Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.
Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.
Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelah Badai, Apa yang Tersisa?
Kasus itu akhirnya resmi ditutup.
Dalang utama ditahan.
Berita media berbalik arah.
Nama Kevin kembali bersih.
Semua orang bilang ia menang telak.
Tapi di dalam rumah itu…
Ada sesuatu yang berubah.
Beberapa hari setelah kejadian di gudang, Kevin jadi lebih sering diam.
Ia tetap tersenyum.
Tetap bercanda dengan Cantika.
Tetap memeluk Siska sebelum tidur.
Tapi ada jeda kecil di tatapannya.
Seolah ia sedang memikirkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar bisnis.
Suatu malam, Siska tidak tahan lagi.
“Kamu kenapa sebenarnya?” tanyanya pelan saat mereka duduk di ruang keluarga.
Kevin menatap layar TV yang bahkan tidak ia tonton.
“Aku cuma kepikiran… kalau waktu itu aku terlambat satu langkah.”
Siska menggenggam tangannya.
“Tapi kamu nggak terlambat.”
Kevin menggeleng pelan.
“Bukan soal menang atau kalah. Aku hampir membiarkan hidup kita terus dikejar ketakutan.”
Siska terdiam.
Ia tahu maksud Kevin.
Selama ini mereka hanya bertahan.
Melawan.
Menghadapi.
Tapi belum benar-benar hidup dengan tenang.
Keesokan harinya, Kevin membuat keputusan yang mengejutkan direksi.
“Apa maksud Anda ingin mundur dari posisi CEO?” tanya salah satu komisaris tak percaya.
Kevin duduk tenang.
“Saya tetap pemilik saham mayoritas. Tapi saya tidak lagi jadi orang di garis depan.”
Ruangan langsung ricuh.
“Perusahaan butuh Anda!”
Kevin tersenyum tipis.
“Perusahaan juga butuh sistem yang tidak bergantung pada satu orang.”
Keputusan itu bukan karena takut.
Bukan karena kalah.
Tapi karena ia akhirnya tahu batas.
Di rumah, Siska terdiam ketika Kevin mengatakan semuanya.
“Kamu serius?”
Kevin mengangguk.
“Aku mau pulang lebih cepat setiap hari. Aku mau lihat Cantika tumbuh tanpa selalu dibayangi rapat darurat.”
Siska menatapnya lama.
“Kamu nggak akan menyesal?”
Kevin tersenyum kecil.
“Aku sudah pernah menyesal kehilangan kamu. Itu cukup.”
Hati Siska terasa hangat.
Beberapa minggu berlalu.
Rumah itu benar-benar terasa berbeda.
Kevin mengantar Cantika sekolah.
Ia belajar memasak—meski tetap sering gagal.
Ia bahkan ikut rapat sekolah tanpa diwakilkan asisten.
Cantika bangga bukan main.
“Papa sekarang kayak papa normal!” katanya polos.
Kevin tertawa.
Mungkin dulu ia memang terlalu sibuk jadi pria hebat di luar.
Sampai lupa jadi pria sederhana di rumah.
Suatu sore, Kevin dan Siska duduk di taman belakang.
Langit senja berwarna jingga lembut.
“Aneh ya,” kata Siska pelan.
“Kita dulu kejar uang mati-matian. Sekarang malah pilih pelan-pelan.”
Kevin mengangguk.
“Karena dulu kita pikir kebahagiaan ada di atas. Ternyata ada di samping.”
Siska tersenyum.
Ia menyandarkan kepala di bahu Kevin.
“Kalau suatu hari nanti badai datang lagi?”
Kevin menatap langit.
“Badai pasti datang lagi.”
Siska terdiam sejenak.
“Tapi?”
Kevin menggenggam tangannya lebih erat.
“Tapi kali ini kita nggak akan menunggu sampai hampir kehilangan satu sama lain untuk sadar.”
Angin senja berhembus pelan.
Di kejauhan, Cantika berlari mengejar kupu-kupu dengan tawa lepas.
Kevin menatap pemandangan itu dengan hati penuh.
Dulu ia pikir kemenangan adalah menjatuhkan musuh.
Sekarang ia tahu—
Kemenangan adalah bisa duduk tenang tanpa rasa takut.
Dan untuk pertama kalinya…
Ia tidak merasa sedang dikejar apa pun.
Ia hanya merasa cukup.
Tapi hidup memang tidak pernah berhenti memberi kejutan.
Saat Kevin membuka ponselnya untuk memastikan jadwal besok kosong—
Sebuah notifikasi muncul.
Pesan dari nomor tak dikenal.
Bangga dengan keputusanmu.
Kevin membeku.
Pesan kedua menyusul.
Tapi kamu pikir permainan ini selesai hanya karena satu orang ditangkap?
Senyum Kevin perlahan menghilang.
Siska yang melihat perubahan wajahnya langsung tahu.
“Mas…”
Kevin menatap layar itu lama.
Lalu mematikannya.
Ia menarik napas dalam.
“Kalau memang ada bab berikutnya…”
Ia menoleh pada Siska dengan tatapan tenang.
“Kita hadapi tanpa kehilangan diri lagi.”
Senja perlahan berubah malam.
Ketenangan memang sudah mereka pilih.
Tapi dunia luar belum tentu setuju.
Dan mungkin—
Badai yang sebenarnya…
Baru saja menunggu giliran.