Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.
Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.
Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruminten
Suara aliran kali di bawah bukit seolah menjadi saksi bisu atas persekutuan gelap yang baru saja terjadi di dalam gubuk bambu itu. Aroma melati yang tajam kini bercampur dengan bau peluh dan anyir yang samar. Eko, yang baru saja merasakan "puncak" tertinggi dalam hidupnya bersama sosok yang ia yakini sebagai Ratri, masih terengah-engah. Matanya yang sayu menatap Ratri dengan pemujaan yang gila. Nafsunya belum benar-benar surut; sebaliknya, energi ghaib yang ditinggalkan Suanggi di dalam aliran darahnya membuat jantungnya berdegup kencang secara tidak wajar.
Eko mencoba merangkak mendekat, jemarinya yang kasar kembali ingin meraih bahu Ratri yang putih bersih. Ia ingin menciumi bibir wanita itu lagi, ingin merasakan kelembutan yang baru saja membuatnya melayang.
Namun, Ratri bukanlah wanita yang sudi memberikan tubuhnya secara cuma-cuma lebih dari yang diperlukan untuk rencananya. Dengan gerakan yang sangat halus namun tegas, ia mendorong dada Eko. Sebuah senyuman manja tersungging di bibir merahnya, sebuah topeng yang sempurna untuk menutupi rasa jijik yang menggelegak di ulu hatinya.
"Sudah, Mas Eko... aku lelah sekali malam ini," bisik Ratri dengan nada suara yang bergetar manja. Ia merapikan pakaiannya, mengenakan kembali cardigan cokelatnya dengan anggun. "Besok, datanglah ke rumahku di Sukomaju. Kita lanjutkan lagi di sana, di tempat yang lebih nyaman. Sekalian, kamu ambil uang untuk biaya persalinan istrimu."
Mendengar kata "uang" dan "lanjutan", mata Eko berbinar. Ia merasa seperti memenangkan lotre ganda. Ia segera mengenakan baju dan celananya yang berantakan di lantai gubuk. Kebanggaan sebagai lelaki perkasa menyelimuti hatinya; ia merasa telah menaklukkan primadona yang kini menjadi ratu kekayaan.
"Baik, Cah Ayu. Aku akan datang besok pagi-pagi sekali," ucap Eko sambil menyampirkan tas ranselnya. Ia sempat menawarkan untuk mengantar Ratri pulang, khawatir wanita secantik itu berjalan sendirian di tengah malam yang mulai larut.
Ratri tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti denting lonceng yang dingin. Ia mengelus bagian depan celana Eko dari luar, membuat darah pria itu kembali berdesir hebat. "Tidak usah, Mas. Simbokku sudah menunggu di ujung jalan setapak sana. Kamu pulanglah, istrimu pasti merindukanmu."
Eko sempat menyambar bibir Ratri, memberikan satu ciuman kasar yang penuh nafsu sebelum akhirnya mereka berpisah di pertigaan arah desa. Eko berjalan pulang menuju Desa Karang Jati dengan langkah ringan, membawa sejuta kebahagiaan semu di dalam benaknya. Ia tidak sadar bahwa di dalam tubuhnya, sebuah parasit ghaib sedang berdenyut, menunggu waktu yang tepat untuk berpindah inang.
Begitu sampai di rumah gedongnya, hal pertama yang dilakukan Ratri adalah masuk ke kamar mandi. Ia menyalakan pancuran air dengan tekanan tinggi, mengguyur seluruh tubuhnya dengan air yang hampir mendidih. Ia menggosok kulitnya dengan kasar menggunakan sabun beraroma tajam, seolah-olah ingin menguliti setiap inci bagian tubuh yang tadi sempat dijamah oleh tangan kotor Eko.
"Binatang..." desis Ratri di bawah guyuran air. Matanya menatap tajam ke arah cermin yang beruap. Di sana, pantulan wajahnya tampak memudar, berganti dengan bayangan Suanggi yang sedang menjilati taringnya dengan puas. "Malam ini, satu lagi nyawa akan mulai layu."
Sementara itu, Eko sampai di rumahnya tepat tengah malam. Suasana rumah kecilnya sunyi senyap. Ia masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya, Ruminten, sudah tertidur lelap di atas dipan kayu. Ruminten hanya mengenakan kain jarik yang melilit tubuhnya yang kini sangat besar karena usia kehamilan delapan bulan.
Melihat lekuk tubuh istrinya yang terekspos, nafsu Eko kembali meledak. Bayangan Ratri di gubuk tadi seolah menyatu dengan sosok Ruminten di depannya. Di pojok kamar yang gelap, sosok Suanggi yang sejak tadi membuntuti Eko tampak berdiri diam, matanya yang merah menyala menatap tajam ke arah perut buncit Ruminten.
Saat Eko mendekati tempat tidur, Suanggi bergerak cepat. Makhluk itu mengecil, berubah menjadi gumpalan asap hitam pekat yang langsung masuk ke dalam "batang" kelamin Eko melalui pori-pori kulitnya. Eko tersentak sesaat, merasakan sensasi panas yang membakar di area pribadinya, namun ia menganggapnya sebagai luapan gairah yang tak terbendung.
Ruminten terbangun karena merasakan guncangan di tempat tidur. Matanya yang kuyu karena kelelahan mengandung menatap suaminya dengan haru. "Mas Eko? Kamu sudah pulang? Gusti... aku rindu sekali, Mas," bisik Ruminten sambil merentangkan tangannya, memeluk suaminya dengan mesra.
Namun, Eko tidak membalas pelukan itu dengan kelembutan. Tanpa basa-basi, ia langsung meminta "jatah". Dengan kasar, ia menarik kain jarik istrinya hingga terlepas. Melihat payudara istrinya yang membengkak penuh ASI, gairah Eko semakin beringas. Pikirannya sudah gelap, dipenuhi oleh pengaruh Suanggi yang menuntut persetubuhan segera.
Tanpa pemanasan, tanpa mempedulikan kondisi istrinya yang sedang hamil tua, Eko langsung menyetubuhi Ruminten.
"Aduh... Mas... pelan-pelan, Mas. Perutku sakit," rintih Ruminten, mencoba menahan bahu suaminya. Air matanya mulai menetes. "Ingat si jabang bayi, Mas... pelan-pelan saja..."
Eko tidak mendengarkan. Telinganya seolah tertutup oleh suara dengkingan Suanggi. Ia membolak-balik tubuh istrinya, mengganti posisi berkali-kali dengan gerakan yang sangat kasar, seolah-olah sedang melampiaskan dendam yang tak terlihat. Ruminten hanya bisa menggigit bibir, menahan rasa sakit yang luar biasa di rahimnya, sambil terus berdoa agar anaknya baik-baik saja.
Setiap kali terjadi benturan fisik, Suanggi yang berada di dalam tubuh Eko bekerja. Melalui cairan dan kontak fisik yang intim, makhluk itu mulai menjalar masuk ke dalam rahim Ruminten. Ia tidak menyerang sang ibu, melainkan langsung menuju ke pusat kehidupan di dalam sana: sang janin.
Parasit ghaib itu mulai menempel pada plasenta, menyedot sedikit demi sedikit saripati kehidupan, energi murni, dan "cahaya" dari calon bayi Eko. Janin itu tampak menggeliat di dalam sana, seolah-olah sedang kesakitan karena nyawanya perlahan-lahan dihisap oleh kekuatan hitam.
Setelah pelepasan itu keluar, Eko terkulai lemas di samping istrinya. Napasnya memburu, keringat membasahi seluruh tubuhnya.
"Mas... perutku sakit sekali. Rasanya seperti ada yang menarik-narik di dalam," isak Ruminten sambil memegangi perut bawahnya yang kini terasa sangat keras dan berdenyut tidak wajar.
Eko, yang tenaganya kosong karena energinya habis dihisap Suanggi, menjawab dengan acuh tak acuh tanpa menoleh. "Mungkin itu efek posisi kita tadi. Sudah, jangan manja. Tidur saja, besok juga hilang sakitnya."
Ruminten hanya bisa terdiam. Dengan patuh, ia memeluk lengan suaminya yang sudah mulai mendengkur. Ia mencoba memejamkan mata, namun denyutan sakit di perutnya semakin menjadi-jadi. Ia tidak tahu bahwa di dalam kegelapan rahimnya, anaknya sedang merasakan kesakitan. Suanggi sedang berpesta pora, memakan masa depan yang seharusnya dilahirkan sebulan lagi.
Di luar rumah, angin malam berhembus kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon kamboja di dekat rumah Eko. Di Desa Sukomaju, Ratri berdiri di balkon kamarnya, tersenyum menatap langit malam. Ia bisa merasakan aliran energi baru yang masuk ke dalam susuk emasnya—energi murni dari sebuah nyawa yang belum sempat melihat dunia.
"Satu per satu..." bisik Ratri pada rembulan.
Rumah Eko kini diselimuti oleh aura kematian yang samar. Ruminten tertidur dalam rasa sakit yang mencekam, sementara Eko bermimpi kembali ke gubuk bersama Ratri, sama sekali tidak menyadari bahwa ia baru saja membunuh darah dagingnya sendiri demi sekejap kenikmatan ghaib.
kirain istrinya yg di bacok
dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno