Elang Erlangga seorang mafia kejam berdarah dingin. Suatu malam Erlangga di kepung oleh para musuhnya di kota Jogja, saat sedang menjalankan sebuah misi untuk mencari ibu nya. Karena kebocoran informasi pada tentang keberadaan nya, dia nyaris mati. Untung nya dia di selamatkan oleh seorang gadis desa baik hati. Tersentuh akan kebaikan dan kelembutan sang gadis desa. membuat Elang ter obsesi untuk bisa memiliki gadis desa tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Meisya masih marah dengan si mbah nya lantaran kejadian semalam. Meisya kasihan pada Dwika yang selalu mendapatkan perilaku kurang baik dari neneknya. Maka dari itu Meisya memutuskan untuk mogok bicara pada si mbah nya. Dan menghindari nya.
Sedangkan Nenek wati pun masih sedih, dengan perkataan Meisya. Sampai-sampai ia termenung sendirian di dekat jendela. Memandang perkebunan rumah yang hijau. Hingga tak terasa airmata nya pun luruh. Kebetulan Elang lewat sehabis dari kamar mandi.
Ia mendekati nenek wati yang tengah bersedih. "Mbah kenapa? Kok nangis, masih kepikiran ya? Sama kata-kata Meisya ?" Tanya Elang sembari menepuk pelan pundak nenek wati yang bergetar.
"Si mbah hanya sedih Le, Meisya itu sedari kecil, tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua nya, Semenjak Meisya memiliki adik, dia sering tersisihkan, mbah yang tak tega melihat dia yang terabaikan. Akhirnya membawanya ke gubuk reyot si mbah ini."
Elang memegang tangan mbah wati yang sudah mulai keriput itu, "mbah tak perlu terlalu sedih, saat ini Meisya sedang du butakan dengan cinta. Suatu saat Meisya pasti menyesalinya, karena tidak mau mendengar nasehat baik dari mbah."
Nenek wati tersebut lembut ke arah Elang, " Makasih yo Le, andai saja orang yang di sukai Meisya itu kamu Le, mbah akan tenang le." Kata Nenek wati sambil menyeka airmata nya.
"Si mbah ini, saya saja, tidak tau keberadaan orang tua saya, bagaimana jika saya juga sana dengan kekasihnya Meisya Mbah. Atau mungkin saya lebih buruk dan miskin dari nya."
Nenek wati tertawa ringan. "Kamu ini, ikutan aja percaya sama kata-kata cowok begajulan itu, Si mbah ini, sebenarnya tidak pernah mempermasalahkan latar belakang, kamu dengar sendiri to, bagaimana pria tak bertanggung jawab itu memperalat Meisya. Dia hanya datang di saat butuh saja. Nanti menghilang dengan alasan berbisnis. Tapi pulang tanpa hasil apa-apa. Menurut mu Le, pria seperti itu, apa kah tidak membuat si mbah hawatir."
Tanpa mereka sadari Meisya mendengar semua percakapan mereka, Meisya berfikir. Mungkin kah dia sudah terlalu keterlaluan semalam hingga tidak sadar, telah menyakiti hati orang yang telah merawatnya sedari kecil, hingga tumbuh sebesar ini, dan mampu untuk mencari uang sendiri. Namun Meisya juga tidak setuju dengan pendapat sang Nenek tentang Dwika. Meisya percaya Dwika bukan pria seperti itu. Neneknya hanya terlalu menyayangi nya dan terlalu hawatir.
*
*
Sore itu Meisya pergi ke mushola dekat rumah nya, untuk pergi mengajar anak-anak kampung belajar membaca Al-Qur'an dan menulis huruf-huruf Hijaiyah. Lantunan ayat-ayat suci yang merdu, dan menenangkan jiwa. Elang menatap wajah Meisya yang serius mengajari setiap anak untuk bisa membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar.
Wajar Meisya yang damai dan teduh seolah mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata Elang, dan tiba-tiba jantung nya berdegup kencang, Ada getaran aneh di dadanya saat melihat Meisya mengajar. Namun Elang segera menepis semua pemikiran itu. Dan meneguhkan hati nya, bahwa semua wanita itu sama. Dia hanya akan menebar kasih sayang palsu. Lalu meninggalkan nya demi kebahagiaan nya sendiri.
Dua orang ibu-ibu sedang berjalan melewati mushola tempat Meisya mengajar. Sedangkan Elang duduk di teras mushola masih memperhatikan Meisya mengajar. Ibu-ibu itu sedang bergosip ria, membicarakan seseorang. Dan pembicaraan Kedu orang itu mengusik ketenangan Elang. Karena seperti nya Kedua orang itu, tengah membicarakan orang yang sedang Elang cari.
"Si Nilam itu kasihan sekali sekarang ya?" kata ibu A.
"Kenapa harus kasihan sih Bu, dulu saja sok-sokan gara-gara punya suami orang china, sekarang saja dia di buang begitu saja sama pria kaya dari China itu." Jawab si ibu B.
"Owalah, Suaminya dulu kaya to? Kok sekarang cuma jadi buruh pabrik sih?
"Eh, namanya juga hidup, ndak selama nya to, kita ini di atas. Buar ndak bisa sombong lagi itu si Nilam. Julit ibu B. Mereka berlalu begitu saja sambil terus meng-Gibah.
Sedangkan tangan Elang terkepal kuat. Sebenarnya Elang tak terima mereka membicarakan sang mommy seperti itu. Di buang? Bukan kah mommy nya yang kabur dengan selingkuhannya dan tega meninggalkan mereka, lalu kenapa sekarang hidup nya menderita? Apakah ini karma? Atau ada hal yang lain, yang mungkin tidak Ia ketahui. Pikir Elang.
Meisya menepuk pelan pundak Elang yang sedang melamun, memandang kearah perginya dua ibu-ibu yang baru saja lewat. "Kamu kenapa? Kok bengong sendiri? Kamu kenal sama ibu-ibu tadi?"
Elang menggeleng pelan."Tidak, tapi kenapa saat dua ibu itu menyebutkan nama Nilam tiba-tiba ada perasaan aneh di dalam dada ku."
Meisya mengangguk mengerti. "Apakah tante nilam nirwana yang kamu maksud?" Tanya Meisya. Elang mengangguk antusias, "apakah kamu mengenal orang itu?"
"Apakah ingatan mu telah kembali? Dan apa hubungan mu dengan Tante Nilam?" Tanya Meisya penuh selidik. Elang menghela nafas dengan pelan, sambil menunduk seolah tengah bersedih. "Sudah ku katakan, aku tak mengingat nya. Mungkin saja, aku ini adalah putra nya.
Meisya malah tertawa terbahak, " kau ini, pintar juga memilih seorang ibu, mentang-mentang Tante Nilam itu cantik. Kau dengan mudah nya mengaku sebagai putra nya. Tapi sangat di sayangkan, tante Nilam tidak memiliki anak.
Deg..
Bagaimana mungkin tidak memiliki anak, lalu dirinya ini suapa? Atau mungkin, Nilam yang tengah mereka bicarakan adalah Nilam yang berbeda, bukan Mommy nya.
"Benar kah, apakah dia sudah menikah? Tadi aku tak sengaja mendengar, si ibu Nilam ini pernah menikah dengan pria China?"
Meisya mengangguk, "Ya, tante Nilam memang pernah menikah dengan orang dari China, dan katanya pernah tinggal lama di sana. Dan tidak ada yang tau, apakah tante Nilam sudah bercerai atau belum. Banyak kabar simpang siur tentang itu. Tetapi tante Nilam hanya diam, tidak menanggapi. Sampai sekarang Tante Nilam tak mau menikah lagi. Padahal banyak pria yang mengantri untuk menjadi kan nya istri.
Elang menyimak cerita dari Meisya dengan seksama. "Boleh kah, aku melihat fotonya?"
Meisya mengeluarkan handphone nya, lalu mengotak-atik mencari foto di galeri handphone nya. Setelah menemukan nya Meisya segera menunjukkan foto tersebut pada Elang. Dan Elang segera mengambil handphone Meisya untuk melihat lebih jelas foto tersebut.
Dan benar saja dalam foto itu, sang Mommy sedang memeluk erat tubuh mungil Meisya, seolah Meisya adalah putri nya sendiri. Dengan senyuman yang teramat bahagia, begitu pun Meisya.
Elang langsung mendengus kasar, perasaan nya langsung tak menentu. Memandang Meisya dengan tajam. Seharusnya yang di peluk Mommy nya adalah dia bukan gadis mungil ini.
Karena perasaan nya yang tak karuan. Tiba-tiba saja Elang langsung beranjak pergi begitu saja meninggalkan Meisya, setelah mengembalikan handphone milik Meisya. Meisya hanya mampu menggaruk jilbabnya pelan. "Kenapa dengan dia, kenapa seperti orang marah, setelah melihat foto ini?"
chao jinjing yah thor ...
kesal aku baca jinggo ngakak mulu ingat .... hmm