Apa yang kita rencanakan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Takdirkan yang akan membawa kita ke jalan yang sudah di gariskan.
Lidia tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah kejadian malam itu. Niat ingin membantu malah berakhir jadi hal buruk yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Mahkota yang ia jaga di renggut paksa oleh Panca suami sahabatnya sendiri. Semenjak itu ia tak bisa lepas dari jeratan Panca. Sekeras apapun ia menolak ia tak bisa mengelak akan pesona panca yang notabene adalah atasannya sendiri.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah sahabatnya akan mengetahui perbuatan buruknya dan bagaimana kisah anatara dirinya dan panca?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Cuaca hari ini nampak mendung. Cahaya matahari yang tadi pagi garang hilang tertutup awan. Padahal masih sore tapi nampak sudah malam.
Lidia buru - buru menutup warungnya tapi hujan itu perlahan turun rintik - rintik lalu berubah jadi deras. Lidia duduk termenung menatap hujan dari jendela rumah.
"Lidia." sapa buk Sum membuyarkan lamunannya. Wanita yang tak lagi muda itu meletakan segelas teh hangat di meja.
"Minum dulu, biar tubuhmu hangat."
"Makasih, bu." Lidia tersenyum pada buk Sum. Ia meminum teh yang buk Sum bawa. Rasa hangat menyentuh tenggorokan saat teh hangat ia sesap.
"Lagi mikir apa?" tanya wanita itu lembut.
"Cuma mikir lahiran aja, bu."
Bu Sum tau hati Lidia tengah gundah menanti kelahiran anaknya. Apalagi ia tak punya suami dan keluarga. Bu Sum mengelus punggung Lidia dengan lembut sambil tersenyum.
"Ga usah terlalu di pikirin, jalani aja. Semuanya akan baik - baik saja." hibur bu Sum.
Lidia menyandarkan kepalanya di bahu bu Sum. Mencoba mencari kehangatan seorang ibu. Belain lembut bu Sum di tubuhnya mampu menenagkan hatinya.
"Kita makan malam dulu yuk, ibu sudah masak masakan kesukaan kamu."
"Beneran bu?"
"Iya." angguk buk Sum dengan senyum hangat. Keduanya berjalan beriringan menuju meja makan. Sesekali terdengar canda dan tawa membuat suasana teras hangat di tengah cuaca yang dingin.
Di tempat yang berbeda, Panca asik dengan pek4jaan yang sudah lama ia abaikan. Ia mencoba tegar dan menerima kep4gain Lidia tapi bukan berarti ia akan menyerah. Ia percaya bahwa ia pasti suatu saat akan di pertemukan.
"Adit, kerumahnya sekarang. " perintah Panca pada Adit yang bertugas di bagian keuangan.
"Baik pak." lelaki itu bergegas menuju ruangan bosnya.
"Permisi, pak." ucap Adit setelah mengetuk pintu terlebih dahulu baru masuk kedalam ruangan Panca.
"Duduk." perintah Panca dingin.
"Saya minta penjelasan mengenai dana yang ini?" tanya Panca sambil memutar laptopnya dan mengarahkan ke arah Adit.
"Ooh itu, pak Rangga yang tau pak."
"Maksud kamu, pak Rangga gimana? Bukanya kamu harus tau dana itu di gunakan untuk apa?"
"Maaf pak, selama bapak tidak ada, pak Rangga sering mengambil aja kantor untuk keperluan pribadi beliau. Kami bagian keuangan tak bisa membantah karna beliau adalah paman bapak." Adit menjelaskan mengenai dana yang Panca maksud.
"Kenapa kamu ga lapor?" ada nada kemarahan di suara Panca.
"Saya sudah sering menghubungi bapak tapi bapak tak pernah merespon. " Panca mengetuk kepalnya yang tak gatal, ia mencoba mengingat kembali bahwa dirinya yang sepenuhnya salah. Andai ia tak terpuruk tentu kejadian ini tak akan pernah terjadi.
"Baiklah, kamu bisa kembali bekerja. Ingat jangan katakan apapun pada yang lain, biar saya sendiri yang memberikan pak Rangga." pesan Panca pada Adit.
"Baik pak, kalau gitu saya permisi dulu." Wajah Adit tadi yang tegang bisa bernafas lega lagi. Beban yang sedari tadi terasa menghimpit perlahan mulai berkurang. Lelaki bergegas kembali ke ruanganya mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda.
"Loe di panggil pak Panca ada apa?" ta ya trman satu divisi dengannya.
"Ooh itu pak Panca cuma minta laporan keuangan selama beliau tak ada.
"Kalian itu doang? Apa kamu tadi habis di marahi ?" tanya temanya lagi.
"Beneran, ngapain pak Panca marah, aku ga ngelakuin kesalahan kok ."
"Syukur kalau gitu."
"Udah ah, aku mau lanjut kerja. Nanti kalau file ini ga selesai aku pasti bakal di marahi." Adit tidak lagi meladeni temanya yang tak henti - hentinya bertanya, ia memilih menyibukkan diri menyelesaikan pekerjanya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Assalamualaikum kk, thor up lagi
Di tunggu saran dan masukannya serta supportnya.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 😘🙏👍
atau adit br dipindah ke kantor nya panca?
atau adit atau lidia ga pernah saling cerita mrk kerja dimana?