Syra Aliyah Farhana, seorang gadis kota yang hidup bebas dengan deru mesin motor, mendapati dunianya jungkir balik saat dipaksa "mondok" dan dijodohkan dengan putra mahkota Pesantren Al-Fathan. Ia datang dengan jaket denim robek dan knalpot bising, siap untuk memberontak.
Namun, ia harus berhadapan dengan Arkanza Farras Zavian, Gus muda yang berwibawa, dingin, dan tak mudah goyah oleh gertakan. Di tengah aroma kopi dan lantunan kitab kuning, Syra terjebak dalam perjanjian yang merampas fasilitas mewahnya. Di balik tembok pesantren, ia tidak hanya harus berhadapan dengan aturan yang mencekik, tapi juga rahasia hati, kecemburuan, dan masa lalu yang mengejarnya dari Jakarta.
Ini bukan sekadar tentang perjodohan, tapi tentang perjalanan mencari arah pulang di tempat yang Syra sebut sebagai "Neraka Suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi balas dendam sang alpha wanita
Syra menutup pintu kamarnya rapat-rapat, menguncinya dengan gerakan ganda. Di luar, suara derap langkah para pengurus pesantren dan bisik-bisik yang menghakimi masih terdengar, tapi bagi Syra, suara-suara itu hanyalah gangguan frekuensi. Ia tidak punya waktu untuk menangis atau meratapi nasib. Jika Arkanza memilih untuk diam dan menelan fitnah itu demi menjaga kehormatan Syra, maka Syra akan memilih untuk menjadi "monster" yang membongkar sarang ular tersebut.
Ia menarik koper hitamnya dari kolong tempat tidur, mengeluarkan sebuah laptop dengan spesifikasi tinggi yang selama ini ia gunakan untuk mendesain anatomi mesin dan memetakan sirkuit balap. Ia menyalakan mesin itu, dan cahaya biru dari layar menyinari wajahnya yang keras.
"Gue emang buta huruf hijaiyah, tapi soal jejak digital, lo salah lawan, Sabrina," desisnya.
Ia segera menghubungi Nabila Khairina melalui jalur komunikasi terenkripsi.
"Nab, gue nggak butuh simpati lo sekarang. Gue butuh jari-jari lo di atas keyboard. Akses cloud penyimpanan CCTV area gerbang belakang pesantren Al-Fathan. Gue tau sistemnya kuno, mereka pake password standar tanggal berdirinya yayasan. Cek rekaman antara jam sepuluh sampai jam dua belas malam ini," perintah Syra tanpa basa-basi.
"Gila lo, Syra! Itu akses privat! Kalau ketahuan, lo bisa dideportasi dari sana!" suara Nabila terdengar panik dari seberang telepon.
"Gue udah dianggap 'sampah' di sini, Nab. Nggak ada ruginya buat gue. Buruan! Gue butuh plat nomor mobil yang dipake Fariz!"
Sambil menunggu Nabila, Syra tidak tinggal diam. Ia melakukan tracking pada akun-akun anonim yang pertama kali menyebarkan video Arkanza di grup ustadz. Syra tahu pola Fariz; pria itu licik tapi malas. Dia pasti menggunakan jasa "orang dalam" untuk menyebarkan file tersebut. Syra melacak alamat IP pengirim pertama dan memetakan lokasinya. Titik merah muncul di layar, berkedip tepat di koordinat dhalem—kediaman utama Kyai.
"Di dalam rumah sendiri..." gumam Syra, matanya menyipit. "Lo bener-bener uler ya, Ning."
Tak lama kemudian, Nabila mengirimkan sebuah file berukuran besar. Syra membukanya dengan cepat. Di sana terlihat rekaman hitam putih yang agak pecah, namun cukup jelas untuk memperlihatkan sebuah mobil SUV hitam berhenti di semak-semak belakang gudang. Dan yang paling mengejutkan adalah detik ke-45: seorang wanita dengan mukena panjang dan cadar keluar dari pintu rahasia gudang, menyerahkan sebuah benda kecil—sebuah kunci—kepada Fariz Haidar.
Syra melakukan zoom-in maksimal pada tangan wanita itu. Meski wajahnya tertutup, ada satu detail yang tidak bisa dibohongi: sebuah jam tangan Rose Gold mungil bermerek terkenal yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Itu jam tangan yang sama yang dipakai Sabrina saat menyindir Syra di dapur tadi pagi.
"Ketangkap lo," Syra menyeringai, sebuah senyum predator yang haus akan keadilan.
Namun, Syra butuh satu bukti pamungkas agar para Kyai sepuh tidak bisa mengelak. Ia masuk ke dalam database mutasi rekening yayasan pesantren—sebuah tindakan yang sangat berisiko tinggi. Dengan kemampuan hacking dasarnya, ia mencari aliran dana keluar yang mencurigakan dalam 24 jam terakhir.
Ditemukan: Transfer sebesar lima puluh juta rupiah ke nomor rekening atas nama 'Fariz Haidar'. Keterangannya disamarkan sebagai "Sumbangan Pembangunan Sumur", tapi nomor referensinya terhubung langsung dengan otorisasi akun pribadi Sabrina Dhikra Alya.
Syra segera memindahkan semua data itu ke dalam flashdisk dan menyusunnya menjadi sebuah presentasi singkat yang mematikan. Ia memeriksa jam di dinding; sidang Dewan Masyayikh sudah berjalan tiga puluh menit. Arkanza mungkin sedang berada di titik terendahnya sekarang.
Syra berdiri, mengenakan jaket denimnya kembali, membiarkan rambut cokelatnya tergerai berantakan namun sorot matanya tajam seperti elang. Ia tidak lagi peduli pada aturan "sopan santun" yang selama ini mengekangnya.
"Arkanza udah pasang badan buat gue di depan Fariz. Sekarang giliran gue yang pasang badan buat dia di depan seluruh pesantren," ucapnya mantap.
Ia melangkah keluar, menabrak bahu beberapa santriwati yang mencoba menghalangi jalannya. Syra berjalan menuju ruang sidang utama dengan langkah yang menghentak lantai marmer dhalem, membawa "bom" digital yang akan meledakkan topeng kesalehan semu yang selama ini menyudutkan prianya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...