Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Malam sudah cukup larut.
Lampu-lampu gang menyala redup. Quinn berjalan santai sambil membawa kantong plastik dari mini market, earphone tergantung di lehernya.
“Kenapa sih gue lupa beli saus tadi…” gumamnya pelan.
Saat melewati gang yang lebih sepi, langkahnya melambat.
Terdengar suara pukulan.
BUG!
BRAK!
“Udah gue bilang jangan ikut campur!” bentak seseorang.
Quinn refleks menghentikan langkahnya.
Dari celah tembok dan bayangan, ia melihat beberapa pria bertubuh tegap mengeroyok seorang pria.
Pria itu tersungkur setengah berlutut, tapi masih mencoba berdiri.
Salah satu pelaku menarik kerah bajunya lalu menghantamkan pukulan ke perutnya.
BUG!
"AKHHH..."
Pria malang itu mengerang kesakitan, membuat Quinn menahan napas.
Ya Tuhan…
Wajah pria itu sudah lebam, sudut bibirnya berdarah. Namun sorot matanya tetap tajam, tidak memohon.
“Masih mau sok jago?” ejek salah satu pria sambil menendangnya.
DUG!
"AKHHH..."
Pria itu kembali mengerang kesakitan, membuat Quinn semakin panik. Tangannya gemetar.
Ia cepat-cepat bersembunyi di balik tembok gang.
“Gue harus gimana…” bisiknya.
Telepon.
Polisi.
Tapi kalau dia benar-benar nelpon, bisa lama.
Tiba-tiba otaknya mendapat ide.
Dengan tangan gemetar, ia membuka YouTube dan mencari suara sirine polisi.
Ketemu.
Ia menarik napas panjang.
Lalu memutar suara itu sekeras mungkin.
WIIIUUU... WIIIUUU...
Quinn langsung keluar sedikit dari persembunyian dan berteriak lebay.
“POLISIII! ADA POLISI! DI SINI ADA POLISI!”
Para pria itu langsung panik.
“Apa?!”
“Anjir cepet banget?!”
“Udah cabut!”
Mereka saling pandang, lalu buru-buru kabur menyusuri gang lain.
Quinn masih pura-pura teriak.
“Iya Pak! Di sini! Mereka lari ke arah sana!”
Beberapa detik kemudian, suasana sunyi.
Sirine di HP dimatikan.
Quinn menelan ludah, lalu pelan-pelan mendekati pria yang tergeletak setengah duduk di tanah.
“Hei…” katanya hati-hati. “Lo nggak papa?”
Pria itu—Kael—mengangkat wajahnya pelan.
Sorot matanya tajam, meski wajahnya babak belur.
Quinn jongkok sedikit hendak membantunya berdiri.
Tapi—
Kael menepis tangannya.
“Minggir.”
Ia berusaha berdiri sendiri.
Quinn langsung naik darah.
“HEH! Gue cuma mau bantuin lo. Songong banget.”
Kael melirik sekilas.
Untuk pertama kalinya, wajah Quinn terlihat jelas di bawah lampu jalan.
Dan entah kenapa, melihat Quinn yang cemberut galak dengan kantong belanjaan di tangan… sudut bibirnya terangkat tipis tanpa sadar.
Lucu.
Quinn menyadari itu.
“Lo senyum?”
“Enggak.”
“Barusan senyum.”
“Lo halu.”
Quinn mendengus kesal.
“Eh… tapi mereka tadi siapa? Kok mukulin lo?”
Kael mulai berjalan perlahan, meski langkahnya sedikit goyah.
“Bukan urusan lo.”
Quinn melotot.
“Gue tahu. Tapi gue kepo.”
Kael tetap diam.
Quinn mengikuti di sampingnya.
“Lo punya utang?”
Diam.
“Lo rebut pacar orang?”
Kael berhenti sebentar, melirik tajam.
“Ngaco.”
“Ya abis lo misterius banget sih.”
Kael kembali melangkah.
Quinn menggerutu.
“Dasar cowok nggak tahu terima kasih. Udah ditolongin juga.”
Tiba-tiba Kael terhuyung.
Hampir jatuh.
Refleks, Quinn cepat-cepat memegang lengannya.
“Eh! Hati-hati!”
“Gue bisa sendiri.” kata Kael datar sambil berusaha melepaskan tangannya dari Quinn.
“‘Gue bisa sendiri’ tapi barusan mau tumbang,” sindir Quinn. “Udah diem, biar gue bantu lo duduk di sana.”
Ia menunjuk trotoar di bawah lampu jalan.
Dengan terpaksa Kael menurut, lalu duduk di sana.
Quinn berdiri di depannya dengan tangan di pinggang.
“Telpon keluarga lo.”
Kael mengernyit. “Hah?”
“Ck… buruan telpon keluarga lo.”
“Buat apa?”
“Ya buat jemput lo. Gimana sih.”
Kael menatap lurus ke depan.
“Gue nggak punya keluarga.”
Quinn mengerjap. “Hah? Gimana? Jadi maksud lo, lo lahir dari batu?”
Kael mendengus pelan.
“Orang tua gue udah meninggal.”
Quinn terdiam sesaat.
Rasa galaknya sedikit turun.
“Ooo…” ia berdehem canggung. “Yatim piatu.”
Kael langsung menoleh tajam.
“Ngomong apa lo barusan?”
Quinn refleks menatap balik, tak mau kalah.
“Apa? Gue nggak salah kan? Bukannya kalau orang tua udah meninggal itu namanya yatim piatu. Denger ya, gue emang nggak jago matematika, tapi kalau istilah-istilah kayak gini gue jagonya.”
Kael berdecak pelan.
“Lo cerewet banget.”
“Daripada lo sok cool nggak jelas.”
Hening sejenak.
Quinn kembali menyilangkan tangan.
“Ya udah. Telpon temen lo aja.”
Kael menatapnya beberapa detik.
Quinn menyipit.
“Apa?! Lo mau bilang kalau lo nggak punya temen juga? Ck… nggak asik banget hidup lo.”
Kael datar.
“Punya.”
Akhirnya ia mengeluarkan ponsel, menekan satu nomor.
“Jemput gue. Sekarang.”
Ia menyebut lokasi singkat, lalu mematikan panggilan.
Quinn mengangguk puas.
“Nah gitu dong. Susah amat sih dari tadi.”
Ia berjalan mengambil kantong plastik belanjaannya yang tadi ia sembunyikan.
Lalu hendak pergi.
Tiba-tiba—
Kael sudah berdiri di belakangnya sambil menahan pergelangan tangannya.
“Mau ke mana lo?”
Quinn langsung memukul tangan Kael agar lepas.
“Pulanglah!” katanya galak. “Kenapa? Lo berharap gue nungguin lo gitu?”
Kael mendengus.
“GEER.”
Quinn melotot.
“Ya udah. Awas. Jangan halangin jalan gue.”
Kael menggeser tubuhnya sedikit memberi jalan.
Quinn berjalan melewatinya, rambutnya terayun pelan tertiup angin malam.
Beberapa langkah kemudian, ia menoleh sebentar.
“Jangan berantem lagi. Nggak keren.”
Kael hanya menatapnya.
Quinn mendengus kecil lalu benar-benar pergi.
Kael memperhatikan punggungnya sampai menghilang di tikungan gang.
Ia menyentuh sudut bibirnya yang lebam, lalu tersenyum miring.
“Galak… tapi lucu.”
Tak lama kemudian, suara motor terdengar mendekat.
Seorang pria turun dengan wajah khawatir.
“Anjir, Kael! Siapa yang bikin lo kayak gini?!”
Kael masih menatap arah Quinn tadi pergi.
“Bukan siapa-siapa.”
“Terus kenapa lo senyum?”
Kael berjalan mendekati temannya perlahan, meringis sedikit.
“Ketemu cewek aneh.”
“Cewek aneh?”
Kael naik ke motor temannya.
“Iya,” gumamnya pelan. “Aneh… tapi menarik.”
Dan motor itu pun melaju, meninggalkan gang yang kembali sunyi—sementara di kepala Kael, bayangan gadis galak dengan kantong belanjaan itu belum juga hilang.
...----------------...
Malam itu rumah Quinn terasa tenang.
Lampu kamar sudah menyala hangat ketika ia membuka pintu sambil membawa kantong plastik dari mini market.
“Snack check… minuman check… hidup gue makin sehat.” gumamnya sarkastis.
Ia menendang pintu kamar hingga tertutup dengan kaki, lalu meletakkan belanjaannya di atas meja belajar.
Quinn duduk di kasur, membuka plastik keripik, lalu mengeluarkan minuman kaleng.
“Ah… akhirnya waktu me time.”
Ia mengambil laptop di samping bantal, menyalakannya, lalu membuka drama China favoritnya.
Baru saja opening drama itu diputar—
DRRRTTT…
HP Quinn bergetar di atas kasur.
Quinn melirik malas.
“Nomor nggak dikenal?”
Ia langsung menekan reject.
“Spam. Fix.”
Ia kembali fokus menonton.
Di layar, karakter utama pria muncul dengan wajah tampan.
Quinn langsung menyeringai lebar.
“Ahh… ini baru cowok ideal.”
Ia memasukkan keripik ke mulutnya dengan santai.
Namun belum sampai dua menit—
DRRRTTT…
HP-nya bergetar lagi.
Quinn menatap HP itu dengan kesal.
“Ya ampun… orang mana sih ini.”
HP itu masih bergetar.
Quinn menghela napas panjang.
“Oke… kalau ini sales kartu kredit, gue sumpahin hidup lo penuh cicilan.”
Ia mengangkat telepon itu dengan wajah jutek, tapi suaranya dibuat manis.
“Halo… dengan Quinn cantik di sini. Siapa di sana?”
Ekspresinya tetap cemberut.
Beberapa detik hening.
Lalu terdengar suara rendah yang sangat ia kenal.
“Ini gue.”
Quinn mengernyit.
Suara itu melanjutkan.
“Ryuga.”
Refleks Quinn langsung menjauhkan HP dari telinganya.
Matanya membesar.
“Ryuga?!”
Ia menatap layar HP itu seolah benda itu tiba-tiba berubah jadi bom.
Lalu cepat-cepat ia menempelkan lagi ke telinga.
“Dari mana lo tahu nomor gue?!”
Di seberang sana, suara Ryuga terdengar santai.
“Gue tahu semua tentang lo.”
Quinn langsung mencibir.
“Ih… kalimat lo creepy banget.”
Ryuga diam sebentar, lalu bertanya datar.
“Lagi ngapain?”
Quinn langsung menatap HP dengan kesal.
“Lah?! Emangnya lo siapa nanya-nanya?” gerutunya pelan, tapi masih bisa didengar oleh Ryuga.
“Jawab.”
“Ngapain gue harus jawab?”
“Karena gue nanya.”
Quinn mendengus keras.
“Gue lagi nonton drama.”
“Drama apa?”
“Drama China.”
“Hm.”
Quinn langsung kesal.
“Hm apaan sih?!”
Ryuga tidak menjawab.
Beberapa detik hening.
Lalu ia berkata singkat.
“Simpan nomor gue.”
Quinn langsung reflek menjawab.
“Ogah.”
“Ra.”
“Nggak.”
“Simpan.”
“Nggak mau.”
“Simpan.”
“Ogah.”
Suara Ryuga tetap datar, tapi jelas lebih dingin.
“Simpan atau gue samperin lo sekarang.”
Quinn langsung duduk tegak di kasurnya.
“HAH?!”
“Ih apaan sih. Bercandanya nggak lucu.”
Ryuga menjawab tenang.
“Gue nggak pernah bercanda tentang lo.”
Quinn terdiam.
Ia tahu satu hal tentang Ryuga.
Cowok itu memang hampir tidak pernah bercanda.
Quinn menggaruk rambutnya kesal.
“Lo serius mau datang ke rumah gue cuma buat nomor HP?”
“Iya.”
“Ryuga… ini udah malam.”
“Terus?”
“Lo gila ya.”
Ryuga hanya berkata singkat.
“Simpan.”
Quinn mendengus panjang.
“Ya ampun… nyebelin banget sih lo.”
Ia akhirnya membuka menu kontak baru di HP-nya.
Sambil mengetik, ia masih menggerutu.
“Kalau tetangga gue lihat lo nongkrong depan rumah gue tengah malam, gue yang disangka kabur sama berandalan.”
Ryuga diam saja di seberang sana.
Quinn mengetik nomor itu dengan kesal.
“Udah. Gue simpan.”
Ryuga bertanya.
“Nama kontaknya apa?”
Quinn langsung melotot.
“Lo serius nanya itu?!”
“Iya.”
Quinn melihat layar HP-nya.
Nama yang ia tulis sebenarnya adalah:
Setan Ravenix
Tapi tentu saja ia tidak mungkin bilang.
“Ryuga… lah.”
Ryuga hanya menjawab pendek.
“Hm.”
Quinn mendengus.
“Udah kan? Puas?”
“Ya.”
Quinn menyilangkan kaki di kasurnya.
“Kalau gitu gue tutup ya. Drama gue lagi seru.”
Ryuga tidak langsung menjawab.
Beberapa detik hening.
Lalu ia berkata pelan.
“Ra.”
“Apa lagi?”
“Besok pagi tunggu gue.”
Quinn memicingkan mata.
“Kenapa?”
“Berangkat sama gue.”
Quinn langsung reflek menjawab cepat.
“NGGAK.”
“Nggak terima penolakan.”
Quinn langsung kesal.
“Apaan sih lo! Maksa banget.”
Ryuga tidak menjawab lagi.
Tiba-tiba—
Tut.
Telepon diputus sepihak.
Quinn menatap HP di tangannya dengan mata melotot.
“RYUGA, SIALAN!”
Ia melempar tubuhnya ke kasur.
“Nyebelin banget tuh orang!”
Ia mengacak rambutnya sendiri dengan kesal.
Setelah beberapa detik menggerutu…
Quinn akhirnya mengambil keripiknya lagi.
Ia menatap layar laptop.
Drama China itu masih berjalan.
Quinn mendengus.
“Ck… cowok di drama ini masih lebih normal.”
Ia menggigit keripik.
Namun tanpa sadar…
Tangannya menyentuh bibirnya sendiri.
Quinn langsung berhenti.
Seketika momen Ryuga mencium bibirnya di gudang belakang sekolah kembali melintas di pikirannya.
Wajahnya memerah.
Ia langsung memukul bantal.
“AH! Kenapa gue jadi ingat itu lagi sih!”
Ia buru-buru fokus kembali ke dramanya.
Tapi entah kenapa…
senyum miring Ryuga terus muncul di pikirannya.
...****************...
baca dong ga nama di undangannya biar kamu gak kecewa dan nama quinn masih ada di hatimu
tebal muka banget...
berapa lapis tuh... macam kue lapis aja... 🤣🤣🤣
Jangan berani²...
ada perempuan yang gak tahu malu mengatasnamakan teman masa kecil.. yg segitu gak tahu malunya segitu terobsesinya makanya mengaku ke quinn kalau dia pacarnya ryuga... hidup lu macam pemeran dalam drama cina si pemeran cewek manipulatif yg mengatasnamakan teman masa kecil tapi didepan wanita yg disukai sahabat mu mengakui kalau kamu sama sahabatmu itu pacaran padahal dekat kamu aja sahabatmu itu risih... bangun woyy Naomi... percuma nama cantik tapi kelakuannya minus
semangat ga....aku pendukung setiamu😁😁😁