NovelToon NovelToon
Mendadak Menikah

Mendadak Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.

Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.

Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dirawat

**

"Ini kenapa sih, bisa begini?"

Ini sudah pertanyaan sekian yang Ayana ajukan kepada dua orang lelaki yang berlabel teman dekatnya Reyhan, lelaki yang saat ini tengah berbaring di ranjang rumah sakit dengan luka yang cukup serius.

"Kalian memangnya dari mana, bisa pulang dini hari begini?"

Bima berdehem, berusaha untuk mengusir kecanggungan. "Kita habis ada acara, terus Reyhan pulang lebih dulu. Terus, tadi ada temen yang pulang duluan nelpon ngabarin nemuin Reyhan yang udah luka-luka di pinggir jalan."

"Acara bukan kerja?" tanya Ayana yang membuat kedua orang itu bingung, terutama Bima.

"Hah ... kerja?" Bima masih bingung, kemudian menyadari sesuatu. "Iya, maksudnya kita kerja di acara orang. Terus kerjaannya emang udah selesai, jadi Reyhan pulang duluan. Kalau kita berdua emang lanjut buat have fun nikmati acaranya. Iya gak, Dion?"

Dion yang setengah pusing akibat minum, menoleh karena lengannya disenggol oleh Bima. "Kenapa?"

"Iya kan, kita lagi kerja?" tanya Bima gregetan sambil merangkul Dion, seolah memastikan jika lelaki itu bisa diajak kerja sama demi kelangsungan rumah tangga temannya agar tetap damai sentosa, sejahtera bumi Nusantara ini.

Dion mengangguk, karena memang kepalanya ditekan oleh Bima dari belakang. "Iya, kita memang kerja, sih."

Terdengar tawa canggung dari Bima. "Iya, Reyhan gak bohong kok soal dia kerja. Beneran kerja, serius."

Ayana mendengus. "Aku gak pernah bilang kalau Reyhan bohong kok, tapi saat melihat tingkah kalian yang seperti ini aku jadi curiga kalau dia bohong."

Bima menggeleng berlebihan. "Enggak--"

"Keluarga pasien?" Suara dokter yang baru saja keluar dari ruangan langsung menghentikan obrolan tak berarti mereka yang akan mengarah ke hal yang mereka jawab dengan jujur itu. 

"Iya, Dok," jawab Ayana dan Bima bersamaan, sedangkan Dion sudah merebahkan dirinya di kursi tunggu.

"Kita sudah melakukan pemeriksaan medis, tapi hasilnya akan keluar nanti pagi saat dokter radiologinya sudah datang. Saya sebagai dokter umum sudah menangani semua luka luarnya, untuk hasil lebih jelasnya tunggu hasil pemeriksaan besok pagi. Jika melihat dari luka di kepalanya, saya menduga ada keretakan tulang kepala. Tapi lebih lanjutnya lagi, besok dokter saraf akan memeriksanya. Untuk sementara pasien masih dalam keadaan tidak sadar, tapi kondisinya sekarang sudah stabil. Oh iya, saya ingin memberitahukan dari sekarang kalau pihak keluarga harus bersiap dengan kemungkinan ada operasi kecil."

"Terimakasih Dok, tapi udah bisa pindah ke kamar rawat, kan?" tanya Bima yang merasa khawatir jika luka Reyhan ternyata separah itu.

"Belum, masih menunggu hasil keputusan dokter saraf besok. Kalau begitu, saya permisi terlebih dahulu. Oh iya, tolong segera urus segala administrasi perawatannya di depan."

"Baik Dok, sekali lagi terimakasih," jawab Bima lagi.

Setelah kepergian dokter, dua orang itu langsung terduduk lemas lagi di ruang tunggu. Pikiran mereka seolah tengah berkeliaran kemana-mana. Berbeda dengan Dion yang sekarang malah tengah cekikikan sambil tertidur lelap. Memang gila dia, entah sedang bermimpi apa lelaki itu.

Ayana memegang erat tas jinjing yang dia gunakan. Sekarang, dia bingung apa yang harus dilakukan? Dia tidak pernah membayangkan akan berada diposisi ini. Bahkan, berada di rumah sakit pada dini hari begini seperti berada dalam mimpi buruk bagi gadis itu.

Tadi, dia sedang tertidur lelap saat mendapatkan telepon dari nomer Reyhan dan pada saat diangkat bukan lelaki itu yang berbicara, melainkan Bima yang mengatakan jika Reyhan mengalami kecelakaan dan sekarang sedang berada di rumah sakit.

Ayana jelas panik, saking paniknya dia lupa menggunakan jaket tebal dan hanya menggunakan piyama tidur panjangnya. Gadis itu menarik napas berat perlahan, seolah berusaha kembali meyakinkan dirinya atas keputusan yang akan dia ambil untuk saat ini.

"Mau kemana?" tanya Bima saat melihat Ayana berdiri.

"Aku mau urus administrasi dulu di depan," jawab Ayana akan berlalu.

"Tunggu!" panggil Bima yang menghentikan langkah Ayana, lelaki itu mengambil sesuatu dalam saku jaketnya. "Ini ambil!"

Ayana menatap bingung, melihat amplop yang Bima berikan kepadanya. Akhirnya, dia mengambil amplop itu saat melihat Bima yang terus menyodorkannya.

"Ini apa?"

Dia tidak bodo sih, untuk tahu apa isi amplop ini. Tapi uang sebanyak ini milik siapa? Milik lelaki ini?

"Itu uang kerja Reyhan hari ini. Untung uangnya gak diambil, tapi gak tahu masih utuh apa enggak. Kalau masih utuh, harusnya itu ada 20 juta. Semoga cukup untuk biaya pengobatan Reyhan, apalagi jika dia ada operasi pasti membutuhkan uang gede. Nanti, gue bantu nyari buat sisanya."

Melihat Ayana terdiam, seolah tak yakin dengan uang itu. Pasalnya Reyhan miskin, Ayana jelas kaget saat lelaki itu kerja dan mendapat uang sebanyak itu.

"Itu uang yang Reyhan dapatkan dari kerja bener bukan gak bener." Bima menggaruk tengkuknya, dia tidak tahu uang taruhan itu termasuk halal atau enggak. "Gue gak bisa bilang kerja Reyhan apa. Nanti, lo tanyain aja pas dia udah bangun."

Akhirnya, Ayana mengangguk. Dia harus percaya Reyhan karena selama ini lelaki itu walau tingkahnya absurd tapi terlihat benar. "Ok, makasih."

Sebenarnya, dia juga sudah membawa uang tabungannya. Dia sudah berpikir akan menggunakan uang ini. Walau berat, tapi bagaimanapun Reyhan tetap suaminya. Selama ini, lelaki itu sudah sangat bertanggungjawab walaupun pernikahan mereka ini terpaksa.

"Semoga uang ini cukup. Kalau enggak, gak papa kok uang tabungan aku kepake. Nanti, tinggal minta cowok itu ganti berkali-kali pas udah bangun. Dia pasti bangun."

Ayana tidak tahu jika perawatan rumah sakit akan sebesar ini. Hanya untuk biaya perawatan penanganan awal dan menginap dua hari sudah menghabiskan setengah uang kerja Reyhan. Walau saat ini uang tabungannya belum terpakai, tapi waktu masih panjang. Dia tidak tahu sampai kapan Reyhan akan dirawat. Tidak menutup kemungkinan, uang tabungannya yang tidak seberapa itu juga akan terpakai. Bahkan, mungkin masih kurang.

"Sekarang, aku harus gimana?"

Ayana sudah jatuh terduduk lemas di koridor lantai rumah sakit. Bagaimana, jika ada operasi kecil? Darimana dia harus mencari uang? Dia juga masih pengangguran dan masih mencari informasi lowongan pekerjaan yang belum ada kabar hilal baiknya sampai saat ini.

Ayana dengan sekuat tenaga bangkit berdiri, kembali ke kursi duduk untuk istirahat sejenak. Saat kembali, Ayana tidak menemukan Bima di sana, hanya ada Dion yang masih tertidur lelap.

Saat Ayana sudah mulai memejamkan mata, terdengar panggilan pelan di telinga kirinya.

"Ayana, tolong bangun sebentar," panggil pelan Bima yang berhasil membuat Ayana membuka mata walau masih mengantuk.

"Iya, kenapa?"

"Sebaiknya kamu tidur di dalam saja. Sebelum kamar rawat pasien ada ruangan, tadi sudah tanya suster pihak keluarga bisa menunggu di sana. Di dalam juga ada beberapa orang yang sedang menunggu juga." Bima sudah kembali duduk, dia terlihat ragu. "Dan ... sorry, gue barusan udah kabarin keluarganya Reyhan soal keadaannya. Gue tahu pernikahan kalian masih dirahasiakan dari keluarganya, tapi kondisi Reyhan benar-benar gak bisa disembunyikan."

"Iya gak papa, aku ngerti."

"Tenang aja. Kalau masih mau disembunyikan, nanti kita tinggal bilang kalian pacaran atau teman dekat," ujar Bima tidak enak sebenarnya. "Kalau lo mau jujur juga gak papa. Setahu gue, orangtua Reyhan baik dan bakal welcome kalau lo bilang kejadian yang sebenarnya."

"Itu bukan hak aku buat kasih tahu orangtua dia, tapi itu hak Reyhan." Ayana tersenyum tipis. "Kalau begitu, aku pamit masuk dulu."

Bima mengangguk, setelah itu Ayana benar-benar masuk ke dalam. Dia melihat ada beberapa orang yang tertidur juga.

Ayana melihat ke dalam kaca ruang ICU, dimana Reyhan sedang terbaring dengan beberapa alat di tubuhnya. Dia menarik napas berat, memandang  Reyhan sendu. Reyhan belum bisa dijenguk langsung, masih menunggu keputusan besok.

"Kerjaan apa sih, yang kamu lakukan sehingga jadi gini? Kita ini masih orang asing, tiba-tiba malah melihat kamu kecelakaan gini. Kamu tahu kan, aset yang kamu punya satu-satunya cuman wajah. Selain wajah, seperti yang kamu bilang kamu miskin dan menurutku kewarasanmu juga minus. Sekarang, lihat aset kamu babak belur. Aset kamu udah hilang. Sekarang kamu punya apa?"

Ayana akhirnya menangis. Rasanya sakit, kenapa yah? "Kamu lelaki baik, bertanggungjawab. Kamu harus cepet bangun, aku lebih suka lihat tingkah gila kamu daripada kaya gini. Utang kamu masih banyak, aku gak mau nanggung."

Mereka masih orang asing, tapi kenapa dia harus merasa sesakit ini? Kenapa? Apa karena selama ini lelaki itu bertanggungjawab?

Ayana menghapus kasar air matanya. "Jangan sakit, cepat sembuh. Aku gak mau jadi janda muda."

Ayana sudah merasakan matanya berat. Sepertinya dia butuh istirahat untuk bisa menghadapi kenyataan esok hari yang pasti lebih berat. Dia mencari space kosong, setelah itu menidurkan dirinya yang beralas selimut tipis yang ada di lemari di sana. Dia tertidur dengan posisinya terduduk memeluk tubuhnya sendiri. Rasanya tidak nyaman tidur berbaring di ruangan asing dengan ada beberapa orang asing.

Sayup-sayup, Ayana mendengar suara orang yang berbicara. Perlahan dia membuka mata, walau masih terasa berat karena rasanya baru saja dia tertidur. Sejenak dia loading sedang berada dimana sekarang.

"Ayana bangun, ada dokter mau periksa!" panggil Bima yang sudah bersiap masuk ke dalam ruangan Reyhan.

Ayana juga melihat, ada dokter dan perawat yang sedang memeriksa Reyhan. Dia buru-buru bangun, badannya terasa sakit mungkin efek karena tidur sambil duduk.

"Memangnya ini jam berapa?" tanya Ayana ke Bima saat mereka akan masuk.

"Jam 9, ayo!"

Ternyata terlalu siang dia bangun. Pantas, sudah tidak ada orang. Untung saja, dia tidak diusir oleh petugas kebersihan. Apa mungkin belum dibersihkan?

Ayana menggeleng, tidak penting sekarang karena paling penting mengetahui kondisi Reyhan.

Saat masih menunggu dokter memeriksa, tiba-tiba pintu terbuka dengan tergesa. Di sana ada sepasang suami istri yang bisa Ayana tebak siapa. Wajah mereka tampak terlihat panik.

"Dokter, bagaimana kondisi anak saya?"

"Sebentar yah, Ibu, Bapak, kami masih melakukan pemeriksaan."

Ibu itu tiba-tiba melihat ke arah Ayana, wajahnya terlihat bingung. "Kamu siapa?"

Ayana melihat Bima yang terlihat bingung juga. "Anu ... sa--ya ...."

##

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!