NovelToon NovelToon
Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ches$¥

melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pulang kedunia kita sendiri

Pagi itu, matahari menyelinap melalui celah tirai rumah mereka.

Wulan mengaduk adonan gorengan, aroma tempe dan tahu mengisi ruang sempit yang kini terasa hangat dan hidup. Melda menyusun pesanan di atas meja kayu tua, tangannya cekatan, meskipun wajahnya tampak lelah.

“Kak… pesanan kos belakang lagi nambah,” kata Melda.

Wulan tersenyum tipis. “Bagus. Artinya orang-orang mulai mengenal Dapur Dua Saudari.”

Nama itu semakin dikenal. Pelanggan datang dari kos-kosan sekitar gang, dari tetangga, bahkan beberapa yang penasaran karena melihat unggahan sederhana Wulan di media sosial. Mereka membeli bukan karena kemewahan, tapi karena rasa dan ketulusan yang terpancar dari usaha kecil itu.

Hidup mereka belum mewah. Tapi mereka bahagia. Bebas dari bayangan masa lalu yang penuh kepalsuan dan tekanan.

Suatu sore, Wulan duduk di depan rumah sambil menghitung hasil jualan hari itu. Melda duduk di sampingnya, tangan mereka saling bertemu tanpa sadar.

“Kak… pernah nggak kepikiran gimana kalau aku nggak pernah pulang?” tanya Melda pelan.

Wulan menatap adiknya. “Kalau nggak pulang… aku nggak akan tahu seperti apa hidupku yang sebenarnya. Aku nggak akan tahu rasanya bekerja keras, bertanggung jawab, atau merasakan kebahagiaan sederhana.”

Melda mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Aku senang kamu balik. Rumah ini terasa lengkap lagi.”

Wulan tersenyum. “Aku juga senang. Kita masih punya satu sama lain.”

Dan malam itu, mereka duduk bersama di depan rumah, lampu rumah tetangga bersinar redup, suara kota kecil memenuhi gang. Tidak ada kekhawatiran tentang siapa yang hilang, atau tentang dunia yang menilai dari kemewahan. Semua yang penting ada di sini di tangan mereka sendiri.

Beberapa bulan berlalu. Usaha mereka semakin berkembang. Dengan sedikit kreativitas, Wulan membuat poster sederhana dan membagikannya di media sosial. Melda menyiapkan pesanan dengan cekatan. Mereka membeli kompor baru, memperbaiki atap yang bocor, bahkan menabung sedikit demi sedikit.

Setiap hari, mereka belajar hal baru. Wulan belajar mengatur stok, menghitung keuntungan, mengelola pelanggan. Melda belajar mempercayai kakaknya dalam mengambil keputusan. Mereka tumbuh bukan karena uang, bukan karena kemewahan, tapi karena tanggung jawab dan kerja keras yang mereka jalani bersama.

Suatu sore, ketika mereka sedang beristirahat setelah penjualan habis, Melda bertanya lagi.

“Kak… kalau suatu hari orang-orang menilai kita dari kesederhanaan ini, kamu takut nggak?”

Wulan tersenyum lembut. “Aku sudah belajar. Nilai hidup bukan dari seberapa banyak yang bisa dibeli, tapi dari apa yang bisa kita bangun sendiri. Dari orang yang tetap di samping kita ketika dunia nggak ramah.”

Melda tersenyum. “Kamu benar, Kak. Aku nggak takut lagi.”

Wulan menatap rumah mereka, rumah kecil yang dulu tampak rapuh, kini menjadi tempat di mana mereka merasa aman dan kuat. Ia sadar, kehilangan dulu membuatnya menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga: keluarga, rasa tanggung jawab, dan hidup yang benar-benar milik mereka sendiri.

Mereka mungkin pernah merasakan dunia yang gemerlap, tapi dunia itu meninggalkan mereka, dingin dan menilai segala sesuatu dari uang. Sedangkan di sini, di gang sempit mereka, Wulan dan Melda menemukan kehangatan yang nyata, kebersamaan yang tulus, dan kebahagiaan yang sederhana tetapi tak tergantikan.

Dan kali ini, mereka tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan mereka lagi.Hari-hari di gang sempit itu mulai terasa sibuk, tapi bukan sibuk yang melelahkan secara emosional melainkan sibuk yang penuh tujuan. Pagi dimulai dengan aroma tempe goreng yang hangat, bunyi panci dan wajan, dan suara Melda yang sudah lebih dulu bangun mengatur bahan. Wulan sering kali menatap adiknya sebentar sebelum ikut beraksi, tersenyum tipis, merasa lega karena bisa kembali melakukan hal-hal sederhana seperti ini.

Seiring berjalannya waktu, mereka mulai menemukan ritme sendiri. Wulan belajar menghitung pesanan, menyesuaikan adonan sesuai jumlah pelanggan, dan bahkan mulai berani mencoba resep baru. Kadang ia bereksperimen membuat gorengan isi sayuran, atau menambahkan sedikit bumbu rahasia yang ia ciptakan sendiri. Hasilnya tidak selalu sempurna, tapi setiap kali ada yang tersenyum puas setelah mencicipi, ada rasa hangat yang mengalir di dada Wulan perasaan yang tak pernah didapat dari dunia mewah yang dulu ia tinggalkan.

Melda, di sisi lain, semakin lihai melayani pelanggan. Ia tidak hanya menjual gorengan; ia menjual keramahan, senyum, dan rasa tulus yang membuat orang-orang ingin kembali lagi. Beberapa mahasiswa kos yang awalnya hanya penasaran, kini menjadi pelanggan tetap. Mereka bahkan ikut membantu menyebarkan kabar tentang Dapur Dua Saudari, membagikan foto-foto sederhana gerobak kayu, adonan yang masih hangat di wajan, dan dua perempuan yang tampak menikmati setiap detik kesibukan mereka.

Di malam hari, setelah semua pesanan habis, Wulan dan Melda duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding rumah. Angka-angka di buku catatan kecil mereka menunjukkan keuntungan yang pelan tapi pasti. Tidak banyak, tapi cukup untuk membeli kebutuhan rumah yang mendesak minyak goreng baru, bumbu tambahan, dan kadang sedikit tabungan.

“Kak,” kata Melda suatu malam, menatap kakaknya sambil menarik nafas. “Aku senang kita bisa begini. Bukan cuma karena jualan, tapi… aku merasa kita punya dunia kita sendiri.”

Wulan mengangguk pelan. “Aku juga merasa begitu. Dunia yang benar-benar milik kita, bukan dunia yang orang lain buat dan nilai dari uang.” Ia menatap rumah kecil mereka dengan mata lembut. “Dulu aku pikir kemewahan itu semua yang kubutuhkan. Ternyata, yang penting adalah… punya tempat untuk pulang. Dan punya seseorang yang selalu ada.”

Melda tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Aku takut kehilanganmu dulu, Kak… waktu kamu pergi, rasanya rumah ini ikut kosong.”

Wulan meraih tangan adiknya, menggenggamnya erat. “Aku nggak akan pergi lagi, Mel. Tidak untuk dunia manapun.”

Hari-hari pun terus berjalan. Suatu pagi, seorang tetangga tua datang membawa kabar tentang lomba kuliner lokal yang diadakan di balai desa. Wulan melihat kesempatan itu sebagai tantangan. “Kalau kita ikut, orang akan tahu kita bisa lebih dari sekadar gorengan biasa,” ujarnya.

Melda menatap kakaknya ragu. “Tapi… kita kan nggak punya modal banyak. Bahan saja kadang pas-pasan.”

Wulan tersenyum. “Kita mulai dari yang kita punya. Kreativitas dan kerja keras itu lebih berharga daripada uang banyak.”

Dengan modal seadanya, mereka menyiapkan beberapa resep baru, memasukkan semua cinta dan pengalaman mereka ke dalam setiap gorengan, setiap adonan. Hari lomba tiba. Mereka mengatur meja sederhana, menata gorengan di atas nampan kayu. Tidak ada dekorasi mewah, tidak ada seragam rapi, hanya dua saudari dengan tekad dan kehangatan yang nyata.

Pengunjung lomba awalnya menatap heran. “Cuma gerobak kecil?” bisik beberapa peserta lain. Namun ketika mereka mencoba gorengan itu, keraguan berubah menjadi kagum. Gurihnya tepat, teksturnya renyah, dan yang terpenting, ada rasa tulus yang terasa di setiap gigitan.

Saat pengumuman pemenang, Dapur Dua Saudari memenangkan penghargaan untuk kategori “Kreasi Paling Otentik”. Wulan dan Melda saling menatap, mata mereka berkilat. Ini bukan sekadar kemenangan ini pengakuan bahwa kerja keras, kesabaran, dan kebersamaan mereka berarti.

Malam itu, mereka duduk di depan rumah, memandangi gerobak yang kini tampak sedikit lebih kokoh karena hadiah yang mereka dapatkan. Wulan menatap adiknya. “Lihat, Mel… dunia kita kecil, tapi kita bisa membuatnya besar.”

Melda tersenyum. “Aku bangga sama kakakku. Dan aku bangga sama kita.”

Wulan menarik napas dalam-dalam, menyadari sesuatu yang baru yaitu kebahagiaan bukan datang dari kemewahan, bukan dari orang lain yang menilai atau mengatur hidupnya, tapi dari apa yang ia bangun sendiri, dari cinta sederhana yang mereka miliki.

Dan di gang sempit itu, rumah kecil mereka menjadi saksi. Saksi perjuangan dua saudari yang menolak menyerah, yang menemukan kekuatan bukan dari kemewahan, tapi dari kebersamaan, dari rasa tanggung jawab, dan dari cinta yang murni, cinta antara kakak dan adik.

Wulan menatap langit yang mulai gelap. Ia tahu hidup tidak selalu mudah. Akan ada kesulitan, akan ada orang yang menilai mereka dari hal-hal duniawi. Tapi ia juga tahu satu hal: selama mereka tetap bersama, mereka bisa menghadapi semuanya. Karena mereka sudah menemukan sesuatu yang lebih berharga dari kemewahan atau pujian mereka memiliki diri mereka sendiri, dunia mereka sendiri, dan satu sama lain.

Dan kali ini, Wulan yakin… ia tidak akan pernah pergi lagi.

1
Hunk
Permintaannya sederhana. Namun tak mudah.
Paavey 2001: terkadang yg sederhana itu disepelekan/Frown/
total 1 replies
Hunk
Muda banget 24 tahun, udah di kasih beban hidup/Cry/
Paavey 2001: iya kak kasian yaa/Frown//Frown/
total 1 replies
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
soalnya yg satu penub ambisi yg satunya cuma lembut dan menawan juga jadi admin di perusahaan kecil.
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡: selau ditunggu
total 2 replies
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
Melda sama Wulan ini nanti kira kira kayaknya sifatnya berlaeanan dehh.
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
bisa dijadiin puisi tentang senjaa ini.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.
Paavey 2001: hehe mencoba jadi puitis aja sih kak
total 1 replies
Paavey 2001
bukan lagi kakak udh ngalahin percintaan jendral tianfeng😁😁
Paavey 2001
tapi gk gt kak, baca seksama agar tidak galfok🤭
MARDONI
Aku suka banget hubungan kakak adik antara Wulan dan Melda di sini, hangat tapi juga bikin haru 😭 Wulan yang terus berusaha percaya sama Agung sementara Melda diam-diam khawatir itu kerasa banget emosinya. Apalagi di akhir pas Wulan bilang berharap cintanya cukup kuat… aduh rasanya hati ikut takut juga.
Paavey 2001: siapin tissue nya kak agar tidak terlihat orang lain😁
total 1 replies
izmie kim
tanggung jawab yang harus di ambil alih karena keadaan itu terkadang sebuah pengorbanan yang gak mudah banyak yang harus kita korbankan
Paavey 2001: betul banget kakak
total 1 replies
cimownim
semoga terwujud ya Wulan🤗
Paavey 2001: amiin kakak
total 1 replies
SarSari_
semua perempuan kayaknya harapannya gini deh ya🫣
Paavey 2001: semoga harapan kakak disegerakan ya
total 1 replies
putrijawa
cinta mereka cukup berat cobaannya
Indira Mr
Ujian Wulan dan Agung dengan status yg berbeda..semoga mereka kuat 💙💙💙
Indira Mr
Wulan mulia kakak yg bertanggung jawab 😂😂😂💙
Paavey 2001: heheh iya kak, sama seperti kakak juga ya🤭
total 1 replies
Paavey 2001
hehe gk bisa kak udah alur cerita nya begitu 😁 melda juga bagus kok kak gk kalah jauh dengan wulan nantikan aja bab selanjutnya dijamin lebih bagus
Emi Sudiarni
seru bngat. jgn di matikan wula👍n nya ya thor
Paavey 2001
Terima kasih kakak cantik
chiechie kim
aku suka cerita nya
Emi Sudiarni
bgus bngat meng hari biru.. tpi sayang bngat si wulan hrus di matikan, pd hal sdah terbiasa dgn sosok wulan, klw di gantikan melda sy kira udah kurang menarik lgi utk di baca
Paavey 2001: tunggu kelanjutan nya aja ya kak dijamin bagus
total 1 replies
Paavey 2001
jelek ya kak cerita nya/Frown/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!