"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."
Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.
Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Dari Sebuah Topeng (Season Final 1)
Lokasi: Reruntuhan Pabrik Tekstil – Menjelang Subuh
Asap sisa ledakan masih mengepul tipis saat Reyhan, Kiara, dan Rendy tertatih keluar dari pintu belakang pabrik. Reyhan berjalan sambil bersandar di bahu Rendy, sesekali meringis pelan—yang sejujurnya sedikit dibuat-buat agar terlihat seperti pahlawan yang menderita.
"Duh... Ren, pelan-pelan... tulang gue rasanya ada yang geser," rintih Reyhan parau. "Ini pasti efek tamparan Kiara tadi, energinya lebih destruktif daripada peluru Arthur."
Rendy memutar bola matanya jengah. "Halah! Tadi pas menarik tuas darurat saja gayanya sudah seperti jagoan film aksi. Sekarang pas sudah aman, manjanya minta ampun. Asli, gue geli banget lihat drama lo ini, Rey!"
Kiara berjalan di depan sambil mendekap tas berisi bukti-bukti penting. "Bisa diam tidak? Arthur sudah diikat di dalam bagasi mobil lamanya. Sekarang tugas kita cuma satu: serahkan dia ke markas pusat, bukan ke puskesmas buat mengobati drama pingsan lo!"
"Ra... kamu tidak mau tanya kabar pipiku? Ini masih merah, loh," timpal Reyhan, mencoba memasang wajah melas. "Kamu tahu tidak, tamparanmu itu meninggalkan bekas di hati... eh, maksudnya di pipi."
"Lebay!" seru Rendy dan Kiara bersamaan.
Momen Kebenaran
Saat mereka sampai di jalan raya, beberapa mobil polisi—kali ini tim asli kiriman dari atasan Reyhan yang masih jujur—sudah menunggu dengan lampu sirine yang berputar biru. Arthur dikeluarkan dari bagasi dengan wajah pucat dan tatapan kosong. Kejayaannya runtuh dalam semalam. Rekaman suara Sari dan bukti fisik yang ditemukan Kiara sudah lebih dari cukup untuk menyeret sang konglomerat itu ke balik jeruji besi.
Reyhan mendadak berdiri tegak dan merapikan kerah jaketnya saat melihat beberapa wartawan mulai mendekat dari kejauhan.
"Ren, rapiin kerah gue. Gue harus kelihatan berwibawa buat dokumentasi berita besok," bisik Reyhan sambil membusungkan dada.
"Oalah... dasar detektif pencitraan! Barusan lemas, sekarang sok keren lagi," ejek Rendy sambil tetap membantu membenahi penampilan sahabatnya itu.
Kiara menatap Reyhan sejenak, lalu tersenyum tipis—sangat tipis hingga hampir tak terlihat. "Terima kasih, Rey... buat hari ini. Tapi kalau besok-besok kamu masih hobi pingsan dan drama, aku benar-benar akan cari partner baru."
"Eh! Jangan dong!" seru Reyhan panik. "Gue janji bakal lebih berani ke depannya... minimal nggak pingsan kalau cuma lihat kecoak!"
Lokasi: Garis Pantai Dekat Dermaga – Subuh
Mobil polisi yang membawa Arthur sudah menjauh, sirinenya perlahan hilang ditelan suara ombak. Reyhan berdiri bersandar di kap mobil tua Rendy, menatap cakrawala yang mulai memerah.
"Selesai juga akhirnya," gumam Reyhan pelan. "Gue nggak nyangka harus lewat jalur tamparan buat menang."
"Gagah dari mananya?" ledek Rendy sambil merapikan kabel kameranya. "Kalau tadi Kiara tidak menamparmu, mungkin sekarang kita sedang tahlilan di sini. Bersyukur sedikit, Pak Polisi!"
Kiara berdiri agak jauh, memandangi laut yang tenang. "Kasus Sari selesai... arwah-arwah di pabrik itu akhirnya bisa tenang. Tapi..." ia terdiam, raut wajahnya mendadak serius. "Benang merah ini belum benar-benar putus, Rey. Arthur cuma pion kecil. Ada simfoni besar yang baru saja dimulai."
Reyhan mendekati Kiara, mencoba memasang senyum terbaiknya meski pipinya masih sedikit bengkak.
"Tenang, Ra. Selama ada gue di samping kalian, nggak ada yang perlu ditakutin. Kita bakal hadapi semuanya bareng-bareng. Gimana? Kamu masih mau kan jadi partner detektif paling tangguh ini?"
Kiara menoleh, menatap mata Reyhan cukup lama, lalu tersenyum tipis. "Asal kamu janji... pingsannya dijadwal. Jangan pas lagi dikejar hantu pingsan, pas lagi mau bayar tagihan juga pingsan."
"CIEEEEE!" teriak Rendy kegirangan sambil mengarahkan kameranya ke arah mereka. "Ini momen langka! Kiara senyum ke Reyhan!"
"Aduh... jantung gue..." Reyhan memegang dadanya, berpura-pura limbung. "Kok detaknya lebih kencang daripada pas dikejar anak buah Arthur ya? Ren, tolong... gue mau pingsan tapi yang ini pingsan bahagia!"
"ELAAAH! Mulai lagi dramanya! Ayo pulang, gue lapar!" seru Rendy sambil tertawa.
The Final Scene
Kamera menjauh, memperlihatkan siluet mereka bertiga yang berdiri di pinggir pantai di bawah langit subuh yang indah. Rendy yang masih sibuk dengan kameranya, Kiara yang kembali bersedekap, dan Reyhan yang sesekali mencuri pandang ke arah Kiara.
Tiba-tiba, di atas pasir tempat mereka tadi berdiri, muncul sebuah simbol berlapis emas yang terbakar perlahan sebelum tertutup ombak. Sebuah simbol berbentuk kunci G-clef musik yang dililit oleh benang merah pekat.
"Permainan kecil kalian sudah berakhir... tapi simfoni emas yang sesungguhnya baru saja memainkan nada pertamanya. Sampai jumpa di 'The Golden Symphony', Detektif."
LAYAR HITAM.
TAMAT SEASON 1