UPDATE SETIAP HARI JAM 12 SIANG.
Nara tidak pernah benar-benar memahami ayahnya.
Baginya, ayahnya hanyalah pria dingin yang hidup seperti bayangan di rumah yang terlalu sunyi. Tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan yang telah retak.
Suatu malam, setelah pertengkaran lama yang akhirnya meledak, Nara menemukan sebuah jam tua misterius di gudang rumah. Ketika ia memutar jarumnya… Dunia berubah. Nara terbangun di tahun 1995, di kota yang sama namun jauh berbeda.
Di sana ia bertemu seorang pria muda yang santai, karismatik, dan penuh mimpi.
Namanya Raka.
Pria itu menolongnya, berjalan bersamanya di kota malam, dan perlahan membuat Nara merasa nyaman di dunia yang bukan miliknya. Sampai suatu hari Nara menemukan fakta dan menyadari bahwa Raka… adalah ayahnya.
Sekarang Nara harus menghadapi kenyataan yang mustahil, Ia jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia cintai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TOKOPAIJO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Aku Membunuh Mimpinya
Tangisan Nara meledak begitu saja.
Bukan isakan kecil yang anggun.
Melainkan tangisan keras, tersedu-sedu, dan benar-benar hancur.
Beban rahasia dari masa depan, demam yang membakar tubuhnya, dan ancaman eksistensinya yang akan terhapus… semuanya bertumpuk menjadi satu dan menghantam dadanya tanpa ampun.
Di depannya, Raka mematung.
Kepanikan yang tadi hanya terlihat di matanya, kini menjalar ke seluruh tubuh pemuda itu.
"Eh… Nar? Kok makin kencang?" Raka gelagapan.
Ia melirik ke arah pintu yang tertutup, lalu menatap Nara yang masih menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya.
Pemuda urakan yang bisanya santai itu, kini terlihat seperti anak SD yang tidak sengaja memecahkan vas bunga ibunya. Raka bingung setengah mati, ia paling tidak bisa menghadapi perempuan menangis.
"Nar, ampun, Nar. Bagian mana yang sakit? Jangan nangis dong, nanti Sinta ngira aku nyekik kamu!" Raka menarik selimut Nara dengan canggung, mencoba mencari luka fisik yang tidak ada.
Nara tidak menjawab, ia terus menangis.
Hatinya terlalu sakit menyadari bahwa ia sendirilah yang harus menghancurkan pemuda ini.
Melihat Nara tidak kunjung berhenti, otak Raka yang biasanya penuh ide-ide konyol langsung bekerja dengan cara yang paling absurd.
Ia menyambar mangkuk bubur ayam Mang Udin di atas meja.
Dengan gerakan cepat, ia meraup sesendok penuh bubur hangat itu.
"Nara, lihat aku," perintah Raka, suaranya dibuat berat dan sangat serius.
Nara menghentikan isakannya sejenak.
Ia membuka jari-jarinya sedikit, mengintip dari balik telapak tangannya dengan mata sembab dan hidung merah.
Di depannya, Raka sedang mengangkat sendok bubur tinggi-tinggi di udara.
"Nguuuuunggggg…"
Raka menirukan suara mesin pesawat terbang, ia memutar-mutar sendok itu di udara dengan ekspresi wajah kelewat serius, seolah ia benar-benar sedang memandu pendaratan darurat.
"Pesawat Mang Udin Air Airlines bersiap mendarat. Buka hanggarnya, Nar. Aaaaa…"
Nara terpaku.
Air matanya seketika berhenti mengalir, digantikan oleh rasa takjub yang luar biasa atas tingkat kebodohan pemuda di depannya ini.
"Kamu… ngapain?" suara Nara serak dan sengau.
"Nyari landasan pacu," jawab Raka santai, masih menahan sendoknya di udara. "Ayo buka mulutnya, ini pesawat bawa kargo ayam suwir sama cakwe. Kalau nggak mendarat sekarang, nanti bensinnya habis."
"Aku bukan anak kecil, Raka!" sembur Nara refleks, rasa sedihnya tersingkir paksa oleh rasa sebal.
"Ya abisnya kamu nangis kayak anak TK kehilangan balon," balas Raka cepat, ia tidak menyerah, sendok itu perlahan turun mendekati bibir Nara. "Udah, buka mulutmu, orang sakit jangan banyak protes. Aaaaa…"
Nara membuang muka, menolak sendok itu. "Nggak mau, aku nggak lapar."
"Pesawatnya mau nabrak gunung nih, Nar. Tolong kerjasamanya," ancam Raka dengan wajah memelas yang sengaja dibuat-buat.
Nara akhirnya menoleh, menatap wajah Raka yang berjarak hanya sejengkal darinya. Mata cokelat pemuda itu memancarkan tekad yang konyol tapi sangat gigih. Raka tidak akan pergi sebelum Nara memakan bubur ini, itu adalah caranya menunjukkan kepedulian tanpa harus terlihat cengeng.
Nara menghela napas panjang, mengalah.
Ia membuka mulutnya.
Raka tersenyum lebar. "Nah, pendaratan sukses."
Satu suapan masuk.
Rasanya gurih, hangat, dan sangat nyaman di perut Nara yang kosong.
Raka terus menyuapinya dalam diam, seringai usil kembali menghiasi bibirnya, kepanikannya hilang begitu melihat Nara tidak lagi menangis.
Nara mengunyah buburnya pelan-pelan.
Ia menatap pemuda ini lekat-lekat.
Raka selalu punya cara untuk mengubah situasi paling gelap menjadi sesuatu yang ringan, raka adalah udara segar, raka adalah kebebasan.
Dan Nara harus memasukkan burung bebas ini ke dalam sangkar.
Peringatan Aruna kembali terngiang di kepalanya.
“Sinta butuh kepastian finansial, bukan melodi cinta.”
Nara menelan buburnya, rasanya tiba-tiba berubah menjadi sepahit empedu.
* * *
Keesokan paginya.
Demam Nara sudah turun drastis berkat parasetamol dan tidur panjang.
Kamar kos terasa lebih sejuk, cahaya matahari pagi menerobos masuk menerangi debu-debu halus yang menari di udara.
Sinta sedang duduk bersila di atas karpet.
Buku kuliahnya untuk sementara disingkirkan, digantikan oleh lembaran koran Pikiran Rakyat edisi hari itu. Sinta sedang membaca berita ekonomi dengan serius, sesekali menyesap teh manis hangatnya.
Nara duduk bersandar di kepala ranjang, matanya menatap koran yang terbuka lebar di pangkuan Sinta.
Targetnya sudah ada di sana.
"Sinta," panggil Nara pelan. "Boleh aku pinjam halaman belakang korannya?"
Sinta menoleh, lalu menarik bagian halaman iklan dan lowongan pekerjaan, menyodorkannya pada Nara.
"Ini, tumben kamu baca koran. Biasanya lihat tulisanku di buku aja kamu udah mual."
Nara memaksakan senyum tipis, ia mengambil lembaran kertas berbau tinta murah itu.
Matanya menyapu kolom-kolom kecil yang dipenuhi tulisan rapat.
Dicari: Sales keliling. Bukan ini.
Dicari: Montir bengkel. Bukan juga.
Lalu, jarinya berhenti pada sebuah kotak kecil di sudut halaman.
DIBUTUHKAN SEGERA: Staf Administrasi. Lulusan SMA/Sederajat. Bersedia bekerja penuh waktu. Berpenampilan menarik, disiplin, dan mampu bekerja di bawah tekanan.
Nara menatap tulisan itu.
Ini dia.
Nara mengambil pulpen merah dari atas meja belajar Sinta, lalu melingkari kolom lowongan kerja itu dengan garis yang tebal.
Tok. Tok. Tok.
Pintu diketuk santai.
Tanpa menunggu jawaban, kenop pintu diputar.
Ceklek.
"Pagi, penghuni kosan galak!"
Raka masuk dengan langkah ringan, ia melempar sebungkus kuaci ke atas meja belajar Sinta.
"Nih, cemilan buat nemenin ngerjain tugas. Aku abis ngamen di perempatan depan, lumayan dapet receh banyak."
Sinta langsung melotot. "Raka! Cuci kaki dulu kalau masuk kamar orang! Itu sepatumu kotor kena tanah!"
Raka cengengesan, melangkah mundur satu langkah hingga kakinya tepat berada di luar batas pintu. "Iya, iya. Sensitif amat. Aku berdiri di depan pintu aja deh."
Pemuda itu lalu bersandar di kusen pintu, menatap Nara yang duduk di kasur. "Gimana pasien kita? Udah mendingan? Udah nggak perlu pesawat Mang Udin lagi?"
Nara tidak membalas candaan itu.
Ia menatap Raka dengan sorot mata yang dingin dan penuh perhitungan. Topeng lamanya harus ia pakai kembali, tapi kali ini untuk tujuan yang jauh lebih gelap.
"Raka," suara Nara terdengar sangat tenang. "Kamu beneran mau jadi gembel jalanan seumur hidup?"
Pertanyaan yang sangat tajam dan tiba-tiba itu membuat suasana kamar kos langsung membeku.
Sinta menghentikan aktivitas bacanya, menatap Nara dengan tatapan kaget.
Senyum usil di wajah Raka tertahan.
Ia mengerutkan keningnya, tidak menyangka akan mendapat serangan seperti itu di pagi hari yang cerah ini.
"Maksudmu apa, Nar?" tanya Raka pelan, nada bicaranya mulai defensif.
"Kemarin bapakmu marah di alun-alun, kamu pikir itu lucu?" Nara memutar bola matanya, sengaja menggunakan nada meremehkan. "Kamu pikir hidup cuma dari recehan ngamen itu cukup?"
Raka menegakkan tubuhnya, harga dirinya mulai tersentil.
Ia memang tidak suka mengejar perempuan atau memohon validasi, tapi ia paling benci diremehkan soal cara ia bertahan hidup.
"Aku nggak minta makan sama siapa-siapa, Nar. Aku bisa hidup dari gitarku sendiri," jawab Raka tegas, sifat keras kepalanya muncul.
Sinta, yang selalu menganalisis segala hal dari sudut pandang rasional, tiba-tiba ikut angkat bicara.
"Bisa hidup bukan berarti punya masa depan, Raka," potong Sinta tajam, ia menatap Raka dari atas ke bawah. "Kamu hari ini bisa makan dari ngamen, besok kalau hujan deras seharian dan kamu nggak bisa turun ke jalan, kamu makan apa? Masih mau membanggakan gitarmu itu?"
Mendengar Sinta ikut menyudutkannya, rahang Raka mengeras.
Ia tidak pernah berniat mencari muka di depan Sinta. Tapi sebagai seorang pria, dikuliti habis-habisan oleh dua perempuan di depan matanya sendiri, rasanya sangat memalukan.
Terutama karena apa yang mereka katakan adalah ketakutan terbesarnya.
"Kalian pagi-pagi udah kesurupan Mario Teguh ya?" Raka tertawa hambar, mencoba menutupi rasa terhinanya dengan humor. "Udah deh, hidupku ya hidupku. Nggak usah pada repot."
"Kita repot karena kamu nggak tahu cara hidup yang benar," sahut Nara tanpa ampun.
Ini saatnya.
Nara melipat halaman koran yang tadi ia tandai.
Ia bangkit dari kasur, berjalan perlahan mendekati Raka yang berdiri di ambang pintu.
Nara menyodorkan lipatan koran itu tepat ke dada Raka.
"Apa ini?" Raka menunduk menatap koran itu, tapi tidak mengambilnya.
"Lowongan kerja," jawab Nara dingin. "Staf administrasi, cuma butuh ijazah SMA. Gajinya tetap, kerjanya di dalam ruangan."
Raka mendengus keras, ia tidak menyentuh koran itu sama sekali.
"Kerja kantoran? Duduk diam di depan meja dari pagi sampai sore? Maaf aja, Nar. Itu bukan aku, aku bisa mati kebosanan."
"Kamu takut bosan, atau kamu takut nggak bisa?" tantang Nara tajam.
Raka menatap mata Nara lekat-lekat, kilat amarah mulai terlihat di mata cokelatnya. "Apa katamu?"
"Kamu dengar," desis Nara, semakin memojokkannya. "Kamu selalu berlindung di balik alasan kebebasan dan jiwa seni. Tapi sebenarnya, kamu cuma pengecut yang takut gagal di dunia nyata. Kamu takut bersaing sama orang-orang berkemeja rapi seperti Danang."
Sinta terkesiap mendengar nama Danang dibawa-bawa. "Nara, cukup. Jangan bawa-bawa Danang."
Tapi Sinta tidak berhenti di situ, tabiat aslinya yang selalu logis mengambil alih.
Sinta menatap Raka dengan raut wajah meremehkan, bukan karena benci, tapi karena itu adalah fakta di matanya.
"Lagipula Nara, nggak usah dipaksa. Orang kayak Raka nggak akan bertahan satu hari pun di kantor, dia nggak tahu apa itu disiplin. Suruh bangun pagi aja susah, apalagi suruh kerja di bawah tekanan."
Kata-kata Sinta adalah pukulan telak terakhir.
Raka benci dipaksa, ia benci diatur.
Tapi ada satu hal yang paling memancing egonya, 'diremehkan bahwa ia tidak mampu.'
Terutama oleh Sinta, perempuan yang diam-diam selalu ia jadikan standar kewarasan, meskipun mereka lebih sering berdebat daripada benar-benar akrab. Jika Sinta berpikir ia tidak bisa disiplin, maka Raka akan membuktikan sebaliknya. Bukan untuk Sinta, tapi untuk dirinya sendiri, untuk membungkam semua mulut yang menganggapnya gembel tak berguna.
Raka menatap Sinta, lalu menatap Nara bergantian.
Cengirannya hilang tak bersisa.
Wajahnya mengeras, dingin, dan kaku.
"Oh, jadi kalian pikir aku pengecut?" suara Raka sangat rendah.
Dengan satu gerakan kasar, Raka merebut lembaran koran itu dari tangan Nara.
Ia melihat lingkaran merah yang Nara buat.
Matanya menatap kertas murah itu selama beberapa detik.
Bukan menatap sebuah pekerjaan.
Ia sedang menatap batu nisan untuk mimpinya sendiri.
Raka melipat kasar koran itu dan memasukkannya ke dalam saku jaket denimnya.
"Liat aja nanti," kata Raka tajam.
Ia tidak menunggu balasan, ia berbalik dan melangkah pergi menyusuri lorong kos-kosan dengan langkah cepat dan marah.
Tidak ada siulan santai.
Tidak ada cengiran usil.
Sinta menatap kepergian Raka dengan mulut sedikit terbuka, ia lalu menoleh pada Nara.
"Kamu yakin dia bakal ngelamar kerjaan itu? Dia itu batu, Nar."
Nara tidak menjawab Sinta.
Ia berdiri mematung di ambang pintu, menatap lorong kos yang kini kosong.
Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.
Dadanya terasa kosong, seolah seluruh udara baru saja disedot keluar dari ruangan itu.
Raka mengambilnya.
Ayahnya mengambil umpan itu demi ego dan harga dirinya.
Nara baru saja memanipulasi ego ayahnya, ia baru saja membukakan pintu menuju kehidupan yang selama ini Raka benci. Raka akan mulai memakai kemeja, memotong rambutnya, dan duduk di belakang meja yang akan membunuh kebebasannya perlahan-lahan.
Semua ini demi masa depan, demi memastikan Sinta melihat Raka sebagai pria yang mapan, dan demi memastikan Nara bisa lahir ke dunia.
Sebuah keberhasilan yang mutlak.
Nara mundur selangkah ke dalam kamar dan menutup pintu pelan-pelan.
Ia bersandar pada daun pintu kayu itu.
Di balik topeng sedingin es yang baru saja ia pakai, sebulir air mata akhirnya lolos membasahi pipinya.
Ia merasa seperti seorang pembunuh.
Pembunuh yang baru saja meracuni senyum terindah yang pernah ia temui di tahun 1995.