Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.
Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.
Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.
Itulah kesalahan fatal mereka.
Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.
Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.
Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.
Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?
Berhasilkah mereka keluar??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 10 : Terjebak Di Dunia Lain
Mereka berjalan kembali ke robekan tanah tipis tempat mereka masuk tadi. Robekan itu masih terbuka, masih terlihat cahaya oranye sore dari luar, dan terlihat tangan bapak di luar yang masih menahan bibir robekan biar gak nutup.
Bima menarik tali di pinggangnya 3 kali. Kode mau keluar.
Bapak di luar mengerti, menarik tali pelan, membuka robekan lebih lebar.
Arga keluar duluan, merangkak keluar tanpa suara. Lalu Maira, lalu Gilang. Terakhir Bima yang menggendong Elina di punggung, keluar dengan susah payah karena menggendong.
Mereka berhasil keluar. Elina berhasil dibawa keluar dari perut hutan.
Tapi...
Saat kaki Bima yang menggendong Elina menginjak tanah di luar robekan, dan Arga, Maira, Gilang yang sudah keluar duluan berdiri.
Mereka semua terpaku.
Tanah yang mereka injak bukan tanah keras hutan pinus Pos 4 yang penuh daun kering.
Semuanya tiba-tiba berubah. Pohon-pohon besar yang menjulang tinggi terlalu rimbun dan hampir tanpa celah.
Mereka berlima - Bima, Maira, Arga, Gilang, Elina yang digendong Bima - langsung kaku, tidak berani bergerak.
Tempat mereka keluar bukan Pos 4.
Bukan dunia manusia.
Mereka keluar di tempat yang salah.
Mereka tidak kembali ke dunia manusia.
Mereka masuk ke dunia monster itu. Dunia asal Bhayavedin.
Di belakang mereka, tali kain putih yang masih nyambung ke dunia manusia, yang ujungnya dipegang bapak di Pos 4, ketarik kencang karena robekan yang mereka buat tadi sudah mulai menutup dari sisi dunia manusia.
SRETT...
Robekan tanah tempat mereka keluar tadi, yang menghubungkan dunia perut dengan dunia manusia, perlahan-lahan menutup.
Srrrk...
Menutup rapat dari sisi sana. Bapak di Pos 4 pasti sedang berusaha menahan, tapi tidak kuat.
Tali kain putih itu putus.
BRET!!
Putus di tengah, ujungnya tersisa di tangan mereka, ujungnya yang lain hilang ditelan tanah yang menutup.
Jalan kembali ke Pos 4 hilang total. Tidak ada robekan lagi. Hanya tanah hitam yang aneh.
Bapak tertinggal di dunia manusia, di Pos 4, memegang ujung tali putus dengan robekan yang sudah jadi tanah keras lagi.
Mereka berlima terjebak sendirian di dunia sebelah. Tanpa bekal banyak, tanpa bapak yang tau jalan, hanya berlima, dan satu orang yang digendong dalam keadaan sekarat memprihatinkan.
Langit di atas mereka bukan oranye sore. Langitnya merah keunguan, seperti lebam besar, tidak ada matahari, tidak ada bulan, cahayanya redup seperti senja abadi yang tidak pernah jadi malam dan tidak pernah jadi pagi. Cahaya itu datang dari langit itu sendiri. Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada suara burung. Hening total, hanya suara aneh dari tanah.
Hutan di sekeliling mereka bukan hutan pinus normal. Pohon-pohonnya terlalu rimbun, terlalu tinggi, batangnya besar sebesar rumah, kulit pohonnya seperti daging gajah yang berkeriput dan berlendir, daunnya lebar-lebar sebesar pintu rumah, dan dari setiap pohon meneteskan cairan kuning kehijauan seperti yang ada di dalam perut tadi. Akar-akar pohon itu tidak di dalam tanah, tapi di atas tanah, bergerak-gerak seperti ular mencari kaki mereka.
Tanah di bawah mereka semua seolah hidup meski kelihatannya normal seperti tanah pada umumnya. Semua terasa bergerak dan dari tanah itu, akar-akar kecil bergerak-gerak seperti cacing.
Bima dan kawan-kawan terpaku dengan dunia lain yang mereka lihat.
Mereka memang bukan di dalam perut lagi, tapi mereka juga tidak pulang. Mereka malah masuk lebih dalam. Ke dunia dimana monster itu tinggal. Dunia aslinya.
Pemandangan di depan mereka benar-benar di luar nalar. Di sekeliling mereka, berdiri pohon-pohon raksasa. Bukan pohon biasa. Batangnya selebar truk, kulitnya hitam legam seperti batu bara, menjulang begitu tinggi sampai puncaknya hilang ditelan kegelapan di atas. Cabang-cabangnya saling bertautan, daunnya terlalu rimbun, begitu lebat dan tebal sampai hampir tak ada celah cahaya pun yang bisa masuk. Dunia ini remang-remang selamanya, disinari cahaya kehijauan yang sakit, seperti cahaya dari dasar laut yang paling dalam. Udara di sini berat, pengap, berbau lumut ribuan tahun.
"Ini... ini bukan luar..." bisik Maira, suaranya hilang.
Mereka baru saja keluar dari perut untuk menyelamatkan Elina, dan rupanya pas keluar, mereka malah masuk ke kandangnya.
Gilang bahkan terlihat putus asa saat menyadari bahwa mereka berada di tempat yang salah. Lebih salah dari sebelumnya. Ia melihat sekeliling, melihat tidak ada jalan kembali. Lubang cahaya tempat mereka keluar tadi sudah tertutup rapat, menjadi dinding pohon raksasa yang solid. Kompas di tangannya mati total. Jalurnya hilang.
"Kita... kita dimana..." suara Gilang pecah, matanya merah menahan tangis putus asa. "Kita pikir kita nyelametin Elina... padahal kita malah dianterin ke rumahnya. Ini tempat yang salah, Bim. Kita nggak seharusnya ada di sini. Kita masuk ke dunianya dia."
Bima mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. Ia baru saja berhasil menyelamatkan satu teman, hanya untuk menjebloskan semua timnya ke tempat yang lebih buruk.
Sementara itu, di tengah kepanikan itu, Elina yang ada di gendongan Bima kembali meringis kesakitan.
Luka-luka akibat akar yang melilitnya di dalam perut tadi masih segar. Darah merembes dari betis dan lengannya. Tubuhnya yang lemah kejang menahan nyeri yang menyengat, dan erangan lirih keluar dari bibirnya yang pucat.
Dan seketika erangan itu menyadarkan mereka.
Kepanikan akan dunia raksasa itu harus ditunda. Teman mereka di depan mata lebih penting.
"Lin! Tahan, Lin!" Bima langsung sadar.
Untuk sekarang fokus mereka ke Elina.
Dengan gerakan secepat dan selembut mungkin, Bima menurunkan Elina pelan ke tanah. Ia cari gundukan lumut yang paling empuk dan tebal di antara akar-akar raksasa itu, ia letakkan Elina di sana, kepalanya ia sangga dengan ranselnya sendiri agar tidak langsung menyentuh tanah yang dingin dan basah.
Maira langsung drop ke lutut di samping Elina. Tangannya dengan sigap merogoh saku depan ranselnya dan mengeluarkan kotak P3K merah kecil yang selalu ia bawa kemanapun. Kotak itu penyok karena tadi ikut terperas di dalam perut monster.
"Buka... buka..." gumam Maira panik, lalu ia buka.
Tanpa banyak bicara, Maira mulai mengobati luka Elina perlahan. Ia tuang antiseptik ke kapas, dengan tangan gemetar tapi hati-hati ia bersihkan darah dan lendir hitam yang masih menempel di luka Elina. Elina meringis lagi, mencengkeram tangan Maira erat-erat.
"Sakit ya... maaf ya, Lin... tahan bentar aja... bentar aja ya..." Maira berbisik sambil menahan air matanya sendiri, terus membalut luka itu dengan perban.
Sementara dua orang fokus menyelamatkan, tiga lainnya langsung ambil posisi tempur.
Arga, Bima, dan Gilang saling mengawasi sekitar untuk berjaga-jaga. Mereka membentuk lingkaran kecil, punggung saling menjaga, menghadap ke luar ke arah hutan pohon raksasa yang terlalu rimbun itu.
Mereka diam, tanpa suara dan bertindak hati-hati. Karena mereka tahu, di dunia dimana hampir tak ada celah untuk lari ini, mereka berlima adalah satu-satunya cahaya kecil. Dan dari balik kerimbunan yang pekat itu, dari balik batang-batang raksasa, terdengar suara ranting patah. Bukan satu. Banyak.
Sesuatu yang besar sedang berjalan mengelilingi mereka. Mengamati mangsa yang baru saja masuk ke dunianya dengan sukarela.
***
***