dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata Yang Intens
Suara panggilan nama dari ruang pendaftaran memecah lamunanku. Aku berdiri tegak, membetulkan letak buku di pelukanku, dan melangkah maju. Langkahku masih terasa berat, tapi kali ini ada tujuan di setiap injakan kakiku. Aku masuk ke ruangan itu, siap untuk memulai perjalanan panjang mengukur takdirku sendiri.
Proses pendaftaran berjalan seperti rutinitas yang kaku. Aku mengisi formulir, menyerahkan berkas, dan menjawab pertanyaan petugas dengan nada datar yang sama. Mataku hanya fokus pada kertas di hadapanku, tak peduli dengan keramaian di sekitar ruangan yang penuh dengan siswa baru dan orang tua mereka.
Namun, di tengah kesibukan itu, sebuah perasaan aneh menyelinap masuk.
Aku merasakan ada sepasang mata yang terus menatapku.
Bukan sekadar pandangan sekilas, tapi tatapan yang berat, yang seolah menembus kulit dan masuk ke dalam. Rasa itu begitu kuat hingga membuatku tak nyaman, seolah ada beban tak terlihat yang menimpa bahuku. Tanpa sadar, tanganku yang sedang memegang pulpen berhenti sejenak. Aku menarik napas pelan, lalu perlahan mengangkat wajahku, memindai sekeliling ruangan untuk mencari sumber tatapan itu.
Dan benar saja.
Di sudut ruangan, dekat meja panitia, ada seorang siswa yang sedang melaporkan tugas OSIS. Dia tampak sedikit lebih tua, mungkin kakak kelas. Dia berdiri dengan postur tegak, memegang beberapa lembar kertas laporan, tapi matanya tidak tertuju pada kertas itu atau pada petugas yang sedang diajak bicara.
Matanya tertuju padaku.
Dia menatapku begitu intens, seolah sedang mengamati sesuatu yang asing dan menarik perhatiannya. Tatapannya tajam, sulit diterjemahkan—bukan jahat, tapi juga bukan ramah. Ada rasa ingin tahu yang mendalam di sana, atau mungkin sesuatu yang lain yang belum bisa ku pahami. Dia tidak mengalihkan pandangannya meskipun mataku sudah bertemu dengan matanya. Seolah dia tidak malu tertangkap basah sedang menatap.
Aku menatapnya balik selama beberapa detik, masih dengan wajah yang datar, meski di dalam sana ada sedikit kebingungan yang muncul. Mengapa dia menatapku seperti itu? Apakah ada yang salah denganku? Atau mungkin dia hanya merasa heran melihat siswa baru yang tampak begitu hambar di tengah suasana yang penuh semangat ini?
Tanpa sadar, aku mengeratkan pelukanku pada buku-buku di dadaku. Aku pun segera memalingkan wajahku kembali ke kertas formulir di hadapanku, berusaha mengabaikan tatapan itu yang masih terasa hangat di punggungku. Namun, entah mengapa, sosok kakak kelas itu dan tatapan tajamnya itu seolah tertanam di benakku, mengganggu ketenangan mati rasa yang selama ini ku jaga. Namun, didalam hatiku rasa trauma itu masih terasa.
Pendaftaran pun berjalan lancar. Aku pun diterima.
Meskipun aku tahu, itu semua hanya karena mengandalkan nila ku yang pas-pasan. Tidak ada prestasi gemilang, tidak ada nilai yang melesat tinggi—hanya cukup, sekadarnya untuk melewati batas kelulusan. Tapi bagiku, itu sudah cukup. Itu adalah langkah pertama, dan aku akan membuktikan bahwa "cukup" hari ini bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih besar nanti, sesuai dengan tekad yang ku genggam erat.
Hari berikutnya, sekolah mengadakan Masa Orientasi Siswa, atau yang biasa disebut MOS.
Suasana sekolah yang kemarin terasa agak sepi kini berubah drastis. Ribuan siswa baru berkumpul di halaman luas yang sama yang kulihat saat pertama kali datang. Suara tawa, obrolan, dan instruksi dari kakak-kakak panitia berbaur menjadi satu, menciptakan hiruk-pikuk yang penuh energi. Seragam baru yang rapi, tas-tas baru, dan wajah-wajah yang penuh antusias memenuhi pandangan mataku.
Aku berdiri di antara barisan siswa lainnya, mengenakan seragam putih abu-abu yang masih terasa kaku di kulitku. Wajahku masih tetap datar, tak banyak berbeda dari hari kemarin. Meskipun di sekelilingku ada begitu banyak orang yang tampak begitu bahagia dan bersemangat memulai babak baru ini, hatiku masih terasa dingin. Namun, tekad yang ada di dalam dadaku kini terasa lebih kuat, menjadi penyeimbang bagi rasa hambar yang masih menyelimuti.
Aku menatap panggung utama di mana kakak-kakak OSIS mulai berbaris untuk memberikan sambutan. Mataku secara tidak sadar mencari-cari satu sosok di antara mereka—sosok kakak kelas yang kemarin menatapku dengan tatapan begitu intens. Apakah dia juga menjadi panitia MOS ini?