Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: MURID KEDUA
Matahari pagi menyinari paviliun kecil Namgung Jin dengan cahaya hangat, seolah ingin mengusir dinginnya malam yang penuh teror. Tapi hangatnya sinar tidak mampu menembus kegelapan yang masih menyelimuti hati para penghuninya.
Namgung Jin duduk bersila di lantai kayu, memejamkan mata, mengatur napas. Lukanya di lengan dan pinggang sudah dibalut, tapi rasa sakit masih terasa. Bukan sakit fisik yang mengganggu, tapi sakit karena menyadari betapa lemahnya ia saat ini.
"Majin..."
Nama itu terukir dalam pikirannya. Iblis Purba, makhluk yang usianya puluhan ribu tahun, jauh melampaui dirinya. Cheon Ma-ryong mungkin dikenal sebagai Iblis Murim, tapi di hadapan Majin, ia hanyalah bayi yang baru belajar berjalan.
"Aku butuh kekuatan. Lebih banyak kekuatan."
Tiga puluh enam meridian. Itu target minimal untuk bisa melawan makhluk seperti Majin. Saat ini ia baru membuka dua belas. Masih jauh.
Pintu diketuk pelan.
"Masuk."
Putri Sohwa melangkah masuk dengan wajah pucat tapi mata bersinar. Ia telah membersihkan diri, mengganti pakaian, dan rambutnya disanggul rapi. Tapi di balik penampilan yang tenang, Namgung Jin bisa melihat kegelisahan.
"Jin-ah, aku ingin bicara serius."
"Duduk."
Ia duduk di hadapan Namgung Jin, mengambil posisi yang sama—bersila, tangan di lutut. Posturnya kaku, tidak terbiasa.
"Kau tahu, semalam aku hampir mati."
"Aku tahu."
"Jika kau tidak datang, aku sudah menjadi korban ritual itu." Ia menunduk. "Aku berhutang nyawa padamu."
"Kau tidak berhutang apa pun."
"Tapi aku merasa berhutang." Ia mengangkat wajah, menatap Namgung Jin dengan tekad. "Dan aku ingin membayarnya."
"Dengan apa?"
"Dengan menjadi muridmu."
Keheningan.
Namgung Jin menatapnya lama. Gadis ini—putri selir yang dianggap tak penting—tiba-tiba meminta menjadi muridnya. Apa yang ada di pikirannya?
"Kau tahu apa artinya menjadi muridku?"
"Aku akan belajar darimu. Ilmu pedang, mungkin? Atau ilmu hitam seperti yang kau gunakan semalam?"
"Bukan hanya itu." Suara Namgung Jin dingin. "Menjadi muridku berarti kau akan terikat padaku. Apa pun yang terjadi, kau tidak bisa mengkhianati. Dan jika kau mengkhianat..." Matanya berkilat. "...aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri."
Putri Sohwa menggigil, tapi tidak mundur.
"Aku mengerti."
"Kau juga harus tahu, sebagai muridku, kau akan menjadi musuh banyak orang. Delapan Sekte, Janda Permaisuri, bahkan mungkin keluargamu sendiri."
"Aku tidak punya keluarga. Hanya ayah yang tidak peduli dan ibu tiri yang ingin membunuhku."
"Jadi kau sudah siap?"
"Aku sudah siap."
Namgung Jin diam sejenak. Lalu ia menghela napas.
"Baik. Aku terima kau sebagai murid kedua."
Putri Sohwa terkejut. "Murid kedua? Siapa murid pertama?"
"Nyonya Hwa Ryun."
*"Dia? Tapi dia—"
"Dia sudah lebih dulu minta jadi muridku. Meskipun secara teknis, ia lebih seperti mitra."
Putri Sohwa mengangguk, menerima.
"Sekarang, lakukan sumpah."
"Sumpah apa?"
"Ulangi setelahku."
Namgung Jin mulai mengucapkan kata-kata dalam bahasa kuno—bahasa yang tidak dimengerti Putri Sohwa. Tapi ia mengulanginya dengan patuh, meskipun lidahnya kaku.
Saat sumpah selesai, Namgung Jin menusuk jarinya dengan pisau kecil. Setetes darah menetes ke dahi Putri Sohwa.
"Dengan darah ini, kau terikat padaku. Mulai sekarang, kau adalah muridku."
Putri Sohwa merasakan kehangatan aneh di dahinya. Lalu menghilang.
"Apa... apa yang terjadi?"
"Ikatan darah. Jika kau mengkhianatiku, kau akan merasakan sakit yang luar biasa. Jika kau mati, aku akan tahu. Jika aku mati, kau akan kehilangan separuh kekuatanmu."
"Kedengarannya mengerikan."
"Itulah gunanya."
---
Satu jam kemudian, Nyonya Hwa Ryun datang dengan nampan berisi makanan. Ia melihat Putri Sohwa duduk di sudut, sedang membaca buku tebal.
"Oh? Ada murid baru?"
"Murid kedua."
Nyonya Hwa Ryun tersenyum. "Selamat datang di klub, Putri."
"Terima kasih." Putri Sohwa masih kikuk.
"Jangan khawatir. Aku juga dulunya kikuk. Tapi kau akan terbiasa." Ia meletakkan nampan. "Makan dulu. Setelah itu, latihan dimulai."
"Latihan apa?"
"Dasar-dasar. Seperti yang Guru ajarkan padaku."
Namgung Jin mengoreksi, "Aku bukan guru."
"Tapi kau mengajar kami. Jadi kau guru."
"Terserah."
---
Latihan pertama ternyata bukan pedang, tapi pernapasan.
Putri Sohwa duduk bersila di taman belakang, mencoba mengikuti instruksi Namgung Jin. Tarik napas... tahan... hembuskan... rasakan aliran energi.
Tapi ia tidak merasakan apa-apa.
"Aku tidak bisa."
"Sabarlah. Ini butuh waktu."
"Tapi Hwa Ryun-unnie bisa melakukannya dengan mudah."
Nyonya Hwa Ryun, yang sedang berlatih di sampingnya, tersenyum. "Aku sudah bertahun-tahun berkultivasi. Kau baru beberapa menit."
"Oh."
Namgung Jin menambahkan, "Kau juga kehilangan banyak darah semalam. Tubuhmu lemah. Istirahat dulu, lanjutkan besok."
Putri Sohwa menghela napas kecewa. Tapi ia tidak membantah.
---
Sore harinya, Miho datang dengan kabar.
"Tuan, Janda Permaisuri... menghilang."
"Apa?"
"Setelah kejadian semalam, ia tidak kembali ke kediamannya. Jenderal Baek Woong juga tidak ada. Para pengawal mencari, tapi tidak menemukan jejak."
Namgung Jin mengerutkan kening. Janda Permaisuri melarikan diri? Atau diculik Majin?
"Dan Majin?"
"Tidak ada tanda-tanda. Mungkin bersembunyi untuk memulihkan diri."
"Atau menyiapkan serangan berikutnya."
Miho menunduk. * "Aku... aku minta maaf, Tuan. Aku tidak bisa mencegah ritual itu."*
"Kau sudah melakukan lebih dari cukup."
Miho mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca. "Tuan... aku ingin ikut dengan Tuan."
"Ikut?"
"Aku tidak punya tempat lagi di istana. Jika Janda Permaisuri kembali, ia akan membunuhku. Aku... aku ingin menjadi murid Tuan juga."
Namgung Jin menghela napas. Dalam satu hari, dua orang minta jadi murid.
"Kau tahu risikonya?"
"Aku tahu."
"Kau rela terikat darah?"
"Rela."
"Baik. Tapi kau harus lulus ujian dulu."
"Ujian apa?"
"Kau harus bisa membunuh."
Miho terkesiap. "Membunuh?"
"Ya. Seorang mata-mata harus siap membunuh jika diperlukan. Jika kau tidak bisa, kau hanya akan jadi beban."
Miho menggigit bibir. Ia bergumul sejenak.
"Aku... aku akan belajar."
---
Malam harinya, Namgung Jin duduk di atap paviliun, merenung.
Tiga murid—Nyonya Hwa Ryun, Putri Sohwa, dan Miho. Tiga wanita dengan latar belakang berbeda, tapi sama-sama mencari perlindungan dan kekuatan.
"Aku jadi guru sekarang." Ironis. Dulu, sebagai Iblis Murim, ia hanya punya satu murid—Cheon Mu-gi—dan murid itu mengkhianatinya.
"Semoga sejarah tidak terulang."
Dari bawah, suara langkah kaki. Putri Sohwa naik ke atap dengan susah payah. Ia hampir jatuh dua kali, tapi akhirnya berhasil duduk di samping Namgung Jin.
"Kau tidak bisa tidur juga?"
"Tidak bisa." Ia menatap bulan. "Pikiranku penuh."
"Tentang apa?"
"Tentang masa lalu. Tentang ibuku. Tentang mengapa hidup ini begitu kejam."
Namgung Jin diam.
"Ibuku adalah selir rendahan, seperti aku. Ia mati saat melahirkanku. Aku dibesarkan oleh para dayang yang tidak peduli. Ayahku—Kaisar—hanya melihatku setahun sekali, saat upacara tahun baru."
"Kau tumbuh sendirian."
"Ya. Tapi aku belajar satu hal: jangan pernah menunjukkan kelemahan. Karena jika kau lemah, mereka akan memangsumu."
"Kau kuat."
Putri Sohwa tersenyum getir. "Tidak. Aku hanya pandai berpura-pura."
Mereka diam, menikmati keheningan.
"Jin-ah, boleh aku bertanya?"
"Apa?"
"Siapa kau sebenarnya?"
Namgung Jin menoleh. Mata Putri Sohwa tulus, tidak ada niat jahat.
"Kau benar-benar ingin tahu?"
"Ya."
"Bahkan jika kebenaran itu bisa membuatmu lari?"
"Aku tidak akan lari."
Namgung Jin diam lama. Lalu ia berkata,
"Aku adalah Iblis Murim."
Putri Sohwa terkesiap. Tapi tidak lari.
"Cheon Ma-ryong?"
"Kau tahu nama itu?"
"Semua orang tahu Iblis Murim." Ia menatap Namgung Jin dengan takjub. "Tapi... bukankah ia mati ribuan tahun lalu?"
"Ia mati. Tapi jiwanya bereinkarnasi ke dalam tubuh ini."
"Jadi kau... kau bukan Namgung Jin yang sebenarnya?"
"Aku adalah Namgung Jin. Tapi juga Cheon Ma-ryong."
Putri Sohwa diam, memproses informasi itu.
"Itu... luar biasa."
"Kau tidak takut?"
"Aku takut. Tapi juga kagum." Ia tersenyum. "Pantasa kau begitu kuat dan bijaksana. Kau memang sudah hidup ribuan tahun."
"Aku tidak bijaksana. Aku hanya punya banyak pengalaman."
"Itu sama saja."
Mereka tertawa kecil—untuk pertama kalinya.
---
Pagi harinya, latihan dimulai lagi.
Kali ini, Namgung Jin mengajarkan jurus dasar pada Putri Sohwa dan Miho. Nyonya Hwa Ryun membantu, mengoreksi gerakan mereka.
Putri Sohwa ternyata berbakat. Meskipun tubuhnya lemah, ia cepat menangkap instruksi. Gerakannya mungkin belum sempurna, tapi fondasinya kuat.
Miho lebih lambat, tapi ia tekun. Ia tahu ia tidak seberbakat Putri Sohwa, jadi ia berlatih lebih keras.
"Istirahat."
Mereka duduk di bawah pohon, minum air. Keringat membasahi tubuh mereka.
"Guru," panggil Putri Sohwa. "Kapan kita bisa melawan Majin?"
"Belum sekarang. Mungkin tidak dalam waktu dekat."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Bersembunyi. Berlatih. Menunggu."
"Menunggu apa?"
"Menunggu kelemahannya muncul."
Nyonya Hwa Ryun menambahkan, "Atau menunggu sekutu."
"Sekutu?"
"Delapan Sekte pasti akan bereaksi. Mereka tidak akan diam melihat Iblis Purba bangkit."
Putri Sohwa mengerutkan kening. "Tapi mereka juga musuh kita."
"Musuh dari musuh bisa jadi sekutu sementara."
---
Sore harinya, kabar datang.
Seekor merpati pos terbang masuk ke paviliun, membawa surat kecil. Nyonya Hwa Ryun membacanya, wajahnya berubah.
"Dari Magyo."
"Apa isinya?"
"Cheon Wu-gun tahu tentang Majin. Ia menawarkan bantuan."
"Bantuan apa?"
· "Mereka punya informasi tentang kelemahan Majin. Informasi dari kitab kuno yang disimpan di markas mereka."*
Namgung Jin mengangguk. "Kita harus ke Geumseong."
"Tapi perjalanan jauh. Dan Majin bisa menyerang kapan saja."
"Maka kita harus cepat."
---
Malam itu, mereka berkemas.
Putri Sohwa dan Miho bersiap untuk perjalanan panjang. Ini pertama kalinya mereka meninggalkan istana—bagi Putri Sohwa, ini pertama kalinya ia keluar dari tembok istana sejak lahir.
"Aku gugup," bisiknya pada Miho.
"Aku juga. Tapi bersama Tuan, kita aman."
"Kau percaya padanya?"
"Dia menyelamatkanku. Dia menyelamatkan kalian. Ya, aku percaya."
Putri Sohwa tersenyum. "Aku juga."
---
Saat fajar menyingsing, empat penunggang kuda meninggalkan Istana Kekaisaran.
Di depan, Namgung Jin memimpin. Di belakangnya, Nyonya Hwa Ryun, Putri Sohwa, dan Miho mengikuti.
Mereka meninggalkan istana yang hancur, meninggalkan intrik dan konspirasi, menuju petualangan baru.
Di kejauhan, di atas reruntuhan taman istana, dua mata merah menyala mengawasi kepergian mereka.
"Lari lah, bocah. Lari sejauh mungkin." Suara Majin bergema di angin. "Karena saat aku pulih, aku akan datang untukmu."
---