NovelToon NovelToon
King Mafia Di Zaman Kuno

King Mafia Di Zaman Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: BUBBLEBUNY

Xavier, king Mafia yang tak terkalahkan, ditangkap musuh dan terkena tembakan di dada hingga pingsan. Ketika sadar, dia terkejut melihat dirinya mengenakan hanfu kuno megah dan duduk di singgasana tinggi di lingkungan asing.

Dia menyadari dirinya seharusnya sudah mati, namun doanya terkabul dalam bentuk reinkarnasi. Kini dia berada di tubuh pemimpin sekte iblis yang dingin dan bijaksana, dengan perpaduan unik antara kekerasan masa lalunya sebagai Mafia dan kebijaksanaan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUBBLEBUNY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dansa Pedang di Bawah Langit dan Bumi

Tanpa ragu sedikit pun, Xiao Ling melangkah maju. Kakinya yang telanjang menginjak lantai batu yang keras dan dingin, namun setiap langkah yang diambilnya kini terdengar berat, padat, dan memekakkan telinga. Suara itu bergema layaknya genderang perang yang menghantam jantung setiap pendengarnya, seolah bukan kaki manusia yang menginjak tanah, melainkan sebuah palu raksasa yang terus-menerus menghantam inti bumi. Getaran itu terasa hingga ke tulang. Meskipun postur tubuhnya masih terlihat ramping dan anggun, namun aura yang dipancarkannya sama sekali tidak lagi manusiawi. Energi di sekitarnya terasa begitu padat, pekat, dan berat, memancarkan rasa bahaya yang mengerikan yang mampu membuat siapa pun mundur teratur hanya dengan merasakannya. Dia kini bukan lagi sekadar seorang gadis, melainkan sebuah senjata hidup yang siap melahap segalanya!

"AKU DATANG, YANG MULIA!! Hari ini... aku akan membuktikan bahwa aku layak berdiri di sampingmu! Lihatlah hasil latihanku!!" Seruannya meledak dengan suara yang bergema keras dan penuh semangat, memecah keheningan gua dan memancarkan aura pertempuran yang tak tertahankan!

Pedang Bidadari Es ditarik keluar dengan kilatan cahaya biru yang menyilaukan. Diikuti oleh aliran energi Yin dan Yang yang berputar ganas, tebasan pertama Xiao Ling meluncur tajam menuju leher Ye Chen! Serangan itu bukan hanya sekadar gerakan fisik. Bilah pedang itu begitu tajam hingga membelah ruang itu sendiri, meninggalkan jejak retakan hitam yang baru tertutup beberapa detik kemudian. Kekuatannya cukup untuk membelah gunung! Namun... Di mata Xiao Ling yang kini setajam elang, apa yang terjadi selanjutnya terasa bagaikan bergerak dalam gerak lambat. Ye Chen tidak bergerak banyak. Dia hanya sedikit memiringkan kepalanya ke samping dengan gerakan yang sangat santai, seolah hanya menghindari sehelai daun yang terbawa angin. Pedang itu melesat hanya beberapa milimeter di depan hidungnya. Anehnya, bahkan angin badai yang ditimbulkan oleh tebasan dahsyat itu pun seolah tak berani menyentuh wajahnya, membelah diri dan mengalir ke samping tanpa daya.

"Terlalu lambat, Xiao Ling!" Suara Ye Chen terdengar tepat di telinganya, lembut namun menusuk tajam, seolah dia berdiri menempel di belakang punggung gadis itu, padahal sosoknya tak terlihat di mana pun.

"Matamu mungkin bisa mengikuti gerakan, tapi kecepatan pikiran dan hatimu masih tertinggal jauh di belakang! Jangan berpikir... rasakanlah! Fokuslah sepenuhnya! Gunakan nalurimu! Jadilah satu dengan pedang itu! Cepat!!" Serunya dengan nada yang mendesak namun penuh bimbingan, menuntut muridnya untuk melampaui batas dirinya sendiri.

Seketika, tanpa ia sadari dari arah mana serangan itu datang, sebuah dorongan halus namun mengandung kekuatan yang tak tertahankan tiba-tiba menghantam tepat di tengah punggungnya. Kekuatan itu begitu dahsyat namun terkontrol sempurna, membuat tubuh Xiao Ling yang berat itu terangkat dan terpental jauh ke belakang bagaikan boneka kain. Kakinya terseret keras di atas lantai batu yang keras, menciptakan suara gesekan yang memekakkan telinga SKRRRRRT!! dan meninggalkan goresan panjang yang dalam hingga puluhan meter jauhnya. Batu-batu kecil beterbangan ke mana-mana, debu mengepul tebal menutupi pandangan sesaat. Namun, saat ia berhasil menancapkan kakinya kuat-kuat ke dalam tanah dan menghentikan lajunya, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit atau ketakutan. Sebaliknya, kedua matanya justru bersinar semakin terang dan liar, dipenuhi oleh semangat yang membara. Jantungnya berdegup kencang bagaikan genderang perang, bukan karena rasa cemas, melainkan karena adrenalin bertarung yang memuncak di dalam darahnya. Semakin besar tekanan yang ia rasakan, semakin hidup ia merasa!

"Bagus! Itu baru permulaan! Lagi! Serang lagi dengan lebih ganas! Jangan biarkan aku bernapas tenang! Tunjukkan padaku bahwa pedang itu bukan sekadar hiasan di tanganmu! Buat aku benar-benar harus menggerakkan tanganmu!" Teriak Ye Chen dari jarak jauh, tangannya terlipat tenang di depan dada, namun matanya berbinar liar bagaikan bintang di langit malam.

"SIAPKAN DIRIMU, YANG MULIA!! AKU TIDAK AKAN MENYERAH!!" Seruan itu meledak dari mulut Xiao Ling bagaikan guntur. Dia membuang segala keraguan, membiarkan naluri bertarungnya mengambil alih sepenuhnya.

Xiao Ling tidak lagi berpikir. Dia membuang segala keraguan dan rasa hormat berlebihan untuk sesaat, membiarkan naluri bertarungnya yang tajam mengambil alih sepenuhnya. Dia melesat lagi, kali ini bahkan jauh lebih cepat dan jauh lebih ganas daripada sebelumnya! Gambarannya bayangan pedang ungu keemasan muncul di mana-mana dalam sekejap mata. Atas, bawah, kiri, kanan, depan, belakang... dia menyerang dari segala sudut yang mungkin dan mustahil! Ribuan tebasan diluncurkan dalam hitungan detik, membentuk sebuah jaring pedang yang padat, rapat, dan tak terlihat yang bertujuan untuk memotong segala sesuatu yang ada di dalamnya, termasuk sosok agung Ye Chen! Suara benturan besi terdengar bertubi-tubi memekakkan telinga, bagaikan hujan batu es yang menghantam atap logam tanpa henti. Namun, pemandangan di hadapan mereka sungguh di luar nalar manusia. Ye Chen tidak pernah mengeluarkan senjata sedikit pun. Dia hanya bergerak dengan tubuh kosong, berkelana di tengah badai pedang itu dengan gerakan yang indah namun mematikan, bagaikan seorang dewa yang sedang menari anggun di tengah badai petir. Setiap kali bilah pedang Bidadari Es nyaris menyentuh kulitnya, dia hanya akan bergerak selangkah ke samping atau memutar tubuhnya dengan sudut yang melanggar hukum fisika, membuat serangan dahsyat itu melenceng hanya dengan jarak sehelai rambut saja! Terkadang, dia bahkan tidak perlu bergerak banyak. Terkadang, dia hanya menggunakan ujung jarinya yang tipis. Saat Xiao Ling melancarkan serangan menusuk mematikan dari arah bawah dengan tujuan merobek perut lawan, Ye Chen sama sekali tidak terkejut. Dia hanya mengangkat tangan kanannya dan menjentikkan jari telunjuknya dengan santai dan acuh tak acuh. Sebuah kekuatan tak kasat mata namun begitu padat dan berat menghantam tepat ke tengah bilah pedang itu. Guncangan itu begitu dahsyat hingga membuat lengan Xiao Ling terasa kebas dan mati rasa hingga menembus sampai ke tulang bahu, dan seluruh aliran energi dalam serangannya buyar seketika!

"Kekuatannya besar, tapi jalurnya terlalu terbuka!" Celetuk Ye Chen santai sambil memutar tubuhnya dengan anggun menghindari serangan samping yang ganas.

"Kau terlalu fokus pada kekuatan hantaman dan ingin menghancurkan segalanya, tapi kau justru lupa menjaga celah dan pertahanan dirimu sendiri! Ingatlah, Xiao Ling... Dalam pertarungan nyata yang mempertaruhkan nyawa, kelengahan sekecil apa pun... adalah kematian yang mutlak! Jangan biarkan kekuatan besarmu justru menjadi kelemahan mematikan bagimu!" Serunya tajam, memberikan pelajaran berharga di tengah badai serangan itu.

"Aku mengerti, Guru!!" Jawab Xiao Ling sambil menggertakkan gigi, mengejar kecepatan yang tak masuk akal itu.

Perlahan namun pasti, sesuatu mulai berubah di dalam dirinya. Dia mulai memahami ritme pertempuran yang sesungguhnya. Dia membuang segala kekacauan di pikirannya, menenangkan jiwanya di tengah badai yang mengamuk itu, seolah menjadi danau yang tenang di dasar lautan yang ganas. Dia tidak lagi hanya melihat dengan mata fisik, tapi mulai merasakan dengan hatinya. Energi ungu keemasan yang melambangkan cahaya dan ketajaman, serta energi hitam pekat yang melambangkan kekuatan penghancur, kini mulai berpadu dan berputar sempurna di ujung bilah pedang Bidadari Es. Dua kekuatan yang bertolak belakang itu saling melengkapi, membentuk pusaran energi yang begitu rapat, padat, dan memancarkan tekanan yang semakin berat dan mengerikan. Setiap gerakan pedangnya kini tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan kasar, melainkan memiliki tujuan, aliran, dan bahaya yang mematikan yang benar-benar siap melenyapkan apa pun yang dilaluinya!

"TEKNIK PEDANG: CAHAYA DAN KEGELAPAN - PEMBELAH DUNIA!!" Teriakannya meledak dengan kekuatan penuh yang membelah gendang telinga, memadatkan seluruh jiwa dan raganya menjadi satu titik kematian di ujung pedang!

"HANCURLAH SEGALANYA!!" Seruannya meledak dengan penuh keganasan, mengirimkan seluruh kekuatan dahsyat itu meluncur turun dengan tujuan membelah segalanya!

Xiao Ling melompat tinggi ke langit-langit gua, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Cahaya dari bilah itu bersinar terang benderang, menerangi seluruh ruangan yang gelap. Dia memadatkan seluruh kekuatannya menjadi satu titik, lalu menebasnya ke bawah dengan kekuatan penuh. Sebuah gelombang pedang raksasa setinggi puluhan meter terbentuk! Separuh berwarna emas menyilaukan, separuh lagi hitam pekat bagaikan malam abadi. Dua kekuatan itu berputar membentuk pusaran yang siap melenyapkan segalanya! Di sudut gua yang jauh, Elder Yan dan Elder Feng sudah tidak bisa berkata-kata. Tubuh mereka gemetar hebat, bulu kuduk mereka meremang seluruhnya.

"T-Tuhan... Ini bukan lagi sekadar latihan... Ini adalah adegan pembantaian!" Gumam Elder Feng dengan suara parau dan bergetar hebat, matanya terbelalak lebar tak percaya melihat kekuatan destruktif yang meledak di hadapannya.

"Satu tebasan Nona Xiao Ling saja sudah cukup untuk meratakan kota atau menghancurkan sekte besar menjadi debu! Tapi... di mata Yang Mulia... kekuatan sebesar itu... ternyata hanya dianggap sebagai permainan anak-anak belaka! Ini sungguh di luar akal sehat! Kami benar-benar melayani dewa perang yang sesungguhnya!" Gumamnya lagi dengan napas tertahan, bulu kuduknya meremang seluruhnya menyadari betapa mengerikannya sosok yang mereka layani.

"Lihat aura Yang Mulia... Tekanannya begitu pekat dan berat... rasanya seperti ada ribuan gunung batu yang menindih dadaku! Aku bahkan merasa sulit untuk menarik napas saja!" Balas Elder Yan dengan napas yang tertahan di tenggorokan, suaranya bergetar hebat menahan tekanan yang menindih jiwanya.

"Aku merasa nyawa ini melayang tepat di ujung tanduk hanya dengan berdiri di sini! Seolah satu gerakan salah atau pikiran buruk sekecil apa pun... kami berdua akan lenyap menjadi debu abadi dalam sekejap mata! Bahaya yang dia pancarkan... sudah melampaui level monster... itu adalah kematian itu sendiri yang berjalan!" Gumamnya tak kuasa, bulu kuduk mereka berdiri tegak seluruhnya.

"Benar... Bahkan saat dia hanya berdiri diam tanpa melakukan apa-apa, bahayanya sudah melampaui batas akal sehat dan logika manusia! Kami selama ini buta... tidak sadar bahwa kami sedang melayani monster terbesar dan paling berbahaya yang pernah ada di dunia ini! Tidak heran seluruh dunia gemetar ketakutan mendengar namanya... dia memang kejam dan tak tertandingi!" Gumam Elder Feng dengan wajah pucat pasi dan keringat dingin mengalir di pelipis, matanya tak lepas memandang sosok agung di tengah arena.

"Hanya Xiao Ling yang berani menebasnya seperti itu... Orang biasa mana sanggup? Mereka mungkin sudah mati jantungan atau jantungnya pecah sebelum sempat mengangkat senjata saja!" Gumamnya lagi dengan napas tertahan.

Gelombang pedang raksasa itu meluncur turun dengan kecepatan mematikan, membawa kekuatan pemusnah yang siap membelah segala yang ada di jalurnya, termasuk tubuh Ye Chen menjadi dua bagian yang terpisah! Namun... Di tengah kepungan kekuatan yang mengerikan dan mematikan itu, Ye Chen tidak bergeming sedikit pun. Dia tetap berdiri tegak kokoh bagaikan pilar penyangga langit dan bumi. Wajahnya yang tadi dipenuhi senyum santai dan menantang kini berubah total menjadi sangat serius, dingin, dan tajam. Kedua matanya yang biasanya teduh kini memancarkan cahaya merah tua yang gelap dan menakutkan, bagaikan mata iblis yang baru terbangun dari tidur panjangnya, memancarkan rasa hancur yang mutlak dan tak tertahankan!

"Akhirnya... serius juga kau!" Gumamnya dengan senyum lebar yang penuh kegilaan.

"BAGUS!! ITULAH YANG KUMAU!!" Teriaknya bergema lebih keras dari ledakan itu. Alih-alih menghindar, dia justru melangkah maju menghadapi maut itu. Telapak tangannya terbuka lebar.

"RUNTUHLAH!!" Seru Ye Chen pelan namun penuh kuasa. Sebuah bola energi hitam pekat seukuran kepalan tangan muncul di tangannya. Saat bola itu bertabrakan dengan gelombang pedang Xiao Ling.

Ledakan dahsyat terjadi! Namun anehnya, momen pertama bentakan itu terjadi justru hening total, seolah waktu berhenti dan seluruh udara di dunia ini dimampatkan menjadi satu titik. Hanya sesaat kemudian, suara ledakan yang memekakkan telinga meledak dengan ganas! Gelombang kejut menyebar ke segala arah bagaikan tsunami yang tak terlihat. Dinding gua yang terbuat dari batu keras retak hebat bagaikan kaca yang dipukul palu, dan bebatuan besar seukuran rumah rontok berjatuhan dari langit-langit yang tinggi. Bahkan air terjun raksasa yang mengalir deras di belakang mereka pun seolah tak berdaya, sempat terhenti mengalir dan membeku di udara sejenak karena tekanan yang melampaui hukum fisika! Debu tebal dan asap energi memenuhi seluruh ruangan, menyembunyikan segalanya di balik kabut kelabu yang pekat. Xiao Ling mendarat dengan keras di tanah, kedua kakinya gemetar hebat menahan sisa kekuatan ledakan itu. Napasnya memburu tak karuan, keringat bercucuran membasahi tubuhnya. Tangannya terasa sakit dan mati rasa hingga ke ulu hati, nyaris tak sanggup lagi menggenggam gagang pedang yang terasa berat ribuan kali lipat. Namun, matanya tetap tajam menatap ke arah pusat badai itu, jantungnya berdegup kencang menanti hasilnya. Perlahan namun pasti, debu dan asap itu mulai menipis tertiup angin.

Dan di sana... tepat di titik pusat kehancuran itu... Ye Chen masih berdiri tegak sempurna bagaikan gunung yang tak tergoyahkan. Jubah hitamnya berkibar kencang tertiup angin ledakan, namun tubuhnya tidak bergeming sedikit pun. Tidak ada satu pun goresan, tidak ada satu pun noda debu yang berani menempel di tubuhnya. Dia hanya berdiri dengan satu tangan masih terulur ke depan, dan wajahnya yang dipenuhi senyum puas, lebar, dan penuh kegilaan yang luar biasa!

"Hahahahaha!!" Tawa besar dan gembiranya meledak tanpa filter, bergema keras memenuhi setiap sudut dan celah gua yang luas itu, menunjukkan betapa bahagianya dia saat ini!

"LUAR BIASA!! XIAO LING!! KAU BENAR-BENAR LUAR BIASA!!" Serunya sambil menepuk-nepuk tangannya sendiri dengan antusiasme yang meluap-luap, matanya berbinar cerah bagaikan anak kecil yang mendapatkan mainan favorit.

"Hanya dengan satu serangan itu, kau hampir memaksaku untuk melepaskan segel kekuatan asliku!" Gumamnya takjub, suaranya penuh kekaguman yang tak terhingga.

"Bayangkan saja... Bahkan para tetua yang sudah hidup ribuan tahun dan memiliki akar kekuatan yang dalam pun mungkin sudah hancur menjadi debu halus terkena hantaman sebesar itu! Kau telah tumbuh dengan kecepatan yang melampaui logika dan nalar manusia, muridku!! Aku sangat puas! Sungguh sangat puas!!" Serunya dengan senyum lebar yang memancarkan kepuasan mutlak, matanya bersinar penuh kegembiraan melihat hasil kerja keras muridnya.

"Terima kasih atas bimbingannya, Yang Mulia... Aku merasa... seolah baru saja terlahir kembali! Terima kasih telah mengangkatku hingga ke level ini!" Jawabnya dengan suara yang sedikit parau dan lelah namun penuh rasa hormat serta kebanggaan yang meluap di dalam hatinya.

Ye Chen perlahan melangkah mendekat ke arah gadis itu. Aura ganas dan tekanan mematikan yang tadi meledak-ledak kini lenyap seketika. Wajahnya kembali tenang, teduh, dan memancarkan kebijaksanaan yang agung, seolah sosok maniak pertarungan yang bersinar liar tadi hanyalah sebuah ilusi atau mimpi buruk yang baru saja berlalu. Dia berhenti tepat di depan Xiao Ling, lalu mengangkat tangannya dan menepuk bahu muridnya dengan lembut namun penuh makna. Sentuhan itu hangat dan menenangkan, seolah memindahkan rasa lelah dan ketakutan yang ada di hati gadis itu menjadi kekuatan dan keyakinan yang baru.

"Kau telah lulus ujian ini dengan nilai sempurna, muridku." Ucapnya dengan suara tenang namun berat, matanya memancarkan rasa bangga yang tulus dan mendalam.

"Tubuhmu kini kuat bak baja yang tak bisa dipotong, pikiranmu setajam silet yang mampu menembus segala tipu daya, dan pedang yang kau genggam itu... telah berubah menjadi alat kematian yang siap melenyapkan siapa pun yang berani menghalangi jalanmu! Kau kini adalah pendekar sejati, Xiao Ling!" Ucapnya dengan tegas dan penuh keyakinan, mengakui kedudukan muridnya di dunia persilatan yang kejam ini.

"Tapi ingatlah ini... Latihan di sini hanyalah simulasi belaka. Dunia luar jauh lebih kejam dan kotor daripada yang bisa kau bayangkan! Di sana ada racun mematikan, ada tipu daya yang halus, dan ada musuh yang bersembunyi dalam bayang-bayang... yang siap menikammu dari belakang kapan saja!" Ucapnya dengan suara berat dan penuh penekanan yang menekan jiwa.

"Kini, kau sudah memiliki kekuatan fisik untuk melindungi dirimu. Tapi pertanyaan terbesar belum terjawab..." Suaranya turun menjadi sangat dalam dan serius, matanya menatap tepat ke dalam jiwa muridnya.

"Apakah kau memiliki keberanian untuk mengayunkan pedang itu dan mengambil nyawa orang lain demi keadilan dan demi orang yang kau sayangi? Apakah hatimu cukup dingin dan tegas untuk membunuh musuh tanpa ragu sedikit pun?" Pertanyaannya meluncur pelan namun menusuk sangat dalam ke dalam hati gadis itu, menantang prinsip dan jiwanya yang paling dalam!

"Ingatlah... Kekuatan tanpa keteguhan hati hanyalah beban yang berbahaya dan bisa menghancurkan dirimu sendiri! Jawablah pertanyaan itu di dalam hatimu sendiri... Carilah kebenaran itu sebelum kau melangkah keluar dan menghadapi kenyataan yang kejam!" Ucapnya tegas, menekankan setiap kata agar tertanam kuat di ingatan gadis itu.

1
Fajar Fathur rizky
thor mau tanya ranah Kultivasi ada berapa ranah
BUBBLEBUNY: oh itu ada 6
total 3 replies
BUBBLEBUNY
Bener 🤣🤣🤣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
sekte Hua Shan sedang mengali kubur sendiri🤣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
baru singgah.. keren thor ceritanya.
BUBBLEBUNY: bagus kalo suka dengan ceritanya
total 1 replies
BUBBLEBUNY
betul 👍
🌹Widian,🧕🧕🌹
ohhh ternyata Ye tianhong adalah ayahnya Ye. Chen ?
BUBBLEBUNY
sabar masih permulaan
🌹Widian,🧕🧕🌹
sekte iblis, tapi pemimpinnya masih punya rasa kemanusiaan..... gimana inih ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!