Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Dibalik Dinding
Pagi itu berjalan lambat.
Langit pucat, udara dingin, dan rumah Mercer terasa lebih sunyi daripada biasanya—bukan sunyi yang damai, melainkan sunyi yang seperti menunggu sesuatu meledak. Fred duduk di meja makan dengan semangkuk sereal yang tidak disentuhnya. Matanya berkali-kali melirik ke arah tangga, ke pintu kamar Maëlle yang tertutup rapat.
Biasanya Maëlle muncul, atau setidaknya bergerak. Maëlle tidak pernah benar-benar “diam” seharian.
Hari ini… tidak ada.
Fred akhirnya berdiri dan berjalan ke koridor, menatap pintu kamar Maëlle. Ia mengetuk pelan sekali. Tidak ada jawaban. Ketukan kedua, sedikit lebih keras. Tetap tidak ada.
“Dia pergi?” gumam Fred.
Di ruang tamu, Mercer sedang merapikan sesuatu di rak—bukan buku, melainkan map-map tipis. Pergerakannya tenang seperti orang yang memegang waktu.
Fred menoleh. “Mercer. Kenapa Maëlle seharian nggak keluar kamar?”
Mercer tidak langsung menjawab. Ia menutup map, menaruhnya, lalu menatap Fred dengan ekspresi datar.
“Dia bertugas semalam,” kata Mercer. “Dan belum pulang hari ini.”
Fred membeku. “Belum pulang?”
Mercer mengangguk.
Fred merasa perutnya mengencang. “Bertugas apa?”
Mercer menatap Fred beberapa detik, lalu—anehnya—tertawa pendek. Itu tawa yang tidak sering keluar dari Mercer. Bukan tawa lucu, lebih seperti tawa orang yang akhirnya memutuskan: baik, waktunya kamu tahu sebagian.
“Kalau kamu terus hidup di rumah ini,” kata Mercer sambil berdiri, “kamu harus berhenti jadi turis.”
Fred mengernyit. “Maksudmu?”
Mercer berjalan ke arah koridor. “Sekarang aku ajak kamu tur.”
Fred ragu, tapi mengikuti.
Mereka naik tangga, melewati kamar tamu tempat Fred tidur—kamar yang dindingnya penuh piagam Dr. E. Mercer, foto-foto, dan bukti identitas yang membuat Fred percaya kemarin. Lalu Mercer berhenti di depan kamarnya sendiri.
“Masuk,” kata Mercer.
Kamar Mercer tetap terlihat kosong dan steril, seperti yang Fred lihat sebelumnya. Tempat tidur rapi, meja kerja sederhana, dinding nyaris tanpa dekorasi. Dan justru karena itu, kamar ini terasa seperti… set.
Mercer berdiri dekat dinding bawah—sekitar setinggi lututnya—di bagian yang tampak paling tidak penting.
“Kamu pernah merasa aneh soal kamar ini?” tanya Mercer, tanpa menoleh.
Fred menelan ludah. “Iya. Kamar kamu… nggak ada foto, nggak ada piagam. Semua piagam ada di kamar tamu.”
Mercer mengangguk kecil, seperti mengiyakan analisis.
“Coba sentuh dinding itu,” kata Mercer.
Fred melangkah mendekat. Ia menempelkan telapak tangannya pada panel tembok bagian bawah, tepat di area yang Mercer tunjuk. Dingin. Keras. Tidak ada yang istimewa.
Lalu, saat Fred menekan sedikit—hanya refleks, seperti menekan dinding untuk memastikan—panel itu memberi respons halus, seperti pegas.
Klik.
Dinding itu bergeser.
Bukan pintu biasa. Lebih seperti panel rahasia yang menyatu rapi sehingga mata biasa tidak akan menangkap garisnya.
Fred terpana, mulutnya terbuka tanpa suara.
Di balik panel itu ada ruang kecil yang langsung terasa berbeda: udara lebih dingin, lebih “teknis”, dan terdengar dengung halus listrik.
“Selamat datang,” kata Mercer datar.
Fred melangkah masuk pelan, seperti takut ruang itu akan menghilang kalau ia bergerak terlalu keras.
Di dalam ada beberapa monitor, papan kontrol dengan cukup banyak tombol, dan sebuah meja kerja yang bukan meja dokter. Ini meja orang yang memantau. Mengendalikan. Mengumpulkan.
Mercer duduk di kursi, menyalakan monitor satu per satu. Layar-layar menyala menampilkan sudut pandang berbeda—jalan kota, pintu, ruangan, dan akhirnya… sesuatu yang membuat Fred menahan napas.
Kafe.
Kafe “Mercer” di London.
Rekaman CCTV.
Kafe tampak sudah tutup. Lampu-lampu redup, kursi-kursi dinaikkan, kasir gelap. Tetapi kamera-kamera tetap hidup, seperti mata yang tidak pernah tidur.
Fred merasakan tengkuknya dingin. “Ini…”
Mercer tidak menjawab. Ia hanya memutar rekaman.
Di layar, sosok muncul di depan pintu utama kafe. Maëlle.
Maëlle bergerak cepat, tenang, tanpa drama. Ia melakukan sesuatu di area pintu—gerakan kecil yang Fred tidak bisa baca—dan pintu terbuka.
Maëlle masuk.
Fred menahan napas.
Ia melihat Maëlle berjalan melewati ruang depan seperti seseorang yang punya kunci rumah sendiri. Tidak ada ragu. Tidak ada gelisah.
Lalu dari ruang dalam, seseorang muncul—mungkin penjaga, mungkin staf yang tinggal untuk menutup tempat. Orang itu baru sempat bergerak setengah langkah—
Maëlle mengangkat tangan.
Ada kilat kecil.
Orang itu langsung jatuh, tubuhnya berhenti bergerak.
Tidak ada teriakan. Tidak ada keributan besar. Kamera menangkap semuanya dalam sunyi yang mengerikan.
Fred merasa dadanya nyeri.
Itu bukan adegan film. Itu nyata. Dan kenyataan itu terlalu cepat, terlalu dingin.
Maëlle lanjut masuk ke ruang dalam.
Beberapa detik kemudian, di kamera ruangan belakang, terlihat si wanita gemuk—manajer—muncul. Wajahnya tidak lagi ramah. Tubuhnya tegang. Tangannya bergerak seperti sedang mencari sesuatu, mungkin tombol, mungkin alarm.
Maëlle mengarahkan senjata.
Mereka bicara—kamera tidak menangkap suara, hanya gerakan bibir, ekspresi, dan bahasa tubuh yang terasa seperti pertarungan tanpa pukulan.
Si gemuk itu terlihat panik, lalu marah, lalu… seperti memohon. Tangannya mengangkat, telapak terbuka.
Maëlle tetap diam.
Lalu kilat kecil lagi.
Si gemuk itu jatuh.
Maëlle berdiri beberapa detik, seolah memastikan tidak ada lagi yang bergerak. Setelah itu ia berjalan keluar kafe dengan langkah biasa—seperti orang yang baru selesai mematikan lampu.
Dan rekaman berakhir dengan kafe yang kembali sepi.
Fred menatap layar, tidak berkedip, seolah kalau ia berkedip, pemandangan itu akan menempel selamanya.
“Nyawa…” suara Fred serak. “Murah banget.”
Mercer menatapnya. Tidak ada pembelaan di wajahnya, hanya realitas.
“Ini dunia mereka,” kata Mercer pelan. “Bukan duniamu. Tapi kamu sudah terseret.”
Fred memaksa menelan ludah. “Apa yang Maëlle lakukan di sana?”
Mercer menjawab singkat, seperti laporan.
“Mencari nama agen.”
Fred berbalik cepat. “Lantas siapa nama agennya?!”
Mercer menggeleng. “Dia belum dapat. Tapi dia dapat sesuatu yang cukup untuk menuju ke tempat agen.”
Fred membeku. “Dia… pergi ke agen sekarang?”
Mercer mengangguk.
Fred merasa marah bercampur takut. “Kenapa kamu biarkan dia pergi sendirian?”
Mercer menatap layar lagi, lalu berkata sesuatu yang membuat Fred semakin sadar betapa dalam permainan ini.
“Karena kalau aku ikut, semua orang tahu siapa aku.”
Fred mengernyit. “Apa hubungannya kafe dengan kamu?”
Mercer menarik napas panjang. Seperti orang yang akhirnya memutuskan untuk membuka satu pintu lagi—sedikit saja.
“Kafe itu… milikku,” kata Mercer.
Fred terpaku.
Mercer melanjutkan, suaranya tetap tenang, tapi ada sesuatu seperti rasa muak di bawahnya.
“Aku membangun itu sebagai titik perantara. Tempat orang-orang ‘kurir’ menerima informasi. Tempat yang bisa kupantau, supaya aku tahu siapa bergerak, siapa bermain kotor, siapa melanggar aturan.”
Fred menatap monitor kafe, lalu menatap Mercer. “Jadi… si gemuk itu…”
“Berhianat,” kata Mercer. “Dia mulai main dua kaki. Dia ingin menjual informasi di luar jalur. Dan… dia merencanakan sesuatu pada Maëlle.”
Fred merasakan jantungnya memukul. “Membunuh Maëlle?”
Mercer mengangguk kecil. “Mungkin karena Maëlle punya hubungan denganku. Itu membuatnya dianggap aset… atau ancaman. Dan orang yang takut biasanya menyerang duluan.”
Fred menelan ludah. “Jadi Maëlle tadi malam… menutup pengkhianatan.”
“Dia menutup pintu,” jawab Mercer. “Dengan cara Maëlle.”
Fred mengusap wajah, mencoba mengusir gambar di kepalanya. Ia masih belum bisa menerima betapa cepatnya hidup bisa dihapus.
Tiba-tiba, telepon di meja kontrol bergetar. Bukan nada dering biasa—lebih pendek, lebih mendesak.
Mercer langsung mengangkat, suaranya berubah jadi singkat dan fokus.
“Hm… iya… di mana…?” Mercer berdiri. “Berapa parah?”
Fred menahan napas, menatap Mercer.
Mercer mendengarkan beberapa detik lagi. Rahangnya mengeras.
“Oke,” kata Mercer akhirnya. “Diam di tempat. Jangan bergerak kalau kamu dengar suara kedua. Aku datang.”
Ia menutup telepon.
Fred menatapnya. “Itu Maëlle?”
Mercer sudah bergerak cepat, mengambil jaket, memasukkan sesuatu ke saku. “Dia dapat masalah.”
“Masalah apa?” suara Fred naik.
Mercer menatap Fred tajam. “Terluka.”
Kata itu membuat perut Fred jatuh.
Mercer melangkah keluar dari ruang rahasia, panel dinding ditutup kembali dengan gerakan rapi. Seolah ruangan itu tidak pernah ada.
Fred mengikuti, panik. “Aku ikut!”
Mercer berbalik cepat di koridor. “Tidak.”
“Aku nggak mau ditinggal lagi!” Fred memotong, suara pecah.
Mercer menatapnya beberapa detik—menilai. Lalu ia berkata, lebih rendah, lebih keras:
“Kalau kamu ikut, kamu patuh. Kamu dengar. Kamu tidak jadi beban.”
Fred mengangguk cepat. “Aku patuh.”
Mercer tidak menjawab, hanya berbalik dan turun tangga dengan langkah cepat. Fred mengekor.
Mereka keluar rumah. Pickup putih sudah dinyalakan dalam hitungan detik. Mercer masuk ke kursi pengemudi, menyalakan lampu, dan mobil melesat keluar halaman, ban menggeser kerikil.
Fred duduk di kursi penumpang, tangan mencengkeram dashboard. Dadanya sesak.
Di luar, ladang-ladang lewat seperti bayangan.
Fred menatap Mercer. “Maëlle… bisa mati?”
Mercer tidak menoleh. Matanya fokus pada jalan.
“Maëlle jarang mati karena luka,” kata Mercer datar. “Maëlle mati karena kehabisan waktu.”
Kalimat itu membuat Fred menggigil.
Pickup melaju lebih cepat, menembus jalan sempit menuju arah yang tidak Fred kenal.
Di kepalanya, gambar rekaman CCTV menempel: kilat kecil, tubuh jatuh, sunyi kembali.
Dan sekarang, orang yang melakukan semua itu—Maëlle—sedang terluka di suatu tempat, sendirian, dikejar.
Fred merasakan satu hal yang tidak bisa ia bantah lagi:
Ia tidak cuma dikejar.
Ia sudah jadi bagian dari perang yang bahkan ia belum paham aturannya.
Pickup putih terus melaju, membawa mereka menuju sesuatu yang—Fred merasa—akan mengubah dirinya sekali lagi.