Isabella adalah mantan pembunuh bayaran paling berbahaya dan paling di takuti di dunia gelap. Selama bertahun-tahun tangannya telah berlumuran darah.
Namun semuanya berubah saat Isabella menemukan seorang bayi perempuan di depan apartemennya. Sejak saat itu dia memutuskan pensiun demi keselamatan anaknya. Tapi sayangnya sang bos tidak menyukai itu, hingga dia membunuh anak Isabella karena menganggap jika anak itu adalah penghalang Isabella.
Melihat sang putri tewas, Isabella marah dan mulai memburu satu persatu orang yang telah membunuh putrinya. Setelah dendamnya terbayar, Isabella memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun kematian ternyata bukan akhir baginya, karena setelah membuka mata kembali. Isabella mendapati dirinya berada di tubuh seorang wanita bernama Isabella Iris, seorang ratu yang di buang dari istananya sendiri.
Bagimana kisah Isabella selanjutnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Pertarungan Selesai
Setelah memastikan pemimpin monster itu benar-benar tewas, Isabella menghela napas pelan. Pertarungan akhirnya selesai.
Namun, bukannya langsung kembali ke kereta, Isabella justru berjalan menghampiri satu per satu monster yang telah dibunuhnya.
Dia berjongkok di samping salah satu monster, lalu mengeluarkan pisau kecil dari pinggangnya.
Tanpa sedikit pun rasa jijik, Isabella mulai membelah bagian dada monster tersebut hingga menemukan jantungnya. Setelah itu, dia mengambil inti sihir yang berada di dalam tubuh monster tersebut.
Sebuah kristal kecil berkilauan kini berada di telapak tangannya.
Mata Isabella langsung berbinar.
"Lumayan."
Dia memasukkan inti sihir itu ke dalam ruang penyimpanannya, kemudian berpindah ke monster berikutnya. Hingga akhirnya seluruh dua belas monster berhasil dia ambil inti sihirnya.
Isabella tersenyum puas.
"Kalau semua ini dijual, aku bisa mendapatkan uang tambahan."
Membayangkan jumlah uang yang akan diperolehnya membuat suasana hatinya menjadi jauh lebih baik.
Setelah memastikan tidak ada lagi yang bisa diambil, Isabella akhirnya berdiri dan berjalan menuju kereta kuda.
Namun begitu sampai di sana, langkahnya langsung terhenti. Dia menatap sang kusir yang duduk kaku di atas kereta. Wajah pria itu seputih kertas, kedua matanya membelalak, sementara seluruh tubuhnya masih gemetar hebat.
Isabella mengerutkan kening.
"Kenapa kau seperti melihat hantu?" Tanya Isabella bingung, sebab sang kusir duduk seperti patung.
Tapi sang kusir tidak menjawab, Isabella kemudian menyadari sesuatu. Celana pria itu terlihat basah, Isabella terdiam beberapa saat.
"..."
Dia menghela napas panjang, sepertinya pria itu benar-benar ketakutan.
"Sudahlah, antar aku ke rumahmu."
"Ke... ke rumah saya, Nona?"
"Ya."
Isabella menatap langit yang mulai gelap.
"Aku terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan. Lagi pula, sepertinya tidak ada penginapan yang akan buka malam ini."
Sang kusir buru-buru mengangguk.
"Baik! Baik, Nona!"
Dia langsung menjalankan kudanya tanpa berani banyak bertanya.
Beberapa waktu kemudian, kereta akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Sang kusir turun dan membantu Isabella turun dari kereta. Begitu Isabella memasuki rumah, seorang wanita yang tampaknya merupakan istri sang kusir langsung muncul dari dalam.
Namun baru beberapa langkah mendekat, wanita itu langsung membeku. Matanya membelalak saat melihat pakaian Isabella yang dipenuhi darah, bukan hanya darah bandit, tetapi juga darah monster yang tadi terciprat ke tubuhnya. Beberapa noda bahkan masih terlihat jelas di wajahnya.
Istri sang kusir menelan ludah, dia memandang Isabella dari atas hingga bawah.
"Suamiku..."
Wanita itu tampak ragu.
"Siapa wanita ini?"
Isabella segera menyadari bahwa penampilannya memang terlihat cukup mengerikan.
"Oh, maaf jika membuatmu terkejut."
Isabella menunjuk dirinya sendiri.
"Aku adalah wanita yang menyewa kereta kudamu siang tadi." Kata Isabella santai.
"Yang menyewa kereta suamiku?" Tanya wanita itu dengan sedikit gugup.
"Ya." Jawab Isabella sambil mengangguk membenarkan.
Isabella kemudian juga menjelaskan bahwa dirinya sedang mencari tempat untuk menginap karena hari sudah terlalu malam. Juga tentang semua penginapan yang mereka temui yang ternyata tutup.
"Itulah sebabnya aku meminta izin untuk menginap di rumah kalian malam ini, aku akan membayar biaya penginapannya."
"Oh, tidak perlu!"
Istri sang kusir buru-buru menggeleng.
"Kalau memang begitu, silakan saja. Kami masih memiliki satu kamar tamu." Kata istri sang kusir.
"Terima kasih." Jawab Isabella tulus.
Wanita itu kemudian mengantar Isabella menuju kamar tamu.
"Kamarnya tidak terlalu besar, tapi semoga Nona nyaman." Kata istri sang kusir dengan sopan.
"Ini sudah cukup." Jawab Isabella.
Lalu Isabella masuk ke dalam kamar itu, dia rasa dia harus segera membersihkan dirinya dan mengganti baju.
"Terima kasih." Kata Isabella.
"Sama-sama nona." Jawab Istri sang kusir.
"Permisi, boleh aku tau dimana letak kamar mandinya? ku rasa aku harus mandi." Ujar Isabella.
"Kamar itu memiliki kamar mandi nona, jadi nona bisa membersihkan diri di kamar mandi kamar itu saja." Kata istri sang kusir.
"Oh, terimakasih." Jawab Isabella.
Setelah itu Isabella menutup pintu kamarnya, sedangkan istri sang kusir masih berdiri di luar dengan wajah penuh kebingungan.
Dia kemudian berbalik dan menghampiri suaminya.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" Tanya Istri sang kusir penuh penasaran.
Sang kusir yang sejak tadi masih gemetar hanya menatap istrinya.
"Apa maksudmu?" Tanyanya bingung, dia tidak mengerti dengan arah pertanyaan istrinya itu.
"Kenapa pakaian wanita itu penuh darah? Apakah dia terluka?" Tanya Istri sang kusir lagi.
Sang kusir langsung menggeleng kuat.
"Tidak."
"Lalu kenapa ada begitu banyak darah?" Tanyanya dengan alis berkerut.
Sang kusir menarik napas panjang sebelum akhirnya menceritakan semua yang terjadi.
"Di perjalanan tadi, kami bertemu dengan lima belas orang bandit."
"Apa?!" Teriak istri sang kusir.
Wajahnya bahkan langsung berubah pucat.
"Bandit?" cicitnya.
Dia segera mendekati suaminya.
"Kalian baik-baik saja? Apakah wanita itu juga baik-baik saja?" Tanyanya cepat, rasa khawatir seketika menggerogoti hatinya.
Sang kusir terdiam sejenak.
"Justru..."
Dia menelan ludah.
"para bandit itu yang tidak baik-baik saja." Ucapnya sedikit dramatis.
Sang istri mengerutkan kening.
"Apa maksudmu?"
Sang kusir menatap istrinya dengan ekspresi serius.
"Kelima belas bandit itu semuanya tewas."
Sang istri membeku.
"Mereka... tewas?"
Sang kusir mengangguk perlahan.
"Mereka dibunuh oleh wanita itu."
"Apa?!"
Suara sang istri hampir terdengar seperti jeritan.
Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Tunggu! Maksudmu wanita yang sekarang ada di kamar tamu itu?"
"Ya." Jawab sang kusir sambil mengangguk membenarkan.
"Tapi dia sendirian!" Kata istri sang kusir.
"Itulah yang membuatku terkejut." Ujar sang kusir sambil mengusap wajahnya.
"Aku melihatnya sendiri, lima belas bandit menyerangnya, tetapi dia sama sekali tidak terlihat takut."
Dia berhenti sebentar.
"Dia bahkan berhasil membunuh mereka semua seorang diri."
Sang istri terdiam, namun keterkejutannya belum selesai.
"Dan bukan hanya itu..."
Sang kusir menatap ke arah luar jendela.
"Dalam perjalanan pulang, kami juga bertemu dengan sekumpulan monster yang selama ini sering menyerang desa."
Mata sang istri semakin membesar.
"Monster?" Tanya istri sang kusir terkejut, matanya bahkan membelalak.
"Ya." Jawab sang kusir sambil mengangguk tipis.
"Lalu bagaimana kalian bisa selamat?" Tanya Istri sang kusir penasaran.
Sang kusir tertawa kecil dengan wajah yang masih pucat.
"Karena wanita itu."
Dia kemudian menggelengkan kepalanya.
"Semua monster itu dibunuh olehnya."
Sang istri tidak mampu berkata-kata.
"Berapa banyak?" Tanya istrinya lagi.
"Dua belas."
"Dua belas monster?"
"Ya."
Sang kusir mengangguk.
"Dia membunuh semuanya."
Dia terdiam sesaat sebelum melanjutkan.
"Dan kau seharusnya melihat keadaan mereka."
Sang istri menelan ludah.
"Se... separah apa?"
Sang kusir bergidik mengingat pemandangan tadi.
"Keadaan para monster itu sangat mengenaskan."
Dia kemudian menunjuk ke arah luar rumah.
"Aku yakin besok pagi para warga akan terkejut ketika menemukan bangkai monster-monster itu di jalan."
Sang istri hanya bisa berdiri terpaku.
Setelah beberapa saat, dia menoleh ke arah kamar tempat Isabella berada.
"Wanita macam apa yang sebenarnya kita izinkan menginap di rumah kita?"
Sang kusir langsung menjawab dengan suara pelan.
"Entahlah."
Dia menatap pintu kamar Isabella dengan tatapan penuh ketakutan.
"Tapi satu hal yang pasti..."
"Apa?"
Sang kusir menelan ludah.
"Jangan pernah membuatnya marah, atau menyinggungnya"
Bersambung