NovelToon NovelToon
Dalam Dekap Bayangmu

Dalam Dekap Bayangmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Cahaya matahari pagi menyinari pelataran rumah sakit, tempat gadis mungil dokter zayyan dirawat.

Sudah 15 hari pasca operasi jantung yang dijalani gadis kecil itu, pagi ini kanaya menemaninya berjemur.

Kanaya mendorong kursi rodanya alita, gadis mungil cantik itu masih kelihatan pucat, namun ia tampak sehat.

Sebelah tangan kanaya berada dalam genggaman gadis cilik itu. Kanaya menepati janji yang ia berikan, ia bahagia karena kesehatan gadis manis ini berangsur membaik, begitu juga dengan kesehatan ibunya.

Ibu risma mulai membaik, wajahnya yang tirus, mulai kelihatan bercahaya. Ibunya mulai kuat berjalan di dalam rumah, tidak seperti sebelumnya, di dalam rumah saja ibunya membutuhkan bantuan kursi roda untuk aktifitas kesehariannya.

Seperti hari ini, kanaya berani meninggalkan ibunya sebentar, karena ia sudah berjanji menjenguk putri dokter zayyan tersebut.

Yah walaupun kanaya meminta tolong kepada mbak asih, tetangga sebelah rumah mereka untuk menemani ibunya sebentar.

Kanaya juga tak lupa mewanti-wanti ibunya untuk menghubunginya jika ada apa-apa, atau sesuatu yang tak nyaman.

"Mama.." panggil gadis mungil itu, menarik tangan kanaya yang ada di genggamannya.

"Iya.. sayang" sahut kanaya lembut, menunduk duduk jongkok di hadapan gadis cilik itu.

"lili..pengen pulang, pengen bobo di pelukan mama" tatap mata indahnya yang kelihatan masih sayu.

Kanaya tersenyum, mengusap lembut kepala alita. Ia jatuh cinta kepada gadis cilik itu, tatapan matanya yang selalu berbinar-binar membuat kanaya tak mampu menolak permintaannya yang selalu minta dijenguk.

"lili yang sabar yah nak.., berobat yang sabar, patuhi om dokter, ntar kalau udah sehat baru pulang"

Gadis cilik itu mengangguk lemah, tangannya terulur menyentuh pipi kanaya, senyuman manis terukir di wajahnya yang masih kelihatan pucat.

"lili sayang mama..  banget"

Kanaya memegangi tangan yang menyentuh pipinya itu, mencium telapak tangan alita yang terasa sedikit hangat.

"Mama juga sayang,..pake banget juga"

"lili pengen banget bobo..dipelukan mama dan papa"

Kanaya tercekat mendengar keinginan alita, ia teringat permintaan pria itu 4 hari yang lalu. Dokter zayyan melamarnya, meminta kanaya mempertimbangkan permintaannya itu dengan serius.

Pria itu meminta dengan sangat demi alita, benar jika kanaya menyayangi alita, namun ia tak mau memasuki sebuah pernikahan hanya karena alasan seperti itu.

Terus terang kanaya memang simpati kepada dokter zayyan, namun tak lebih dari itu. Di hati kanaya masih ada nama pria lain, yang masih mengisi mimpi-mimpi malamnya.

Kanaya masih mencangkung didepan gadis mungil tersebut, tersenyum manis dan menatap lembut, mengelus pipi merah jambu alita dengan penuh sayang.

"lili, jangan terlalu mikir yah! yang penting bagi mama, lili itu sembuh"

"naya...!"

Panggilan berat dari belakang kanaya, mengagetkan kanaya dan alita.

Kanaya menoleh ke belakang, menengadah, namun pantulan cahaya matahari pagi dari belakang sosok itu, membuat kanaya silau dan tak mengenalinya.

Namun kanaya mengenali suara itu, perlahan ia berdiri, jantungnya berdetak lebih cepat.

Kala...

Pria itu berdiri dihadapannya, menatap dengan mata elangnya yang kelihatan sangat tajam. Sorot matanya yang tajam menatap kanaya penuh tanya, rahangnya kelihatan mengeras.

Beribu tanya terpampang jelas di wajahnya, kanaya masih terdiam, ia masih berusaha menenangkan detak jantungnya.

Ada binar rindu dimata itu, tapi kanaya belum meyakininya, ia takut itu hanya harapannya saja.

Kanaya menatap lekat, wajah tampan yang sangat ia rindukan itu. Ingin rasanya kanaya mendekat, menyentuh wajah itu, mengenggam tangan itu, dan mengatakan betapa ia sangat merindukan kala.

"Mama.."

Panggilan lembut alita menyadarkan kanaya dari keterpesonaannya. Kala, pria itu menatap kearah alita dan kanaya bergantian, ada tanya yang terlihat jelas dari mata coklat itu.

"Ya sayang.."

sahut kanaya meraih tangan mungil, yang ingin menggapai tangannya. Namun mata indah kanaya sama sekali tak beralih dari kala yang kelihatan penasaran.

"Siapa..oom itu?" tanya alita menunjuk kala dengan jari telunjuknya.

"Hmmmm..." kanaya kembali duduk mencangkung didepan alita, menatap gadis cilik itu seraya tersenyum manis.

"Lili, mama antar ke kamar yah sayang, berjemurnya cukup segini dulu" ujar kanaya memutar kursi roda alita, dan mendorongnya ke dalam rumah sakit. Sebelum melangkah, kanaya menoleh ke arah kala.

"Aku antar alita ke kamarnya dulu.., kalau kamu mau, tunggu aku sebentar" pintanya, sembari mendorong kursi roda gadis mungil tersebut, meninggalkan kala yang masih terdiam.

Kanaya kembali ke tempat kala berdiri tadi, namun ia tak menemukan pria itu di sana

"hhhhhhh"

Kanaya menghela nafasnya berat, hatinya sedikit kesal. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju ke tempat parkir para ojek.

Tiba-tiba tangannya ditarik seseorang, hentakkan kuat dari tarikan itu membuat kanaya limbung.

Tak mampu menjaga keseimbangannya, kanaya hampir terjatuh. Namun tangan itu dengan cepat menarik kanaya yang hampir jatuh, ke dalam pelukan.

Kanaya menengadah, menatap wajah pria itu. wajah itu menatap kanaya datar tanpa ekspresi.

Dengan gerakan lembut kanaya mendorong tubuh kala, ia berusaha berdiri dengan tenang. Ia tak mau kala mendengar detak jantungnya yang seperti konser di dalam sana.

"Kamu mau kemana..?" tanya pria itu cepat,

"Bukankah tadi kamu menyuruhku untuk menunggu?"

"Ah...yah.." tergagap kanaya menjawab, mencoba tersenyum dan kelihatan normal.

"Aku tidak melihatmu tadi, aku pikir, kamu sudah pergi"

Kanaya berdiri salah tingkah, tatapan kala masih menghujam tajam kearahnya. Dengan satu hentakan, tangan kala menariknya.

"Ikut aku.." ajaknya, kanaya melangkah cepat mengikuti langkah pria itu yang panjang.

Kanaya setengah berlari, mengimbangi langkah kala, tangannya masih dalam genggaman pria itu.

"Masuk.." perintah pria itu membuka pintu mobilnya, kanaya masuk kedalam mobil dengan patuh, netranya menatap kala yang menutup pintu mobil, memutari mobilnya dan masuk dari sebelah kemudi.

Mata Kanaya masih memperhatikan gerakan kala, wajah itu masih terlihat datar, tak ada senyum di sana.

Kala menyalakan mesin mobilnya, mulai menyetir dengan tenang.

"Kamu harus menjelaskan semuanya padaku naya!" ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.

Kala terlihat serius dan tenang mengemudikan mobil, kanaya tersentak menelan air ludahnya, mengalihkan pandangannya dari kala,menatap jalanan.

"Apa yang harus aku jelaskan?" tanya kanaya lirih, berbisik nyaris tak terdengar.

"Semuanya.." sahut kala melirik kanaya sekilas dari kaca spion, sesaat mereka saling menatap.

Kanaya merasa ada binar rindu dimata kala, namun kanaya dengan segera mengalihkan pandangannya keluar.

Kala menghentikan mobilnya di depan sebuah cafe di pinggir jalan, cafe itu terlihat sunyi.

Kanaya keluar dari pintu mobil yang dibuka kala, ia melangkah perlahan mengikuti pria itu.

Kanaya melihat kala mengambil posisi di sudut, sedikit agak tersembunyi. Kanaya tahu, kala sengaja mencari tempat yang sunyi untuk meminta penjelasan darinya.

Kanaya duduk dengan debar jantungnya yqng berkejaran, tepat di hadapan pria itu yang sudah selesai memesan.

Matanya menatap tajam ke arah kanaya, tatapan itu membuatnya sedikit jengah dan salah tingkah.

"Kamu harus menjelaskan semuanya padaku naya..!

4 bulan kamu menghilang bagai ditelan bumi, tiba-tiba..apa itu tadi? kamu punya anak? apakah kamu sudah menikah?" cecar kala mengernyitkan matanya, netranya masih menatap tajam.

"Hhhhh..." helaan nafas kanaya terdengar berat, sorot mata kala seakan menghakiminya.

"Kenapa kamu bisa sampai kesini?" tanya kanaya mengalihkan pembicaraan.

"Darimana kamu tahu kalau aku di rumah sakit, tunggu, bagaimana kamu tahu kampungku?"

Kala menatap kanaya lekat, riba-tiba seorang pelayan cafe mengantarkan pesanan kala, 2 gelas kopi americano, dengan sepiring kentang goreng, di tata di atas meja mereka.

"Terima kasih.." ucap mereka berbarengan ketika pelayan cafe itu mengangguk kearah mereka.

"Bagaimana kamu bisa sampai kesini?" tanya kanaya kembali, mengulang petanyaannya tadi.

"Naya,..kamu lupa? kalau kamu dulu karyawati di kantorku, di cv kamukan tertera asalmu"

Kanaya mengangguk-anggukan kepalanya, tanda mengerti.

"Tapi bagaimana kamu bisa tahu aku di rumah sakit itu?"

"Kalau itu.., aku tahu dari ibu" jawab kala lembut.

"Ibu!..ibuku?" tanya kanaya kaget menatap mata kala.

"Kamu kerumahku..?"

Anggukan kepala kala membuat kanaya semakin bingung.

"Aku tadi kerumahmu.., aku hanya bertemu ibumu,

Lantas aku menjelaskan siapa diriku..."

"Tunggu..." sela kanaya cepat memotong ucapan pria itu.

"Kamu..bertemu ibuku, dan kamu menjelaskan tentang kita.?"

Kala menggeleng," tidak begitu detail, aku hanya bilang, aku atasanmu dulu ketika di jakarta"

"Kala..!" sentak kanaya kesal,

" ibuku punya riwayat jantung, Bagaimana kalau terjadi apa-apa padanya, karena kaget dengan penjelasanmu"

Kanaya sontak berdiri, rasa khawatir menyergap hatinya.

"Aku harus pulang..!"

"Tunggu naya..", tahan kala menarik tangan kanaya agar duduk kembali.

"Ibu, baik-baik saja, menurut pengamatanku, ibu sudah menduga siapa aku, dan beliau yang meminta aku untuk menjemputmu ke rumah sakit ini,

Dan jangan khawatir, saat ini dirumahmu, ibu ditemani pak ardi"

Kanaya terduduk, rasa khawatir dan takut sempat menyergap hatinya sesaat tadi. Matanya menatap nanar kearah kala yang tersenyum menenangkan.

Kanaya menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya keluar secara perlahan.

"Bagaimana naya? Sudah bisakah kamu menjelaskan semuanya padaku" tuntut kala setelah melihat kanaya cukup tenang.

Netra mereka saling menatap, mata coklat itu menatap kanaya lembut. Kanaya merindukan tatapan itu, berbulan ia memimpikan senyuman kala. Debar rindu dihatinya semakin menggebu, rindu ini membuat kanaya ingin memeluk pemilik senyum itu rasanya.

Bersambung....

1
Bungatiem
boleh kala boleeeh
Bungatiem
boleh dooong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!