Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.
Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.
Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.
Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.
Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Milikmu?
Mo Yuuran baru saja hendak kembali ke Paviliun Naga setelah memastikan keadaan ketiga pangeran. Langkahnya tenang, namun pikirannya masih dipenuhi banyak hal.
Seorang pelayan berlari kecil menghampiri dan langsung berlutut. “Permaisuri, Jenderal Mo datang bersama pejabat Bo Wen. Mereka ingin bertemu dengan Anda.”
Mo Yuuran berhenti, lalu tersenyum tipis. “Secepat ini?” gumamnya pelan.
Ia sudah memperkirakan mereka akan datang, namun tidak menyangka akan setergesa ini. Matanya sedikit menyipit, seolah sedang menghitung sesuatu.
“Katakan pada mereka, aku akan menemui mereka setelah makan siang.”
Pelayan itu sedikit terkejut. “Permaisuri?”
“Aku tidak ingin diganggu,” lanjut Mo Yuuran datar. “Biarkan mereka menunggu.”
Pelayan itu tampak ragu. “Ta–tapi biasanya Permaisuri langsung menemui Jenderal Mo…”
Ia menunduk lebih dalam. “Bahkan saat Anda sedang tidak sehat. Apalagi di luar cuaca sedang dingin.”
Mo Yuuran hanya menatapnya tanpa ekspresi. Tatapannya tajam, membuat pelayan itu langsung gemetar.
“Lakukan seperti yang kukatakan,” ucapnya dingin.
“Baik Permaisuri,” jawab pelayan itu cepat, tidak berani membantah lagi.
Ia segera pergi, meninggalkan Mo Yuuran yang kembali melangkah seolah tidak terjadi apa-apa.
Sementara itu, di luar Paviliun Phoenix, dua sosok pria beda usia berdiri menunggu. Angin dingin mulai berhembus, menandakan pergantian musim yang semakin mendekat.
Mo Feng mengernyit, menarik jubahnya lebih rapat. “Kemana Mo Yuuran?” gerutunya kesal.
Ia melirik ke arah pintu paviliun yang tertutup rapat. “Biasanya dia langsung menemui kita.”
Nada suaranya dipenuhi ketidakpuasan. “Bahkan sebelum dia datang, para pelayan akan menjamu kita dengan sangat baik.”
Bo Wen berdiri di sampingnya, wajahnya lebih tenang dan penuh pertimbangan. “Itu yang aneh,” ujarnya pelan.
Ia menyapu pandangan ke sekeliling. “Sejak beberapa waktu terakhir, kita sulit mendapatkan informasi dari dalam istana.”
Mo Feng mengerutkan kening. “Kau juga merasakannya?”
Bo Wen mengangguk. “Seolah ada sesuatu yang sengaja ditutup.”
Angin dingin kembali berhembus, membuat suasana semakin tidak nyaman.
“Selama kita di perbatasan,” lanjut Bo Wen, “terlalu banyak hal yang tidak kita ketahui.”
Mo Feng mendengus pelan. “Jangan bilang kau mulai mencurigai sesuatu. Berarti benar apa yang dikatakan oleh Wei'er tentang perubahan Mo Yuuran?”
Bo Wen terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Sepertinya begitu. Aku hanya merasa situasi di istana tidak lagi seperti yang kita tinggalkan.”
Keduanya kembali terdiam. Tanpa mereka sadari, orang-orang mereka yang ada di dalam istana satu per satu telah disingkirkan oleh Mo Yuuran.
“Ugh! Aku benar-benar kenyang,” ujar Mo Yuuran sambil menepuk-nepuk perutnya.
Xia Lu dan pelayan lainnya hanya diam. Baru kali ini mereka melihat Mo Yuuran benar-benar makan dengan sangat lambat, mereka tidak tahu saja jika Mo Yuuran sengaja melakukan hal itu.
Amarah Mo Fang dan Bo Wen hampir tak terbendung saat angin dingin menampar wajah mereka tanpa ampun. Tubuh keduanya mulai menggigil, jubah tebal pun tak mampu menahan dingin yang merayap hingga ke tulang. Waktu terasa berjalan lambat, sementara kesabaran mereka kian menipis di depan Paviliun Phoenix yang tertutup rapat.
Tak lama kemudian, sosok yang mereka tunggu akhirnya muncul dari dalam paviliun dengan langkah tenang dan anggun.
Mo Yuuran berjalan tanpa tergesa, wajahnya datar seolah tidak melihat dua pria yang hampir membeku di hadapannya. Kehadirannya yang begitu santai justru membuat amarah Mo Fang meledak seketika.
“Mo Yuuran!” bentak Mo Fang dengan suara keras yang bergetar antara marah dan dingin. “Berani sekali kau membuat kami menunggu di luar sampai seperti ini!”
Mo Yuuran hanya melirik sekilas, matanya dingin dan tak tersentuh emosi. “Kalian datang tanpa pemberitahuan,” ujarnya tenang. “Jadi jangan salahkan aku. Seharusnya kalian membuat janji terlebih dahulu.”
Ucapan itu membuat keduanya tertegun, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Bo Wen menyipitkan mata, sementara Mo Fang menatap putrinya dengan ekspresi penuh ketidakpercayaan.
“Kau menyuruh ayahmu sendiri membuat janji?” suara Mo Fang meninggi. “Sejak kapan kami harus melakukan hal konyol seperti itu?”
Mo Yuuran mengangkat dagunya sedikit, tatapannya tajam dan penuh wibawa. “Kenapa tidak?” katanya dingin. “Aku adalah Permaisuri di kekaisaran ini. Aturan berlaku untuk semua orang, tidak terkecuali kalian berdua.”
Kata-kata itu seperti tamparan keras bagi Mo Fang, membuat wajahnya memerah karena marah. Tangannya mengepal, urat di pelipisnya menonjol jelas saat ia hendak memaki.
Mo Yuuran dengan cepat mengangkat tangan, memotongnya sebelum satu kata pun keluar. “Cukup,” katanya singkat, suaranya tegas. “Kalian datang ke sini bukan untuk berdebat soal etika kunjungan. Katakan tujuan kalian, aku tidak ingin berbasa-basi.”
Bo Wen dan Mo Fang saling berpandangan sejenak, jelas masih terkejut dengan perubahan sikap wanita di depan mereka. Namun Mo Fang segera melangkah maju, menahan amarahnya sambil menatap tajam.
“Baik,” katanya dengan nada menekan. “Aku ingin tahu kenapa kau mengambil harta di gudangku. Kenapa kau menghentikan pasokan makanan dan senjata untuk pasukanku. Dan kenapa hasil tambang emasku itu juga kau ambil. Kau benar-benar putri kurang ajar!”
Udara terasa semakin dingin saat kata-kata itu menggantung di antara mereka. Mo Yuuran tidak langsung menjawab, hanya tersenyum tipis senyum yang sama sekali tidak hangat.
“Milikmu?” ulangnya pelan, nada suaranya mengandung ejekan. “Sejak kapan semua itu menjadi milikmu?”
Mo Fang terdiam sesaat, lalu mengerutkan kening. “Apa maksudmu?” tanyanya, mencoba tetap tenang meski hatinya mulai gelisah.
Mo Yuuran melangkah satu langkah lebih dekat, matanya menatap lurus tanpa ragu. “Sejak kapan kau memiliki semua itu?” katanya perlahan namun tajam. “Bukankah semua yang kau sebutkan … adalah milik ibuku, Jenderal Lingzhi?”
Keheningan langsung menyelimuti tempat itu, bahkan angin dingin pun terasa berhenti sejenak. Wajah Mo Fang berubah kaku.
#
Halo teman-teman, maaf ya author slow update akhir-akhir ini. Soalnya kesehatan lagi terganggu. 🙏