NovelToon NovelToon
The Shadow-Wind : Reincarnation Crystals Of The Chosen

The Shadow-Wind : Reincarnation Crystals Of The Chosen

Status: tamat
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action / Tamat
Popularitas:129
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

Di daratan Huanjiang, Dinasti Wuji Chao memerintah dengan tangan besi. Chen Fengyin lahir di desa yang damai, hingga sebuah pembantaian menghancurkan segalanya ketika dia masih kecil – menyisakan dia sebagai satu-satunya yang tersisa.

Ditemukan oleh seorang ahli bela diri kuno, dia menghabiskan tahun-tahun untuk melatih diri dan menguasai kekuatan elemen alam yang jarang orang bisa miliki. Namun ketika masa lalunya kembali mencari dia, pertempuran yang dahsyat membuatnya harus membangkitkan kekuatan legendaris yang hanya diberikan kepada orang terpilih.

Meskipun berhasil mengusir musuh, tubuhnya tak mampu menahannya. Tapi takdir tidak mengizinkannya pergi begitu saja – dia bangun kembali dengan tubuh baru di desa yang jauh, membawa kekuatan yang sama namun harus belajar mengendalikannya lagi.

Bersama teman baru yang setia dan kelompok perlawanan yang tersembunyi, Fengyin berkelana selama bertahun-tahun

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Rahasia di Balik Air Terjun

Hujan turun pada hari ketujuh bulan kelima—bukan hujan lebat, tapi hujan tekun . Yang jatuh terus-menerus, tanpa henti, tanpa ampun, seolah-olah langit sedang menangis untuk sesuatu yang telah lama hilang.

Fengyin dan Yuelan tetap berlatih. Bukan di bawah air terjun—itu akan gila, bahkan untuk mereka yang punya hubungan dengan elemen air. Tapi di dalam gua kecil yang baru ditemukan Yuelan seminggu lalu, di balik tirai air yang gemuruh, di tempat yang bahkan sinar hujan tidak bisa tembus.

Gua itu sempit, tidak lebih dari empat zhang dalamnya, dengan lantai yang rata anehnya—seolah-olah pernah dipahat oleh tangan manusia. Dindingnya berlumut, berkilauan dengan mineral yang tidak dikenal Fengyin, dan di ujung terdalam, ada sesuatu yang salah .

Sebuah pintu. Batu, dengan ukiran yang hampir terhapus oleh waktu dan air. Ukiran yang, ketika Fengyin menatapnya dengan Yǐng yang diperkuat, tampak bergerak. Seperti naga. Seperti sungai .

"Ini sudah ada sejak kapan?" tanya Fengyin, suaranya bergema di ruang sempit.

Yuelan menggeleng, menarik jubah basahnya lebih rapat—dia masih takut dingin, meski Shuǐ-nya sudah lebih terkontrol. "Aku menemukan saat mencari tempat berteduh. Pintu itu... tidak bisa dibuka. Sudah kucoba. Sudah kupukul, kutendang, kugores dengan batu."

Fengyin mendekat. Menempelkan tangan di batu dingin. Dan merasakan—resonansi . Lemah, hampir tidak ada, tapi ada . Sesuatu yang mengenali elemennya. Sesuatu yang menunggu .

"Bukan dengan kekerasan," kata Fengyin, lebih pada dirinya sendiri. "Dengan... pengenalan."

Dia mengalirkan Yǐng dan Fēng—sangat pelan, sangat hati-hati —ke permukaan batu. Bukan untuk membuka paksa, tapi untuk berkenalan . Seperti mengetuk pintu rumah orang asing, dengan hormat, dengan niat baik .

Batu itu bergetar. Bukan banyak—hanya secuil debu yang jatuh, hanya garis-garis halus yang muncul di permukaan. Tapi cukup untuk membuat Yuelan terkesiap.

"Kamu bisa—"

"Belum," potong Fengyin. "Tapi aku bisa mendengar . Ada sesuatu di balik ini. Sesuatu yang... hidup."

Mereka kembali ke desa dengan rahasia baru. Bukan untuk dibagi—belum—tapi untuk dipelajari, dipahami, dipersiapkan .

Hari-hari berikutnya adalah rutinitas yang hampir nyaman . Bangun pagi, bantu ibu memasak, bantu ayah mengangkat arang, berjumpa Yuelan di sumur atau di pasar atau di jalan setapak yang sama. Berbicara tentang hal-hal kecil: harga sayur naik, anjing Pak Suhu melahirkan, Nenek Liu yang dikabarkan bisa melihat hantu.

"Nenek Liu memang bisa," kata Yuelan suatu siang, mereka berjalan pulang dari pasar dengan keranjang ikan asin. "Aku lihat sendiri. Dia bilang ada 'bayangan hitam besar' mengikutiku dari desa utara. Aku pikir dia gila. Tapi kemudian..."

Dia berhenti, menatap keranjangnya, bukan Fengyin.

"Tapi kemudian?"

"Kemudian aku menemukan gua itu. Dan kamu. Dan aku pikir... mungkin bayangan hitam itu bukan kutukan. Mungkin itu adalah... jalan."

Fengyin tidak menjawab. Dia menatap ke atas, ke arah gunung yang menyelimuti desa mereka, ke arah awan yang tidak pernah benar-benar pergi. Di sana, di suatu tempat, ada pintu batu yang menunggu. Dan di baliknya, mungkin, ada jawaban untuk pertanyaan yang tidak bisa diajarkan pada Yuelan.

Pertanyaan tentang Jingjie Universal. Tentang Tiānzé Zhě. Tentang mengapa dia kembali, dan untuk apa.

Pertemuan dengan Ye Xiang terjadi pada hari kesepuluh.

Bukan dengan sengaja—tidak pernah dengan sengaja. Pedagang keliling itu muncul di pasar desa dengan gerobak yang terlalu besar untuk satu orang, dengan muatan yang terlalu beragam untuk desa sekecil ini: sutra dari timur, rempah dari selatan, batu permata yang mungkin palsu, dan cerita .

Cerita adalah barang dagangan Ye Xiang yang paling laku. Dia menjualnya dengan harga murah—sepotong tembakau, sebotol arak, sejam mendengarkan. Dan orang-orang membeli, karena hidup di desa terpencil adalah hidup yang lapar akan cerita.

Fengyin memperhatikannya dari kejauhan, sambil membantu ibu menjaga dagangan sayur. Melihat bagaimana Ye Xiang berbicara—cepat, pelan, dengan tangan yang terus bergerak menggambarkan. Melihat bagaimana matanya—cokelat tua, hampir keemasan, seperti Yuelan tapi lebih tua , lebih tahu —selalu mencari, selalu mencatat .

"Kamu tertarik?" tanya ibunya, Wang Cuilan, yang tidak pernah melewatkan apapun. "Dia pedagang aneh. Datang setiap musim semi, pergi sebelum musim panas. Tidak pernah menginap lebih dari semalam. Tidak pernah menjual pada orang yang sama dua kali."

"Aku hanya... ingin tahu," kata Fengyin, dan itu adalah kebenaran sebagian.

Malam itu, dia menyelinap keluar. Bukan untuk menemui Ye Xiang secara langsung—belum berani. Tapi untuk mendengar . Dari balik pagar, dari balik dinding, dari balik bayangan yang dia ciptakan dengan Yǐng yang masih rapuh.

Ye Xiang sedang bercerita pada Tuan Wen, kepala desa yang juga paman Yuelan. Cerita tentang kota-kota besar, tentang istana Kaisar, tentang... Sekte Naga Hitam.

"—Xie Wuyou tidak lagi," kata Ye Xiang, suaranya lebih rendah dari biasanya, hampir tidak terdengar oleh telinga manusia. Tapi Fengyin bukan manusia biasa. Dia punya Yǐng, dan Yǐng bisa mengejar suara. "Tubuhnya ditemukan kosong di lereng gunung utara. Jiwa hancur, atau setidaknya tidak lagi ada di tempat yang bisa ditemukan. Tapi Sekte tidak berantakan. Ada yang menggantikannya. Seseorang yang lebih kejam, lebih lapar . Meng Tianxiong. Pemegang Huǒyàn Jiàn."

Tuan Wen menggeram—bunyi rendah, takut. "Kita sudah bayar pajak. Sudah kirim anak-anak untuk dinas. Apa lagi yang mereka inginkan?"

"Mereka ingin takut," kata Ye Xiang, sederhana. "Takut adalah alat yang lebih tajam dari pedang. Dan Meng Tianxiong... dia ahli dalam membuat orang takut."

Fengyin membeku di balik pagar. Xie Wuyou—mati ? Atau setidaknya, kosong ? Itu tidak mungkin. Itu tidak adil . Setelah semua yang diambil, setelah semua yang diberikan, musuhnya mati tanpa dia bisa—tanpa dia bisa membalas ?

Tapi kemudian, pikiran lain. Lebih dingin. Lebih tua . Gu Yanqing pernah berkata: "Balas dendam adalah api yang membakar pembakar. Tapi keadilan adalah air yang membersihkan semua."

Kalau Xie Wuyou benar-benar hancur, maka yang tersisa bukan dendam. Tapi tanggung jawab . Untuk melindungi yang tidak bisa melindungi diri. Untuk menghentikan yang akan mengambil tempat monster.

Dia pulang dengan hati yang lebih berat. Tidak memberitahu Yuelan—belum. Tidak memberitahu siapapun. Tapi berencana. Menunggu. Mempersiapkan .

Dua hari kemudian, mereka kembali ke gua.

Bukan untuk berlatih—tapi untuk mencoba . Pintu batu itu masih menunggu, masih mengenali, masih tidak terbuka sepenuhnya.

"Aku membawa sesuatu," kata Yuelan, mengeluarkan sebongkah kristal dari saku jubahnya. Kecil, biru pudar, dengan retakan di tengah. "Ini milik ibu. Warisan dari nenek. Dia bilang... dia bilang ini adalah 'kunci air'. Tapi tidak tahu untuk pintu apa."

Fengyin mengambil kristal itu. Hangat, meski seharusnya dingin. Berdenyut, meski seharusnya mati. Seperti Yuèyǐng Pèi-nya, tapi lebih muda , lebih sederhana .

Dia menempelkannya di pintu batu. Bersamaan dengan Yǐng dan Fēng-nya. Dan kali ini—kali ini—batu itu bergerak .

Bukan membuka. Tapi menggeser . Menggeser ke samping, memperlihatkan lorong sempit yang turun, yang gelap, yang mengundang .

Bau yang keluar bukan bau gua. Bukan bau hewan atau tanah atau air. Tapi bau manusia . Banyak manusia. Yang tinggal, yang berkumpul, yang berlatih .

"Ada orang," bisik Yuelan, suaranya gemetar setengah takut, setengah teruja . "Banyak orang."

Fengyin mengangguk. Sudah tahu. Sudah merasakannya —resonansi dari banyak Dàojiàn yang terbuka, banyak elemen yang mengalir, banyak jiwa yang berusaha .

Dia memasuki lorong pertama. Yuelan mengikuti, tangan mereka terkait tanpa disadari, Shuǐ dan Yǐng-Fēng saling berdampingan, menciptakan sesuatu yang baru. Sesuatu yang utuh .

Lorong turun lebih dalam dari yang diperkirakan. Ratusan anak tangga, mungkin ribuan. Sampai kaki mereka lelah, sampai napas mereka pendek, sampai cahaya dari mulut gua di atas hanya kenangan.

Dan kemudian—ruangan.

Bukan gua. Bukan ruangan alami. Tapi aula . Dibentuk dari batu, diterangi oleh kristal-kristal yang tertancap di dinding—kristal yang tidak berputar, tidak berdenyut, tapi bersinar dengan cahaya yang stabil, yang tua , yang menunggu .

Dan di tengah aula, berdiri seorang pria.

Tua—lebih tua dari yang pernah dilihat Fengyin, bahkan lebih tua dari Gu Yanqing yang sebenarnya. Rambut putih seputih salju, janggut panjang yang diikat dengan pita biru, dan mata... mata yang mengenali .

"Chen Fengyin," kata pria itu, bukan pertanyaan. "Atau Chen Xiaoyu sekarang. Anak kecil yang kembali. Tiānzé Zhě yang menunggu."

Fengyin membeku. Bukan karena takut—tapi karena pengakuan . Nama aslinya. Nama yang tidak pernah diucapkan dalam dua tahun ini. Tidak pernah, oleh siapapun.

"Siapa kamu?" tanyanya, suaranya lebih keras dari yang dimaksudkan, bergema di aula kosong.

Pria itu tersenyum—senyum yang lelah, yang tahu terlalu banyak, yang sedih .

"Namaku Wei Chenghao," kata pria itu. "Master Cānglóng Pài—Aliran Naga Biru. Dan aku..." dia berhenti, menatap Fengyin dengan mata yang tiba-tiba berkaca-kaca, "...aku adalah teman Gu Yanqing. Dari masa muda. Dari masa sebelum dia menjadi 'Kakek Yuanqing'. Dari masa sebelum kamu lahir, dan mati, dan lahir lagi."

Dia mengulurkan tangan—tangan yang keriput, yang bergetar, tapi masih kuat .

"Aku menunggumu," kata Master Wei. "Kita semua menunggumu. Selama sepuluh tahun, sejak bayangan Gu Yanqing terakhir kali muncul di mimpiku, memberitahu bahwa kamu akan datang."

Fengyin menatap tangan itu. Tangan yang menawarkan rumah . Tangan yang menawarkan jawaban . Tangan yang menawarkan... masa depan .

Dia melirik Yuelan, yang menatap dengan mata lebar, yang tidak mengerti sepenuhnya tapi mendukung . Yang mengangguk, kecil, memberi izin.

Dan Fengyin melangkah maju. Menjabat tangan Master Wei. Merasakan resonansi—tua dan muda, masa lalu dan masa depan, kehilangan dan harapan .

"Aku di sini," kata Fengyin. "Aku kembali. Dan aku siap untuk belajar."

Master Wei tersenyum—senyum yang mencapai mata, untuk pertama kalinya.

"Maka selamat datang, Tiānzé Zhě," katanya. "Selamat datang di Cānglóng Pài. Di tempat di mana bayangan bisa menjadi cahaya, dan di mana angin bisa menjadi tembok."

Dia menoleh ke Yuelan, yang masih berdiri di ambang, setengah masuk, setengah ragu .

"Dan selamat datang, pengikutnya," kata Master Wei pada Yuelan. "Karena Tiānzé Zhě tidak berjalan sendiri. Tidak pernah. Mereka berjalan dengan mereka yang memilih untuk berjalan bersama."

Yuelan—Lin Yuelan, anak perempuan dari desa utara yang takut air—melangkah maju. Masuk ke dalam. Menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Dan di belakang mereka, pintu batu perlahan menggeser kembali. Menutup. Melindungi. Menunggu.

Sampai mereka siap untuk keluar lagi.

[Bersambung...]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!