Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hari pernikahan Satya dan Raisya
Aku berdiri di depan cermin kamarku kebaya berwarna hijau emerald telah sempurna melekat di tubuhku, hari ini aku akan menghadiri akad sekaligus resepsi pernikahan sahabatku, Satya dan Raisya.
"Sandraa... nak, sudah siap?" ibu mengetuk pelan pintu kamarku. Dan sontak membuyarkan lamunanku.
"iya Buu, sebentar lagi Sandra selesai". Gegas aku memperbaiki sanggulan rambut di kepalaku, dan memperbaiki makeup natural yang tadi sempat luntur karena aku mengusap air mata yang jatuh dengan sendirinya.
Aku mengambil tas dan keluar dari kamar. Kudapati ibu dan ayah yang sedang duduk di sofa menungguku.
Ibu dan ayah tersenyum lembut menatapku, mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja. Aku menghela nafas perlahan, Manahan agar air mata ini tak jatuh lagi.
"anak ibu cantik sekali" ucap ibu mendekatiku sambil mengelus lembut pipi ku.
"ibunya cantik, anaknya pun pasti cantik" ucap ayah sambil mengambil kunci mobil, mereka memang selalu terlihat romantis sekali.
***
"saya terima nikah dan kawinnya Raisya Andriani binti Abdullah Kosim dengan maskawin seperangkat alat shalat dan perhiasan dibayar tunai" aku mendengar di balik ruangan tempat Raisya, akad nikah yang diucapkan begitu mantap dan lancar tanpa drama.
Raisya yang duduk di sebelahku menunduk meneteskan air mata kebahagiannya. Tanpa kusadari ternyata Raisya memang sudah menaruh hati pada Satya di waktu yang bersamaan denganku, ya tadi Raisya sempat bercerita tentang perasaanya pada Satya sebelum akad di mulai.
Aku memeluk sahabat baikku itu mengusap pelan punggungnya, mengucapkan kata selamat berkali kali, kita sama sama mengeluarkan air mata, Raisya dengan air mata kebahagian, sedangkan aku sedikit perih di dada dengan pernyataan ini. Aku tidak menganggap jahat pada Satya ataupun Raisya, akupun tau rasa cinta yang tumbuh di hati itu natural tidak bisa dikendalikan. Raisya pun tidak mengetahui bahwa aku pun menaruh hati pada Satya pada waktu itu. Kita sama sama tidak mengetahuinya bahwa mencintai laki-laki yang sama.
aku menggandeng lengan Raisya dan mengantarkan untuk bertemu Satya yang sudah sah menjadi suaminya. Dengan balutan kebaya putih dan style hijab menutup dada menambah kesan anggun pada wanita di sampingku ini, wajahnya teduh dengan senyum yang terus merekah di bibirnya, riasan di wajahnya tidak berlebihan namun menambah kesan lebih fresh dan segar.
Di depan sana Satya telah berdiri tegap, sesekali ia menundukkan wajahnya, matanya terus tertuju pada mempelai wanitanya, ada senyum tipis menghiasi wajahnya.
Aku dengan langkah berat, terus berjalan mengantarkan Raisya pada suaminya, dadaku sedari tadi sudah terasa sesak, namun aku harus tetap kuat menahan tangis yang sedari tadi, sudah berdesakan minta keluar.
Raisya sudah sampai di depan Satya, yang saat ini mereka sedang saling pandang dengan senyuman kebahagian menghiasi bibir mereka.
Aku kembali dan berjalan meninggalkan kedua mempelai, aku mendekati ibu yang sedari tadi tersenyum memperhatikanku. Ketika aku sampai, ibu menggenggam tanganku seolah menyalurkan kekuatan di tangannya. Asalkan ada ibu semuanya akan terasa baik-baik saja.
pandanganku kembali fokus pada kedua mempelai, Raisya yang mulai mencium punggung tangan Satya kemudian disusul Satya yang mencium kening Raisya kemudian dilanjutkan dengan telapak tangan Satya yang menyentuh ubun-ubun Raisya seraya memanjatkan do'a.
jlebbb
Dadaku mendadak sesak, pandanganku sudah buram. Ibu membawaku ke tempat yang lebih tenang. Tidak terburu-buru, tetap tenang agar orang tidak menaruh curiga, apa yang terjadi denganku.
Ayah kembali dari apotik dengan sebotol air mineral dan obat asma untuku, nasib baik asmaku kambuh tapi tidak terlalu parah, menunggu sampai kondisiku lebih stabil baru aku ibu dan ayah akan berpamitan dengan Satya dan Raisya untuk pulang, karena aku tidak yakin akan kuat menemani mereka sampai akhir.
"Raisya, Kak Satya aku pamit pulang ya, maaf ga bisa menemani kalian sampai akhir acara" ucapku sambil memegang erat tangan Raisya.
"yaudah gapapa ndra, aku denger kamu besok mau adain acara toko rotimu, selamat ya sukses terus" ucap Raisya sambil tersenyum tulus padaku.
laki-laki di depanku itu disamping Raisya hanya menunduk, sesekali mengangguk, entah kenapa dia, apa mungkin ini hari pernikahannya tidak biasanya kak Satya seperti ini. Sedari tadi dia tidak melihat padaku. Aku ini sahabatnya kan ?, bahkan untuk ucapan terimakasih pun tidak keluar dari mulutnya.
Ah ini makin membuat hatiku perih saja.
aku tersenyum tipis pada Raisya.
"kamu dan kak Satya Dateng ya, aku tunggu sekalian merayakan pernikahan kalian, kita ini kan sahabat, yasudah kalau gitu aku pamit ya sa, kak" ucapku memanggil nama panggilan kesayangan pada mereka berdua.
"iya cepet nyusul ya ndra" ketika aku akan membalikan badan suara berat itu muncul. Aku menoleh dan mengangguk.
"iya kak doakan saja secepatnya, atau kak Satya bantu cariin deh" dia hanya tersenyum tipis menanggapi perkataanku.