“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KI 11
Miranda mengatur napas setelah keluar dari Pasar Kramat Jati. Dadanya naik turun, paru-parunya terasa perih, dan keringat membasahi pelipisnya.
“Astaga… bisa-bisanya aku berakting jadi orang gila,” gumamnya lirih.
Ia duduk di tepi trotoar, tepat di dekat sebuah cermin cekung yang menempel di tiang besi. Pantulan dirinya tampak menyedihkan. Baju daster kusam yang warnanya sudah pudar, rambut tertutup jilbab lusuh, wajah tanpa bedak dengan mata sayu dan bibir kering.
“Pantas saja aku disangka orang gila,” gumam Miranda getir.
Ia meluruskan kaki, mencoba menenangkan diri. Namun dunia hari itu seolah sengaja mempermainkannya. Tiba-tiba beberapa orang berpakaian lusuh berlarian melewati jalanan, wajah mereka panik.
Miranda mengernyitkan dahi.
“Kenapa pada lari?” gumamnya heran.
Seorang remaja laki-laki dengan pakaian kumal dan rambut keriting berhenti tepat di hadapannya. Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun tak beraturan.
“Lari, bego!” hardiknya sambil melirik ke belakang.
Miranda terkejut. “Ada apa, memang?” tanyanya bingung.
“Itu Satpol PP lagi operasi yustisi sama gelandangan,” jawab pemuda itu cepat.
“Yustisi apa?” tanya Miranda sambil menggaruk kepala yang tertutup jilbab.
“Operasi KTP. Kalau lu enggak punya, mending lari. Nanti dipenjara, lo!”
Belum sempat Miranda bertanya lagi, pemuda itu sudah berlari meninggalkannya. Kata penjara menghantam benaknya. Seketika ketakutan merayap di dada Miranda. Ia teringat, dirinya memang tidak memiliki KTP. Tangannya gemetar.
Tanpa berpikir panjang, Miranda ikut berlari bersama para gelandangan.
Para pria berseragam Satpol PP mengejar dari belakang. Di tengah ekonomi yang semakin sulit, jumlah orang gila dan gelandangan terus bertambah. Namun Jakarta harus tetap terlihat indah. Dan mereka yang dianggap mengganggu pemandangan kota harus ditertibkan.
Dada Miranda berdegup kencang saat langkah para petugas semakin mendekat. Tiba-tiba sandalnya putus. Ia tersandung, lalu bangkit dan terus berlari tanpa alas kaki. Panas aspal dan tajamnya kerikil menggores telapak kakinya, namun rasa sakit itu tak terasa. Yang ada hanya ketakutan.
Awalnya para gelandangan berlari bersama. Namun perlahan mereka berpencar. Ada yang tertangkap, ada pula yang berhasil lolos. Karena personel terbatas, pengejaran akhirnya dihentikan.
Miranda berhenti di sudut jalan. Napasnya tersengal, keringat membasahi tubuhnya. Kakinya perih, luka-luka kecil tampak jelas di telapak kaki.
Ia melangkah tertatih, rasa haus mendera tenggorokan. Di depan, sebuah musala tampak dengan gerbang terbuka. Hatinya sedikit lega. Ia berniat beristirahat di rumah ibadah itu.
Namun baru saja hendak duduk, matanya tertumbuk pada sebuah pengumuman. Kertas putih dengan tinta hitam, huruf kapital besar.
“MUSHOLA UNTUK IBADAH, BUKAN UNTUK ISTIRAHAT/TIDURAN.”
Miranda tercekat. Ia mengurungkan niat duduknya.
Di bawah pengumuman larangan itu, tertulis kalimat lain yang terdengar bijaksana.
“HORMATI MASJID DENGAN MENGGUNAKAN PAKAIAN TERBAIK.”
Miranda menatap pantulan dirinya di cermin musala. Daster lusuh, kaki telanjang, wajah kusam.
“Ah… bahkan musala saja menolakku,” ucapnya lirih.
Rasa haus semakin tak tertahankan. Ia berjalan ke arah kran air dan meneguknya. Baru beberapa teguk, tiba-tiba seorang lelaki berkemeja kaus putih berlengan pendek datang sambil memegang sapu.
“Dasar orang gila!” teriaknya keras.
Lelaki itu mengangkat sapu, seolah hendak memukul. “Pergi sana!”
Miranda ketakutan. Ia berlari sekuat tenaga.
“Ya Tuhan… bahkan rumah untuk menyembah-Mu pun mengusirku. Setidak berharganya aku?” ucapnya sambil terus berjalan.
Langkahnya melambat. Ia merogoh saku bajunya. Ada uang lima puluh ribu rupiah, beberapa lembar sepuluh ribu dan lima ribu.
“Lapar sekali aku. Aku mau makan dulu,” gumamnya.
“Tenang, Tuhan. Walau rumah ibadah mengusirku, aku tidak akan bunuh diri. Aku mau makan. Aku hanya berharap tidak ada yang menggangguku.”
Entah itu keluhan atau doa, Miranda sendiri tak tahu.
Di sebuah jalan sepi, seorang lelaki tinggi besar berjalan sempoyongan ke arahnya.
“Hai, gembel,” ucap pria itu dengan nada intimidatif.
Miranda langsung ketakutan. Bau alkohol menyengat dari tubuh lelaki itu. Bau yang sangat ia kenal. Dulu ia sering membersihkan sisa minuman keras ayah mertuanya.
“Serahkan uang kamu,” perintah pria itu.
Dengan tangan gemetar, Miranda memberikan semua uangnya. Begitu uang berpindah tangan, ia langsung berlari tanpa menoleh lagi.
Hingga akhirnya ia tiba di tempat pembuangan sampah. Tumpukan sampah menggunung di hadapannya. Ia duduk lemas.
Namun matanya berbinar saat melihat sepasang sandal jepit. Warnanya berbeda, ukurannya tak sama, mereknya pun tak jelas. Namun kondisinya masih lumayan.
Miranda mengambil sandal itu, lalu memakainya.
“Ah, sudah pantas aku jadi gembel,” gumamnya pahit.
Namun satu hal sudah ia putuskan. Ia tidak akan menyerah. Apalagi bunuh diri. Sepahit apa pun kenyataan, ia akan bertahan.
Rasa lapar kembali mendera. Uangnya sudah habis.
“Tuhan, aku lapar,” gumamnya pelan.
Tak lama kemudian, sebuah mobil katering datang. Mereka membuang sisa-sisa makanan. Miranda menelan ludah hanya dengan melihatnya.
Ia ingin mendekat, namun malu. Ia memang pemalu.
“Aku harus makan,” ucapnya pada diri sendiri.
Dengan langkah ragu, ia menghampiri seorang perempuan bermasker yang sedang membuang makanan.
“Bu, boleh saya minta makanannya?” pinta Miranda lirih.
Perempuan itu tampak ketus. Ia tidak menjawab. Miranda kecewa, merasa diabaikan.
Namun beberapa saat kemudian, perempuan itu kembali membawa sebuah kardus berisi makanan dan air minum.
“Ini, ambil,” ucapnya singkat.
“Kamu masih muda. Punya tangan dan kaki. Gunakan itu untuk bekerja, jangan meminta.”
Kalimat itu terdengar seperti hinaan. Namun bagi Miranda, itu justru cambuk kehidupan. Tekadnya untuk bertahan semakin kuat.
Ia duduk di pojok, memakan makanan sisa itu dengan lahap. Meski rasanya agak basi, rasa lapar mengalahkan segalanya.
Sambil makan, ia menguatkan tekadnya.
“Tuhan, aku tidak akan menyerah. Aku akan menggunakan tangan, kaki, dan kepalaku untuk bertahan hidup.”
Sementara itu, Raka langsung pergi ke Subang. Sepanjang perjalanan, ponselnya terus berdering. Lina tak berhenti menelepon.
Awalnya Raka ingin mengabaikan, namun akhirnya ia mengangkat.
“Ya, ada apa?” tanyanya datar.
“Kamu ketus amat sih,” keluh Lina manja. “Sore ini jadi, kan, kita makan di Lipo?”
“Aku mau ke Subang. Ada masalah. Kita batal saja,” jawab Raka singkat.
“Enggak bisa dong. Aku sudah janji sama Lusi, adik kamu,” rengek Lina.
“Ya sudah, kamu makan saja berdua sama Lusi,” balas Raka.
“Sayang, bagi aku uang dong,” pinta Lina manja.
“Astaga. Kamu ini asisten direktur. Mana mungkin enggak punya uang?”
“Kamu tahu sendiri, kan. Asisten direktur itu cuma namanya saja yang keren. Uang kamu lebih besar, Raka. Lagipula, dengan jabatanku, aku bisa bantu Lusi jadi karyawan tetap nanti.”
Raka terdiam. Jika Lusi bekerja, beban hidupnya akan sedikit berkurang.
“Baiklah. Aku transfer lima ratus ribu,” katanya.
“Ih, pelit banget. Kamu tahu sendiri Lusi kalau sama aku minta jajan terus. Aku lagi enggak ada uang,” rayu Lina. “Tenang saja, aku akan mendidik Lusi jadi wanita karier sepertiku.”
Pikiran Raka sedang kacau. Pesan di grup WhatsApp menunjukkan stok kecap terus menurun. Ia harus fokus.
“Baiklah,” ucap Raka akhirnya. “Aku transfer satu juta. Tapi jangan ganggu aku lagi.”
“Siap, Bos. Aku tunggu transferannya.”
Setelah mentransfer, pikiran Raka justru melayang pada Miranda. Sepuluh tahun menikah, Miranda tak pernah meminta apa pun. Dan jika diberi, ia selalu menjaganya dengan baik.
gemes bgt baca ceeitanya