Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.
Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.
Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.
Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.
Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Ibu Suri
Pagi itu, istana langsung gempar oleh kabar kematian Kepala Pelayan Si. Para pelayan berbisik di sudut-sudut koridor, sementara wajah mereka dipenuhi ketakutan. Nama Mo Yuuran disebut-sebut dengan nada campur aduk antara kagum dan ngeri.
Di kediaman Ibu Suri Daiyu, suasana jauh lebih mencekam. Wajah wanita tua itu tampak gelap saat mendengar laporan lengkap. Amarahnya tak terbendung lagi, bagaimana bisa Permaisuri Mo Yuuran membunuh orangnya hanya karena masalah sepele, pikirnya.
Brak!
Gelas teh di tangannya dihantamkan ke meja hingga bergetar. “Beraninya dia membunuh orangku!” suaranya menggema penuh murka.
Ia berdiri dengan napas memburu, matanya menyala dingin. “Panggil Permaisuri Mo Yuuran ke sini. Katakan padanya, aku ingin menemuinya sekarang juga.”
“Baik, Ibu Suri,” jawab seorang pelayan dengan gemetar. Ia segera menunduk dan bergegas keluar dari ruangan.
Begitu pintu tertutup, keheningan hanya bertahan sesaat. Dao Ling dan Rong yang sejak tadi duduk di samping, saling bertukar pandang sebelum perlahan mendekat.
“Yang Mulia,” ujar Dao Ling dengan nada halus, “Permaisuri benar-benar sudah melampaui batas kali ini.”
Rong mengangguk pelan, wajahnya tampak prihatin namun matanya menyiratkan sesuatu yang lain. “Kepala Pelayan Si adalah orang kepercayaan Yang Mulia sejak lama. Membunuhnya sama saja dengan tidak menghormati Anda.”
Ibu Suri Daiyu mengerutkan kening, rahangnya mengeras. “Dia pikir karena menjadi permaisuri, dia bisa bertindak sesuka hati?”
Dao Ling menunduk sedikit, lalu menambahkan dengan hati-hati. “Bukan hanya itu, Yang Mulia, pagi tadi, dia juga mempermalukan kami.”
Rong langsung menyambung dengan nada lirih penuh luka. “Kami hanya ingin menemui Kaisar, membawa teh dan makanan tapi dia menghina kami tanpa alasan.”
Tatapan Ibu Suri semakin tajam. “Dia berani?”
Dao Ling menghela napas pelan, seolah menahan emosi. “Dia mengatakan kami hanya selir rendahan dari mendiang Kaisar dan tidak pantas berada di dekat Kaisar sekarang. Bagaimana pun, Kaisar Zi Xuan adalah putra kita.”
Rong menunduk dalam, pura-pura menahan air mata. “Kami tidak masalah dihina, Yang Mulia tapi ini menyangkut martabat istana.”
Ucapan itu seperti menyulut api dalam hati Ibu Suri Daiyu. Wajahnya kini benar-benar dipenuhi amarah.
“Cukup!” bentaknya keras.
Ia duduk kembali, namun auranya justru semakin menekan. “Perempuan itu benar-benar harus diberi pelajaran.”
Dao Ling dan Rong saling melirik singkat, senyum tipis hampir tak terlihat terukir di sudut bibir mereka.
“Yang Mulia bijaksana,” ujar Dao Ling lembut.
“Jika tidak dihentikan sekarang,” tambah Rong pelan, “dia akan semakin tak terkendali.”
Ibu Suri Daiyu menyipitkan mata, pikirannya mulai dipenuhi rencana. “Hari ini aku akan membuatnya tahu siapa yang sebenarnya berkuasa di istana ini.”
Sementara iti di Paviliun Naga, suasana justru berbanding terbalik dengan kegaduhan istana. Tirai-tirai tebal masih tertutup rapat, membiarkan ruangan tetap redup dan tenang. Di atas ranjang, Mo Yuuran masih terlelap, napasnya teratur, wajahnya tampak lelah namun damai.
Semalaman ia hampir tidak tidur, menjaga Zi Rui yang sempat demam, lalu memastikan Zi Cheng dan Zi Xin baik-baik saja. Pagi buta, ia kembali terkuras tenaga oleh kehangatan yang tak terduga bersama Kaisar Zi Xuan. Tak heran kini tubuhnya benar-benar menuntut istirahat.
Di luar, Xia Lu tampak mondar-mandir dengan gelisah. Tangannya saling meremas, langkahnya tak pernah benar-benar berhenti.
“Astaga apa yang harus aku lakukan?” gumamnya panik. “Ini sudah berjam-jam sejak panggilan Ibu Suri .…”
Ia menoleh ke arah pintu Paviliun Naga, ragu-ragu. “Kalau aku tidak membangunkan Permaisuri, masalahnya akan semakin besar. Tapi kalau aku membangunkannya .…”
Xia Lu menggigit bibirnya, lalu menarik napas panjang. “Tidak ada pilihan.”
Dengan hati-hati, ia membuka pintu dan masuk ke dalam. Ia sempat melirik ke sekeliling, memastikan tidak ada Kaisar di sana.
“Syukurlah,” bisiknya pelan.
Ia melangkah perlahan mendekati ranjang, namun langkahnya justru menjadi gugup. Ia berhenti, maju lagi, lalu mundur kembali.
“Permaisuri? Haruskah aku membangunkan beliau?” gumamnya pelan.
Tanpa sadar, ia mulai berjalan kecil berputar di dekat ranjang. Suara langkahnya yang berulang-ulang akhirnya mengusik tidur Mo Yuuran.
Wanita itu mengerutkan kening, lalu perlahan membuka satu matanya. “Xia Lu.” suaranya serak karena mengantuk. “Apa yang kau lakukan berputar-putar seperti itu?”
Xia Lu langsung terkejut dan berlutut. “Permaisuri!”
Mo Yuuran menutup sebelah matanya lagi, tampak enggan bangun. “Kalau tidak penting, jangan ganggu aku. Aku masih mengantuk—”
“Penting, Permaisuri!” potong Xia Lu cepat, suaranya sedikit gemetar. “Ibu Suri … memanggil Anda ke paviliunnya sejak pagi tadi.”
Mo Yuuran sedikit membuka kedua matanya, meski masih setengah sadar. “Ibu Suri?” ulangnya pelan.
“Ya, Permaisuri,” jawab Xia Lu cemas. “Dan ini sudah beberapa jam beliau pasti sangat marah sekarang.”
Mo Yuuran mengeryit tipis, lalu menghela napas malas. “Hanya karena itu?”
Xia Lu menunduk, tidak berani menatap. “Permaisuri, ini bukan hal kecil—”
“Sebentar lagi,” sela Mo Yuuran datar.
Xia Lu terdiam. “Permaisuri?”
Mo Yuuran sudah kembali memejamkan matanya, menarik selimut sedikit lebih tinggi. “Aku mau tidur dulu. Biarkan dia menunggu, siapa yang punya kepentingan, biarkan dia sabar sedikit.”
“Ta–tapi—” Xia Lu hampir panik.
“Xia Lu,” suara Mo Yuuran terdengar tenang namun tegas, “jangan membuatku mengulanginya.”
Xia Lu langsung menutup mulutnya, wajahnya pucat. “Baik Permaisuri.”
Tak lama, suara napas Mo Yuuran kembali teratur, menandakan ia benar-benar melanjutkan tidurnya tanpa beban. Sementara Xia Lu hanya bisa berlutut di sana, hatinya campur aduk antara kagum dan ketakutan.
belagu tidur nyenyak dikasur empuk
eeh justru anak kaisar malah dikasih kasur tikar