NovelToon NovelToon
Luminar

Luminar

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:835
Nilai: 5
Nama Author: Nostalgic

Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.

Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Ketika Rumah Bukan Lagi Tempat Pulang

Heras bermimpi tentang masa lalunya lagi.

Dan kali ini, mimpi itu terasa begitu nyata—begitu menyakitkan—seolah ia kembali terlempar ke dalam tubuhnya yang dulu, terperosok kembali ke dalam jurang kenangan yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam. Kenangan itu bukan sekadar ingatan; itu adalah luka menganga di batinnya yang tak pernah sembuh, yang kini terbuka kembali, berdarah, dan perihnya terasa sama persis seperti hari itu.

Mimpi itu membawanya kembali ke hari ketika ia baru saja keluar dari rumah sakit, hari di mana ia baru saja menjadi pahlawan bagi seorang anak kecil yang ia selamatkan dari kobaran api. Namun, hadiah yang ia terima adalah kenyataan pahit: kakinya lumpuh.

Saat ia membuka mata dan melihat perban tebal yang membungkus kakinya, kakinya yang sama sekali tak bisa digerakkan, dunia di sekelilingnya seakan runtuh dan hancur berkeping-keping. Ia tak terima. Rasa marah, kecewa, dan putus asa meledak bersamaan di dadanya. Ia berteriak, suaranya pecah dan serak, memohon agar ini semua hanyalah mimpi buruk, memohon agar kakinya bisa bergerak kembali. Matanya memindai seluruh ruangan dengan panik, mencari sosok-sosok yang seharusnya ada di sana—ayah, ibu, kakaknya—orang-orang yang seharusnya memegang tangannya, menghapus air matanya, dan memberinya kekuatan.

Tapi... tidak ada siapa-siapa. Tidak ada satu pun jiwa.

Hanya keheningan yang dingin dan suara mesin medis yang berdenting tanpa perasaan yang menemani kehancuran hatinya. Rasa kesepian yang menyergapnya saat itu begitu besar hingga rasanya bisa menenggelamkannya hidup-hidup.

Dengan hati yang hancur lebur, Heras memutuskan untuk pulang sendiri. Ia mendorong kursi roda yang asing dan berat itu keluar dari rumah sakit, menembus angin sore yang menusuk tulang. Perjalanan pulang terasa seperti perjalanan menuju siksaan. Ketika melewati jalan yang menanjak, tubuhnya yang masih lemah dan penuh luka harus mengerahkan seluruh sisa tenaga yang ada. Keringat bercucuran membasahi wajah dan punggungnya, tangannya pegal luar biasa, namun ia tak berhenti. Ia memutar jalan jauh, sangat jauh, hanya demi mencari jalur yang lebih landai, merasa semakin kecil, semakin tak berdaya, dan semakin tidak berarti di tengah dunia yang terasa begitu luas dan kejam ini.

Akhirnya, ia sampai di depan rumahnya—rumah yang selama ini ia anggap surga, tempat berlindung teraman di dunia. Namun, harapannya akan sambutan hangat hancur seketika saat pintu terbuka. Yang menyambutnya bukanlah senyuman atau pertanyaan khawatir, melainkan tatapan sinis yang tajam dan dingin, seolah ia bukan putra dan saudara mereka, melainkan sebuah aib besar, sebuah beban yang mengganggu ketenangan hidup mereka. Tatapan itu datang dari ayah, ibu, bahkan kakak perempuannya yang dulu selalu ia sayangi dan ia ikuti kemana-mana.

Dengan sisa keberanian yang tersisa, Heras mendorong kursi rodanya masuk. Ia mencoba tersenyum, meski bibirnya gemetar hebat dan air mata sudah menggenang. "Kenapa... kenapa tidak ada yang datang ke rumah sakit?" tanyanya pelan, suaranya bergetar menahan tangis.

Diam. Hanya kebisuan yang mencekam yang menjawabnya.

Heras mencoba lagi, bercerita dengan antusiasme yang dipaksakan, berusaha menunjukkan bahwa ia masih kuat. Ia menceritakan bagaimana ia berani menerobos api yang menyala-nyala, bagaimana ia menggendong anak kecil itu keluar dari maut. Ia berharap kisah heroiknya itu bisa mencairkan suasana beku itu, bisa membuat mereka bangga padanya setidaknya sedikit saja. Namun, tetap saja tak ada tanggapan. Wajah mereka tetap datar, hati mereka sekeras batu.

Dari arah dapur, terdengar suara gaduh. Ibunya bergerak dengan kasar. Ia membuka kulkas, mengambil bahan masakan, dan dengan sengaja membanting pintu kulkas itu dengan keras. BAM! Suara itu menggelegar, membuat Heras tersentak kaget, jantungnya berdegup kencang karena ketakutan. Lalu, terdengar suara pisau yang menghantam talenan dengan irama yang kasar, cepat, dan penuh amarah—sebuah proyeksi kemarahan yang tanpa kata, namun begitu jelas menyakitkan. Heras menelan ludah dengan susah payah, rasa takut mulai merayap dingin di ulu hatinya.

Ia mendorong kursi rodanya dengan tangan gemetar menuju ruang tamu, di mana ayah dan kakaknya sedang duduk. "Yah... Kak..." panggilnya lirih, penuh harap.

Ayahnya berdiri tiba-tiba. Tanpa sepatah kata pun, pria itu berjalan dengan langkah berat melewati samping Heras. Namun, bukannya berjalan lurus atau menghindar, ayahnya dengan sengaja menyenggol bahu kursi roda itu dengan keras.

Krak!

Keseimbangan kursi roda hilang seketika. Heras terpelanting jatuh ke lantai yang keras dan dingin. Tubuhnya terbentur, rasa sakit fisik menjalar, namun yang jauh lebih perih dan menyiksa adalah hatinya yang hancur berkeping-keping. Pikiran Heras menjadi kosong seketika, putih bersih tanpa satu pun ide atau harapan. Ia menengadah perlahan, menatap wajah kakaknya dengan tatapan menyedihkan, mata nya memohon bantuan, memohon setidaknya sebuah perhatian, setidaknya satu kata saja.

Namun, kakaknya hanya menatap datar, tatapan yang hampa dan tanpa jiwa, lalu perlahan memalingkan wajah dan berjalan pergi, seolah Heras hanyalah sebutir debu yang tak terlihat, seolah rasa sakit yang dialami adiknya sendiri tidaklah penting.

Hari-hari setelah itu berubah menjadi siksaan batin yang tiada henti, sebuah neraka nyata yang berlangsung di dalam rumahnya sendiri, di antara orang-orang yang seharusnya mencintainya.

Setiap pagi, Heras bangun dengan rasa takut yang menjalar di seluruh tubuhnya. Ia tidak berani meminta bantuan saat ingin mandi atau berganti pakaian; ia berusaha melakukannya sendiri sekuat tenaga, meski seringkali ia jatuh, terjatuh ke lantai yang keras, tubuhnya memar dan sakit, namun tak ada satu pun anggota keluarga yang menoleh untuk menolong, bahkan untuk sekadar melihat sekilas pun tidak.

Saat jam makan tiba, ia harus mendorong kursi rodanya sendiri dengan susah payah ke meja makan. Namun, seringkali piringnya diletakkan di posisi yang sangat sulit dijangkau, atau makanan yang tersisa untuknya hanyalah sisa-sisa yang tak diinginkan orang lain, seolah ia hanya pantas menerima apa yang dibuang. Jika ia berbicara, suaranya seakan hilang ditelan udara—tidak ada yang menanggapi, tidak ada yang menoleh, seolah ia adalah hantu yang tak berwujud yang mengganggu ketenangan mereka.

Ayahnya sering melewati lorong sempit di mana Heras berada, dan setiap kali itu, ayahnya selalu menyenggol kursi rodanya dengan kasar, seolah kehadiran Heras adalah gangguan terbesar dan paling menjengkelkan dalam hidupnya. Ibunya tidak pernah mau memandang matanya; setiap kali mereka berpapasan, ibunya akan mendecakkan lidah dengan keras penuh kesal seolah melihat sesuatu yang menjijikkan, lalu membanting pintu kamarnya atau pintu lemari dengan keras hanya untuk membuat Heras terlonjak takut dan merasa semakin kecil.

Kakaknya bahkan tidak pernah menyapa; jika Heras memberanikan diri meminjam sesuatu atau meminta tolong sekecil apa pun, kakaknya akan berjalan melewatinya seolah Heras tidak ada, atau bahkan sengaja mengambil barang yang diinginkan Heras tepat di depan wajahnya tanpa permisi, seolah keinginan Heras tidaklah ada artinya sama sekali.

Heras belajar untuk menahan air matanya agar tidak jatuh, belajar untuk diam dan menyusut di sudut ruangan agar tidak menjadi sasaran kemarahan atau ketidakpedulian mereka. Ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri, seorang tahanan di dalam tubuhnya yang lumpuh, dan tahanan di dalam hatinya yang terluka parah. Ia merasa tidak berharga, merasa tidak diinginkan, dan merasa bahwa menyelamatkan nyawa anak itu adalah kesalahan terbesar yang pernah ia buat.

Saat itu, Heras belum mengetahui, bahwa rasa sakit dan pengabaian yang ia alami hari itu hanyalah permulaan. Bahwa ini adalah awal dari neraka yang nyata, yang akan terus menyiksanya, merenggut kepolosan dan kebahagiaannya, dan membayangi hidupnya selama bertahun-tahun yang panjang dan penuh kesepian.

1
Nasipelang
lego euy
Nasipelang
rasa sakit ini, adalah bukti bahwa aku masih hidup
Anonymous
oke
Anonymous
kece
Anonymous
mc nya menderita saya suka
Nasipelang
awalnya ngebosenin, tapi lama-lama seru juga
Anonymous
oke
Anonymous
bujet
Anonymous
baru aja kenalan udah ditinggal ama luminar
Anonymous
uwihh level up coyy
Anonymous
kasihan mc nya jir
Anonymous
mirip nexus yah
Anonymous
kena de javu
Nasipelang: de javu nya apa
total 1 replies
Anonymous
jirr
Arctic General
Sangat bagus... kek ultraman 🗿
Arctic General
up thorr oii🦖
Arctic General
Buset kek ginga🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!