NovelToon NovelToon
STREET FIGHTER

STREET FIGHTER

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang pria yang jago berkelahi dan memulai petualangannya di sebuah kota dan bertemu cinta sejati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 12

Sore itu, saat kegiatan belajar-mengajar mulai usai, Andi berdiri di dermaga kayu yang menjorok ke laut, tepat di belakang sekolah. Ia memandangi cakrawala tempat kapal-kapal besar tampak seperti siluet statis. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah kunci tua—kunci gudang literasi yang kini sudah ia pasang di bingkai kayu sebagai pajangan di kantor sekolah.

Rian mendekat, langkah sepatunya terdengar berat di atas kayu dermaga. Ia berdiri di samping Andi, ikut memandang laut.

"Bang, tadi ada orang dari pelabuhan sebelah datang," ucap Rian tanpa menoleh. "Mereka bertanya, apa anak-anak dari sana boleh ikut belajar mekanika di sini? Katanya, bos mereka tidak suka, tapi para buruhnya ingin anak mereka punya ijazah."

Andi terdiam sejenak. Ia tahu apa artinya itu. Membuka pintu bagi pelabuhan lain berarti memperluas wilayah "pengaruh", dan itu bisa memancing kemarahan penguasa lokal di sana yang mungkin masih berafiliasi dengan sisa-sisa PT. Delta atau kelompok sejenis.

"Menurutmu bagaimana, Rian?" Andi balik bertanya, menguji kedewasaan adik asuhnya itu.

Rian menghela napas, tangannya yang hitam karena oli ia masukkan ke saku celana. "Kalau kita menolak, kita sama saja dengan Haryo. Membatasi peluang hanya untuk kelompok kita sendiri. Tapi kalau kita terima, risikonya besar. Sekolah ini bisa jadi sasaran lagi."

Andi menepuk bahu Rian. "Kau sudah belajar banyak. Kekuatan kita bukan pada seberapa kuat kita memukul, tapi seberapa lebar kita membuka pintu. Katakan pada mereka, bawa anak-anak itu ke sini senin depan. Kita tidak butuh ijin bos mereka untuk mendidik manusia."

Rian tersenyum, kilat keberanian muncul di matanya. "Siap, Bang."

Saat Rian kembali ke bengkel, Andin muncul dari balik pintu belakang sekolah. Ia membawa dua buah jaket dan menyerahkan salah satunya ke Andi. Angin laut mulai terasa menusuk tulang seiring tenggelamnya matahari.

"Kau sedang merencanakan sesuatu yang besar lagi, ya?" tebak Andin sambil menyandarkan kepalanya di lengan Andi.

"Hanya memastikan bahwa api ini tidak cuma membakar di sini, Ndin," jawab Andi pelan. "Ayah tidak ingin sekolah ini jadi menara gading. Dia ingin ini jadi titik awal."

Andin menatap suaminya dengan penuh kasih. "Apapun itu, aku bersamamu. Tapi janji satu hal, Andi. Jangan biarkan Cobra itu keluar lagi. Kita sudah membangun cukup banyak untuk tidak perlu menghancurkan apapun lagi."

Andi mengecup kening Andin. "Cobra itu sudah mati, Ndin. Yang ada sekarang hanyalah seorang laki-laki yang beruntung memiliki guru sepertimu."

Malam pun jatuh di Jakarta Utara. Lampu-lampu sekolah berpendar terang di tengah remangnya kawasan pelabuhan, menjadi kompas bagi siapa saja yang merasa tersesat dalam gelapnya kemiskinan dan ketidaktahuan. Di kejauhan, sirine kapal berbunyi panjang, seolah memberikan penghormatan bagi sebuah awal yang baru.

Lampu-lampu neon di dermaga mulai berkedip satu per satu, menciptakan pantulan cahaya yang bergoyang di atas permukaan air laut yang hitam. Andi masih berdiri di sana, merasakan dinginnya besi pagar dermaga di telapak tangannya. Perasaan damai ini adalah sesuatu yang asing, namun ia mulai terbiasa.

"Bang Andi?"

Itu suara Ucok, salah satu anak buruh paling kecil yang tadi ditegur Rian di bengkel. Anak itu berdiri di ambang pintu belakang sekolah, masih mengenakan seragamnya yang sudah kotor terkena noda minyak.

Andi menoleh. "Belum pulang, Cok? Ibumu pasti sudah mencari."

Ucok berjalan mendekat, langkahnya ragu. Ia menyodorkan sebuah benda kecil yang terbungkus kain perca. "Ini untuk Abang. Tadi aku temukan saat kami sedang kerja bakti membersihkan sisa reruntuhan di belakang gudang lama."

Andi menerima bungkusan itu. Saat kainnya dibuka, sebuah plakat logam kecil yang sudah berkarat muncul. Di sana terukir sebuah nama yang hampir pudar: Sulistyo - Mandor Utama.

Hati Andi mencelos. Itu adalah tanda pengenal ayahnya yang hilang puluhan tahun lalu, benda yang seharusnya dipakai ayahnya di hari ia dikabarkan "menghilang".

"Terima kasih, Ucok," suara Andi sedikit parau. "Ini sangat berarti buat Abang."

Ucok tersenyum lebar, menampakkan giginya yang ompong satu di depan, lalu berlari pergi sambil melambaikan tangan.

Andi menatap plakat itu lama. Ia menyadari bahwa tanah ini tidak pernah benar-benar melepaskan ayahnya. Bumi pelabuhan ini menyimpan setiap tetes keringat dan rahasia, menunggu saat yang tepat untuk mengembalikannya kepada orang yang berhak.

Andin yang sedari tadi memperhatikan dari kejauhan, melangkah mendekat dan merangkul pinggang Andi. Ia melihat benda di tangan Andi dan ikut terdiam.

"Dia selalu ada di sini, Andi," bisik Andin. "Bukan hanya dalam nama sekolah, tapi dalam setiap jengkal tanah yang kita pijak."

Andi menggenggam plakat logam itu erat-erat. Ia merasa lingkaran hidupnya kini telah tertutup dengan sempurna. Dendam telah berubah menjadi warisan, dan amarah telah berubah menjadi tanggung jawab.

"Ayo masuk," ajak Andi. "Malam ini kita punya banyak jadwal untuk kelas radio. Rian bilang dia ingin menyiarkan sesi tips mekanika untuk para sopir truk."

Andin tertawa kecil. "Rian benar-benar sudah jadi bintang di sini."

Mereka berdua berjalan kembali ke dalam gedung sekolah, meninggalkan dermaga yang sepi. Di atas meja kerja Andi, plakat logam itu diletakkan bersandingan dengan kunci gudang literasi. Dua benda berkarat yang menjadi fondasi paling kokoh bagi masa depan yang cerah.

Jakarta Utara malam itu terasa berbeda. Ia tidak lagi terasa seperti hutan beton yang memangsa manusia, melainkan seperti rahim yang melahirkan harapan baru. Di bawah naungan Sekolah Cahaya Bahari, sang Cobra telah menemukan rumahnya yang abadi.

Kehangatan di pelabuhan malam itu terusik oleh kedatangan sebuah mobil dinas berlogo Pery Permata Group, pengembang properti raksasa yang dikenal sering mengubah kawasan kumuh menjadi hutan beton eksklusif. Seorang pria paruh baya dengan kemeja safari rapi turun dari mobil, membawa gulungan cetak biru yang tampak sangat kontras dengan lingkungan sekitar.

"Tuan Andi," sapa pria itu, suaranya halus namun penuh tekanan. "Saya Herman, perwakilan dari Pery Permata. Kami adalah pemilik lahan di sebelah utara yayasan Anda. Kami berencana memulai proyek Perumahan Pery Permata Residence."

Andi menyipitkan mata, menatap cetak biru yang dibentangkan Herman di atas meja kayu perpustakaan. Di sana, proyek perumahan mewah itu tidak hanya berdiri di lahan kosong, tapi jalur akses utamanya memotong tepat di tengah-tengah dermaga sekolah.

"Kalian ingin menutup akses laut kami?" tanya Andi, suaranya rendah dan berbahaya.

Herman tersenyum simpul. "Bukan menutup, Tuan Andi. Kami ingin 'mengintegrasikan'. Kami menawarkan kompensasi besar jika yayasan ini bersedia pindah ke lokasi yang lebih... layak. Pelabuhan ini akan menjadi kawasan hunian elit. Sekolah kumuh di tengah perumahan mewah hanya akan merusak nilai properti kami."

Andin yang berdiri di samping Andi langsung menyela, "Ini bukan soal layak atau tidak. Ini soal akar. Anak-anak yang sekolah di sini adalah anak-anak buruh yang tinggal di sekitar sini. Jika kalian memindahkan sekolah ini, kalian menjauhkan mereka dari kesempatan."

"Dengar, Nyonya," Herman beralih pada Andin. "Pery Permata tidak pernah kalah dalam urusan lahan. Kami punya izin gubernur, dan kami punya dukungan investasi asing. Kami bisa saja membangun tembok tinggi yang mengisolasi sekolah ini sampai kalian menyerah sendiri. Tapi kami datang dengan cara baik-baik."

Rian, yang sedari tadi mendengarkan dari balik pintu, masuk dengan tangan mengepal. "Cara baik-baik kalian selalu berakhir dengan pengusiran. Kami tidak akan pergi."

Andi mengangkat tangan, menenangkan Rian. Ia menatap Herman tepat di matanya. "Haryo Subroto juga berpikir dia punya segalanya sebelum akhirnya dia berakhir di balik jeruji. Katakan pada pimpinan Pery Permata: sekolah ini tidak dijual. Dan jika kalian mencoba menutup akses jalan kami, kalian tidak akan berhadapan dengan pengacara, tapi dengan ribuan orang yang hidupnya bergantung pada laut ini."

Herman melipat cetak birunya dengan kasar. "Anda keras kepala, Tuan Andi. Proyek Pery Permata akan tetap berjalan. Kami akan mulai memagari lahan besok pagi. Jangan salahkan kami jika sekolah ini nantinya terasa seperti penjara di tengah kemewahan."

Setelah mobil itu pergi, suasana menjadi tegang. Proyek Pery Permata bukan sekadar penggusuran biasa; ini adalah gentrifikasi yang bisa mematikan ekosistem sosial pelabuhan.

"Bang," Rian menatap Andi. "Kita tidak punya dana untuk melawan pengembang sebesar itu di pengadilan."

Andi menatap plakat logam ayahnya yang masih tergeletak di meja. "Kita tidak akan melawan mereka di pengadilan mereka, Rian. Kita akan menggunakan apa yang kita punya."

Andi menoleh ke arah pemancar radio. "Siapkan siaran darurat. Beritahu warga bahwa Pery Permata ingin membangun tembok yang memisahkan mereka dari laut. Jika mereka ingin membangun perumahan elit di sini, mereka harus tahu bahwa pondasinya berdiri di atas tanah yang punya jiwa."

Malam itu, Andi menyadari bahwa pertempurannya melawan raksasa belum berakhir. Kali ini musuhnya bukan lagi kriminal bertopeng korporasi, melainkan kemajuan ekonomi yang dingin dan tidak punya hati. Proyek Pery Permata adalah ujian terbaru bagi "Sang Cobra" untuk membuktikan bahwa pendidikan dan solidaritas bisa berdiri tegak di tengah kepungan tembok beton mewah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!