Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.
Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.
Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 27
****
Waktu berputar tanpa kompromi, mengikis hari-hari yang penuh dengan keheningan mencekam di Mansion Elard. Lima bulan berlalu sejak prahara malam pengumuman pers itu. Kini, usia kandungan Alana telah menginjak minggu ke-20—sebuah titik krusial di mana organ tubuh sang calon bayi terbentuk sempurna dan jenis kelaminnya dapat teridentifikasi secara jelas melalui teknologi medis modern.
Di dalam ruang pemeriksaan VIP Rumah Sakit Utama Elard, udara terasa begitu dingin dan steril. Bau cairan antiseptik beradu kental dengan ketegangan psikologis yang membumbung tinggi.
Alana berbaring pasrah di atas ranjang periksa berlapis seprai putih bersih. Gaun khusus pasien berwarna biru muda membungkus tubuhnya yang mulai menunjukkan tonjolan perut membuncit halus—sebuah bentuk kehidupan yang tumbuh di dalam rahimnya. Namun, raut wajah Alana tidak memancarkan binar seorang ibu. Pipi porselennya masih tirus, dan sepasang matanya menatap datar ke arah langit-langit ruangan tanpa riak emosi.
Di samping kanan ranjang, Kenzo berdiri tegap. Pria itu mengenakan kemeja abu-abu gelap dengan lengan tergulung kaku hingga siku. Jemari tangannya yang hangat meremas lembut jemari Alana yang dingin, berusaha menyalurkan rasa aman yang tak pernah dibalas oleh sang istri.
Sementara itu, di sudut ruangan, Kakek Hendra duduk di atas kursi roda khusus yang didorong oleh pengawal pribadinya. Pria tua itu menggenggam tongkat kayu berujung perak dengan amat erat. Wajahnya yang keriput dipenuhi keangkuhan, matanya yang tajam menatap lurus ke arah monitor USG 4D berukuran besar yang berdiri di samping meja dokter.
Dr. Rian, dokter spesialis kandungan senior kepercayaan keluarga, meratakan gel transparan yang dingin di atas permukaan perut Alana. Transduser USG mulai digerakkan perlahan di atas kulit halus tersebut.
Wush... wush... wush...
Suara detak jantung janin bergema nyaring di dalam ruangan, berdetak cepat dan konstan bagaikan ritme kehidupan yang murni. Gambar hitam-putih bermata tiga dimensi seketika muncul di layar monitor, memperlihatkan siluet kecil calon bayi yang sedang menggerakkan jemari tangannya yang mungil.
Kenzo menatap layar itu dengan mata berkaca-kaca. Dada pria tegap itu bergemuruh oleh rasa haru yang teramat dalam. "Alana... lihat," bisik Kenzo parau, suaranya bergetar lembut tepat di samping telinga istrinya. "Anak kita... dia bergerak, Alana..."
Alana melirik tipis ke arah layar monitor. Tidak ada air mata, tidak ada senyuman. Ia hanya menatap bentuk mungil di layar itu secara datar, seolah sedang mengamati objek eksperimen yang terpisah dari jiwanya.
"Bagaimana, Dokter Rian?" potong Kakek Hendra dengan nada suara yang berat, serak, dan penuh tuntutan yang menekan. "Garis kromosomnya sudah terlihat jelas? Pastikan kamu menelitinya dengan benar! Elard Corp membutuhkan pengumuman kepastian calon penerus laki-laki hari ini juga!"
Dr. Rian menelan ludah secara kasar. Keringat dingin nampak bertumpuk di pelipis sang dokter senior. Dengan cermat dan penuh kehati-hatian, ia memutar sudut transduser USG untuk memandunya ke area pelvis sang janin.
Ruangan itu mendadak hening seketika. Hanya suara detak jantung janin yang terus berpacu di udara.
Dr. Rian berdeham pelan, membetulkan letak kacamata minusnya sebelum menoleh ke arah Kakek Hendra dan Kenzo dengan raut wajah serba salah.
"Selamat, Tuan Kenzo, Nyonya Alana..." ujar Dr. Rian dengan nada suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar hangat. "Perkembangan janin sangat sempurna. Seluruh organ vital, pembuluh darah, dan otaknya berkembang tanpa cacat. Dan untuk jenis kelaminnya... dapat kita konfirmasi secara jelas dari sudut gambar ini... bayi Anda berjenis kelamin perempuan."
Brak!
Suara hantaman keras tongkat perak Kakek Hendra menghantam lantai marmer ruangan, menggetarkan keheningan yang semula steril.
"Apa kamu bilang?!" bentak Kakek Hendra dengan suara melengking murka, matanya membelalak lebar memancarkan kegelapan yang mengerikan. "Perempuan?! Kamu tidak salah melihat gambar absurd itu, Dokter?!"
Dr. Rian tersentak kaku, melangkah mundur satu tingkat. "M-mohon maaf, Tuan Besar Hendra... Dari struktur anatomisnya, tidak tampak adanya organ laki-laki. Sudah pasti seratus persen bayi ini adalah perempuan—"
"Tutup mulutmu!" amuk Kakek Hendra dengan napas memburu hebat, wajah tuanya merah padam oleh rasa kecewa dan amarah yang meledak. Pria tua itu menunjuk layar monitor dengan jarinya yang bergetar kasar. "Anak perempuan tidak bisa menjadi penerus tahta Elard Corp! Anak perempuan hanya akan menjadi celah kelemahan bagi para pesaing bisnis kita untuk menjatuhkan harga saham!"
Kenzo seketika berbalik tegap, membentengi ranjang Alana dengan tubuh kokohnya. Matanya menyipit tajam menghujam Kakek Hendra. "Kakek! Jaga batasan ucapan Kakek di depan anak dan istri saya!"
"Aku tidak peduli!" raung Kakek Hendra tanpa belas kasihan. Pria tua itu memajukan kursi rodanya, menatap Alana yang terbaring kaku di atas ranjang dengan pandangan jijik dan menuntut. "Dengar baik-baik, Alana! Rahimmu ternyata tidak berguna untuk memberikan pewaris murni bagi keluarga ini! Begitu kamu melahirkan anak perempuan ini nanti, kamu tidak boleh berlama-lama bersantai! Kamu harus segera bersiap menjalani terapi kesuburan lagi untuk memberikan cucu laki-laki sampai kewajibanmu tuntas!"
Tuntutan kejam yang merendahkan harkat wanita itu berhamburan di udara.
Namun, di tengah kemurkaan Kakek Hendra yang menggelegar di ruang periksa, Alana justru tetap bersikap amat tenang. Tidak ada jeritan histeris, tidak ada tangisan panik, dan tidak ada raut terluka di wajahnya.
Dengan gerakan yang amat perlahan dan anggun, Alana bangkit duduk di tepi ranjang periksa. Jemari tangannya yang dingin merapikan lipatan gaun mewahnya, lalu mengusap permukaan perutnya yang membuncit halus secara perlahan.
Sebuah senyuman tipis yang amat kaku, formalistis, dan dingin terukir simetris di bibirnya.
"Kakek tidak perlu repot-repot merancang terapi selanjutnya," ujar Alana dengan nada suara yang sangat jernih, datar, dan tanpa intonasi emosi sedikit pun.
Kakek Hendra dan Kenzo seketika terpaku, menoleh menatap Alana.
"Anak perempuan atau laki-laki... janin di dalam rahim saya ini adalah bukti otentik penuntasan poin utama dalam perjanjian kontrak kita," lanjut Alana tenang, matanya menatap Kakek Hendra lurus tanpa berkedip. "Tugas saya murni melahirkan anak ini ke dunia. Begitu hari persalinan itu tiba dan bayi ini keluar dari tubuh saya... maka masa kontrak saya bersama Keluarga Elard resmi dinyatakan selesai. Saya akan pergi, dan tidak akan pernah kembali lagi."
Deg.
Kata 'resmi dinyatakan selesai' dan 'akan pergi selamanya' terucap begitu jernih.
Kenzo membeku di tempatnya berdiri. Dadanya terasa bagaikan dihantam pukulan besar yang meremukkan seluruh tulang rusuknya. Pria tegap itu menatap istrinya dengan mata yang memerah dan berkaca-kaca, diliputi oleh keputusasaan yang tak bertepi.
"Alana... tidak... jangan bicara seperti itu..." bisik Kenzo parau, suaranya pecah oleh rasa sakit yang membakar batinnya.
Kakek Hendra menyipitkan matanya, rahangnya mengeras kaku oleh pembangkangan dingin Alana yang tak tersentuh. "Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja setelah memberikan anak perempuan, Alana?!"
"CUKUP, KAKEK!"
Kenzo berteriak dahsyat memecah ruangan, melangkah tegap menghampiri Kakek Hendra dengan aura pembangkangan mutlak yang belum pernah terlihat sebelumnya.
"Saya tidak peduli apakah anak saya laki-laki atau perempuan!" tegas Kenzo dengan suara bariton yang bergetar oleh amarah dan tangis yang tertahan. "Dia adalah putri saya! Dia adalah anak kandung saya! Dan jika Kakek atau keluarga ini terus memperlakukan Alana dan anak saya sebagai komoditas bisnis... demi Tuhan, saya akan melepaskan seluruh jabatan CEO, menyerahkan semua saham saya, dan keluar dari dinasti Elard detik ini juga!"
Pernyataan pembangkangan total dari Kenzo membungkam Kakek Hendra seketika. Pria tua itu membelalak kaku, tak menyangka cucu kebanggaannya benar-benar rela membuang takhta kejayaan demi seorang wanita yang hatinya telah menjadi es.
"Bawa Kakek keluar dari sini!" perintah Kenzo tajam pada pengawal pribadi.
Dengan napas memburu dan rasa malu yang tertahan, Kakek Hendra akhirnya didorong keluar dari ruang pemeriksaan dalam keheningan yang mencekam.
Malam pun merayap turun memeluk kediaman megah Mansion Elard.
Hujan gerimis membilas kaca jendela kamar utama, membiaskan bayangan lampu-lampu taman yang redup. Di dalam kamar yang luas itu, keheningan kembali terasa amat tebal dan menyiksa.
Alana terbaring miring di atas tempat tidur king-size. Lampu utama kamar telah dimatikan, menyisakan pendar keemasan yang tipis dari lampu tidur di meja nakas. Ia membungkus tubuhnya dengan selimut tebal, mengusap perutnya yang membuncit halus dalam kegelapan yang sepi.
Suasana mansion terasa begitu hampa.
Semenjak insiden pertengkaran hebat di ruang dokter rumah sakit siang tadi, Kenzo belum juga kembali ke mansion. Pria itu pergi menghilang usai mengurus kepulangan Alana, meninggalkan para pengawal dan pelayan yang berjaga kaku di luar pintu kamar.
Alana menatap ruang kosong di samping tempat tidurnya—tempat di mana Kenzo biasanya berlutut, memohon pengampunan, atau mencoba memeluk raganya dengan keputusasaan.
Malam semakin larut, jarum jam dinding berdetik menunjukkan pukul dua dini hari. Namun, sosok pria tegap itu tetap belum menampakkan bayangannya.
Alana memejamkan matanya perlahan di dalam kegelapan malam yang dingin. Di balik benteng mati rasa yang melapisi jiwanya, sebuah kepasrahan ganjil merayap di dadanya—meratapi nasibnya yang kini menghitung hari menuju persalinan, di dalam rumah megah yang tak pernah menjadi miliknya, dan di samping pria yang pelukannya kini menghilang di telan malam.
Bersambung...
thor sklian dong bikin cerita nya Kalila x lucas 🤭😂
aku sih berharap baby nya berubah jadi cowo🤣🤣🤣