NovelToon NovelToon
Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.

Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.

Rania menolak.

Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.

Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.

Sistem ingin Rania mengikuti takdir.

Rania justru memilih menolaknya.

Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

— Bayang-Bayang Kecurigaan

Tiga hari berlalu sejak pertemuan darurat itu, dan istana Wanunggalih kini dipenuhi ketegangan dari dua arah sekaligus—persiapan rencana penyusupan yang disembunyikan rapat-rapat, dan gelombang politik baru yang mulai bergolak di kalangan bangsawan istana.

Rania duduk di ruang pribadinya, mendengarkan laporan dari Sari dengan wajah semakin tegang.

"Beberapa bangsawan senior mulai bicara di belakang, Putri," kata Sari, suaranya pelan meski mereka sendirian di kamar. "Mereka bilang... skandal Pangeran Mukti bikin malu kerajaan. Dan beberapa menyalahkan hubungan dekat Putri dengan Raden Aryasatya sebagai penyebabnya."

Rania mengerutkan kening. "Nyalahin aku? Buat apa?"

"Mereka bilang, kedekatan Putri dengan Arkapura bikin Pangeran Mukti merasa terancam, jadi nekat bertindak gegabah." Sari menunduk, enggan melanjutkan. "Beberapa bahkan menuduh... kalau semua ini sebenarnya skenario Arkapura buat menjatuhkan kredibilitas keluarga kerajaan kita."

Rania berdiri cepat, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Itu gila. Aryasatya yang bantu kita bongkar semua ini!"

"Saya tahu, Putri," Sari mengangguk cepat. "Tapi orang-orang yang nggak suka perubahan, atau yang takut posisi mereka terancam setelah Paman Surya terbongkar, mereka cari kambing hitam yang lebih mudah."

Rania menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan frustrasi. Baru saja mereka berhasil mengungkap satu lapis kebusukan di istana, kini lapisan baru dari politik kotor mulai muncul ke permukaan.

***

Siang itu, Rania dipanggil menghadap dewan kerajaan—pertemuan formal yang jarang sekali melibatkan seorang putri secara langsung, kecuali dalam situasi genting.

Ruang dewan dipenuhi para bangsawan senior, wajah-wajah yang selama ini hanya ia lihat sekilas dalam upacara resmi, kini menatapnya dengan sorot mata yang beragam—ada yang simpatik, namun lebih banyak yang penuh kecurigaan.

Raja duduk di kursi utama, wajahnya keras menahan kemarahan terhadap arah pembicaraan yang sudah berlangsung sebelum Rania tiba.

"Putri Wening," salah satu bangsawan tua—Rania mengenalinya sebagai Tuan Baskara, salah satu penasihat senior yang dulu dekat dengan Paman Surya—berbicara dengan nada yang terlalu formal untuk terdengar tulus. "Kami ingin mengklarifikasi beberapa hal terkait hubunganmu dengan Raden Ji Aryasatya dari Arkapura."

"Klarifikasi apa?" tanya Rania, mencoba menjaga suaranya tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang.

"Beberapa dari kami khawatir," lanjut Tuan Baskara, "bahwa kedekatanmu dengan putra mahkota Arkapura telah mempengaruhi penilaianmu dalam kasus pengkhianatan Pangeran Mukti. Bagaimana kami bisa yakin bukti-bukti yang kau kumpulkan tidak direkayasa untuk menguntungkan pihak Arkapura?"

Rania merasakan amarah membakar di dadanya, namun ia menahan diri, mencoba berpikir jernih sebelum menjawab.

"Bukti-bukti itu udah diverifikasi langsung oleh Raja sendiri," jawabnya tegas. "Pengakuan Mukti sendiri, kesaksian Nyonya Ratih, catatan yang ditemukan di Cilangkap. Semua itu nggak ada hubungannya sama Arkapura."

"Tapi penyelidikan itu dilakukan bersama Raden Aryasatya," tukas bangsawan lain, suaranya penuh sindiran. "Bukankah itu konflik kepentingan yang jelas?"

"Kalau gitu," Rania menatap mereka satu per satu, suaranya mulai meninggi, "apa kalian lebih milih aku diem aja dan biarin Mukti terus berkuasa, cuma karena orang yang bantu aku nemuin kebenaran kebetulan dari Arkapura?"

Hening sejenak di ruangan itu. Raja menatap Rania dengan tatapan bangga tersembunyi, meski wajahnya tetap menjaga netralitas di depan dewan.

Tuan Baskara mengerutkan dahi, tidak senang dengan jawaban tegas itu. "Putri, kami hanya ingin memastikan kepentingan Wanunggalih tetap diutamakan. Hubungan dengan Arkapura selalu rumit, dan kita tidak bisa gegabah mempercayai mereka sepenuhnya hanya karena satu insiden ini."

"Hubungan rumit itu karena kesalahpahaman lama yang sengaja dipelihara," balas Rania tajam. "Kapal yang hilang itu bukan salah Arkapura. Itu salah penasihat kita sendiri. Mukti sendiri, orang dalam istana kita sendiri. Kenapa kalian masih aja nyari cara buat nyalahin Arkapura?"

Beberapa bangsawan saling pandang, jelas tidak nyaman dengan pertanyaan langsung itu.

Raja akhirnya angkat bicara, suaranya berat namun tegas. "Putri Wening benar. Kita harus berhenti mencari kambing hitam dari luar untuk kesalahan yang jelas-jelas berasal dari dalam. Dewan ini seharusnya fokus mendukung investigasi lanjutan terhadap loyalis Paman Surya, bukan mencurigai aliansi yang justru membantu kita mengungkap kebenaran."

Tuan Baskara menunduk hormat, meski matanya masih menyiratkan ketidakpuasan yang tersembunyi. "Baik, Yang Mulia. Kami akan patuh pada keputusan Anda."

Namun saat Rania melangkah keluar ruangan setelah pertemuan itu berakhir, ia bisa merasakan tatapan-tatapan yang masih mengikutinya, penuh kecurigaan yang belum sepenuhnya padam.

***

Di koridor menuju kamarnya, Rania bertemu Aryasatya yang sudah menunggu, wajahnya tegang mendengar kabar pertemuan dewan itu dari salah satu pengawalnya sendiri.

"Kudengar kau dipanggil menghadap dewan," katanya begitu Rania mendekat. "Apa yang terjadi?"

Rania menghela napas panjang, menceritakan secara singkat tuduhan-tuduhan yang baru saja ia hadapi.

Aryasatya mendengarkan dengan rahang mengeras, kemarahan jelas terlihat di matanya. "Mereka pikir kita berkolusi? Setelah semua yang kita korbankan untuk membongkar kebenaran ini?"

"Mereka takut," jawab Rania pelan. "Orang-orang yang nggak suka perubahan selalu cari cara buat nyalahin pihak luar, daripada ngakuin ada yang salah di dalam sistem mereka sendiri."

Aryasatya menatapnya lama, lalu menghela napas, mencoba menenangkan amarahnya sendiri. "Ini bisa membahayakan rencana penyusupan kita. Kalau dewan mulai curiga sama kerja sama kita, mereka bisa menarik dukungan di saat-saat kritis."

Rania mengangguk, menyadari implikasi yang lebih besar dari sekadar gosip politik biasa. "Kita harus lebih hati-hati sekarang. Bukan cuma soal Paman Surya, tapi juga soal gimana caranya meyakinkan dewan kalau kerja sama kita ini emang demi kebaikan bersama."

"Dan itu," Aryasatya menatapnya dengan tekad baru, "berarti kita harus berhasil besok. Tidak ada ruang untuk kegagalan, kalau kita ingin membungkam kecurigaan mereka sekaligus menghentikan Paman Surya."

Rania mengangguk mantap, meski beban di pundaknya terasa semakin berat dengan setiap lapisan konflik baru yang muncul—bukan hanya ancaman fisik dari pasukan bayangan, tapi juga ancaman politik yang bisa menghancurkan kepercayaan yang baru saja mulai terbangun antara dua kerajaan.

Malam itu, sebelum rencana penyusupan besok dimulai, Rania berdiri sendirian di kamarnya, menatap pantulan dirinya di cermin—wajah Wening Sasikirana yang kini terasa sepenuhnya miliknya, meski identitas aslinya masih tersembunyi rapat dari dunia ini.

"Besok," gumamnya pelan pada dirinya sendiri, "aku harus buktiin, bukan cuma ke Paman Surya, tapi ke semua orang yang ragu, kalau ini bukan soal Arkapura lawan Wanunggalih. Ini soal kebenaran lawan kebohongan."

Di luar jendela, awan gelap mulai berkumpul di langit malam, pertanda badai yang mungkin akan datang—baik secara harfiah maupun kiasan, menandakan bahwa pertarungan besok bukan hanya soal menemukan markas Paman Surya, tapi juga soal mempertaruhkan kepercayaan yang menghubungkan dua kerajaan yang baru saja mulai belajar untuk saling percaya kembali.

-

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!