Ardio adalah seorang mafia kejam sejak kematian istri yang meninggal karena di bunuh oleh musuhnya, padahal istrinya bari melahirkan seorang bayi.
Setelah kepergian istrinya, ia menjadi bertambah kejam, meskipun begitu, ia sangta lembut kepada putri kecilnya yang bernama Adel, bahkan menggantikan popok pun ia mau bahkan rela begadang agar buah hatinya tidak terganggu oleh masalah.
Hari ini ia sedang mengeksekusi penjahat yang ingin menganggu bisnisnya, Tiba-tiba saja ia mendapat telpon dari pengasuh anaknya jika Adel tidak bisa tidur tanpa dirinya, dan ia rela pulang, dan menyurh anak buahnya untuk mengeksekusi penjahat tersebut.
Meskipun ia mafia kejam, tapi ia adalah ayah yang penyayang.
Adel pun berusia masuk SMA favorit, tapi ia mendapatkan pembullyan daei teman Sekolahnya karena ada seorang pria primadona yang mendekatinya.
Sementara ia tidak sedikit pun menyukai sang primadona tersebut.
Tapi Adel menyimpan sendiri pembullyan itu hingga akhirnya di ketahui oleh Ardio.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Di tengah ruangan, seorang pria paruh baya terikat erat di kursi kayu, wajahnya sudah babak belur. ada darah menetes di ujung bibirnya.
Dia adalah Bram, mantan kepercayaan Ardio yang terbukti menjual data rahasia perusahaan ke kelompok musuh.
"Kau sunggu berani sekali ya Bram, ku pikir kau adalah orang yang paling setia, ternyata kau sangat berani mengkhianati ku!" kata Ardio berdiri santai di hadapannya.
Ia sedang memutar-mutar pisau lipat seperti mainan.
Bram hanya terdiam dengan kepala tertunduk.
"Aku menanyakan ini untuk terakhir kalinya, Bram. Siapa yang menyuruhmu membocorkan jalur pengiriman di pelabuhan utara?" tanya Ardio dengan suara rendah, tapi penuh hawa membunuh.
Bram terbatuk, meludahkan darah ke lantai.
"A-aku tidak tahu apa-apa, Bos Ardio! Demi Tuhan, bukan aku pelakunya! Tolong, ampuni aku!" kata Bram memohon.
"Kamu membawa nama Tuhan di tempat seperti ini?" Ardio terkekeh dingin.
Ia melangkah maju, menancapkan ujung pisau tepat di atas luka terbuka di bahu Bram.
"ARGGGHHH! Ampun, Bos! Ampun!" jerit Bram histeris kesakitan luar biasa.
"Bram, kamu tahu persis aturan di organisasiku. Pengkhianat tidak punya hak untuk memohon. Pilihanmu hanya dua: bicara jujur sekarang, atau aku kuliti kulit tubuh mu sedikit demi sedikit sehingga kau tau apa itu rasa sakit!" bisik Ardio tepat di telinga pria itu.
"Bos... tolong... anak dan istriku..."
"Lalu bagaimana dengan istriku?! Istriku mati karena pengkhianat seperti kalian! Jadi jangan berani-berani membawa nama keluarga di depanku!" bentak Ardio dengan suara keras.
Amarah meledak, membuat puluhan anak buah yang berbaris di sekeliling gudang langsung menahan napas.
Ardio mengangkat tangannya, bersiap menghujamkan pisau itu ke bahu Bram.
Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Itu adalah nada dering khusus yang hanya digunakan untuk satu nomor.
Ardio menghentikan gerakannya. Ia merogoh saku jasnya dan mengangkat ponsel tersebut.
Nama pemanggil di layar tersebut adalah dari pengasuh Adel.
"Ada apa, Bi?" tanya Ardio.
Suaranya berubah 180 derajat menjadi sangat lembut.
"T-Tuan Ardio... mohon maaf mengganggu. Non Adel menangis histeris sejak setengah jam yang lalu. Beliau tidak mau minum susu dan terus memanggil 'Papa'. Suhu badannya juga agak hangat, Tuan. Saya sudah coba menimangnya, tapi Non Adel tetap tidak bisa tidur tanpa Tuan..." suara Bi Inah di ujung telepon terdengar panik.
Di belakang, terdengar suara tangisan bayi yang sangat histeris dan memilukan.
Mendengar tangisan putri kecilnya, Raut wajahnya berubah menjadi cemas.
"Tenangkan dia dulu, Bi. Usap punggungnya pelan-pelan. Aku pulang sekarang. Sepuluh menit lagi aku sampai rumah!" kata Ardio dengan nada khawatir yang tak bisa disembunyikan.
"Baik, Tuan. Terima kasih, Tuan."
Ardio mematikan sambungan telepon dan mengantongi ponselnya kembali.
Ia berbalik menatap Reno, tangan kanannya yang berdiri tak jauh darinya.
"Reno," panggil Ardio singkat.
"Siap, Bos!" Reno maju satu langkah dan menunduk hormat.
"Ambil alih eksekusi ini. Pastikan dia membocorkan semua nama sebelum subuh. Kalau dia tetap bungkam, kuliti tubuhnya sampai dia mengaku!" perintah Ardio sambil melemparkan pisau lipatnya ke arah Reno.
Reno menangkapnya dengan sigap.
Bram yang mendengar hal itu langsung membelalakkan mata ketakutan. "Bos Ardio! Tolong, jangan tinggalkan aku! Bos!"
Ardio sama sekali tidak menoleh. Ia mengibaskan jas hitamnya dan berjalan cepat menuju pintu keluar gudang.
Bagi Ardio, transaksi ratusan miliar maupun urusan pengkhianat bisnis tidak ada artinya sama sekali jika dibandingkan dengan setetes air mata dari putri kecilnya.