NovelToon NovelToon
My Girl

My Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:801
Nilai: 5
Nama Author: Helena Fox

Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor

Elvan Bagaskara

CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.

Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .

Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 32

Beberapa waktu kemudian mereka sudah sampai di sebuah restoran kecil pinggir jalan.

Begitu duduk di meja…

Dira langsung mengambil menu dengan semangat.

Pelayan berdiri di samping mereka.“Silakan dipesan.”

Dira membaca menu seperti orang yang sudah kelaparan seminggu.

“Aku mau ini… ini… sama ini.”

Pelayan mencatat cepat semua pesanan dira.

Dira belum selesai. “Tambah yang itu juga.”

Elvan mengangkat alis sedikit.

Dira menunjuk lagi.

“Dan itu.”

Pelayan mulai terlihat ragu. “Apakah ada lagi?”

Dira berpikir sebentar.

“…oh iya! Yang pedas itu juga.” kemudian menoleh ke arah elvan yang diam saja

" Om gak pesan?" tanya dira

"Aku hanya akan menunggu mu " jawab elvan. Dira mengangguk mengerti , kemudian lanjut memesan.

" ...Dan sama yang ini dua ya kak"

Pelayan menoleh pelan ke Elvan. Seolah memastikan ini bukan kesalahan. Karna pesanan dira sangat banyak bahkan hanya untuk satu orang.

Elvan hanya berkata singkat. “Bawakan saja.”

Pelayan mengangguk , lalu pergi.

Beberapa detik kemudian Elvan menatap Dira.

“Kamu memesan makanan untuk berapa orang?”

Dira menjawab santai. “Untuk aku.”

Elvan menghela napas.“Dira.”

“Apa?”

“Kamu tidak akan menghabiskan semuanya.”

Dira menyilangkan tangan dengan percaya diri.

“Jangan meremehkan kemampuan makan seorang siswa yang habis ujian.”

Elvan terdiam sebentar. " Baik. Kalau tidak habis , kamu aku hukum "

Dira mengerutkan keningnya." Hukum apa?"

" Kiss me " sambil menaikkan alisnya.

" Ih.. om mesum " balas dira tak suka sambil melihat sekeliling restoran siapa tahu ada yang dengar pembicaraan mereka.

" Mesum sama istri sendiri , gak ada yang larang "

" Cih.. Gak mau "

Elvan semakin semangat menjahili dira. Ia suka melihat kesal karna ia goda.

 "Kamu harus mau." lalu pindah duduk di kursi samping dira.

" Eh!. ngapain om ke sini. " dira semakin bergeser ke ujung kursi.

" Kiss me now" Perintah elvan melingkarkan tangannya di pinggang dira.

Dira semakin waspada, Ia melihat sekeliling restoran yang sudah sepi. Entah kapan semua orang yang tadi didalam pergi.Ia ingin bergeser lagi namun tidak bisa , karna ia sudah berada di ujung kursi.

" OM LEPAS!!. GAK MALU APA JIKA DILIHAT ORANG " tekan dira meski suaranya tidak keras.

" Buktinya tidak ada orang" balas santai elvan semakin menari tubuh dira ke sisinya.

Dira membulat kan kedua matanya. Memang sih dalam restoran itu hanya ada mereka.

Tidak tahu saja dira , kalau itu ulah siapa lagi kalau bukan elvan sendiri.

" Om nyebelin " dira memalingkan wajahnya.

Elvan akhirnya berhenti menggoda dira.

" Baiklah. Jangan ngambek "

" Siapa juga yang ngambek" ucap dira Tanpa menoleh

Elvan ingin bicara lagi... Namun Pelayan datang mengantarkan pesanan dira.

Beberapa makanan mulai datang satu per satu. Meja mereka langsung penuh.

Dira bahkan terlihat sangat bahagia. Matanya langsung berbinar menatap semua makanan.

“Ini baru hidup.”

Ia langsung makan dengan lahap. Mencoba semua makanan yang ia pesan.

Elvan memperhatikannya sebentar. Ekspresinya sedikit lebih lembut dari biasanya.

Di tengah makan…

Dira tiba-tiba berhenti.

Ia menatap Elvan. “Om el ”

Hm?”

“Albian kemana om ?”

Elvan sedikit berhenti memegang Handphone nya.

Dira melanjutkan dengan santai. “Sudah seminggu dia nggak muncul. Bahkan gak ikut ujian ”

Elvan tidak langsung menjawab.

Dira mengerutkan kening. “Biasanya dia selalu chat aku.”

Ia membuka ponselnya. " Sekarang malah gak ada kabar"

Dira kembali menatap Elvan.

“Dia lagi sibuk ya?”

Elvan akhirnya menjawab.

“Dia kembali pindah ikut ibunya.”

Dira mengangguk pelan. “Oh.”

Namun beberapa detik kemudian ia berkata lagi.

“Hah! pindah . Kok gak bilang aku.”

Elvan menatapnya beberapa detik. Ada rasa tak suka saat dira menanyakan keberadaan albian padanya.

“Apa kamu khawatir?”

Dira mengangkat bahu " Sedikit"

Ia mengambil makanan lagi. “Dia kan adik om juga.”

" Kok tiba-tiba banget om ?" tanya dira kembali.

Elvan tidak berkata apa-apa. Dira mendengus, Lalu melanjutkan makannya.

Namun di dalam pikirannya… nama Albian bukan lagi sekadar adik.

Karena sekarang…

ia tahu Siapa dan yang di rencanakan albian.

Dan semakin lama Dira tidak tahu kebenarannya…

semakin baik.

Sementara itu di tempat lain…

seseorang melihat foto Dira dan Elvan di restoran melalui layar ponsel.

Orang itu tersenyum tipis. “Menikmati makan malam ya…”

Itu adalah Bara.

Matanya dingin saat menatap foto Dira.

“Tenang saja, …”

“…aku akan segera kembali.”

***

Setelah makan yang hampir menghabiskan setengah menu restoran, akhirnya Dira bersandar di kursinya dengan wajah puas.

“Ah… hidup terasa sangat indah.”

Di depan meja mereka piring benar-benar hampir kosong.

Elvan menatapnya sebentar. “Kamu benar-benar menghabiskannya.”

Dira mengangkat dagu dengan bangga.

“Tadi aku sudah bilang jangan meremehkan siswi yang habis ujian om.”

"Bisa - bisa kakak kamu bangkrut dulu. Makan kamu banyak.”

Dira langsung menunjuknya. “Tenang saja, ini pakai uang suamiku.”

Elvan langsung pura-pura terharu.

“Lihat sekarang … status suami langsung dimanfaatkan.”

Dira tersenyum " hehe... siapa suruh nikahin aku. Biar aja om bangkrut "

" Jadi kamu mau hidup miskin sama aku?" tanya elvan

" Jelas " Dira menjeda Kalimatnya " GAK MAU " kemudian ia tertawa keras.

" Berani kamu ninggalin aku"

" Kenapa enggak" dira menjulurkan lidah nya

Elvan hanya menghela napas pelan. Nasib menikahi bocil.

Namun di sudut bibirnya terlihat sedikit senyum

Malam mulai turun saat mereka keluar dari restoran.

Udara terasa sejuk.

Dira berjalan di samping Elvan sambil memegang perutnya.

“Aku kenyang banget om. ”

Elvan membuka pintu mobil untuknya. “Masuk.”

Dira duduk di kursi penumpang lalu menghela napas puas.

Mobil mulai melaju di jalan kota yang sudah mulai sepi. Beberapa menit mereka hanya diam.

Namun Dira tiba-tiba menoleh ke Elvan.

“Om Elvan.”

“Apa.”

“Kalau nanti aku gemuk gimana?”

Elvan menjawab tanpa melihatnya. “Tidak masalah.”

Dira menyipitkan mata. Tak percaya

“Serius?”

“Iya.”

Dira tersenyum kecil. “Wah… suamiku baik juga.”

Elvan tidak menjawab. Namun tatapannya sedikit melembut.

***

Mobil Elvan akhirnya sampai di rumah.

Begitu turun dari mobil, Dira langsung meregangkan tubuhnya.

“Akhirnya sampai juga.”

Ia berjalan masuk ke rumah dengan santai. Namun tiba-tiba ia berhenti di ruang tamu.

“Om Elvan.”

“Apa?”

Dira menoleh. “Aku kayak merasa aneh.”

Elvan langsung waspada. “Aneh bagaimana?”

Dira berpikir sebentar.

“Seperti… ada yang memperhatikan kita.”

Elvan menatapnya beberapa detik.

“Tidak ada siapa pun.”

Dira mengangkat bahu. “Mungkin cuma perasaan aku aja .” Ia mulai takut

Namun di luar rumah…di balik pagar yang gelap…

sebuah mobil hitam perlahan pergi dari sana.

Di dalamnya Seseorang masih tersenyum sambil menatap rumah itu dari jauh.

“Selamat menikmati malam tenang kalian"

Dira masih merasakan takut .Ia bahkan tidak berani menuju kamar sendiri.

" Om "

Elvan sudah duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya " Apa?"

" Takut. Gak berani ke kamar "

Ekspresi dira sekarang terlihat begitu menggemaskan bagi elvan. membuat ia tak tahan untuk tersenyum.

" Ayoo aku antar " Dira mengganguk

Dira dan elvan menuju kamar bersama.

Tiba di kamar...

" Om mau kemana?" melihat elvan yang berbalik keluar kembali.

" Ruang kerja. Masih ada kerjaaan " balas elvan

Dira diam sebentar. " T-tapi aku takut...sendiri"

" Kamu mau mandi ?" tanya elvan. Dira mengangguk

" Yaudah mandi dulu , Aku akan tunggu di sini"

" Benar ya om , awas pergi duluan " sambil berlari mengambil pakaian ganti.

Elvan tersenyum puas " Iya."

Dira langsung masuk ke kamar mandi , sedangkan elvan duduk di ujung kasur.

" Kamu lucu banget sih..." guman elvan..

 Sekitar 20 menit dira keluar dari kamar mandi. Lengkap dengan pakaian tidur dress pendek di atas lutut. Rambutnya masih sedikit basah. membuat elvan menelan salivanya beberapa kali.

" Sudah selesai" Ketika tersadar.

" Sudah .Om gak mandi?" dira berjalan mendekat kearah elvan.

" Enggak. aku masih ada kerjaaan" ia segera berlalu agar tetap waras untuk tidak menyerang dira.

" MAU IKUT!!" dira mengikuti langkah elvan.

Elvan menghela napas " Serius . Nanti bosan"

" Mau ikut pokoknya, takut sendiri"

Elvan akhirnya mengalah " Baiklah ayaoo.." elvan menggandeng dira menuju ruang kerjanya.

Dira tersenyum puas.

.

.

.

.

.

.

Bersambung.........

1
Teh Sopiah
Lumayan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!