Caramel Willem, cucu mafia terbesar di dunia mengalami transmigrasi ke dalam buku novel.
Ding!
"Selamat datang di dunia paralel, saya sistem 014 akan menemani perjalanan anda."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Culik
"Lo gila, kenapa malah ke tempat judi hah?!!." Bisik Erlangga kesal.
"Santai aja kali, disini bukan cuma boxing yang di jadiin judi tapi banyak lainnya juga. Rata-rata anak sekolah yang main, jadi santai aja." Ucap Kevin.
"Gue mau balik." Erlangga berniat pulang.
"Ah ngga asik banget sih, ga usah sok polos. Lo ngga mungkin baru pertama kali ke sini kan?." Ujar Kevin.
"Lo mau gue mati kalo sampe ketahuan ke tempat kaya gini?!! Gue pikir lo mau ngajak gue nongkrong." Ucap Erlangga marah.
"Ya ini kan juga nongkrong, lagian lo cuma tinggal duduk makan sambil liat hasilnya. Kalo menang kan kita untung banyak, enjoy aja." Ucap Kevin.
"Ngga, gue ngga bisa di tempat kaya gini." Erlangga kukuh ingin pergi.
"Oke, lo pasti bosen kalo liat dari layar kan? gimana kalo nonton langsung di lokasi?." Ucap Kevin, menatap penuh arti.
"Ngga, gue bisa di marahin kalo ketahuan ke tempat kaya gini." Erlangga sudah panik sekarang.
"Lagian mereka ngga akan tau, lo kan pergi nya sama gue jadi ngga akan ada yang lapor." Ucap Kevin.
"Lo ga takut di ringkus polisi?." Tanya Erlangga heran.
"Hah? polisi, mereka ngga akan tau gue kesini kan gue pesen paket VIP." Ucap Kevin, terlihat polos.
sraatttttt
"Lo ngga mungkin ngga sadar di sini ada enam cctv kan? bahkan ada obat tidur di minuman kita." Bisik Erlangga, menarik kerah seragam Kevin yang tolol.
"A-apa?." Sepertinya Kevin memang tidak tau.
"Sejak awal gerak gerik lo emang di pantau orang, gue ngga tau mereka siapa tapi yang jelas bukan orang baik. Mereka bisa pake rekaman ini buat ngancem lo." Geram Erlangga.
"CK... apa sih, lagian rekaman orang duduk sambil makan salahnya dimana? ngga usah lebay, norak banget sih." Kevin menepis tangan Erlangga, dia jadi ikut sensi.
"Oke kalo lo gamau dengerin gue, gue cabut." Erlangga memutuskan keluar sendiri.
Kevin diam saja, tidak menahan lagi karena dia jadi kesal. Padahal niatnya hanya ingin mencari hiburan, tapi dia salah mengajak partner. Kevin kembali duduk dan minum minuman yang ada diatas meja, baru beberapa tegukan dia merasa pandangannya blur dan dia terlambat untuk sadar.
Di sisi Erlangga, dia berlari cepat turun tangga dan hendak keluar dari tempat judi ini. Tapi sayangnya sekumpulan anak sekolah sudah menghadang nya, mereka membawa senjata entah balok kayu atau besi.
"Sialan." Batin Erlangga, dia terkepung.
"Bener dia yang harus di hajar?." Ujar salah satu dari mereka.
"Yoi, dia temen si anak konglomerat itu. Cepet hajar, imbalan kali ini lebih gede dari biasa nya." Ucap mereka berlari mengkroyok Erlangga.
"Brengsek." Erlangga bersiap kuda-kuda, dia tidak yakin bisa menang tapi dia tidak mungkin diam saja.
Bugh
Bugh
Duaghh
Krakkk
Bugh
Perkelahian terjadi di lantai dua, banyak orang yang terjatuh dari tangga. Erlangga di keroyok dari segala sisi, dia tentu saja mendapatkan Bogeman di mana-mana tapi dia tetap berusaha bertahan dan menyerang balik sekuat tenaga.
"Wah sialan, kuat juga lo." Ucap ketua dari preman bayaran itu.
"Gue ngga ada sangkut paut nya sama siapa-siapa, minggir." Ucap Erlangga.
"Pftt Haahhahahaha, jadi lo milih kabur ninggalin tuh anak orang kaya? kasian juga dia di khianati temen sendiri." Ujarnya.
Erlangga hanya diam saja, dia justru sangat marah pada Kevin yang sudah membawanya ke tempat seperti ini. Sekarang dia mendapatkan serangan padahal dia tidak salah apa-apa.
"Kalo tau bakal jadi gini, gue ga bakal mau bolos bareng dia." Batin Erlangga.
Wajar Erlangga kecewa, dia baru saja kenal Kevin kemarin. Saat berusaha percaya untuk berteman, dia malah di bawa ke tempat seperti ini. Siapa yang tidak kecewa, mereka bukan teman dekat dan belum ada ikatan loyalitas yang terbentuk.
Erlangga berusaha mundur dan mencari celah keluar, dia berhasil kabur dan bersembunyi di sebuah ruangan gelap. Dia diam di samping tumpukan kardus, mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Arga tapi sialnya tidak ada jaringan.
"Sudah tertangkap bos, tapi yang satu kabur." Suara seseorang terdengar, sepertinya dari ruangan sebelah.
"Biarkan saja, yang terpenting kartu sudah ada di tangan kita. Cepat hubungi orang itu, katakan jika dia tidak mau memberikan apa yang kita minta maka anak itu kita habisi." Suara pria tua terdengar.
Deg.. Deg.. Deg
Jantung Erlangga berdetak begitu cepat, dia baru berusia 15 tahun tapi harus menghadapi situasi kriminal seperti ini. Apa Kevin sedang di culik untuk keperluan pribadi atau memang ini sisi gelap dunia bisnis?.
ceklak
brukkkk
"ughh."
Erlangga menahan nafas saat tiba-tiba pintu terbuka dan seseorang melempar sesuatu dengan kasar. Setelah pintu kembali terkunci, Erlangga merasakan pergerakan.
"Ini.. orang?." Batin Erlangga.
Erlangga mengendap dengan hati-hati, setelah itu membuka penutup hitam yang membungkus kepala seseorang. Begitu di buka, Erlangga melotot terkejut karena itu adalah Kevin.
"mmmphhh... mpphhh." Kevin meronta saat melihat Erlangga di sana.
"Ssttttt diem goblok." Erlangga takut ada orang datang.
puaahhh
Erlangga membantu melepas lakban yang menutup mulut Kevin. Lalu berusaha keras membuka simpul ikatan tangan dan kaki, Kevin terlihat pucat sepertinya ini juga pertama kalinya dia di culik.
"Kan gue udah bilang kalo lo di intai, kenapa lo bebal banget sih." Bisik Erlangga, masih kesal.
"Sorry." Kevin hanya bisa menunduk menyesal.
Erlangga hanya membuang nafas kasar, dia berdiri dan mengintip ke luar. Dia akan kabur bagaimana pun caranya, dia tidak bisa hanya menunggu pertolongan.
"Woi, lo mau di sini atau nekad lari bareng gue?." Ucap Erlangga.
"Lo serius?." Kevin terkejut, menatap Erlangga yang masih begitu berani di situasi seperti ini.
Erlangga hanya mengangguk, Kevin akhirnya setuju dan begitu Erlangga mendobrak pintu keduanya berlari keluar dengan cepat.
DOR
DOR
DOR
Suara tembakan dan teriakan orang mengejar mereka, adrenalin terpacu dengan cepat bahkan mereka merasa kaki mereka sangat berat untuk berlari.
Sayangnya mereka berlari ke sebuah jalan buntu, ada satu pintu tapi terkunci rapat. Erlangga dan Kevin mendobrak pintu itu bersama sekuat tenaga, karena situasi genting membuat keduanya jadi punya tenaga dalam yang sangat kuat.
BRAKKKK
Pintu terbuka, ternyata itu menuju tangga darurat yang terhubung dengan mall besar. Tanpa pikir panjang mereka langsung naik ke tangga menuju ke mall. Pakaian mereka acak-acakan, penuh debu dan nafas mereka ngos-ngosan.
Para pengunjung mall keheranan melihat mereka, tapi keduanya tidak peduli dan memilih mencari tempat duduk aman untuk beristirahat sementara.
Erlangga membuka ponselnya, sayangnya layarnya pecah dan ponsel nya mati total. Sedangkan Ponsel Kevin sudah di rampas oleh mereka sejak di culik tadi.
"Ah sialan, gimana sekarang? minta tolong orang lain juga mereka ga bakal percaya. Bahkan bisa jadi ada antek-antek mereka yang jaga di sekitar sini." Ujar Erlangga frustasi.
"Ketemu."
Deg.
aneh ga sih 🤔🤔🤔