Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.
Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng di Balik Senyuman Manis
Pagi itu, cahaya matahari menyinari Paviliun Sanctuary dengan lembut. Geneviève sudah duduk rapi di depan meja kecilnya, mengenakan gaun sutra berwarna peach yang diberikan Eisérre. Wajahnya tampak tenang, matanya yang besar memancarkan binar polos yang biasa ia tunjukkan. Namun, di dalam kepalanya, ia sedang menyusun potongan teka-teki yang ia temukan semalam.
Kenapa dia menidurkanku paksa? Apa yang sedang dia sembunyikan dariku?
Langkah kaki bot militer yang berat terdengar mendekat. Itu langkah kaki yang sangat ia kenal—langkah kaki Eisérre.
Seketika, Geneviève mengubah raut wajahnya. Ia tersenyum sangat manis, tipe senyuman yang biasanya membuat Eisérre merasa dunianya berhenti berputar.
Pintu terbuka, dan Eisérre masuk membawa nampan berisi sarapan mewah—roti panggang hangat dengan selai jeruk kesukaan Geneviève dan segelas susu cokelat. Ia tidak menyuruh pelayan melakukannya; ia ingin melakukannya sendiri.
"Kau sudah bangun, Ève?" Suara Eisérre terdengar sangat lembut, jauh berbeda dari suaranya saat berbicara dengan ibunya tadi malam. "Bagaimana tidurmu? Kau tampak sangat lelap semalam."
Geneviève bangkit dan menyambutnya dengan pelukan kecil yang singkat—sebuah gestur "manis" yang sengaja ia lakukan untuk meredam kecurigaan sang Jenderal. "Sangat nyenyak, Jenderal. Terima kasih susunya semalam. Aku tidak pernah tidur selelap itu."
Eisérre meletakkan nampan dan mengusap rambut Geneviève. Tatapannya begitu dalam, penuh dengan pemujaan yang tulus. "Aku senang mendengarnya. Kau tampak lebih segar hari ini."
Di Meja Sarapan. Sambil menyantap roti panggangnya, Geneviève memperhatikan Eisérre dari balik bulu matanya yang lentik. Ia melihat bagaimana tangan pria itu sedikit gemetar saat merapikan anak rambut di dahi Geneviève. Ia melihat bagaimana Eisérre memastikan suhu susunya tidak terlalu panas sebelum memberikannya.
Ketulusan ini... ini bukan akting, batin Geneviève. Dia benar-benar memujaku. Tapi kenapa pria sepertinya harus berbohong padaku? Kenapa dia harus menahanku di sini jika dia benar-benar menyukaiku?
Geneviève tetap mempertahankan peran "gadis manis"-nya. Ia sesekali tertawa kecil menanggapi cerita Eisérre tentang kuda barunya di markas. Namun, di bawah meja, jemarinya meremas kain gaunnya. Sifat aslinya yang keras dan analitis sedang bertarung hebat dengan rasa haru karena perhatian Eisérre.
"Jenderal," panggil Geneviève tiba-tiba, suaranya tetap lembut namun ada nada selidik yang sangat tipis. "Kenapa kau begitu baik padaku? Aku hanya seorang gadis tanpa ingatan, tanpa keluarga, dan tanpa masa depan yang jelas. Kenapa kau bersedia mempertaruhkan segalanya untuk menjagaku di paviliun ini?"
Eisérre terdiam sejenak. Ia meletakkan cangkir tehnya, lalu menggenggam kedua tangan Geneviève di atas meja. Matanya yang sebiru danau malam menatap langsung ke dalam jiwa Geneviève.
"Karena bagiku, masa lalumu tidak penting, Ève," jawab Eisérre dengan nada yang sangat meyakinkan. "Yang penting adalah masa depanmu ada bersamaku. Aku tidak peduli siapa kau sebelumnya, yang aku tahu adalah aku tidak bisa bernapas jika kau tidak ada di jangkauan mataku."
Geneviève tersenyum, menyandarkan kepalanya di telapak tangan Eisérre. "Kau sangat romantis, Jenderal."
Dalam hati, Geneviève berbisik: Jawabanmu terlalu sempurna, Eisérre. Terlalu tertata. Kau seakan sedang menutup-nutupi sesuatu yang sangat besar, dan aku akan mencari tahu apa itu, seberapa pun tulusnya tatapan matamu padaku.
Pertarungan batin antara kecurigaan dan rasa terima kasih mulai bermain di kepala Geneviève. Di satu sisi, insting tajamnya sebagai calon dokter forensik memberitahunya ada yang tidak beres, tapi di sisi lain, ketulusan Eisérre yang begitu nyata membuatnya goyah.