Kaniya, seorang wanita muda yang berani, menolak perjodohan yang diatur oleh orang tuanya. Dia kabur dari rumah dan mencari perlindungan di perusahaan tempatnya bekerja. Di sana, dia bertemu dengan atasannya, Agashtya, yang juga kabur dari perjodohan orang tua. Mereka berdua bekerjasama untuk menjaga rahasia masing-masing, tapi suatu malam, mereka tak sengaja tidur bersama.
Beberapa bulan kemudian, mereka berdua terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang dijodohkan oleh orang tua mereka tak lain adalah mereka sendiri. Kaniya dan Agashtya harus menghadapi kenyataan bahwa mereka telah jatuh cinta, tapi adakah kesempatan bagi mereka untuk bersama? Dan apa yang terjadi ketika adik mereka, Bintang dan Shanaya, juga saling jatuh cinta satu sama lain?
Kaniya dan Agashtya duduk di ruang kantor, mencoba memahami situasi mereka.
"Apa bapak percaya ini?" tanya Kaniya, suaranya hampir tidak terdengar
Agashtya menggelakkan kepalanya. "Saya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Aku tidak pernah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meeting
Pukul 15.00. Ruang Meeting Lantai 19. Ruangan kaca itu dingin, tapi tegang. Di layar proyektor, poster film “Cinta Tak Salah Takdir” terpampang besar.
Agashtya berdiri di depan, jasnya sudah dilepas, lengan kemeja digulung sedikit. Di meja sebelahnya, Kaniya duduk sebagai Produser Eksekutif, buku catatan terbuka lebar. Di seberang mereka duduk, Melani sebagai Head of Marketing, Shalsabila di ujung meja dengan laptop, dan 4 kepala divisi lain.
“Deadline premiere kita 2 bulan lagi,” suara Agashtya tegas, pointernya menunjuk ke timeline
"Post pro udah 80%. Masalahnya di promosi. Mel, saya butuh lo all out. Ini film personal saya. Tentang perjalanan cinta sejati, tentang keluarga, tentang anak dan tentang perjodohan...”
Melani tersenyum, tapi matanya tidak sampai.
“Tenang, Pak Agas. Udah saya siapin campaign 360. Premiere di XXI, gala di peluncuran film ini juga. Influencer, media, semua jalan. Apalagi…ada berita tunangan kalian. Engagementnya pasti naik...”
Kaniya yang dari tadi hanya diam, akhirnya m embuka suara.
“Aku nggak mau pertunangan kami dijadiin gimmick, Mel Promosi boleh, tapi batasnya jelas...”
“Ya ampun, Kaniya,” Melani tertawa kecil, nada manisnya patah
“Namanya juga personal branding. Film tentang keluarga, sutradaranya calon suami kamu. Pas banget kan?”
“Sudah,” Agashtya mengetuk meja pelan
“Melani, fokus ke kerjaan kamu. Kaniya, kamu istirahat dulu. Rapat cukup sampai sini. Shalsabila, tolong ringkasan notulen kirim ke email saya dalam waktu maksimal jam 5...”
Shalsabila mengangguk cepat. “Siap, Pak...”
Meeting bubar. Melani keluar paling akhir, sengaja menyenggol bahu Shalsabila. Bisiknya hanya dua kata: “Lobby. Nanti...”
...****************...
*Pukul 16.30 wib, Lobby Kantor.*
Lobby kantor sudah mulai lengang. Karyawan pulang pada gelombang pertama. Lampu kristal di atas plafon memantulkan cahaya jingga ke lantai marmer, tapi bagi Shalsabila, semua terasa dingin atmosfer bumi dan diruangan itu.
Ia berdiri kaku di dekat pilar, kotak berbungkus hitam di tangannya. Isinya ia tak tahu. Sherly hanya bilang pas meeting bubar melalui chat whatsapp, “Titip ini ke meja resepsionis. Bilang buat Kaniya. Pakai nama Melani. Jangan sampai Agashtya lihat loe. Ini bagian dari ‘campaign’ kita...”
Jemarinya membeku. Kotak pertama tadi sudah dibuang Agashtya tanpa dibuka. Yang ini…kalau sampai ketahuan, tamat riwayatnya.
“Shal?”
Suara itu membuat bahunya naik. Kaniya. Berdiri lima langkah darinya, menggandeng lengan Agashtya. Keduanya baru selesai beres-beres pasca meeting, siap untuk pulang. Mata Kaniya menatap kotak di tangan Shalsabila, lalu ke wajah Shalsabila yang pucat.
Agashtya ikut menoleh. Seketika rahangnya mengeras.
“Kamu ngapain di sini? Bukannya saya suruh kirim notulen buat nanti jam 5?”
Shalsabila panik. Otaknya ngeblank. “Sa…saya… mau ke…”
“Ke mana?” Agashtya melangkah maju, tubuhnya otomatis melindungi Kaniya di belakangnya
“Ngapain bawa kotak? Buat siapa?”
Melani muncul dari balik pintu putar, heelsnya berdetak cepat. Senyumnya manis, tapi matanya tajam.
“Eh, ada calon pengantin. Kok udah pulang? Bukannya lagi bahas _storyboard_ film di ruangan?”
Kaniya refleks merapat ke Agashtya.
“Ada perlu apa, Sher? Tadi di meeting udah jelas semua...”
“Nggak ada,” Melani angkat bahu, lalu melirik ke Shalsabila
“Cuma nyuruh anak baru gue beresin titipan. Oh iya, Shal, kotaknya mana? Yang tadi gue kasih...”
Shalsabila menunduk. Tangannya gemetar menyodorkan kotak itu ke Melani. Melani merima dengan senyum kemenangan, lalu sengaja mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Ini nih, kue lapis legit. Buatan chef langganan. Spesial buat kalian. Masa film tentang keluarga rilis, calon pengantinnya nggak dirayain?”
Agashtya maju selangkah. “Gue udah bilang ke Alex. Loe mau ngasih apa-apa, ngomong langsung ke gue. Nggak usah pake drama. Nggak usah bawa-bawa film gue...”
“Drama?” Melani ketawa kecil
“Gue cuma mau baik, Mas Agas. Kaniya, lo hamil kan? Harusnya makan yang enak-enak. Nih, gue kasih langsung. Anggep aja dukungan buat Cinta Tak Salah Takdir...” Ia menyodorkan kotak itu ke Kaniya
Kaniya terdiam. Ia menatap Melani lekat. Lalu ke Shalsabila yang mukanya sudah seperti mayat. Instingnya menjerit. "Campaign apaan lagi ini?"
“Makasih, Mel, ” jawab Kaniya akhirnya, suaranya datar. Tapi ia tak menerima kotak itu
“Tapi aku lagi mual. Nggak bisa makan yang manis-manis. Simpen aja buat loe. Atau buat tim promosi aja...”
Melani menahan senyumnya. “Yakin? Sayang banget lho. Mahal. Sama kayak budget marketing film kalian..."
“Yakin,” potong Agashtya. Ia narik Kaniya, dengan rangkulannya erat
“Dan Shal,” matanya kini ke Shalsabila
“Kamu masih baru di divisi saya kan? Besok ke ruangan saya jam 8 pagi. Kita bahas notulen. Sama bahas kamu kenapa ada di sini bawa kotak nggak jelas...”
Wajah Shalsabila makin pucat. Melani meliriknya tajam, kode: "Tutup mulut loe!"
“Udah ya,” Agashtya menggandeng Kaniya melewati mereka
“Minggir, Mel. Bau parfum loe bikin calon anak gue pusing. Dan jangan bawa-bawa film gue buat main kotor...”
Melani terdiam, kukunya menancap ke kotak kue sampai penyok. Begitu Agashtya dan Kaniya masuk ke lift, senyumnya luruh. Ia noleh ke Shalsabila, bisiknya beracun.
“Loe buka mulut soal ini, gue yang pertama bunuh loe. Ngerti? Film boleh gagal, tapi loe duluan yang pertama...”
Shalsabila mengangguk, air mata menetes tanpa suara.
...****************...
Di dalam lift, hanya ada mereka berdua. Kaniya bersandar di dada Agashtya, napasnya berat.
“Mas,” bisiknya
“Tadi itu…soal film?”
“Aku tahu,” Agashtya mengecup puncak kepala Kaniya lembut
“Makanya aku suruh Shalsabila ke ruangan aku besok. Kalau dia masih punya hati, dia bakal ngomong. Film ku nggak butuh darah buat promosi...”
“Tapi kalau dia nggak?” Kaniya mendongak, cemas
“Melani nggak bakal berhenti, Mas. Dia bisa hancurin film kamu...”
Agashtya menangkup wajah Kaniya, jempolnya ngusap pipi Kaniya yang dingin.
“Biarin film aku hancur. Asal kamu sama dedek selamat. Makanya kamu harus nurut sama aku. Mulai besok, ke mana-mana sama aku. Makan apa pun aku yang nyicip duluan. Kamu sama dedek, tugasnya cuma sehat. Perang biar Papa yang urus. Film bisa bikin lagi. Nyawa kalian nggak...”
Lift terbuka di basement. Mobil sudah menunggu. Sebelum masuk, Kaniya menengok ke atas, ke lantai 19. Di sana, Shalsabila masih berdiri di lobby, kotak kue penyok di tangan, di samping Melani yang matanya nyala penuh amarah.
Kaniya mengelus perutnya.
“Kuat ya, Nak. Film Papa tentang keluarga. Dan keluarga kita harus selamat dulu biar filmnya tayang...”
Agashtya membuka pintu mobil, melindungi kepala Kaniya supaya tidak terbentur.
“Pasti tayang, Sayang. Karena endingnya harus happy. Aku sendiri yang nulis skenarionya...”
Mobil melaju, meninggalkan Melani yang meremas kotak kue sampai hancur, dan Shalsabila yang tahu, besok jam 8 pagi dia harus memilih: jujur ke Agashtya, atau mati bareng Melani dibawah tekanan Sherly.
Bersambooo... 🙏🌹🌺💃
btw thor belum mau tamat kan yh? kok kyk bau2 mau ending gituh?