NovelToon NovelToon
Pergi Dengan 1 Milyar

Pergi Dengan 1 Milyar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Single Mom / Lari Saat Hamil
Popularitas:51.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.

8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

"Sarapan yuk, Tante udah masakin udang goreng sama tempe orek," bujuk Vira, mendekati Arka yang duduk di sofa, sejak tadi hanya diam, melamun. Matanya bengkak, semalaman nangis terus.

Arka hanya menjawab dengan gelengan pelan. Anak itu belum sarapan meski sekarang sudah pukul 11 siang. Kemarin sehari juga hanya makan sekali, siang saja, itu pun harus dibujuk berkali-kali.

Vira tertunduk lesu sambil membuang nafas berat. Rasanya, tugas skripsi masih jauh lebih mudah dari pada membujuk Arka. Kalau seperti ini terus, ia takut Arka sakit.

"Arka, di HP Tante ada game seru, kita main game yuk," Vira mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Dengan bersemangat, menunjukkan salah satu game yang akhir-akhir ini menjadi favoritnya. Namun alih-alih tertarik, Arka tetap menggeleng, tatapannya kosong. "Kenapa, seru loh," bujuknya.

"Kata Ibu, aku gak boleh sering-sering main HP."

"Kan gak sering. Selama Arka disini, Arka gak sering main HP loh, hanya sekali hari itu kan, waktu dipinjemi Om Rizal."

Arka tetap menggeleng.

"Ayo dong... " Vira sampai depresi rasanya.

"Tante," Arka menatap Vira yang duduk di sampingnya. "Tante, anterin aku pulang," tangannya menarik-narik lengan Vira. "Aku kangen Ibu," ia mulai menangis.

"Allahuakbar, nangis lagi." Vira menghela nafas berat, menarik bahu Arka ke arahnya, memeluknya.

"Aku mau pulang, Tante."

Vira ikutan menangis mendengar isakan Arka. Ia sudah berkali-kali membujuk Rizal untuk mengantar Arka pulang, tapi kekasihnya itu selalu menolak.

Mendengar suara pintu dibuka, Vira melepas pelukannya. Ia dan Arka sama-sama melihat ke arah pintu.

Senyum Arka langsung merekah melihat siapa yang datang. Dengan bersemangat, bangkit dari duduknya sambil menyeka air mata, lalu berlari menyongsong sosok yang baru tiba tersebut.

"Om Bos," panggilnya dengan wajah sumringah.

"Hai Arka," sapa Naka, menujukkan keresek besar minimarket yang berisi jajanan.

"Ibu. Mana Ibuku?" Arka celingukan. Pintu sudah ditutup kembali, tapi yang masuk hanya Naka dan Rizal. "Apa Ibu masih di luar?"

"Em... " Rizal yang masih berdiri di dekat pintu, tersenyum sambil mengusap tengkuk, bingung mau menjawab apa.

"Ibuku mana, Om?" Arka bertanya pada Naka. "Om Rizal bilang, Ibuku bersama Om Bos. Mana Ibuku?" mendongak menatap Naka, memegang lengannya.

"Om bawa banyak makanan buat kamu," Naka menunjukkan keresek besarnya.

Arka menggeleng cepat, "Aku gak mau makanan, aku mau ketemu Ibu," sahutnya cepat. "Mana Ibu, Om?"

Naka tersenyum, membungkuk sambil mengusap puncak kepala Arka. "Ibu kamu masih belum bisa pulang."

Senyum Arka seketika lenyap.

"Ibu kamu ada di luar negeri."

Arka reflek menutup mulutnya yang menganga lebar dengan telapak tangan. Ia menggeleng cepat, tak percaya.

"Ibu kamu bekerja di luar negeri."

"Enggak, gak mungkin!" teriak Arka. "Ibu gak mungkin ninggalin aku," tangis anak itu pecah. Ia seketika teringat Farel, teman sekolahnya itu ditinggal ibunya kerja di luar negeri sejak masih bayi, hingga sekarang belum pulang. "Om Bos bohong, Ibuku gak mungkin kerja di luar negeri, gak mungkin," mengamuk, memukuli lengan Naka. "Ibuku gak mungkin pergi, Ibu gak mungkin ninggalin aku. Ibu...!" teriknya kencang dengan seluruh tenaga yang ia punya.

Vira yang ada di sofa sampai menangis sesenggukan, tak tega melihat Arka.

Naka meletakkan kereseknya di lantai, memegang kedua tangan Arka agar berhenti memukulinya.

"Ibuku gak mungkin pergi, Ibu tidak mungkin ninggalin Arka," teriak Arka sambil berontak, berusaha melepaskan kedua tangannya dari cekalan Naka.

"Tenang Arka, tenang."

Arka mulai sedikit tenang, menatap Naka dengan kedua mata bengkaknya setelah berhari-hari menangis. "Telepon Ibu, Om," pintanya, mengiba. "Telepon Ibu, suruh dia pulang."

Naka mengalihkan pandangan, tak kuasa menatap Arka. Tak tahu kenapa, dadanya berdenyut nyeri melihat tangis anak itu.

"Telepon Ibu Om, suruh Ibu pulang," rengek Arka di sela-sela tangisannya. "Om Bos punya banyak uangkan, tolong jemput Ibu Om, suruh Ibu pulang," pintanya dengan suara terputus-putus.

Naka mendongak ke atas, dadanya terasa sesak sekali mendengar ratapan Arka. Tanpa bisa ditahan, air matanya meleleh. Ia tersenyum kecut, bisa-bisanya kasihan pada anak itu, bahkan hingga ikut menangis.

"Om Bos," Arka menarik lengan jas Naka. "Jemput Ibu, suruh dia pulang. Bilang sama Ibu, Arka gak mau sepeda baru, Arka gak mau beli apapun, Arka cuma mau Ibu."

Rizal menyeka air mata, tak kuat menyaksikan Arka. Vira sudah masuk ke dalam kamar, kekasihnya itu sepertinya sudah tidak tahan.

Naka menyeka air mata, mengangkat tubuh kurus Arka, membawanya ke sofa. Di belakang, Rizal mengambil keresek berisi jajanan yang ada di lantai, membawanya ke atas meja.

"Telepon Ibuku Om, aku mau bicara dengan Ibu," rengek Arka yang ada di sofa, duduk bersebelahan dengan Naka.

"Biarkan Ibu kamu kerja, kamu disini sama Om ya," Naka mengusap kepala Arka.

"Enggak, gak mau," Arka menggeleng cepat. "Aku mau sama Ibu."

"Om akan daftarin kamu ke sekolah mahal. Akan beliin kamu baju bagus, ajak kamu jalan-jalan, makan enak. Nanti kamu ke sekolah juga akan diantar jemput mobil. Om belikan mainan, beli PS, beli sepeda, beli apapun yang kamu mau."

Arka tetap menggeleng, "Aku gak mau apa-apa. Aku cuma mau Ibu."

Rizal masuk ke dalam kamar menyusul Vira, namun baru saja kelar menutup pintu kembali, sebuah bantal sudah melayang ke wajahnya saat ia berbalik.

"Anj** memang bos kamu itu. Setan!" maki Vira dengan nafas memburu dan rahang mengeras.

"Shuttt!" Rizal melotot, meletakkan telunjuk di didepan bibir, takut Naka yang ada di luar mendengar.

"Bisa-bisanya anak sekecil Arka dipisahkan dari ibunya. Emang gak waras dia, sarap!" Vira memiringkan telunjuk di depan dahi.

Rizal buru-buru mendekati Vira, "Jangan kenceng-kenceng, nanti dia denger."

"Biarin aja dia denger, emang dia gila kok. Punya dendam apa coba dia sama ibunya Arka, sampai tega memisahkan mereka? Kalau Ibunya Arka memang punya salah, hukum aja ibunya, kenapa jadi anaknya ikut dihukum seperti ini. Arka itu anak baik, anak pinter. Sarap memang Bos kamu, setan, bajingann. Sumpah, jahat banget. Iblis saja sungkem sama dia."

"Udah, udah!" Rizal mendelik kesal, menoleh ke arah pintu, takut Naka mendengar. "Kalau dia denger, bisa jadi masalah."

"Kamu itu takut banget sih sama bos kamu."

"Ya iyalah, di mana-mana ya gitu. Emang ada, bos takut sama kacung? Gak usah ngadi-ngadi deh." Kalau pada Naka, sebenarnya Rizal sudah tak terlalu takut, tak seperti awal kerja dulu. Tapi kalau pada ayahnya Naka, Tuan Very, sampai detik ini ia masih takut meski sudah kerja lama. Jangankan dibentak, ditatap dari jarak 3 meter saja, ia sudah kejer. Sering ia mendengar rumor yang mengatakan jika Tuan Very adalah seorang Mafia.

"Untung, aku dulu gak jadi suka sama dia. Sekarang ilfeel."

"Apa? Kamu ngomong apa barusan?"

Vira buru-buru membekap mulutnya, bisa-bisanya keceplosan. Dulu saat pertama bertemu bos kekasihnya itu, ia sempat suka. Tapi buru-buru ia buang rasa itu, tak mau mengkhianati Rizal. Selain itu, Naka juga tampak tak tertarik sedikitpun padanya.

"Kamu suka sama Bos?" cecar Rizal.

"Eng, enggak," Vira turun dari ranjang, mendekati Rizal, bergelayut manja di lengannya. "Cuma kagum aja dulu, bahasa gaulnya ngefans lah. Tapi sekarang udah enggak. Ilfeel yang ada."

"Awas kamu macem-macem!" Rizal menunjuk muka Vira sambil melotot.

"Apaan sih, Beb. Enggak kok, aku setia sama kamu," menyandarkan kepala di bahu Rizal.

Setelah berhasil membujuk Arka makan, Naka dan Rizal kembali ke kantor.

"Besok Zea atau Zara, tiba di Jakarta, jemput dia," titah Naka yang ada di bangku belakang.

Senyum Rizal langsung mengembangkan. Alhamdulilah, akhirnya sang bos dibukakan hatinya, mau mempertemukan Arka dengan ibunya. "Baik, Bos," sahutnya penuh semangat.

"Bawa ke apartemenku."

"Hah!" senyum Rizal langsung hilang. "Gak ke apartemen saya, Bos?"

"Belum waktunya dia ketemu Arka."

Bangsaatt! Maki Rizal dalam hati. Kirain udah insaf, kasihan pada Arka, tahunya tidak.

"Suruh dia menunggu di apartemen. Aku masih ada acara keluarga besok malam."

1
Septi
ya ampun sampai kepikiran keramas 🤣🤣
Septi
wkwkwkwkwk ngomongin orang depan orang nya🤣
Septi
wkwkwkwkwk korban salah sasaran kah🤣🤣
Septi
siap-siap aja bayar hutang yang menumpuk🤣
Valen Angelina
papamu yg jahat naka..jgn nyesal ya nanti klo Uda terbongkar
NUR..8537
makasih unt up..nya🙏smg Kaka sehat slalu 💪🙏😘
NUR..8537
naka" km akan menyesal stlh tau semua..nya🥹 good job kaka👍🙏😘
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Naka mmg ngeselin, pak Very mmg pemain pembohong
jumirah slavina
buahahahahahahahahahaaaaa 🤣🤣

o...o'o... kycduk kalian....

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina
astaga s' dodol🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina
kita gak usah membela diri sm orang yang menganggap kita buruk krn gak ngaruh yang ada bikin emosi., jelaskan cukup 1x sisa 'y biar Tuhan yang urus.,

itu sih Aku ya Ze😄🤣
Bunda Idza
kamu cerdas banget si nak....☺️
Bunda Idza
sepertinya udah tau banget kamu Naka ☺️
Sugiharti Rusli
semoga saja dia bisa berpikir lebih dalam tentang kondisi si Zea dulu yang pasti sangat memprihatinkan dalam kondisi hamil,,,
Sugiharti Rusli
kalo dulu saat si Zea pergi dalam keadaan hamil Arka, seharusnya dia berpikir apa uang yang si Zea ambil bisa mencukupi mereka b-2 selama 8 tahun ini
Sugiharti Rusli
dia hanya mau melihat kesalahan dan keburukan si Zea saja yang dia bilang cewe matre,,,
Sugiharti Rusli
apalagi kan setelah dia operasi dan bisa melihat lagi orang" yang dulu tahu keberadaan si Zea tiba" dipecat/dipaksa resign pasti sama Verdy
Sugiharti Rusli
lagi yah si Naka kalo sudah mendapati dulu si Zea dibohongi oleh ayahnya, harusnya dia berpikir ada rahasia yang coba ditutupi oleh bapaknya itu sih,,,
Sugiharti Rusli
hadeh uda ketemu yang adalah malah berantem wae yah mereka,,,
Rahmawati
lanjuttttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!