NovelToon NovelToon
Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.8
Nama Author: Chandria

Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12 - Jangan Bawa Aku ke Mereka

Lift hotel terasa terlalu lambat.

Nadira menempel di dada Arga dengan napas pendek. Tubuhnya panas, tapi tangannya dingin. Arga bisa merasakan jari-jarinya mencengkeram kain batik di dada, tepat di dekat luka operasi yang belum pulih.

Rasa sakit itu tidak penting.

"Nadira, lihat aku."

Nadira membuka mata sedikit.

Matanya tidak fokus. Ia berusaha keras tetap sadar. Arga tahu itu bukan mabuk biasa. Ada campuran sesuatu yang memaksa tubuhnya bereaksi, membuat kesadaran dan kendali saling tarik.

"Kamu minum berapa banyak?"

"Sedikit."

"Ada rasa aneh?"

"Pahit." Nadira menelan susah payah. "Panas. Jantung cepat."

Arga menahan amarah. "Kita ke IGD."

Nadira langsung menggeleng. "Jauh."

"Ada klinik hotel."

"Jangan." Ia menggenggam bajunya lebih kuat. "Mereka bisa atur."

Kalimat itu membuat Arga mengerti. Jika orang yang menjebaknya berasal dari keluarga penyelenggara, klinik hotel bukan tempat aman.

"Aku punya kamar transit di lantai atas," kata Arga. "Bima yang pesan untuk istirahat kalau lukaku bermasalah. Kita ke sana dulu. Aku panggil dokter yang bisa dipercaya."

Nadira menutup mata lagi.

"Jangan tinggalkan aku."

Arga menatap wajahnya.

Kalimat itu pelan, mungkin keluar dari rasa takut, bukan dari hati yang percaya. Tapi tetap membuat sesuatu di dada Arga bergerak keras.

"Aku tidak akan pergi."

Lift terbuka.

Arga membawa Nadira ke kamar di ujung koridor. Ia membuka pintu dengan kartu yang Bima berikan sejak sore. Begitu masuk, ia menurunkan Nadira ke sofa, bukan ke tempat tidur.

Nadira langsung menunduk, menekan pelipis.

"Air."

Arga mengambil botol air mineral, membuka tutupnya, lalu membantunya minum. Nadira meneguk sedikit, tapi tangannya gemetar.

"Aku panggil dokter."

Ia menelepon Bima.

"Status?"

Suara Bima di seberang cepat. "Gelas sudah saya amankan. CCTV ballroom dan area servis sedang disalin. Maya bersama saya, dia hampir menyerang Vania tapi masih bisa ditahan."

"Panggil Dokter Rendra atau dokter lain yang bisa dipercaya. Suruh naik lewat lift servis."

"Siap. Komandan sendiri?"

Arga melihat Nadira yang mulai menarik napas tidak teratur.

"Aku bersama Nadira."

Bima diam setengah detik. "Saya mengerti."

"Jangan mengerti macam-macam."

"Saya belum bilang apa-apa."

Arga memutus telepon.

Nadira tertawa lemah.

"Bima takut padamu?"

"Kadang."

"Dia lebih waras darimu."

"Aku tahu."

Nadira menatapnya. Mungkin karena obat, ekspresinya tidak seterkendali biasa. Ada marah, takut, dan lelah yang bercampur.

"Kenapa selalu begini?" bisiknya.

Arga berjongkok di depannya. "Apa?"

"Setiap kali aku mau berdiri sendiri, ada yang menarikku jatuh. Laras dengan anaknya. Kamu dengan rasa bersalahmu. Sekarang Vania dengan permainan kotornya."

"Aku akan selesaikan."

"Jangan bilang seperti itu."

"Kenapa?"

"Karena aku bukan tugasmu."

Arga terdiam.

Nadira menarik napas, lalu memejamkan mata seperti menahan gelombang panas lain.

"Aku bukan misi yang harus kamu selamatkan supaya kamu merasa menang."

"Aku tahu."

"Tidak. Kamu terbiasa menyelesaikan masalah dengan perintah. Tangkap ini. Amankan itu. Bawa dia. Jaga dia. Tapi hatiku bukan wilayah operasi."

Arga menunduk.

Kalimat itu tetap tajam meski Nadira sedang setengah mabuk obat. Bahkan saat tubuhnya lemah, pikirannya masih memukul tepat sasaran.

"Aku belajar," kata Arga pelan.

Nadira membuka mata. "Terlambat."

"Mungkin."

Ia tidak membela diri.

Nadira menatapnya lebih lama. Lalu tiba-tiba ia mengulurkan tangan, menyentuh bekas luka di dekat dada Arga yang tertutup kain.

Arga menahan napas.

"Sakit?"

"Tidak."

"Bohong."

"Iya."

Jari Nadira berhenti. "Aku menyelamatkanmu malam itu."

"Iya."

"Padahal aku ingin membencimu."

"Aku tahu."

"Tapi tanganku tetap menyelamatkanmu."

Arga menggenggam tangan itu pelan. Ia tidak menarik, hanya menahan agar Nadira tidak melukai dirinya sendiri.

"Terima kasih."

Nadira tertawa kecil. "Terima kasih tidak cukup."

"Aku tahu."

"Kamu terlalu banyak tahu malam ini."

Arga hampir tersenyum, tapi wajah Nadira kembali menegang. Ia melepaskan tangan Arga dan memeluk tubuh sendiri.

"Dingin."

Arga mengambil selimut dari lemari dan menyampirkannya ke bahu Nadira. Ia duduk di lantai, menjaga jarak satu lengan.

Nadira memandangnya dengan mata berkabut.

"Kenapa jauh?"

Pertanyaan itu membuat Arga kaku.

"Kamu sedang tidak sehat."

"Aku tahu."

"Aku tidak mau mengambil keuntungan."

Nadira diam.

Lalu ia berkata sangat pelan, "Dulu kamu mengambil keputusan tanpa aku. Pergi tanpa aku. Cerai tanpa bicara. Usir aku tanpa mendengar. Malam ini jangan putuskan sendiri lagi."

Arga merasa seluruh tubuhnya tegang.

"Nadira."

"Aku dokter. Aku tahu tubuhku. Aku juga tahu pikiranku tidak sepenuhnya jernih." Ia menatapnya, susah payah menyusun kalimat. "Aku tidak mau disentuh orang lain. Aku tidak mau dibawa Vania. Aku tidak mau jadi bahan tontonan. Aku mau aman."

"Kamu aman denganku."

"Kalau aku minta kamu dekat, itu bukan berarti aku memaafkan."

"Aku tidak akan menganggap begitu."

Nadira menggigil lagi. Arga naik ke sofa, duduk di sampingnya, dan membiarkannya bersandar. Ia tetap menjaga tangannya di tempat yang aman, di atas selimut.

Nadira menempelkan dahinya ke bahu Arga.

"Aku benci kamu."

"Iya."

"Tapi aku lebih benci mereka."

"Untuk malam ini, benci aku nanti saja."

Nadira tertawa lemah.

Ketukan pintu terdengar.

Arga langsung berdiri, membuat Nadira refleks menggenggam pergelangan tangannya.

"Aku buka pintu. Tidak pergi."

Ia melihat dari peephole. Bima berdiri bersama Dokter Rendra dan Maya. Wajah Maya seperti siap membunuh.

Arga membuka pintu.

Maya langsung menerobos. "Nadira!"

Nadira mencoba duduk tegak. "Jangan berisik."

"Lo hampir diracun dan masih nyuruh gue jangan berisik?"

Dokter Rendra memeriksa Nadira dengan profesional. Ia mengukur tekanan darah, denyut nadi, pupil, dan respons motorik. Wajahnya serius.

"Ini kemungkinan campuran stimulan ringan dan sedatif dosis rendah. Bukan untuk membunuh, tapi cukup membuat korban kehilangan kontrol dan terlihat memalukan."

Maya mengumpat.

Arga menatap Bima. "Bukti?"

"Akan ada. CCTV pantry menunjukkan pelayan yang membawa minuman Nadira menerima gelas dari staf khusus Vania. Staf itu sedang dicari."

"Laras?"

Bima ragu. "Dia bersama Vania sebelum kejadian."

Nadira mendengar nama itu dan memejamkan mata.

Dokter Rendra memberi obat penenang ringan yang aman dan menyarankan observasi beberapa jam. "Kalau memburuk, harus ke rumah sakit. Tapi untuk sekarang, biarkan dia istirahat. Jangan sendirian."

Maya langsung berkata, "Aku yang tinggal."

Nadira menggenggam lengan Arga lagi.

Semua orang melihat.

Maya terdiam.

Nadira sendiri tampak tidak sadar sepenuhnya bahwa ia menahan Arga.

Arga menatap Maya. "Kamu tetap di sini. Aku juga di sini. Pintu terbuka ke ruang tamu. Bima di luar."

Maya menatapnya tajam. "Kalau lo macam-macam..."

"Aku tidak akan."

"Aku serius."

"Aku juga."

Maya mencari kebohongan di wajah Arga, tapi tidak menemukannya.

Akhirnya ia duduk di kursi seberang sofa.

Malam bergerak lambat.

Nadira beberapa kali gelisah dalam tidurnya. Arga duduk di samping sofa, membiarkan tangannya digenggam. Maya terjaga dengan mata merah. Bima berjaga di luar kamar. Dokter Rendra beberapa kali mengecek kondisi.

Menjelang subuh, efek obat mulai turun.

Nadira membuka mata.

Hal pertama yang ia lihat adalah Arga tertidur sambil duduk di lantai, tangannya masih berada dalam genggamannya. Wajah pria itu pucat, kemejanya kusut, dan ia jelas menahan sakit karena posisi buruk.

Maya tidur di kursi, berselimut jaket.

Nadira mengingat potongan-potongan kejadian. Minuman pahit. Vania. Tubuh panas. Arga mengangkatnya. Dokter Rendra. Maya marah. Dirinya meminta Arga tetap dekat.

Wajahnya memanas karena malu.

Ia mencoba melepaskan tangan pelan.

Arga langsung terbangun.

"Kamu sudah sadar?"

Nadira menarik tangannya. "Iya."

"Ada pusing? Mual?"

"Sedikit."

"Kita ke rumah sakit."

"Tidak perlu. Aku tahu kondisiku."

Arga menatapnya, kali ini tidak langsung membantah.

"Baik. Tapi Dokter Rendra harus periksa lagi."

Nadira mengangguk.

Maya terbangun dan langsung menghampiri. Setelah memastikan Nadira benar-benar sadar, ia memeluknya.

"Jangan pernah minum dari gelas orang lagi."

"Aku tahu."

"Aku hampir mencakar Vania."

"Terima kasih karena tidak."

"Belum."

Arga berdiri perlahan. Nadira melihat ia menahan nyeri.

"Luka Mas..."

Arga berhenti.

Nadira menyesal karena refleks bertanya.

Maya menatap mereka bergantian.

Arga berkata pelan, "Tidak apa-apa."

Nadira menunduk. "Terima kasih sudah tidak membawa aku ke ruang istirahat mereka."

"Aku seharusnya melindungimu sebelum itu terjadi."

"Jangan ambil semua kesalahan. Itu menyebalkan."

Untuk pertama kalinya pagi itu, Arga tersenyum tipis.

"Baik."

Bima mengetuk pintu dari luar. "Komandan, staf Vania ditemukan. Dia mengaku disuruh seseorang mengganti gelas Dokter Nadira, tapi belum mau sebut nama."

Maya berdiri. "Aku mau dengar."

Arga menatap Nadira. "Kamu istirahat."

Nadira menatapnya balik. "Aku ikut."

"Kamu baru pulih."

"Aku korbannya."

Arga hampir mengatakan tidak. Lalu ia ingat ucapan Nadira semalam.

Hatiku bukan wilayah operasi.

Ia menelan perintah itu.

"Baik. Kita ikut bersama."

Nadira memandangnya sebentar.

Itu kecil.

Tapi ia tahu Arga baru saja belajar sesuatu.

1
neni supraptini
seorang ibu bisa merasakan keresahan anaknya meski ditutupi
Wa Sarah
kalau Vania suka Kevin trus siblaras suka Arga....ya sudah atuh....ambil aja.
ayok Nadira selesaikan perceraiannya lalu pindah ketempat lain, punya ijazah dokter mau kerja di rumah sakit mana aja sama aja.
Wa Sarah
benar2x ye.....ceritanya. kan mau cerai, trus hubungannya sama si Vania tu apa kok ceritanya malah melenceng🙏
Wa Sarah
ini si Arga komndan ya....jadi ceritanya ni....soal parcntaan atau pekerjaan yg gak masuk dalam alur ceritanya.🙏🙏🙏
Amelia suhartono
wanita bodoh,sok kuat,tinggal lepas yg bukan urusannya
Nyagus Gunawan
𝙠𝙡𝙤 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙧𝙖 𝙨𝙚𝙡𝙚𝙨𝙖𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙖𝙧𝙖𝙥 𝙨𝙞𝙝 𝙘𝙚𝙧𝙖𝙞 𝙖𝙟𝙖 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝘼𝙧𝙜𝙖...𝙟𝙜𝙣 𝙢𝙖𝙪 𝙟𝙖𝙩𝙪𝙝 𝙙𝙞 𝙡𝙪𝙗𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙜 𝙨𝙖𝙢𝙖...𝙣𝙖𝙙𝙞𝙧𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙞𝙣𝙜 𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙤𝙧𝙜 𝙗𝙖𝙧𝙪...
Sintaram Keumala
2in broo🗿👍
Dokkan Battle
nama Arga emang goblok dan tukang selingkuh amit amit
Si Memeh
bagus cerita nya thor
Wakana
arga kena azab
Wakana
nadira kamu malaikat atau apa
Hamdiah Arrahim
makanya jangan cepat2 ambil keputusan... kalau begini baru sadar... ternyata istrinya hebat...
Hera sasuwe
👍
Nurul Syahriani
ini cerita kenapa sih? vania gak suka nadira kenapa? karna kevin? kok sampe segitu misterius nya
Annie Soe..
Makin belibet, rumit tapiii aku sukaaa. Genre romance tapi jadi misteri ato apalah tapi selama benang merahnya terjaga ga masalah..
Jadi ga membosankan ga melulu romance, masalah rumah tangga,
Semangaatt thor..
😍💪
Andri Yeni
komunikasi nadira sama raka padahal dah nikah lama punya nak.kok msh kaku.kayak percakapan AI
Eka Anam
Nadira di telantarin 4 tahun tp nyamperin Laras bisa,udah gitu 4 th gaji nya di TF kesiapa?
Econ Ibrahim Latawa
♥️♥️
Annie Soe..
Ini bukan sekedar bacaan novel atau karya tulis biasa,,
Ada banyak pembelajaran yg bisa diambil, terutama di dialog dr. shafira sebagai psikiater. Thanks thor ..
Anita Shabrina
Kapan malam pertamanya...tau2 sdh hamidun sj... diskip yaaa ninaninuuuu nya thor... kan pengen tau awal ciuman dkk nya 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!