenarnya pertanyaan itu meninggalkan sedikit rasa aneh yang tidak bisa kujelaskan.
Bu Sri mengangguk, memilih untuk tidak melanjutkan topik itu lebih jauh, meski jauh di dalam hatinya, kekhawatiran kecil yang sempat muncul dari telepon tadi belum sepenuhnya hilang.
---
Perjalanan pulang ke rumah berlangsung tenang, seperti biasa. Bayu menyetir sambil sesekali mengobrol ringan denganku tentang kunjungan hari itu, tentang rencana bapaknya yang katanya ingin merenovasi bagian belakang rumah, tentang keponakan-keponakan yang semakin besar.
"Tadi Ibu nanya aneh-aneh ya ke kamu di dapur?" tanya Bayu tiba-tiba, di tengah perjalanan.
Aku sedikit terkejut ia tahu soal itu. "Iya, cuma nanya kita baik-baik aja apa nggak. Kenapa, Mas?"
"Nggak apa-apa, Ibu emang suka gitu, khawatiran," jawab Bayu, mencoba terdengar santai, meski tangannya yang menggenggam kemudi terlihat sedikit lebih erat dari biasanya.
"Iya, aku juga bilang kita baik-baik aja kok," jawabku, tersenyum, tidak menyadari bahwa jawaban sederhana itu justru membuat Bayu merasa sedikit lebih lega, sekaligus semakin menyadari betapa rapuhnya kebohongan yang sedang ia jaga—sebuah kebohongan yang, ternyata, mulai tercium samar-samar bahkan oleh orang-orang di sekitarnya, meski belum ada satu pun yang berani atau cukup yakin untuk mengungkapkannya secara terbuka.
Malam itu, aku pulang dengan perasaan hangat seperti biasa setelah berkunjung ke rumah mertua, tanpa menyadari bahwa di balik kehangatan itu, benih-benih kecurigaan sudah mulai tumbuh di berbagai sudut—dari tetangga Wulan, dari saudara jauh Bu Sri, bahkan dari firasat kecil ibu mertuaku sendiri—hanya menunggu waktu yang tepat untuk semuanya bertemu dan akhirnya membuka mataku yang selama ini terlalu percaya untuk mempertanyakan apa pun.
---
*Bersambung ke Bab 9*