Lea Michele wanita berusia ( 22 ) tahun, seorang wanita berdarah dingin, dan bekerja sebagai pembunuh bayaran, yang harus mengalami kecelakaan hebat. alih-alih pergi ke alam baka. jiwanya malah terperangah di dalam tubuh seorang gadis yang bernama Carlin Christine. seorang gadis yang sudah menikah. tapi yang tidak pernah di anggap sebagai istri oleh suaminya.
__________________________________________
lantas bagaimana kelanjutan kisahnya, mari kita bersama-sama untuk membacanya. mampukah Lea sang pembunuh bayaran, berperan sebagai Carlin Christine. atau malah sebaliknya...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ecly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
karma
Seperti yang sudah di prediksi Gyan dan yang lainnya, sepupunya Bryan akan menuntut perbuatan tempo hari ke jalur hukum. Saking niatnya, Noel bahkan membuat surat wasiat palsu untuk kekayaan mendiang sepupunya.
Alvino yang seharusnya menjadi tersangka atas penyerangan ayahnya Paul, bahkan di ubah menjadi Bryan yang melakukan itu semua.
Bukti-bukti itu berhasil mempengaruhi para polisi. Dan yang sekarang beberapa anggota polisi datang ke apartemen Bryan untuk membawanya ke kantor polisi.
" Kalian mau saja di dibodoh-bodohi sama orang bodoh. " Ucap Gyan yang memang saat ini sedang berada di apartemen Bryan. baru saja mereka berdua makan siang. Lah para anggota polisi tiba-tiba datang.
" Laporan itu nyata! " sahut salah satu polisi itu. yang membuat Gyan tidak bisa menahan diri agar enggak tertawa.
" Hahaha. Kalian ini bukan polisi polisian yang sudah banyak kasus, yang kalian tangani. Sepanjang kalian menjabat sebagai polisi, masa hal yang seperti ini bisa kecolongan?
Benar-benar deh nggak paham aku, sama polisi-polisi sekarang ini? " ucap Gyan yang membuat para polisi itu geram. Karena merasa sudah di ejek.
Gyan membaca surat penangkapan untuk Bryan sambil terkekeh geli.
" Sudah, ah. Gyan! nggak apa-apa biarkan saja,kita ikuti saja permainan mereka! biar mereka senang. " sahut Bryan santai yang langsung membuat Gyan mengangguk.
Pada akhirnya Bryan di bawa ke kantor polisi, Gyan juga ikut serta untuk melihat kelanjutan ceritanya seperti apa.
Ethan dan Alvin yang baru saja selesai dengan urusan masing-masing, jadi berdecak kesal saat melihat pesan yang di kirim oleh Gyan lewat grup.
" Aku yang sudah menembak ayahnya tapi si keparat itu, menjadikan Bryan sebagai tersangka nya! Segitunya dia ingin menjatuhkan,dan merampas semua yang bukan milik mereka? Konyol sekali. " celetuk Alvin dia segera menghubungi asistennya untuk mengumpulkan semua barang-barang bukti.
******
Carlin mengerut dahinya saat tubuhnya hendak berbalik, tapi enggak bisa. Seperti ada Beben berat yang menahan pergerakannya.
Belum lagi hembusan pernafasan yang menerpa tengkuk lehernya. Dengan terpaksa Carlin menghentikan mimpi indahnya. Lalu berbalik untuk melihat siapakah orang itu.
" What the hel---" Carlin tidak jadi melanjutkan, dia kaget kesal di saat bersamaan setelah mengetahui penyebabnya.
Carlin langsung menyentak kuat lengan kokoh, yang begitu kurang ajar melingkar di pinggangnya. Entah sejak kapan suami laknat-nya, tidur di ranjangnya dengan posisi seperti itu. Karena sebelumnya dia hanya tidur sendirian, pintu kamarnya juga terkunci.
" Kenapa dia bisa tidur di kamar ku, bukan tidur di kamarnya? Ck dasar suami enggak tahu diri! tunggu bagaimana dia bisa masuk?"
Gara-gara mendengar ocehan dari istrinya Axel, yang sedang bermimpi indah pun terbangun. Wajah bantalnya menatap sang istri yang mulai menyebut namanya dengan nama hewan, sambil menatapnya tajam.
" Apa kamu nggak bisa sekali saja tidak mengatai ku, Carlin? " suara serak khas bangun tidur itu mengeluh. Tangannya langsung menarik kuat tangan Carlin membuat Carlin, berakhir di atas tubuhnya.
" Bajingan apa yang kamu lakukan? " ucapnya dengan mata, yang merah padam.
" Memeluk istriku, memangnya apa lagi? " sahut Axel dengan wajah polosnya.
" Mau Muntah darah! " sahut Lea tak suka.
Dia hendak bangun, dan menjauh tapi tidak bisa, karena Axel memeluknya erat-erat.
" Let me go! " teriak Lea.
" Nggak mau. " tolak Axel, sambil memiringkan posisi mereka berdua.
" Kamu mau ma---" Lea tidak jadi melanjutkan perkataannya, saat Axel semakin mendekatkan wajahnya, dengan wajahnya dia menahan nafasnya.
" Aku nggak suka dengan mulut mu, yang semakin hari semakin tidak sopan istriku? "
Axel menatap lekat wajah cantik glowing, istrinya meskipun terlihat datar.
Lea menyipitkan matanya, dia jengah dengan Axel. yang sudah memanggil namanya dengan sebutan ! istriku ! 2 X padahal di kamar itu, hanya mereka berdua. Selain itu harusnya kata-kata yang menjengkelkan itu, Axel lontarkan saja ketika mereka sedang bersandiwara saja.
" Kenapa baru sadar, kalau suamimu tampan hmm! kamu lihat saja sepuasnya Wajah ku! "
Lea yang memang dari awal sudah marah dan kesal, karena ulah Axel. lepas kendali dia muak lihat Axel yang sok kegantengan! Dengan tidak berperasaan dia mengingat hidung mancung Axel. Membuat Axel mengerang kesakitan, dan reflek melepaskan pelukannya. Setelah Axel melepaskan pelukannya Lea dengan cepat lari, saat melihat Axel memegangi hidungnya. Dan menatapnya dengan sangat tajam.
" Cuih darah mu pahit. bahkan enggak enak? " ucapnya. Setelah meludah, membuat Axel mengeram marah' dan turun dari ranjangnya. Lea dengan cepat lari terbirit-birit.
Brak~
Lea tersentak kaget' ketika Axel membanting pintu kamar mandi, yang hendak dia buka.
" Sialan kenapa dia cepat sekali, lari-nya? " batinnya panik, karena tadi Axel masih jauh di belakangnya. Tapi sekarang Axel sudah ada di hadapannya.
Dia langsung meraih pinggang istri-nya, dengan kasar. membuat tubuh mereka saling menempel Lea, melotot kan matanya.
" Where are you heading? kamu harus bertanggung jawab, dengan hidung ku? "
Merinding bulu kuduknya, itulah yang Lea rasakan. apa lagi Axel mengatakan kata-katanya dengan nada berat serak plus di samping telinganya. suami laknat-nya bahkan menggigit sedikit daun telinganya.
" I..itu..Itu salah mu sendiri! siapa suruh kamu main masuk-masuk, ke dalam kamar orang. Dan bersikap begitu! " Lea gugup dia bicara dengan terbata-bata, apa lagi posisi mereka yang begitu menempel.
" Salah ku? Kurang ajar? Sembarang? Bajingan? Brengsek? " Axel mengulangi perkataan istrinya, yang sering di lontarkan untuknya. Dia memeluk erat tubuh kecil istrinya sambil menaruh dagunya di pundak istrinya. Lea menegang keringat dingin mengucur dari tubuhnya, mata nya melotot dia berteriak minta di lepas.
" Aku suka suara mu, yang ini. Ayo keluarkan lagi? " bisik Axel. Membuat wanita itu mengeram marah' dan malu. Rasanya dia ingin menghilang, detik ini juga.
Sret~
Bug~
" Aaahhh!! "
Klik ~
Brak~
" Carlin. " geram Axel sambil memegangi hidungnya kembali, karena baru saja di tonjok istrinya, secepat kilat. Membuat hidungnya kembali mengeluarkan darah segar lagi.
Tok~tok~tok~tok~tok.
" Carlin buka pintunya? " teriaknya dengan keras. Sambil menggedor-gedor pintu kamar mandinya, dengan sekuat tenaganya.
" Carlin, buka pintunya. Atau aku akan mendobraknya! Dan kita mandi bersama..! "
" Wah bajingan itu minta di cincang yah? " ucap lea jengkel, gara-gara ancaman dari Axel. Tapi tentu dia tidak mau membuka pintu kamar mandinya, Dia menjauh dari pintunya.
*****
sementara itu di sebuah bangunan seorang pria tengah mengamuk, pria itu bahkan menjadikan anak buahnya, sebagai samsak.
" Bajingan. "
Bug~bug~bug!
Pukulan Demi pukulan, yang entah sudah ke berapa puluh kali itu, langsung membuat anak buahnya ambruk. dengan kondisi yang menyedihkan.
Bruk~
" Bangun sialan, aku tidak akan membiarkan kamu merubah posisinya. cepat bangun? " raung-nya. Sambil menendang tubuh bersimbah darah itu.
Bug~bug~bug~
Anak buahnya, yang lain hanya mampu menahan nafasnya,dan berharap agar tidak
Berakhir seperti rekan-nya itu.
" Sudah berani membangkang huh? " Ucapnya sambil menggertak Giginya, karena tidak ada jawaban selain rintihan.
Dor~dor~dor~
tanpa perasaan dia pun langsung melayangkan tembakan, sampai anak buahnya tewas seketika. seperti yang sudah-sudah. Anak buahnya memalingkan wajahnya tidak kuat melihat ruangan yang sudah seperti bekas pembantai, gara-gara amarah tuan-nya.
" Brengsek bajingan lihat saja nanti? " raung-nya. Dengan tatapan penuh dendam.
*****
( new york. )
" Kalian tahu, kalian punya bakat yang terpendam untuk berakting? " ucap Gyan dingin, dia menatap mengejek ke arah lawan bicaranya.
Ethan dan Alvin, sontak tertawa dengan geli. Apa lagi melihat wajah, Noel dan ibunya merah padam menahan amarahnya.
Tadi mereka sangat yakin sekali bahwa mereka akan menang, dan bisa merampas semua harta milik Lea. Akan tetapi mereka gagal karena teman-teman dari Bryan dan Lea melindungi. Dan membawa bukti-bukti bahwa Bryan tidak bersalah. Dan sialnya lagi mereka malah di tuntut balik, karena sudah pencemaran nama baik. pemalsuan data-data
Serta ancaman dan pencurian.
mereka tidak bisa berkutik setelah melihat rekaman cctv. Dan di cek keaslian nya. Termasuk bukti saat mereka melakukan transaksi, memalsukan suara hingga serupa dengan mendiang sepupunya Lea. Dan juga surat wasiat palsu.
" Kamu juga pasti akan masuk penjara. Karana kamu sudah menembak suamiku! Kalau kamu lupa! " ucap ibunya Noel menggebu-gebu, marah' pada Alvin yang sedang tertawa terbahak-bahak.
" Ini New york bu. Kalau anda lupa, di sini setiap pria, yang sudah berusia 21 tahun di beri ijin untuk memiliki senjata api. untuk pertahanan diri. Aku juga tidak menyerang suamimu dengan asal! Aku melakukannya karena suamimu, sudah memprovokasi. Sana lihat saja sendiri rekaman cctv, kalau tidak percaya. lihat dengan mata kepala anda! " ucap Alvin sinis.
Sekali pun Alvin bersalah memangnya polisi berani menangkapnya. enggak yang ada mereka, yang berakhir menjadi mayat di tangannya Alvin.
" Al! Mereka sudah jelas, tidak tahu hukum negara ini. Mereka kan bukan orang New york! Mereka jauh-jauh datang dari Belanda, ke New York! untuk merampas yang bukan milik mereka. Tapi endingnya malah begini! Ops. " ucap Gyan pura-pura keceplosan. sambil menutup mulutnya, dengan tangannya.
" Hahaha benar juga. " Alvin kembali tertawa terbahak-bahak.
Noel mengeram marah' rahangnya mengeras giginya bergemuruh. Dia menatap penuh benci ke arah Gyan Ethan dan Alvin. Andai mereka sedang tidak ada di kantor polisi mungkin dia sudah memberi pelajaran kepada ke 3 pemuda tampan itu. sayangnya dia harus menahan amarahnya.
Alvin pergi menuju ke arah polisi lalu berbincang-bincang. Sambil menatap ke arah Noel dan ibunya, yang sudah di borgol tangannya. Setelah selesai dia segera menuju ke arah Bryan, yang sudah di bebaskan, begitu juga dengan Gyan dan Ethan.
" Bri. sudah lama menunggu kami? sorry yah kalau kami lama. " tanya alvin. Bryan menoleh dia beranjak dari kursinya, lalu berkata.
" Tidak, aku bahkan baru 5 menit. di sini! Maaf sudah merepotkan, kalian bertiga."
" Hey, apa sih. Jangan bicara seperti itu santai saja! " Alvin merangkul bahu Bryan sok asyik.
" Kalian pasti baru menyelesaikan pekerjaan kalian kan? Trus datang kemari, untuk mengurus ku dan semuanya. ak----"
" Sut, sudah ah. Jangan di pikirkan. " Gyan ikut-ikutan merangkul bahu kirinya Bryan. ke 4 pemuda tampan itu pun langsung pergi, karena urusannya sudah selesai. sedangkan Ethan hanya diam saja dari tadi.
" Ngomong-ngomong kok para polisi itu tidak menahan senja---" Bryan tidak jadi melanjutkan perkataannya, setelah dia ingat bahwa kakaknya, juga punya senjata api. Pantas saja kedua pria tampan itu, tersenyum licik. Sedangkan Bryan memang belum memiliki senjata api karena umurnya yang baru 20 tahun.
" Sekarang kamu nggak perlu Khawatir lagi soal hartanya Lea. Karena mereka sudah tidak akan bisa mengambilnya lagi. " ucap Gyan.
" Iya betul itu! Kamu jangan memikirkan soal itu lagi. " sahut Alvin.
Mereka langsung masuk ke dalam mobilnya, lalu memasang seat belt.nya masing-masing.
Tidak lama kemudian mereka, meninggalkan halaman kantor polisi.
" Ngomong-ngomong soal yang di rekening Lea belum terpecahkan? " tanya Ethan.
membuat mereka kompak menghela nafas beratnya. Hilangnya saldo di rekening milik Lea, masih menjadi misteri. Mereka juga sudah bertanya ke pihak bank. Tapi pihak bank juga tidak tahu menahu soal itu.
" Sudah lah, jangan bahas itu lagi aku sudah ikhlas! " ucap Bryan. Alvin Ethan dan Gyan hanya mengangguk saja. Meskipun sebenarnya masih tidak terima karena uang di tabungan Lea, itu mencukupi beberapa generasi.
" Bagaimana dengan kamu? " tanya Alvin. Menatap lekat wajah Gyan, yang sedang fokus menyetir mobilnya.
" What'! " Gyan menoleh.
" Si anonim itu ada mengirim pesan lagi,atau enggak dengan mu? Tidak perlu kaget seperti itu huh. " lanjut Alvin.
Bryan dan Ethan, yang duduk di kursi belakang Sontak menoleh ke arah Gyan. Menunggu jawaban dari Gyan.
" Dia hanya meminta ku, untuk selalu ada bersama dengan Bryan! dan meminta ku agar aku atau Kita tidak pernah meninggalkan Bryan sendirian. "
Ucapan dari Gyan, membuat mereka membelalakkan matanya tak percaya. khususnya Bryan.dia merasa campur aduk, apa maksudnya coba! Seperti anonim itu sudah sangat kenal saja dengan dirinya.
" Hey jangan bercanda? Nggak ada yang lucu tahu." Ethan menegur.
" Tapi aku benar-benar tidak sedang bercanda Ethan Robots! Anonim itu memang mengirimkan ku pesan seperti itu. Aku sendiri juga tidak tahu." sahut Gyan.
" Lalu kamu membalasnya seperti apa? gimana sudah berhasil mendapatkan lokasinya, atau tidak? Katakan di mana dia tinggal? " tanya Alvin.
" Aku belum sempat membalas pesannya lagi, karena anonim itu sudah menghapus semua pesan, di antara kami. Jadi aku juga tidak bisa melacak lokasi. penggunanya. Dan aku juga tidak tahu siapa anonim itu! " Gyan meringis di akhir.
" Kamu kok ngeselin banget sih! Awas saja kamu, akan ku beri pelajaran! " kesal Ethan dia sudah mengambil ancang-ancang, untuk mencekik leher Gyan. Tapi Bryan langsung menahan pergerakan tangannya.
" Lepaskan aku Bryan! Si bodoh itu. harus di kasih pela---"
" Enggak. Kamu nggak usah banyak tingkah! kita lagi di jalan, Dan si Gyan sedang menyetir mobilnya. kecuali kamu mau kita ber 4 mati konyol, gara-gara ulah mu! Diam lah Ethan jangan membuat ku pusing. " potong Bryan dia memegang tangan Ethan.
yaaahhh mungkin cuma kebetulan sama aja kali yAA