NovelToon NovelToon
SALAH SERVER! MAFIA BERDARAH Di Kamar Mandi Nyonya CEO.

SALAH SERVER! MAFIA BERDARAH Di Kamar Mandi Nyonya CEO.

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Pengganti / CEO / Mafia / Mengubah Takdir
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Aku cuma mau jadi beban keluarga CEO, kenapa malah dikasih beban nyawa Mafia?!"
Velin mengira transmigrasi ke tubuh istri pengganti dalam drama CEO klise adalah tiket liburannya dari dunia korporat. Tugasnya mudah: diabaikan suami, dihina pelakor, lalu mati konyol.
Tapi Velin menolak alur! Saat ia sedang asyik berendam mawar untuk merayakan kebebasannya, plafon kamar mandinya jebol.
Bukannya suami yang datang minta maaf, justru seorang pria asing bersimbah darah jatuh tepat di hadapannya. Kieran Marva D’Arcy—Ketua Mafia kejam yang seharusnya tidak ada dalam naskah ini.
Satu pria ingin membuangnya, satu pria lagi mengancam akan menembaknya.
Saat alur drama sudah "Salah Server", apakah Velin akan tetap mengikuti naskah, atau justru menulis takdir baru bersama sang Mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Tamu Tak Diundang di Meja Makan Darurat

"Tuan Kieran! Ini kompornya kok nggak mau nyala sih? Apa dia tahu aku mantan budak korporat yang biasanya cuma pesan makanan online?" teriak Velin dari dapur kecil.

Kieran masuk dengan kaos hitam yang sedikit basah terkena cipratan air. "Sini, biar aku lihat. Mungkin dia butuh sedikit gertakan." Kieran memutar pemantiknya dengan sekali klik, dan wuss! Api biru menyala.

"Wah! Tangan Mafia emang beda ya, kompor aja takut!" puji Velin sambil mulai memecahkan telur ke penggorengan. "Menu kita hari ini adalah telur dadar ala Nyonya D'Arcy. Sederhana, tapi penuh cinta dan keringat karena nyapunya tadi."

Kieran menyandarkan tubuhnya di pintu dapur, menatap punggung Velin dengan senyum tipis. "Aku tidak pernah menyangka akan merasa sedamai ini hanya karena bau telur goreng."

Namun, ketenangan mereka pecah saat terdengar suara ketukan pintu yang sangat lemah dan ragu-ragu.

Tok... tok... tok...

Kieran langsung waspada. Refleksnya sebagai Mafia kembali muncul. Ia memberi tanda agar Velin diam, lalu ia melangkah menuju pintu dengan tangan siaga di balik pinggang—meskipun ia tidak membawa senjata karena disita kakek.

Saat pintu dibuka, mata Kieran menyipit tajam. "Kau lagi?"

Di depan pintu berdiri Adriano. Namun, penampilannya jauh dari kesan CEO sombong. Kemeja mahalnya kusut, rambutnya berantakan, dan wajahnya tampak kuyu. Sejak Jaxon membekukan seluruh asetnya atas perintah Kieran, Adriano benar-benar tidak bisa menyentuh uang sepeser pun.

"Kieran... aku... aku lapar," bisik Adriano dengan suara yang sangat rendah, hampir tidak terdengar.

Velin mengintip dari balik bahu Kieran. "Mas Adriano? Kok bisa sampai sini?"

"Velin..." Adriano menatap mantan istrinya dengan tatapan memelas. "Semua kartuku mati. Rekeningku diblokir. Aku ingin beli burger saja tidak bisa. Aku... aku belum makan sejak kemarin sore."

Kieran mendengus kasar. "Jadi kau datang ke sini untuk mengemis makanan pada pria yang hampir kau celakakan istrinya?"

"Aku tahu aku salah! Tapi Jaxon benar-benar melakukannya, Kieran. Dia bahkan menyita mobilku di tengah jalan. Aku harus jalan kaki berkilo-kilo meter untuk mencari bantuan, dan aku tahu kalian diasingkan di sini karena pelayan di istana tadi membocorkannya," keluh Adriano.

Velin merasa sedikit tidak tega, meskipun dia tahu Adriano pantas mendapatkannya. "Tuan Kieran... biarkan dia masuk. Lagian telur dadarnya ada tiga."

Kieran menatap Velin dengan protes. "Kau mau memberi makan pria ini?"

"Hanya sekali ini saja, Tuan. Lagian kasihan, masa CEO Mally Group mati kelaparan di depan pondok kita? Bisa-bisa drama kita berubah jadi genre horor karena hantunya gentayangan di sini!" sahut Velin asal.

Kieran akhirnya menggeser tubuhnya, membiarkan Adriano masuk ke dalam pondok kecil itu. Adriano duduk di kursi kayu yang keras, menatap takjub pada kesederhanaan di depannya.

"Jadi... kalian benar-benar hidup begini?" tanya Adriano saat Velin meletakkan piring berisi telur dadar dan nasi hangat di depannya.

"Ini hukuman, Mas. Tapi rasanya jauh lebih enak daripada makan steak mahal di rumahmu yang dingin dulu," sindir Velin telak.

Adriano mulai makan dengan lahap, seolah telur dadar itu adalah makanan paling lezat di dunia. Di sela kunyahannya, ia menatap Kieran yang duduk di depannya dengan tatapan mengintimidasi.

"Kieran... kau benar-benar menang," gumam Adriano. "Bukan karena kau punya tentara atau uang yang lebih banyak, tapi karena kau punya sesuatu yang tidak pernah aku hargai saat aku memilikinya."

Kieran menatap Adriano dengan dingin. "Jangan mulai bicara filosofis. Selesaikan makanmu dan pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran dan menggunakanmu sebagai sasaran tembak sapu ijuk."

Velin duduk di samping Kieran, menggenggam tangan suaminya di bawah meja. "Mas Adriano, setelah ini pulanglah. Minta maaf pada Jaxon, mungkin dia akan memberimu sedikit uang saku untuk naik taksi. Dan tolong, berhenti mengejar bayangan masa lalu. Aku yang sekarang bukan Aveline yang dulu kau abaikan."

Adriano menelan suapan terakhirnya, matanya berkaca-kaca. "Aku mengerti. Terima kasih, Velin. Dan Kieran... jaga dia. Jika kau menyakitinya, aku mungkin tidak punya uang untuk merebutnya kembali, tapi aku akan tetap membencimu."

Kieran menyeringai tipis. "Kau tidak akan punya kesempatan untuk membenciku, karena dia tidak akan pernah punya alasan untuk menangis lagi."

Setelah Adriano pergi dengan langkah gontai, pondok kembali sunyi. Velin menatap Kieran yang masih tampak kesal.

"Kenapa? Cemburu ya?" goda Velin sambil menoel pipi Kieran.

"Aku tidak cemburu pada pria yang kalah karena telur dadar," sahut Kieran.

"Halah! Tapi tadi genggaman tanganmu kencang banget pas dia lihat aku!" Velin tertawa, lalu ia memeluk leher Kieran. "Tuan Mafia, makasih ya sudah mau berbagi telur dadar. Kamu keren banget hari ini."

Kieran menarik Velin ke pangkuannya, menenggelamkan wajahnya di leher Velin yang harum mawar. "Aku hanya ingin hukuman ini cepat selesai agar aku bisa membawamu ke Maladewa dan membelikanmu seluruh telur di dunia."

1
awesome moment
ti kn...hamidun yg super absurd
awesome moment
velin mmg super absurd
awesome moment
bikin genre kocak bgini lg dunk
Ariska Kamisa: baik, ditunggu aja ya kak,
terimakasih kak, 🙏🙏🙏
total 1 replies
awesome moment
kocak mmg tu aveline
awesome moment
cerita sekocak n koq minim pembaca😭😭😭syedih q tu
awesome moment
omelet penuh cinta
awesome moment
adriano rugi besar
awesome moment
ngabrut
awesome moment
whoah...jodoh velin n
awesome moment
😄😄😄👍😄😄👍
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
ngeluh mulu si velin ampun...
aditya rian
busett
aditya rian
telat Adriano kalah kaya habisnya/Applaud/
aditya rian
sumpah... kadang isi otak velin ini absurd ditambah bibi Amora nya yang sama /Scream/
Ariska Kamisa
siap kak..
terimakasih 🙏🙏🙏
Mifta Nurjanah
lanjut
Rin Jarin
lanjutkan
Lola Maulia
😊😊😊😊
Mifta Nurjanah
cieee ciuman
Mifta Nurjanah
wkwk cincin pindah ke lu ven
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!