Di ulang tahun pernikahan nya yang ke sepuluh, Sarah di minta oleh ibu mertua nya menyusul Gibran yang tinggal di tanah perantauan.
Tapi alangkah terkejut nya Sarah, dia menemukan suami nya sudah menjadi suami dari wanita lain. Bahkan mereka sudah memiliki anak berusia 7 tahun. Hal yang lebih mengejutkan, setiap tahun mertua nya datang ke sana mengunjungi mereka serta memberikan banyak hadiah.
Merasa di khianati, Sarah memutuskan kembali ke kota dan memilih untuk berpisah. Tapi setiba nya di rumah, sebuah fakta baru terungkap. Selama ini suami nya membohongi ibu nya sendiri dan menjual nama Sarah demi wanita itu.
Gibran, suami nya Sarah di dukung oleh ayah nya dan juga wanita yang menjadi selingkuhan dari Ayah nya. Ibu mertua nya mendukung Sarah dan membalas perbuatan anak dan suami nya, 2 orang yang berusaha merampas semua harta nya. Tepat di hari Gibran melakukan resepsi mewah, Ibu nya dan Sarah datang memberikan kejutan yang tak terduga untuk Gibran dan juga ayah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Dengan wajah masam, pak Burhan dan bu Siti pulang ke rumah kontrakan sempit itu.
"Kenapa kau sebodoh ini? Pak Anton sudah pergi membawa uang kita, kita sudah di tipu!" Ujar Pak Burhan sambil menendang pintu.
"Aku tidak tahu jika pak Anton sudah di pecat, lalu bagai mana ini mas?" Tanya Bu Siti dengan wajah cemberut.
"Mau bagai mana lagi, kita kehilangan uang 30 juta gara - gara kamu!" Pak Burhan kembali menyalahkan bu Siti.
"Loh, kok kamu jadi nyalahin aku? Bukan kah kamu sendiri yang ikut membayar nya?" Bu Siti tidak terima jika hanya diri nya yang di salahkan.
"Sudah, sudah, kalian berdua sama - sama bersalah. Jangan mau menang sendiri!" Gibran menengahi pertengkaran antara ayah nya dan bu Siti.
Kedua nya sama - sama terdiam, pak Burhan tampak menjambak rambut nya sendiri.
"Kita punya uang 5 Miliar dari hasil penjualan tanah nya ibu, kita bisa beli rumah lain dengan uang itu!" Gibran memberikan usul pada mereka.
"Iya, sebaik nya kamu sendiri yang urus Gibran. Agar kita tidak di tipu kembali!" Pak Burhan berkata pada putra nya.
"Iya pak, kalian tunggu di rumah. Aku akan ambil sebagain uang nya, untuk pegangan kita malam ini!" Gibran kembali berkata.
Pal Burhan dan bu Siti hanya mengangguk kan kepala nya, dan Gibran pun berlalu dari hadapan kedua nya. Ini sudah cukup sore, dia akan mengambil uang di Atm terdekat saja. Gibran tidak bisa pergi ke bank sekarang karena bank sudah tutup di sore hari begini.
"Ada - ada saja bapak dan bu Siti, kenapa bisa percaya begitu saja sama orang tak di kenal!" Guman Gibran sambil menggelengkan kepala nya.
Mobil yang di kemudikan oleh Gibran berhenti di depan sebuah bilik Atm, dia segera masuk ke dalam bilik itu untuk mengambil sejumlah uang. Langkah kaki Gibran begitu yakin, karena saat ini dia memiliki uang 5 miliar yang di berikan oleh ibu nya.
Gibran memasuk kan kartu milik nya dan dia menekan sejumlah angka, dia mulai melakukan penarikan di mesin itu. Tapi tiba - tiba muncul tulisan di layar yang membuat Gibran terkejut setengah mati.
'Maaf Saldo anda tidak cukup'
Sebaris tulisan itu membuat mata Gibran melotot sempurna, dia segera melakukan pengecekan saldo.
"Tidak mungkin, kenapa bisa saldo ku cuma ada segini? Bukan kah ibu sudah transfer pada ku?" Gibran bertanya pada diri nya sendiri.
"Aku akan cari mesin Atm yang lain saja, mungkin mesin yang ini sedang rusak!" Kembali Gibran berguman.
Gibran segera mengeluarkan kartu nya, dan dia pergi dari sana. Gibran mencari mesin Atm yang lain, dia harus mengambil sejumlah uang malam ini.
Tapi begitu tiba di mesin Atm yang lain nya, Gibran di buat terperangah. Karena hal yang sama terulang lagi, dia tetap tidak bisa melakukan penarikan karena saldo nya tidak mencukupi.
"Tidak mungkin ibu menipu ku, aku adalah putra satu - satu nya!" Gibran mengusap wajah nya sendiri dengan kasar.
Gibran mencari mesin Atm, tapi itu tetap tidak nisa mengubah kenyataan. Saldo nya memang tidak mencukupi, seperti nya bu Meri sudah membohongi diri nya.
"Ibu pasti sudah menipu ku, kurang ajar!" Gibran mengepalkan tangan nya sendiri dengan erat.
Gibran segera kembali ke kontrakan sempit milik bu Siti, di sana pak Burhan dan bu Siti tengah menunggu diri nya dengan penuh harap.
"Mana uang nya Gibran?" Pertanyaan dari pak Burhan yang menjadi sambutan untuk Gibran.
"Tidak ada yah, seperti nya ibu sudah membohongi kita!" Gibran berkata pada pak Burhan.
"Apa??? Bagai mana bisa?" Tanya Bu Siti dengan histeris.
"Ibu tidak pernah mengirimkan uang itu pada ku, dia sudah menipu kita!" Jawab Gibran lagi.
"Mas, ini tidak bisa di biarkan. Uang itu milik mu dan juga Gibran, berani nya dia mengambil semua nya!" Bu Siti mulai menyulut api di dada pak Burhan dan juga Gibran.
"Kamu benar sekali, ayo Gibran kita temui ibu mu!" Ajak pak Burhan dengan geram.
Ketiga nya bergegas pergi ke rumah bu Meri, tapi saat tiba di sana mereka harus menemui kegagalan. Karena saat ini Bu Meri dan Sarah sedang tidak berada di rumah, seperti nya mereka sedang keluar.
"Gibran, cepat telepon ibu mu. Tanyakan pada nya di mana dia sekarang?" Pak Burhan memberi perintah pada Gibran.
"Baik Yah!" Jawab Gibran sambil mengangguk kan kepala nya.
Gibran segera mengeluarkan ponsel mahal dari saku nya, dia menghubungi sang ibu melalui sambungan telepon. Tapi bu Meri tidak menjawab nya, seperti nya dia memang sengaja.
"Sialan, tidak di jawab lagi!" Guman Gibran dengan geram.
"Coba kamu telepon Sarah!" Bu Siti memberi perintah.
Gibran langsung menghubungi Sarah, tapi Sarah juga melakukan hal yang sama. Dia tidak menjawab panggilan dari Gibran sama sekali, sehingga hal itu membuat Gibran semakin naik darah.
"Bagai mana Gibran?" Tanya pak Burhan dengan tidak sabar.
"Tidak di jawab!" Jawab Gibran dengan muka merah padam menahan amarah.
Sementara di sini mereka semua sedang kesal, di tempat yang berbeda bu Meri dan Sarah tengah menikmati makan malam berdua.
"Bu, mas Gibran menghubungi ku juga!" Sarah berkata sambil memperlihatkan ponsel nya.
"Biarkan saja nak, mungkin saat ini dia sudah menyadari bahwa uang itu tidak ada di rekening nya!" Jawab Bu Meri sambil tersenyum.
"Mas Gibran dan ayah nya tidak akan menyerah begitu saja bu, mereka pasti akan memaksa meminta uang itu!" Sarah berkata pada Bu Meri.
"Kamu tenang saja, biar ibu yang hadapi mereka. Mereka berdua sudah memutuskan hubungan dengan ku, tapi masih berani meminta uang pada ku. Tidak tahu malu!" Bu Meri berkata dengan geram.
"Aku yakin, mereka tidak akan pergi sebelum mendapatkan apa yang mereka ingin kan!" Ujar Sarah lagi.
"Biarkan saja mereka menunggu kita hingga pagi, malam ini kita tidak akan pulang ke rumah itu. Kita akan pulang ke rumah baru mu nak, biarkan mereka menunggu hingga jamuran!" Ucap Bu Meri sambil memamerkan senyuman nya.
"Iya bu, aku setuju!" Jawab Sarah.
"Lagi pula, mereka tidak akan bisa masuk ke dalam rumah itu lagi sekalipun mereka membawa kunci cadangan. Karena ibu sudah mengganti kunci pintu itu!" Ucap Bu Meri sambil menunjuk kan kunci yang ada di tangan nya.
"Biar mereka tidur bersama nyamuk di luar malam ini!" Ujar Sarah menimpali.
Kedua wanita yang berbeda usia itu tersenyum puas, membayangkan wajah kesal mereka yang saat ini tengah menunggu mereka di depan rumah. Bagi bu Meri, ini adalah balasan yang pantas untuk kedua laki - laki yang tidak setia itu.
klo g pngen hidup susah..... krja dunk santi....
wloupun g bikin kaya.... stidknya klo krja punya uang untuk mnyambung hidup.... bisa beli mkanan untuk ankmu...