Cerita tentang Najma, gadis 24 tahun yang sedang mengusahakan hidupnya untuk jadi semenarik mungkin. Tapi, bayang-bayang masa lalu dari cowok di masa kuliahnya, serta persahabatan yang kandas karena cinta segitiga buat Najma harus menghindar dari segalanya. Tanpa Najma sadari, ada cowo aneh yang ngejar Najma dan buat hidupnya jadi tarik-menarik beneran
Najma dan Fedi yang Menggenggam Tangannya
Aku harap hari ini lebih baik dari kemarin. Aku harap, email yang kukirimkan kemarin untuk kubaca hari ini dapat menjadi obat penguat yang membuatku jadi kuat sesegera mungkin. Aku siap, aku siap menghadapi apapun yang menentangku hari ini. Bahkan jika Vanya datang dan menyerangku dengan samurai, akan kuhadang dan kutebas hingga ia yang mati di tempat. Aku tak peduli.
Meeting koordinasi terakhir sebelum event roadshow dimulai di kota pertama, aku dan timku bersama para klien yang bertanggung jawab sudah selesai dilaksanakan. Baru saja aku keluar dari ruangan meeting, Fedi sudah menungguku dan mengerlingkan matanya ke arahku sehingga semua orang di sekitaku pun dapat menyaksikannya.
“Makan siang, yuk! Hari ini gue yang traktir.”
“Mm, tapi kayaknya masih mau ngobrol sama mbak Esya deh.” Jawabku sambil melirik ke arah Mbak Esya yang menonton kami berdua.
Fedi menghampiriku dan mengambil tanganku untuk ia masukkan ke saku mantelnya yang tipis. Aku tak tahu apa yang sedang ia coba lakukan di depan teman-teman kantornya.
“Kalian pacaran?” tanya Mbak Esya yang terkejut dengan pemandangan kemesraan kami.
“Iya, Mbak. Cantik kan pacar gue? Hehe.” Jawabnya lalu mengajakku pergi begitu saja, namun berbalik dengan segera, “Mbak, lo meeting sama timnya aja ya. Gue perlu Najma sekarang. Okay? Bye!”
Aku melihat ke arah mereka dan kulihat mereka semua hanya melambaikan tangan secara perlahan ke arahku.
Termasuk Vanya yang hanya bisa memandangi kami tanpa berkata apapun.
Ternyata Fedi yang semena-mena tidak hanya eksis di kampus saja, tapi di setiap lingkungan yang ia pijaki.
**
“Kita bisa nggak sih makan di tempat lain?”
“Emang kenapa? Kan hari ini gue yang traktir.”
“Tapi, gue nggak suka makanan Perancis!”
Fedi hanya tersenyum padaku dan memanggil pelayan untuk meminta menu. Aku benar-benar tak tahu bahwa restoran semewah ini ada di gedung perkantoran dan menjadi tempat rutin para karyawan Sambung untuk makan siang dan lainnya. Luar biasa.
“Najma. Lo merasa baikan, kan?”
“Yeaaaa.”
Fedi merengut sebal atas jawabanku yang terlihat meniru kebiasaanya. Aku tertawa kecil dan memperhatikannya sibuk menata pisau dan garpu yang banyak sekali di samping kedua tangannya.
“Jadi kapan mau roadshow untuk AMD?”
“Besok gue berangkat. Acaranya sih lusa.”
“Berapa hari jadinya?
“Tiga hari. Tapi sepertinya gue akan extend, berhubung acaranya di kampus gue yang dulu. Mau nostalgia.”
“Termasuk nostalgia masa lalu lo itu?”
Aku menoleh dan memonyongkan bibirku padanya, ia membalas dengan mimik muka yang sama.
“Kenapa lo bilang kita pacaran ke orang-orang?”
“Emang kita nggak pacaran?”
Mukaku langsung memerah. Sejak kapan ia memintaku menjadi pacarnya?
“Gue nggak pernah tahu kalau lo begitu frontal bilang sama semua orang kalau gue pacar lo!”
“Sayang, lo pacar gue. Jadi, semua kata-kata Vanya di Facebook akan salah total karena jelas gue bukan pacar orang lain selain lo.”
Oh, jadi itu? Fedi mau melindungiku.
“Gue tahu pacar gue adalah cewek terkuat di muka bumi. Satu dari sejuta. Jadi, gue nggak akan khawatir bahwa lo akan jatuh kemakan umpan Vanya. Gue tahu lo cewek idaman semua orang. Lo pasti bisa melakukan pekerjaan lo dengan baik.”
“Le to the bay. LEBE.”
“Please use a proper bahasa. I don’t get it.”
Aku menghela nafas dan kucoba makan French fries yang menjadi satu-satunya makanan favoritku di restoran berbau paris ini.
“Kalau Vanya macam-macam lagi sama lo, kabarin gue ya. Please, I beg you.”
“Katanya gue cewek kuat?”
Fedi tak menjawab, ia hanya memelototiku sambil menyuap sendok demi sendok risotto yang paling kubenci.
“Iya, Fedi. Gue akan berusaha menghubungi lo jika ada apa-apa. Tapi, semoga jangan deh. Lama-lama gue capek harus menghadapi cewek kayak dia.”
“Lo baru beberapa bulan. Gue? Sudah lima tahun!”
“Sabar, ya.” Ungkapku kepadanya. Aku benar-benar iba pada Fedi.
Kami pun selesai makan dan hendak keluar restoran untuk segera pulang ke kantor masing-masing. Tapi sepertinya harus berhenti sejenak karena Vanya sudah menunggu kami berdua di pintu masuk restoran.
“Hai, you two.”
“Ngapain di sini?” tanya Fedi sebal.
“Gue lewat aja, habis makan di foodcourt.” Jawabnya dengan tatapan ramah kepadaku. Tak ada yang mengira bahwa ia sudah melakukan hal menjijikkan kemarin sampai aku tak bisa memaafkannya.
“Kenapa, Najma? Ada yang mau lo omongin ke gue?” tanyanya penasaran dengan membalas tatapanku yang ingin sekali membunuhnya.
“Seperti yang gue bilang sama lo kemarin, Vanya, jangan pernah ganggu Najma lagi. Understand?”
“Gue nggak pernah gangguin dia kok, emang ada bukti?”
“Ada. Bukannya Fedi udah dapat tersangkanya?” seruku. Tampak panik Vanya di depanku, tapi ia berhasil menyembunyikannya.
“Hello, gue kan udah bilang sama lo, Fedi, gue nggak tahu. Gue nggak kenal. Come on. Dia cuma ngarang cerita.”
“Vanya, please, jangan ganggu pacar gue. Okay?”
“Lo berdua beneran pacaran? Becanda, kan? Ayolah! It’s not funny anymore.”
“Nggak, Najma adalah pacar gue, dan kita serius. So, jauh-jauh. Okay?” Ujarnya sambil menunjukkan genggaman tangan kami.
Kami pun pergi meninggalkan Vanya. Aku mencoba menoleh ke belakang dan mengecek keadaan Vanya yang masih terpaku di pintu restoran. Kulihat matanya memerah dan keluarlah api yang membara sedang membakar seluruh tubuhnya.
Gawat, ia pasti akan sangat liar sekarang.
**
Aku dan seluruh tim AMD sudah sampai kota pertama dan bersiap untuk menyelesaikan semua urusan hingga bisa kupastikan bahwa kami akan sangat sibuk hingga aku akan lupa makan malam dan mencuci rambut sekhidmat biasanya.
“Mbak Naj, kamu udah revisi rundown-nya, kan?”
Aku mengangguk cepat menjawab pertanyaan ke lima belas kalinya Icana hari ini. Karena ia begitu gugup akan event besar pertamanya, ia terus bertanya padaku tentang hal yang sudah kujawab sedari kemarin.
“Ca, gue udah email revisinya tiga puluh menit yang lalu. Coba cek dulu, deh.”
“Oh, iya-iya.” Serunya terkekeh karena paham bahwa aku sudah mulai jengkel padanya.
Hari ini akan ada meeting lanjutan di ruang konferensi untuk membahas agenda acara secara menyeluruh bersama para klien, termasuk Vanya. Kemarin aku sudah merasa cukup tenang tanpa kehadirannya karena ia lebih fokus pada urusan distribusi produk yang akan dibawa ke lokasi kampus hari ini. Tapi, tampaknya hari ini aku harus sangat menahan diri untuk tidak melakukan apapun yang dapat menimbulkan permasalahan baru dengannya, tak peduli jika ia memancing pertengkaran karena melihatku tampak menghiraukan segala terorisme dan perlakuannya yang sungguh bejat itu.
Melihat Vanya, aku jadi bersyukur bahwa aku tidak dilahirkan secantik dia.
“Hai, Fedi.” Seruku sambil menaruh menyelipkan ponselku di antara telinga dan pundakku karena tanganku banyak distraksi.
“Sibuk?”
“Banget! Gue harus meeting ke bawah sekarang. Nanti gue telepon lo lagi, ya?”
“Fine. Janji, ya?”
“Okay.”
Percakapan paling singkat di dunia. Aku mengecek ponselku yang berbunyi aneh yang menandakan baterai sudah lima persen. Aku memasukkan ponselku ke tas dan bergegas ke ruang konferensi dengan setengah berlari. Icana terus mengangkat telepon yang tak henti berdering di ponselnya karena semua klien sudah menunggu kami.
**
Sudah di dalam ruang konferensi.
Aku tersenyum dan meminta maaf karena terlambat datang, namun kulihat sekeliling bahwa Vanya belum ada di tempat. Entah kenapa hal tersebut membuatku lega setengah mati. Aku berdoa agar ia hilang selamanya dan tidak pernah akan menggangguku lagi.
Selagi mengatur layar dan proyektor, aku menggunakan kesempatan untuk mencas ponselku di tempat yang tidak jauh dari tempatku duduk. Aku menuju belakang kursi dan menyolok ponselku yang nyaris mati tak bertenaga. Setelah selesai aku kembali ke kursi dan kujawab setiap pertanyaan klien yang terus memborbardirku tanpa cela. Aku mempersiapkan rundown yang sudah kurevisi dan kujelaskan satu per satu kepada mereka.
“Kita gladi resik jam berapa?”
“Persiapan games sudah di uji coba mulai jam tujuh malam ini, Mbak Esya.” Jawabku.
“Kira-kira berapa lama?” tanyanya lagi kepadaku. Kulirik Mas Isa yang seharusnya lebih mengerti tentang hal yang berbau teknis.
“Maksimal jam sepuluh sudah selesai, Mbak. Kita akan melakukan simulasi sesuai dengan kapasitas grup di setiap lokasi permainan.”
“Okay. Semua hadiah sudah disiapkan, kan? Loh, Vanya mana, ya?”
“Yes, Ma’am. I’m here.” Sahutnya tiba-tiba dari belakangku.
“Kamu sudah pastikan berapa laptop yang available untuk game sauna?”
“Yes! Total laptop yang bisa digunakan ada sepuluh dan semuanya sudah kita pastikan untuk tersambung ke internet…” jawabnya sembari menuju ke depan ruang konferensi, “…Mas Isa, nanti cek wifi denganku, ya?” ujarnya mengerling genit. Tak sadar aku menatap Vanya dengan ekspresi menjijikkan dan kulihat Mas Isa untuk mengantisipasi agar ia tak termakan bualan Vanya yang super palsu itu. Tapi, ternyata aku terlambat. Mas Isa benar-benar kena oleh serangan Vanya.
“Oke, Najma. Semua agenda sudah direvisi sesuai dengan pemeriksaan saya kemarin. Kalau gitu, nanti kita ketemu lagi pada saat gladi resik game, ya?”
“Oke, Mbak.” Sahut semua orang yang ada di ruangan konferensi.
Semua langsung bergegas keluar ruangan. Aku memasukkan laptop dan buku catatanku ke dalam tas dan bersiap ikut berhambur ke luar ruangan sehingga bisa secepatnya menelepon Fedi di kamar hotel. Aku teringat ponsel yang masih kucas di belakang kursi sehingga aku bergegas dari kursi untuk mengambilnya.
Namun, aku terdiam menyaksikan nasib malang ponselku.
Keadaannya sudah mati karena tercelup di dalam gelas bening besar. Aku mengambil ponselku pelan dan mencoba memeriksanya apakah ia masih bisa dinyalakan. Tapi ternyata percuma. Air sudah merembes ke dalam komponen ponsel dan aku sudah tak bisa menolongnya kembali hidup seperti sedia kala. Aku jadi tahu sekarang, kenapa Vanya bisa ada di belakangku barusan. Niatku yang ingin pergi dengan tergesa-gesa gagal total. Aku terduduk lunglai di kursi dan terus menatap ponselku yang gelap gulita karena mati tak berkutik.
“Najma, are you okay?”
Aku menoleh ke sumber suara. Ada Vanya yang berdiri di pintu sedang menatapku iba.
“Handphone gue mati.”
“Teruuus? Lo nggak nyalahin gue, kan?”
Aku bahkan tak bisa merespon apapun yang ia coba katakan padaku. Sudah terlalu lelah untuk membalas semua perlakuannya kepadaku.
“Najma, dengerin gue, ya. Kalau orang normal pada umumnya, pasti nurut setelah dikasih tahu. Tapi, kayaknya lo nggak gitu deh.”
“Orang normal?” tanyaku lagi, lirih dan terus menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Sayangnya, lo nggak bisa gue kasih tahu hanya dengan kata-kata. Orang kayak lo memang harus dikasih pelajaran. Biar kapok.”
Aku berdiri dan menghadapnya, “Ini yang lo lakukan biar gue kapok?”
“Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa gue lakukan kalau lo pengen.”
Aku tersenyum kecil kepadanya, “seorang sosiopat kayak lo pasti seneng ya buat orang lain menderita. Nggak cuma gue, tapi Fedi, dan juga … kakak lo.”
Vanya langsung melotot dan berjalan cepat ke arahku, “sekali lagi, apa yang tadi lo bilang barusan?!”
“Fedi bukan punya lo, Vanya. Dia manusia biasa yang bebas melangkahkan hidupnya ke manapun dia inginkan. Dia bebas menentukan dengan siapa dia ingin berteman, pacaran, atau melakukan apapun yang dia sukai. Dia nggak terikat sama lo. Dia nggak sama dengan kakak lo.”
“Tahu apa lo soal Fedi, Hah?! Gue tahu, semua yang pernah ngedeketin Fedi itu nggak tulus sama dia! Mereka pengen berteman sama Fedi karena Fedi tuh anak orang kaya dan ganteng! Selebihnya, mereka nggak pernah punya niatan untuk berteman sedikitpun!”
Aku mengenyeritkan dahi. Alasan bodoh macam apa ini?!
“Gue hanya berusaha melindungi Fedi. Sebagai sahabat terbaik kakak gue, Fedi nggak boleh salah berteman sama siapapun.”
Ponsel Vanya berdering kencang, namun ia hanya memegangnya dan terus menatapku kesal.
“Jauhin Fedi karena lo nggak layak buat dia.” Ancamnya lagi dengan suara lebih pelan.
“Nggak mau. Gue suka sama dia. Lo mau apa?”
“Mati aja deh, lo.” Ujarnya tepat di depan wajahku. Ia kemudian berbalik dan mengangkat telepon yang terus berbaring. Dan seperti yang bisa kubayangkan, ia kembali menjadi Vanya yang ceria dan menjawab semua ucapan di balik telepon itu dengan lancar hingga suaranya menghilang dari pendengaranku. Aku menatap langit-langit agar air mataku tak jatuh saat ini karena aku tak mau siapapun mengetahui apa yang sudah terjadi antara aku dan Vanya.
Bahkan, aku tak tahu harus bagaimana sekarang. Janjiku pada Fedi untuk segera meneleponnya, aku ragu apakah aku bisa menepatinya.
**