NovelToon NovelToon
Mate Takdir Sang Werewolf

Mate Takdir Sang Werewolf

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 2]

Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'

"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15.

"Bukan. Pria itu bukan seorang Werewolf. Dan jujur saja, kamu pasti akan merasa sangat terkejut sekaligus tidak percaya saat mendengar namanya langsung dari mulutku."

Alan kembali melangkah, namun sedetik kemudian ia menggelengkan kepala. Raut wajah kaku di paras rupawannya kini menunjukkan ketertarikan yang nyata atas teka-teki tersebut.

"Apa susahnya, sih? Tinggal sebutkan saja namanya padaku sekarang juga! Jangan membuatku penasaran di tengah hutan yang gelap seperti ini, Ethan."

Ethan ikut menghentikan langkah jalannya tepat di tepi aliran air sungai yang mengalir tenang. Ia memutar tubuhnya, menatap lurus tepat ke dalam sepasang manik mata ungu milik Alan dengan ekspresi wajah datar yang teramat sulit untuk dibaca.

"Pasangan jiwa yang ditakdirkan untuk adikku... adalah Samuel," ucap Ethan tegas.

Manik mata Alan seketika memulatkan sempurna, melebar akibat hantaman rasa terkejut yang luar biasa hebat. Keheningan yang mencekam mendadak menyergap atmosfer di antara kedua pemuda itu selama beberapa saat. Hanya terdengar suara gemerisik daun yang saling bergesekan ditiup angin malam. Sebelum akhirnya Alan mengeluarkan kekeh tawa pelan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gestur tidak percaya.

"Kamu jangan pernah bicara omong kosong atau melontarkan lelucon konyol seperti itu, Ethan! Semua orang di klan tahu kalau Samuel itu sudah memiliki kekasih hati dan dalam waktu dekat ini mereka akan segera melangsungkan ritual pernikahan suci. Tidak mungkin pria dengan integritas tinggi sepertinya tega mengkhianati komitmennya," sanggah Alan keras.

Ethan mendengus kasar. Ia memutar bola matanya jengah sembari menatap Alan dengan pandangan penuh kekesalan yang kentara karena ceritanya dianggap bualan.

"Sudah kuduga sejak awal. Kamu pasti tidak akan pernah mau memercayai ucapanku. Memang benar-benar percuma saja aku menceritakan masalah pribadiku padamu," ketus Ethan penuh kekecewaan.

Tanpa membuang waktu lagi, Ethan segera membalikkan tubuhnya memunggungi Alan. Ia melanjutkan langkah kakinya yang lebar dengan gusar. Setiap pijakan kakinya dengan sengaja menginjak ranting-ranting pohon yang kering di atas tanah hingga menimbulkan bunyi krak yang tajam, merefleksikan suasana hatinya yang kian memburuk malam ini.

Alan yang mendadak dilingkupi rasa bersalah karena telah meragukan cerita sahabatnya, segera mengambil langkah lari kecil demi menyusul Ethan yang berjalan cepat di depannya.

"Hei, Ethan! Apa kamu sekarang benar-benar marah padaku? Maafkan aku, aku bersumpah aku hanya terlalu terkejut mendengarnya. Aku benar-benar tidak tahu kalau situasi domestik keluargamu serumit itu," ucap Alan menyesal, berusaha keras menyamakan ritme langkah kakinya di samping Ethan.

"Sudahlah, lupakan saja urusan itu," sahut Ethan dengan nada suara yang teramat dingin dan acuh tak acuh, menolak membahasnya lebih lanjut.

"Lagipula, aku tidak akan mengikutimu berjalan membelah hutan ini lagi setelah malam ini selesai. Besok pagi, aku akan langsung pergi bertolak menuju Kota Vespera."

"Vespera?"

Alan mengerutkan dahinya dalam-dalam, menangkap kejanggalan dari nama kota yang baru saja diucapkan sahabatnya tersebut.

"Untuk keperluan apa kamu pergi ke sana secara mendadak? Apa kamu berniat menemui Paman Benjamin?"

Alan berasumsi bahwa Ethan mungkin berencana mencari bantuan atau nasihat dari Mage Benjamin—seorang penyihir agung klan mereka yang memang memilih untuk tinggal menetap di kota manusia tersebut demi mengawasi perbatasan.

"Tidak. Aku pergi ke Vespera bukan untuk urusan klan, melainkan karena aku baru saja mendapatkan tugas baru di sana. Aku akan mulai mengajar sebagai seorang pengajar muda di Akademi Vesperania."

Alan tercengang sempurna mendengar penuturan itu. Langkah kakinya bahkan sempat limbung dan hampir membuat tubuh tegapnya terjerembap ke depan menabrak semak-semak. Sebagai sahabat yang tumbuh bersama sejak kecil, Alan tahu betul betapa Ethan sangat membenci dan menghindari segala bentuk pekerjaan formal. Terutama pekerjaan yang berkaitan erat dengan dunia akademis manusia.

Selama bertahun-tahun, Ethan selalu menolak dengan keras setiap permintaan ayahnya, Alpha Oliver. Pria itu enggan ikut mengelola Akademi Luminara yang megah milik klan mereka sendiri.

Lalu, bagaimana mungkin seorang calon Alpha dominan yang berjiwa liar dan bebas seperti Ethan, kini justru lebih memilih menjadi seorang guru biasa di kota asing manusia? Mengapa ia menolak menjadi pemilik sah dari akademi di wilayah kekuasaannya sendiri?

"Pengajar?"

Alan menghentikan langkahnya, menatap Ethan dengan pandangan tak percaya.

"Apa telingaku tidak salah dengar saat ini? Kamu serius dengan ucapanmu itu, Ethan?"

"Aku seratus persen serius, Alan," jawab Ethan tanpa ada keraguan sedikit pun.

Pria berambut biru itu menghela napasnya perlahan. Raut wajahnya yang rupawan mendadak berubah menjadi sendu, dilingkupi oleh kabut kesedihan yang samar.

"Adik perempuanku tinggal di asrama sana. Aku hanya ingin berada di dekatnya untuk mengawasinya secara diam-diam. Dia adalah satu-satunya saudara kandung yang kupunya di dunia ini," lanjut Ethan.

Ia berucap dengan nada yang teramat serius. Sorot sepasang matanya menerawang jauh, menembus kegelapan malam hutan yang pekat. Guratan kecemasan yang mendalam tercetak sangat jelas di keningnya yang kokoh.

Semenjak adik perempuannya memutuskan untuk tinggal di asrama luar kota dan jarang memiliki waktu untuk pulang ke Pack House, Ethan merasa kehilangan separuh jiwanya. Ia kehilangan sosok saudara kecil yang selalu ia lindungi dari bahaya apa pun sejak mereka masih kanak-kanak.

Kesulitan untuk sekadar menemui adiknya saja sudah cukup menyiksa batinnya selama ini. Ditambah lagi, sekarang gadis kecil itu ternyata sudah berhasil menemukan Mate—pasangan jiwa mutlak yang ditakdirkan oleh Dewi Bulan.

Sebagai seorang kakak laki-laki, Ethan merasa roda dunia berputar terlalu cepat di luar kendalinya. Adiknya masih berada di akademi tingkat atas, namun takdir magis sudah mengikat jiwanya pada seorang pria dewasa. Bukannya ia tidak menghargai restu suci dari Dewi Bulan.

Namun, lubuk hati kecil Ethan masih dipenuhi oleh keraguan dan ketakutan yang besar. Ia belum sepenuhnya bisa menaruh kepercayaan pada Samuel, meskipun pria itu merupakan salah satu teman dekatnya sendiri di lingkungan klan.

"Aku hanya merasa takut jika suatu saat nanti Samuel mengkhianati kepercayaannya," bisik Ethan lirih. Jemari tangannya yang kekar meremas kuat tali ransel kanvas yang ia sandang di bahunya.

"Aku takut jika pria itu tiba-tiba goyah lalu memilih untuk kembali pada kekasih lamanya, kemudian meninggalkan adik kecilku dalam kondisi hancur berkeping-keping. Sebagai kakaknya, aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan hal mengerikan itu terjadi."

Alan yang berjalan konstan di sampingnya mendengarkan setiap bait kalimat itu dengan saksama. Sebagai sesama makhluk supernatural, ia bisa merasakan dengan sangat jelas adanya pancaran proteksi yang begitu besar meluap dari aura werewolf milik Ethan. Itu adalah insting alami seorang serigala dominan yang ingin melindungi darah dagingnya sendiri.

"Jadi... maksudmu, ayahmu dan adikmu sendiri sama sekali tidak mengetahui fakta bahwa kamu akan pergi ke Vespera dan menjadi seorang pengajar di sana?" tanya Alan kembali. Ia berusaha memastikan sejauh mana kenekatan sahabatnya itu.

"Hmm,"

Ethan hanya bergumam pendek sebagai jawaban. Langkah kakinya menginjak sekelompok ranting kering yang patah dengan suara krak yang tajam menggema di keheningan malam.

"Lebih tepatnya, aku ingin melarikan diri sejenak dari semua tekanan dan kontrol Ayah. Aku sudah benar-benar muak dengan segala bentuk perbandingan prestasi dan tuntutan yang tidak ada habisnya itu, Alan. Aku ingin memilih jalanku sendiri."

Ethan menghentikan pergerakan langkah jalannya sejenak. Ia menolehkan wajahnya ke arah Alan sembari menampilkan seulas senyuman miring yang sedikit dipaksakan di bibirnya yang tipis.

"Siapa tahu... mungkin jika aku pergi ke Kota Vespera, takdir justru akan mempertemukanku dengan Mate sejatiku di sana. Dan jika saat yang dinanti-nanti itu benar-benar tiba..."

Ethan sengaja menjeda kalimat ucapannya. Ia menarik napas panjang ke paru-parunya, lalu membusungkan dadanya dengan gaya menantang langit malam yang bertabur bintang.

"...aku bersumpah tidak akan mau menunggu waktu lama lagi! Aku akan langsung menggigit tengkuknya untuk menandainya, mengklaim seluruh jiwa dan raganya, lalu menjadikannya istri sahku saat itu juga!"

Setelah kalimat penuh tekad yang meluncur bebas dari bibirnya, Ethan seketika meledak dalam kekeh tawa geli yang renyah. Kedua bahunya yang tegap berguncang hebat karena tawa, menyadari betapa konyol ucapan barusannya yang terdengar persis seperti seorang pria lajang yang sudah sangat putus asa karena belum menemukan pasangannya.

Ia sebenarnya hanya asal bicara sebagai bumbu humor untuk mencairkan suasana hatinya yang sedari tadi mendung.

Namun, siapa yang menyangka bahwa Alan justru menanggapi bualan konyol tersebut dengan raut wajah yang teramat serius. Tidak ada celah bercanda sedikit pun di wajah kaku pria itu. Tanpa ada sedikit pun guratan senyuman di bibirnya,

Alan mengulurkan tangannya yang kekar dan menepuk pundak Ethan beberapa kali dengan mantap. Itu adalah sebuah gestur dukungan antar-pria sejati yang teramat tulus.

"Itu adalah semangat tekad yang sangat bagus, Ethan. Semoga berhasil dengan misimu," ucap Alan dengan nada suara rendah yang dipenuhi oleh keyakinan mutlak.

"Kalau kamu sudah berhasil menemukannya nanti, jangan pernah lupa untuk segera memberitahu aku. Dan yang paling penting... jangan pernah sekali-kali melepaskannya jika kamu sudah menemukannya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!