NovelToon NovelToon
Lumpuh

Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: Vermilion Indiee

Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.

Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 26 - Rumor

Steven datang ke kantor selama tiga hari berturut - turut hanya untuk memastikan kondisi Alexa setelah kejadian itu. Dia tidak menunjukkan diri langsung di hadapan Alexa, tapi sejauh ini—Alexa terlihat baik - baik saja.

Mengerjakan pekerjaannya dengan baik, berinteraksi dengan beberapa staf yang akhirnya memiliki cukup banyak kenalan untuk sekedar berteman.

Kehidupan Alexa bahkan jauh lebih normal meski luka di keningnya dibalut rapi. Berbeda dengan Steven yang malah seperti luntang - lantung.

"Aneh, kayaknya dia itu mudah banget melupakan sebuah kejadian, ya." Steven bermonolog.

Dia merapatkan maskernya saat posisi Alexa mengepel koridor lantai dua hampir sampai di tempatnya berdiri.

"Steven."

"Eh, curut!" Steven terlonjak kaget ketika seseorang menepuk pundaknya.

Jo hanya tertawa kecil melihat kebiasaan Steven yang latah karena dikejutkan ketika sedang terlalu serius.

"Ngagetin!" omel Steven sembari melirik ke arah Alexa yang menghentikan aktivitas bersih - bersihnya dan menatap Steven dengan mata berbinar.

Steven hanya melambaikan tangannya pura - pura menyapa kemudian kembali berbicara dengan Jo. Meski dalam hatinya sempat memuji keindahan binar di mana Alexa yang bulat itu.

"Datang - datang jangan ngagetin kek!" Steven masih mengomel.

"Aku cuman tepuk pundak." Jo membela diri.

"Ya tapi tetap saja—"

"Mau latihan?" Jo memotong kalimat Steven cepat berjalan melewati Steven sembari mengambil kartu masuk ruang latihan dari sakunya.

Ketika melewati Alexa, Jo terlihat memasang senyum kemudian menyentuh puncak kepala Alexa—seperti sebuah sapaan khusus.

Kedua mata Steven terbelalak melihat interaksi keduanya yang sudah seperti memiliki hubungan yang sangat dekat. Alexa juga tak berkomentar apa pun dengan sentuhan Jo di kepalanya.

"Stev, mau latihan nggak?" Jo kembali menoleh sebelum masuk ke ruang latihan.

Dengan ragu, Steven berjalan menyusul Jo. Tapi dia berhenti sejenak di hadapan Alexa.

"Kamu ada hubungan apa sama Jo?" bisiknya.

Kening Alexa berkerut. "Hubungan apa? Nggak ada kok," jawabnya apa adanya.

"Tapi kok tadi Jo begini?" Steven mengikuti cara Jo menyentuh kepala Alexa.

Alexa tertawa kecil. "Dia sebenarnya lagi ngejek aku karena pendek," timpalnya.

Steven mengangguk - angguk mengerti. Dia tidak mendengar kalau Jo mengatakan sesuatu pada Alexa, makanya dia pikir mungkin hubungan Jo dan Alexa sudah lebih jauh mengingat Jo pernah menunjukkan sedikit ketertarikannya pada Alexa.

Jo masuk ke ruang latihan tanpa menunggu Steven karena tahu kalau sudah bicara dengan Alexa, Steven akan lama.

"Kamu gabung lagi sama NOVA?" tanya Alexa mendekatkan wajahnya—berbisik.

Steven mengangkat kedua bahunya dan menjawab, "aku hanya diminta Papaku ikut ke sini."

"Kalau begitu, mending ikut latihan." Alexa membujuk. Yeah, dia tidak melupakan apa yang harus dipertanggungjawabkan olehnya.

Gelengan kepala Steven sedikit merubah raut wajah Alexa—kecewa. Sejak tahu kalau menjadi penyanyi bukanlah cita - cita Steven, Alexa cukup putus asa untuk membuat Steven kembali ke NOVA.

Steven memandang ke ruang latihan sesaat. Dia bukan datang untuk kembali bernyanyi. Hanya saja ada sedikit keinginan masuk ke ruangan itu lagi, bukan sebagai anggota band.

"Semua anggota berusaha menyelaraskan musik dengan suara Abi dan siapa itu yang mukanya ada Chinese - Chinese nya?" celetuk Alexa.

"Lian?"

"Nah, iya! Suara mereka nggak ada harmonisasinya. Jadi kurang enak didengar." Alexa tak ragu mengatakan itu seolah dia tahu banyak soal musik.

Steven jelas mencibir Alexa yang sok berkomentar meski sebenarnya cukup lucu karena ada yang menjelek - jelekkan kualitas suara anggota NOVA di tangan - tengah popularitas mereka.

"Sok tahu!" Steven menyentil kening Alexa.

"Sakit!" marahnya.

"Lagian sok banget segala bilang harmonisasi. Kayak tahu musik aja kamu." Steven terbahak.

Dia cukup lega melihat Alexa sepertinya sudah tidak begitu memikirkan masalah yang terjadi waktu itu walaupun lukanya masih jelas adanya. Hanya saja, memang kantung mata Alexa semakin menghitam di bawah matanya yang bulat.

Alexa mungkin belum benar - benar lupa ketika dia sendirian dan tidak ada yang mengajaknya berbicara sebagai bentuk pelarian dari masalahnya.

"Kamu nggak tahu aja. Gini - gini, mendiang ibuku waktu muda penulis lagu. Bahkan pemain biola." Alexa membanggakan Ibunya.

"Beneran?" Steven antusias mendengar hal baru itu.

Alexa mengangguk sembari kembali menggerakkan tongkat pel di tangannya melanjutkan pekerjaannya.

"Penghasilan ibuku bisa dibilang besar dari lagu - lagunya. Sebelum akhirnya Ayah melarang Ibu melanjutkan itu. Katanya lebay karena terlalu banyak kalimat - kalimat aneh. Padahal Ayah melamar Ibu juga dengan puisi. Beliau memang aneh," oceh Alexa.

Namun setelah itu, ekspresi Alexa berubah muram. Teringat kembali akan kedua orang tuanya yang sudah tiada.

Padahal sejujurnya, Steven cukup menikmati kalimat Alexa yang begitu bersemangat menceritakan tentang mendiang kedua orang tuanya. Jelas itu menarik kerinduan yang tidak bisa diobati pastinya.

"Wah... mereka hebat." Steven berusaha menghibur Alexa. "Paling tidak, kesamaan mereka adalah bisa menyusun kalimat yang indah," lanjutnya.

Alexa balas dengan tersenyum getir tanpa menghentikan kegiatannya. Dia merasa sudah terlalu over sharing. Walaupun itu Steven, tetap saja rasanya menyesal.

"Aku mau mendengar suara jeleknya Bang Abi dan Lian dulu. Dah..." Steven berjalan menuju ruang latihan.

"Aku yakin kamu akan kapok setelah mendengarnya!" Alexa kembali sumringah.

Steven terkekeh pelan dan masuk ke ruang latihan menggunakan kartunya.

Hening.

Semuanya berhenti ketika melihat kedatangan Steven. Abi bahkan sampai menjatuhkan kertas lirik yang ada di tangannya tak menyangka Steven menunjukkan diri lagi tanpa diminta.

"Kenapa berhenti? lanjutkan saja. Aku hanya ingin melihat," kata Steven.

"Lo nggak mau latihan?" tanya Abi.

Steven menggeleng. "Gue cuman nganter Papa katanya mau ketemu sama Produser," jawabnya.

"Latihan sekalian lah, nanggung."

"Nggak deh. Gue..."

"Suaraku jelek, Stev. Hancur parah." Lian menimpali.

Jo dan Bisma hanya menganggukkan kepala mendukung permintaan Abi pada Steven.

Mata Steven tertuju pada space kosong antara Abi dan Lian. Itu posisinya sebagai vocalist. Memang dia tidak pernah ingin menjadi idola ataupun penyanyi. Tapi, selama ini dia berlatih untuk itu dan hidup bertahun - tahun dengan itu.

Bohong kalau Steven bilang tidak pernah menikmati musik - musiknya. Meski sekali atau dua kali, dia pernah bangga ketika berhasil menyanyikan lagu yang menurutnya sulit.

"Oke." Steven langsung mengambil microphone miliknya dari salah satu staf dan masuk ke barisan band - nya.

Senyum terukir di semua wajah yang ada di dalam ruangan itu. Musik di mainkan, dan Steven mulai bernyanyi.

Sampai akhirnya pintu ruang latihan kembali terbuka membuat semuanya berhenti karena yang datang adalah Gavin yang menggenggam lengan Alexa kuat - kuat. Urat di rahangnya mengencang.

"Steven, ikut Papa!" katanya tegas.

"Aku sedang latihan, Pa. Kan, Papa sendiri yang minta akh ikut Papa ke sini dan berlatih bersama yang lain." Steven menolak berurusan dengan Gavin.

"Baiklah. Lanjutkan latihanmu. Papa akan bicara dengan Alexa saja."

"Memangnya ada apa, Pa?" Steven bergerak menghampiri Gavin ketika Gavin menyebut nama Alexa, bahkan membawa Alexa bersamanya.

Gavin menoleh dengan mata berapi - api. "Foto kamu bersama dia tersebar, Stev! Ada banyak wartawan di bawah yang ingin menemui kamu dan Alexa."

"Aku hanya main waktu itu."

"Media tidak peduli dengan apa yang sebenarnya terjadi. Rumor mengatakan kalau Alexa adalah seorang p3lacur yang berarti kamu dalam masalah besar."

Abi, Jo, Lian dan Bisma menganga terkejut dan saling pandang. Mereka yang mendengarnya saja terkejut bahwa akan ada rumor mengenai Alexa. Bahkan Alexa disebut - sebut sebagai p3lacur. [ ]

1
Irnawati Asnawi
😍😍😍
Irnawati Asnawi
setiven yang ngomong aku yang dek dekan, 😍😍😍
Vermilion Indiee: Wkwk... aku juga🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!