Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Malam hari di kamar utama, keheningan menyelimuti ruangan. Arvin berbaring di ranjang bersandar pada kepala tempat tidur sambil memeriksa dokumen di tabletnya.
Pintu kamar terbuka. Nadia melangkah masuk setelah memastikan Kenzo tertidur, lalu berjalan menuju sofa.
Arvin melirik sekilas dari balik tabletnya. "Kenzo sudah tidur?"
"Sudah. Tadi dia minta didongengkan dulu," jawab Nadia seraya merapikan selimut di sofa.
Arvin mematikan tablet, meletakkannya di nakas, lalu melepaskan kacamata.
"Soal kejadian tadi pagi di meja makan..." Arvin menatap Nadia. "Kamu tidak perlu terlalu memanjakan Kenzo. Dia harus belajar mandiri, termasuk soal panggil memanggil itu."
Nadia menatap langit-langit kamar dari sofanya. "Memanjakan dan memberikan kasih sayang itu berbeda, Mas. Kenzo baru lima tahun, dia butuh figur yang hangat."
"Saya tahu cara mendidik anak-anak saya," balas Arvin dingin.
"Kalau Mas tahu, harusnya Mas mengerti kenapa Jovan penuh penolakan dan Kenzo haus perhatian," timpal Nadia tenang. "Tapi tenang saja, saya tahu batasan saya."
Arvin diam sejenak, lalu mematikan lampu utama kamar.
"Tidur. Besok saya ada rapat pagi," cetus Arvin memutus percakapan.
"Selamat malam juga, Mas Arvin," gumam Nadia pelan seraya menarik selimutnya.
Di atas sofa, Nadia belum bisa tidur. Pikirannya melayang memikirkan rumah ini. Jovan terang-terangan membencinya, sedangkan Arvin sangat dingin. Namun, Damian berbeda. Anak sulung Arvin itu terlihat tenang dan tidak pernah bersikap jahat padanya.
Mungkin aku harus mencoba dekat dengan Damian dulu. pikir Nadia. Jika bisa akrab dengan Damian, setidaknya ada orang dewasa di rumah ini yang bisa diajak bicara. Setelah memikirkan rencana itu, Nadia akhirnya tertidur.
Saat subuh tiba, Nadia sudah bangun. Setelah selesai salat subuh sendiri, ia berjalan ke samping tempat tidur Arvin.
Nadia menepuk pelan pinggiran kasur. "Mas Arvin... bangun. Sudah subuh, ayo salat."
Arvin membuka matanya pelan, lalu menatap Nadia sebentar sebelum membuang muka.
"Saya masih mengantuk. Kamu duluan saja," jawab Arvin dengan suara serak, lalu kembali menarik selimutnya.
Nadia hanya menggelengkan kepala melihat sikap Arvin. "Ya sudah kalau tidak mau," katanya pelan, lalu keluar kamar menuju dapur.
Di dapur, Nadia hanya membantu sedikit karena hari ini ia harus kembali mengurus toko kuenya yang sudah dua hari tutup. Setelah selesai memandikan Kenzo dan membantunya memakai seragam sekolah, Nadia bergegas kembali ke kamar utama untuk berganti pakaian.
Nadia membuka pintu kamar tanpa ragu, namun langkahnya mendadak terhenti seketika.
Di depan lemari pakaian, tampak Arvin yang baru selesai mandi. Pria itu berdiri hanya dengan selembar handuk yang melilit pinggangnya, memperlihatkan dada bidang dan tubuh atletisnya yang masih setengah basah.
"Aaaa...." jerit Nadia refleks sambil menutup matanya rapat-rapat dan langsung berbalik membelakangi Arvin.
Jantungnya berdebar kencang. "Mas Arvin! Kenapa tidak ganti baju di ruang ganti, sih?! Di dalam kan ada ruang ganti!"
Mendengar jeritan panik Nadia, Arvin bukannya panik, malah terkekeh pelan. Tanpa terburu-buru, ia mengambil kemejanya dari lemari.
"Ini kamar saya dan rumah saya," sahut Arvin santai sambil melangkah mendekat ke arah pintu ruang ganti dengan tenang. "Terserah saya mau ganti baju di mana."
Nadia masih berdiri membelakangi Arvin dengan napas sedikit memburu, memegang dadanya yang berdegup kencang.
Arvin menghentikan langkahnya tepat di belakang Nadia, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Lagipula, kamu ini... tiga puluh tahun hidup seperti tidak pernah melihat laki-laki saja."
Wajah Nadia seketika memerah menahan malu sekaligus kesal. Ia mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat, tetap enggan berbalik sebelum memastikan pria itu menutup tubuhnya.
"Tolong jaga kesopanan! Mas pikir karena ini kamar Mas, Mas bisa seenaknya bertelanjang dada di depan saya?"
Dengan santai, pria itu melangkah masuk ke dalam ruang ganti untuk mengenakan kemeja dan celana bahannya.
"Saya cuma pakai handuk, Nadia. Beda cerita kalau saya benar-benar telanjang," sahut Arvin santai dari dalam ruang ganti. "Lagipula, kita ini sudah sah secara hukum dan agama. Kamu tidak perlu bereaksi berlebihan seperti melihat hantu."
Nadia menghembuskan napas kasar. "Sah atau tidak, kita punya kesepakatan semalam! Mas sendiri yang minta saya tahu batasan dan jaga jarak!"
Beberapa saat kemudian, Arvin keluar dari ruang ganti dengan kemeja putih dan celana kain yang sudah terpasang rapi, meski kancing teratas kemejanya belum dikaitkan. Pria itu berjalan santai menuju meja rias untuk merapikan rambutnya.
"Sudah, kamu bisa balik badan sekarang," kata Arvin datar, kembali ke mode kaku dan dinginnya.
Nadia perlahan membalikkan badan, melotot tajam ke arah Arvin.
"Lain kali tolong ganti baju di ruang ganti," ketus Nadia seraya mengambil pakaian kerjanya dari lemari. "Saya mau ganti baju sekarang. Mas Arvin keluar dulu, atau saya ganti baju di kamar mandi."
Arvin meraih jam tangan mewahnya dari meja rias, melirik Nadia dari cermin. "Kamu bisa ganti di ruang ganti atau kamar mandi kalau tidak mau saya lihat."
Nadia menarik napas dalam-dalam, menahan kesabarannya. Tanpa melayani perdebatan lebih lanjut, ia membawa pakaian kerjanya dan melangkah masuk ke kamar mandi untuk berganti baju.
Arvin hanya memperhatikan pintu kamar mandi yang tertutup rapat, lalu mengenakan jasnya dan melangkah keluar kamar.
Nadia keluar dari kamar mandi dengan pakaian kerja yang rapi, atasan simpel dipadu rok longgar dan hijab yang terpasang manis. Setelah menyemprotkan sedikit parfum, ia menyambar tas tangannya lalu turun ke lantai bawah.
Di meja makan, Arvin, Damian, dan Jovan sudah duduk rapi. Kenzo yang mengenakan seragam TK tampak membolak-balik sendoknya menunggu kehadiran Nadia.
"Bunda!" panggil Kenzo ceria saat melihat Nadia melangkah mendekati meja.
Nadia tersenyum hangat dan langsung duduk di samping Kenzo. "Pagi, Kenzo sayang. Sudah siap sekolah hari ini?"
"Siap, Bunda!" jawab Kenzo antusias.
Jovan mendengus pelan mendengar panggilan itu, namun memilih diam karena enggan memicu perdebatan.
"Mas, hari ini saya mau buka toko kueku," ucap Nadia.
Arvin meletakkan cangkir kopinya perlahan. "Saya kira kamu akan fokus mengurus rumah dan anak-anak."
"Mengurus rumah dan Kenzo tetap tanggung jawab saya," balas Nadia tenang.
"Tapi toko kue itu usaha yang saya rintis dari nol. Saya tidak bisa begitu saja menelantarkannya."
Arvin diam sejenak, mengamati raut wajah Nadia sebelum akhirnya mengangguk tipis. "Kamu pergi bareng Kenzo saja. Nanti diantar Pak Adam sekalian antar Kenzo sekolah."
Nadia tidak mau memperpanjang urusan dan memilih menurut saja. "Baik, Mas."
Di tengah suasana hening meja makan, Damian tampak hendak menjangkau piring lauk di tengah meja. Melihat kesempatan itu, Nadia dengan cepat mengambilkan piring tersebut sebelum Damian meraihnya.
"Biar Bunda ambilkan, Bang," ucap Nadia ramah seraya menyendokkan lauk ke piring Damian. "Segini cukup, Bang?"
Damian sempat tertegun sejenak melihat perhatian kecil itu. Pemuda itu lalu mengangguk pelan. "Cukup, Bunda. Terima kasih."
Jovan yang melihat interaksi itu mendelik kesal, lalu membenturkan sendoknya pelan ke atas piring. "Cari muka," gumamnya pelan, walau cukup terdengar oleh orang-orang di sekitarnya.
Damian melirik adiknya itu dengan tatapan peringatan yang tajam, sementara Nadia hanya melempar senyum tipis tanpa berniat membalas cemoohan Jovan. Rencana kecilnya berjalan baik, respons sopan dari Damian menunjukkan bahwa pintu komunikasi di antara mereka mulai terbuka.