Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30
Hari ini kantor masih terang oleh Cahaya lampu meski jam sudah menunjukkan jam delapan malam.
Hanya tersisa tiga orang di lantai atas.
Ken.
Zara.
Dan Eve.
Tumpukan dokumen belum selesai. Presentasi untuk klien besar besok pagi harus sempurna.
Ken berdiri di belakang Zara, memperhatikan layar laptopnya.
“Kamu belum makan,” katanya pelan.
Zara menggeleng kecil. “Nanti aja.”
Ken mendesah pelan. “Bandel.” Sambil mengelus kepala zara
Di sudut ruangan, Eve melihat itu.
Dan ia tidak suka melihatnya.
Eve melangkah mendekat.
“Aku bantu cek bahan presentasi terakhir ya?”
Zara tersenyum profesional. “Sudah selesai kok.”
“Oh… cepat juga.”
Nada itu halus.
Tapi selalu ada sesuatu di baliknya.
Beberapa menit kemudian, Ken menatap jam.
“Sudah malam. Eve, kamu pulang dulu aja.”
Eve mengangkat wajah. “Aku bisa tunggu.”
“Besok kamu masih harus datang pagi,” lanjut Ken tegas tapi lembut.
Tepat saat itu.
Kakek Jo muncul di ambang pintu.
“Setuju.”
Eve sedikit terkejut. “Kakek?”
“Kakek juga mau pulang. Sekalian kita pulang bareng ya.”
Eve ragu. “Tapi…”
“Kamu harus istirahat,” potong Kakek Jo bijak.
Lalu tanpa memberi ruang debat, Kakek menggandeng tangan Eve dengan santai.
“Mereka berdua memang gila kerja.”
Saat keluar ruangan, Kakek menoleh pada Zara.
Satu kedipan mata.
Senyum licik yang jelas sekali maksudnya.
Zara menahan tawa.
Ia membalas dengan senyum manis dan jempol kecilnya.
Ken mengernyit. “Kalian kenapa?”
“Nothing,” jawab Zara cepat.
Pintu tertutup.
Dan akhirnya…Ruangan itu benar-benar hanya milik mereka berdua.
Sunyi terasa berbeda.
Bukan canggung.
Tapi hangat....suasana yang kini jarang mereka rasakan.
Ken berjalan mendekat ke meja Zara.
“Kamu capek?”
“Sedikit.”
Ken menarik kursinya lebih dekat.
“Terima kasih ya.”
“Untuk apa?”
“Karena tetap di sini.”
Zara menatapnya. “Aku kan asisten kamu.”
Ken tersenyum tipis.
“Kamu lebih dari itu.”
Kalimat itu jatuh pelan. Tapi berat.
Zara terdiam.
Ken mengangkat tangan, merapikan helaian rambut yang jatuh di pipinya.
Gerakan sederhana.
Tapi membuat jantung Zara berdebar lebih cepat.
“Sayang…”
“Hmm?”
“Kita nggak lagi di kantor ya sekarang?”
Ken tersenyum.
“Iya…Dan sekarang cuma ada aku dan kamu.”
“Dan jangan lupa Perusahaan ini milikku, jadi terserah aku.”
Mereka kembali bekerja, Tapi kali ini lebih sering tertawa…bercanda.
Lebih sering saling menyentuh tanpa sengaja.
Waktu berlalu tanpa terasa.
Jam menunjukkan hampir tengah malam saat akhirnya mereka selesai.
“Ayo...Aku antar kamu pulang,” kata Ken.
Jalanan kota sudah lebih lengang.
Lampu-lampu kota berkilau seperti latar film romantis.
Zara bersandar nyaman di kursinya.
“Terima kasih ya, sudah nggak membatalkan tadi.”
Ken menoleh sebentar. “Membatalkan apa?”
“Kita.”
Ken tersenyum kecil.
“Aku nggak akan biarin siapa pun ganggu waktu aku sama kamu.”
Kalimat itu hangat.
Zara menatapnya lama.
“Aku suka lihat kamu waktu lagi serius.”
“Oh ya?”
“Iya…Ganteng…Cool, kayak aktor-aktor drachin…hehehe.”
Ken terkekeh pelan. “ Dasar ratu Drachin.”
Beberapa menit berlalu, Mobil berhenti di depan rumah Zara.
Sunyi yang nyaman mengisi kabin.
Ken mematikan mesin.
Mereka saling menatap.
Tak ada yang buru-buru turun.
Zara menggigit bibir bawahnya sedikit.
“Sayang…”
“Iya?”
“Good night ya?”
Ken mengangkat alis.
“Cuma good night?”
Zara tersenyum malu.
Ken mendekat pelan.
Tangannya menyentuh pipi Zara dengan lembut.
“Sayang…”
Jarak mereka semakin tipis.
Napas mereka bertemu.
Dan akhirnya.
Bibir hangat Ken menyentuh bibir Zara.
Lembut.
Pelan.
Tidak tergesa.
Ciuman kedua yang benar-benar penuh rasa.
Zara membalas.
Hangat.
Manis.
Seolah semua keraguan beberapa hari ini menguap sejenak.
Saat mereka berpisah, Ken menempelkan dahinya ke dahi Zara.
“Good night, sayangku Zara…”
Zara tersenyum malu, pipinya merona.
“Good night… gantengku Kenzy…”
Ken terkekeh kecil.
Zara turun dari mobil dengan langkah ringan.
Untuk malam ini.
Ia merasa menang.
Ia merasa dicintai.
Dan di dalam mobil.
Ken masih tersenyum sendiri sebelum akhirnya melaju pergi.
Tak satu pun dari mereka sadar.
Di rumah tamu yang lampunya belum sepenuhnya padam,
Ada sepasang mata yang menatap ke arah jalan.
Dan malam itu…
Tidak semua hati tidur dengan tenang.