Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.
Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.
Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.
Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Karin! Akhirnya kau turun!" sapa Paman Hendra, langsung berdiri dan menghampiri Karin dengan senyum yang terlalu lebar. "Paman sudah menunggu sejak jam lima pagi."
Karin menatap pria itu, lalu menatap jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi. "Paman nunggu dari jam lima? Paman nggak tidur? Nanti matanya jadi mata panda lho. Terus kalau Paman jadi panda, Paman harus makan bambu. Paman suka bambu?"
Paman Hendra mengabaikan pertanyaan itu, langsung menyodorkan map hitam itu ke wajah Karin. "Karin, dengar baik-baik. Eyang memang memberimu lima persen saham, tapi kau tidak mengerti cara mengelolanya. Saham itu bisa membuatmu rugi besar jika tidak ditangani profesional. Jadi, Paman sudah siapkan dokumen ini. Kau tinggal tanda tangan, dan Paman akan mengurus semuanya. Kau tidak perlu pusing."
Karin menatap map itu. Di dalam novel, Paman Hendra adalah salah satu direktur korup yang berusaha menguasai perusahaan dari dalam. Jika Karin menandatangani dokumen itu, ia akan kehilangan semua hak suaranya dan Paman Hendra akan menggunakan sahamnya untuk menggulingkan Arlan dari posisi CEO di bab tiga puluh.
Tidak akan terjadi, batin Karin, matanya menajam selama sepersekian detik sebelum kembali memancarkan kepolosan.
"Tanda tangan?" Karin mengambil map itu, membukanya, dan menatap deretan halaman penuh teks hukum yang rumit. "Wah, banyak tulisan! Hurufnya kecil-kecil, kayak semut baris-berbaris."
"Iya, iya, kau tidak perlu membacanya," desak Paman Hendra, menyodorkan pena emas. "Tanda tangan saja di halaman terakhir."
Karin mengambil pena itu, lalu menatap Paman Hendra dengan wajah sangat serius. "Paman, tapi ada masalah."
"Apa?"
"Kue tartnya menangis."
Paman Hendra berkedip. "Kue... apa?"
Karin menunjuk ke arah meja makan, di mana Bu Marta baru saja meletakkan kue tart cokelat untuk sarapan. "Kue tart di sana, Paman. Dia menangis karena Paman maksa aku tanda tangan. Kuenya sedih, Paman. Dia bilang, 'Karin, jangan tanda tangan, nanti kamu celaka!' Kue tart itu punya firasat buruk, Paman."
Paman Hendra wajahnya memerah. "Karin, berhenti bicara omong kosong! Ini urusan bisnis serius senilai triliunan rupiah! Kau tidak bisa.."
"Triliunan?" Karin memotong, matanya membelalak kaget. "Wah, itu banyak banget! Berarti kalau aku tanda tangan, aku harus bayar triliunan dong? Paman mau aku bayar pakai apa? Aku cuma punya uang jajan lima puluh ribu dari Kak Arlan!"
"Bukan begitu! Kau tidak perlu bayar..."
"Terus kalau aku nggak bayar, Paman akan kirim debt collector ke rumahku?" Karin mundur selangkah, memeluk map itu di dadanya seolah itu adalah tameng. "Paman, aku takut sama debt collector! Mereka kan pakai jaket hitam dan naik motor gede! Nanti kalau mereka datang, anjing tetangga pasti gonggong, terus aku nggak bisa tidur, terus aku jadi zombie!"
Paman Hendra kehilangan kesabarannya. Ia melangkah maju, mencoba merebut map itu dari tangan Karin. "Serahkan dokumen itu, Karin! Kau tidak mengerti apa yang sedang terjadi!"
"JANGAN SENTUH KUE TARTKU!" teriak Karin, lalu dengan gerakan yang sangat cepat, terlalu cepat untuk seseorang yang seharusnya bodoh, ia melipat map itu menjadi pesawat kertas dan melemparkannya ke arah ventilasi AC di langit-langit.
Map itu meluncur sempurna, masuk ke celah ventilasi, dan hilang.
Paman Hendra ternganga. "Kau... kau baru saja melempar dokumen hukum senilai triliunan ke dalam ventilasi?"
Karin tersenyum lebar, bertepuk tangan. "Pesawatnya terbang, Paman! Lihat, dia sudah sampai di langit-langit! Nanti kalau pesawatnya mendarat di awan, aku minta tolong malaikat kirim balik ya!"
Paman Hendra gemetar karena amarah. Ia mengangkat tangannya, seolah ingin menampar Karin. Tapi sebelum tangannya bisa bergerak, sebuah suara dingin membelah udara seperti pisau.
"Sentuh istriku, dan tanganmu akan kupotong sebelum kau sempat berkedip."
Arlan berdiri di ambang pintu ruang tamu, mengenakan kemeja hitam yang digulung hingga siku. Wajahnya tenang, tapi matanya gelap dan mematikan. Aura membunuh yang dipancarkannya membuat suhu ruangan turun drastis.
Paman Hendra langsung menarik tangannya, wajahnya pucat pasi. "A-Arlan! Aku hanya... aku hanya ingin membantu Karin mengurus sahamnya..."
"Saham Karin adalah urusanku," ucap Arlan, melangkah maju dan berdiri di depan Karin, tubuhnya menjadi perisai. "Dan jika kau berani datang ke rumahku lagi tanpa undangan, aku akan memastikan kariermu di Dirgantara Group berakhir hari ini juga. Keluar."
Paman Hendra tidak perlu disuruh dua kali. Ia berlari keluar dari rumah dengan kecepatan yang mengejutkan untuk pria seukurannya.
Setelah pintu tertutup, Arlan berbalik menatap Karin. Wajahnya masih dingin, tapi matanya menyapu tubuh Karin dari atas ke bawah, memastikan istrinya tidak terluka.
"Kau baik-baik saja?" tanya Arlan, suaranya jauh lebih lembut dari yang Karin harapkan.
"Aku baik-baik aja, Kak!" jawab Karin riang, lalu menunjuk ke langit-langit. "Tapi pesawat kertasnya nyangkut di ventilasi. Nanti kalau AC-nya dinyalakan, dokumen Paman Hendra bakal terbang ke seluruh rumah kayak salju!"
Arlan menatap ventilasi, lalu menatap Karin. "Kau sengaja melempar dokumen itu ke ventilasi."
"Nggak sengaja, Kak! Tanganku kepleset!" bohong Karin, memasang wajah paling tidak bersalah.
Arlan menatapnya lama. Lalu, tanpa peringatan, ia mengulurkan tangan dan mengusap kepala Karin dengan lembut. Gerakan itu begitu natural, begitu penuh kasih sayang, hingga Karin lupa bernapas selama dua detik.
"Terima kasih sudah tidak menandatanganinya," bisik Arlan. "Meskipun alasanmu tentang kue tart yang menangis adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah kudengar."
Karin menatap Arlan yang sudah berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya. Jantungnya berdegup kencang, pipinya memanas.
Gawat, batin Karin, memegang dadanya. Kenapa jantungku deg-degan? Ini cuma novel! Arlan cuma karakter fiksi! Aku tidak boleh jatuh cinta pada CEO dingin yang di bab dua puluh seharusnya menceraikanku!
Tapi saat ia menatap punggung lebar Arlan yang menghilang di balik pintu, Karin tahu satu hal: topeng idiotnya mungkin masih aman, tapi pertahanan hatinya mulai retak.
Dan di sudut ruangan, Bu Marta tersenyum kecil sambil mengelap meja. "Akhirnya," gumamnya pelan. "Tuan muda mulai sadar."
lanjut kn thor💪