Kaniya, seorang wanita muda yang berani, menolak perjodohan yang diatur oleh orang tuanya. Dia kabur dari rumah dan mencari perlindungan di perusahaan tempatnya bekerja. Di sana, dia bertemu dengan atasannya, Agashtya, yang juga kabur dari perjodohan orang tua. Mereka berdua bekerjasama untuk menjaga rahasia masing-masing, tapi suatu malam, mereka tak sengaja tidur bersama.
Beberapa bulan kemudian, mereka berdua terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang dijodohkan oleh orang tua mereka tak lain adalah mereka sendiri. Kaniya dan Agashtya harus menghadapi kenyataan bahwa mereka telah jatuh cinta, tapi adakah kesempatan bagi mereka untuk bersama? Dan apa yang terjadi ketika adik mereka, Bintang dan Shanaya, juga saling jatuh cinta satu sama lain?
Kaniya dan Agashtya duduk di ruang kantor, mencoba memahami situasi mereka.
"Apa bapak percaya ini?" tanya Kaniya, suaranya hampir tidak terdengar
Agashtya menggelakkan kepalanya. "Saya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Aku tidak pernah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lari Dari Kenyataan
Taksi biru yang membawa Agashtya di dalamnya telah tiba di depan apartemen. Kini pemuda itu turun dan membayarkan ongkos taksi yang ditumpanginya itu.
"Berapa pak?" Tanya Agashtya, santun
"30ribu Mr, lho bisa bahasa Indonesia ya Mr, saya kira tadi gak bisa ngomong Indonesia..." Sahut sopir taksi yang kira-kira seusia pak Narendra
"Hahaha...bisa pak, saya sedari kecil tinggal di Jakarta ini. Oh ya, ini uangnya, ambil saja kembaliannya buat bapak, anggap saja karena sudah menyelamatkan hidup saya..." Agashtya memberikan selembar uang merah
"Waduh, ini kebanyakan ini Mr, gak ada uang pas gitu?" Ujar sopir taksi itu, sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Tidak ada pak, sudah terima saja, ok. Saya permisi, sekali lagi terimakasih sudah menolong saya..." Ujar Agashtya, yang kemudian berlari kecil sembari melambaikan tangan, dikarenakan tak ingin mengambil kembali uang yang telah ia berikan, padahal dia memiliki jika hanya uang lima puluh ribu
Pemuda satu ini pun memasuki lorong apartemen dan masuk ke dalam lift menuju apartemennya.
Sementara disisi lain, di kediaman Narendra Wijaya, saat ini tampak pak Narendra tengah menggerutu kesal dengan tingkah Agashtya malam ini yang dianggap sudah kelewatan.
"Kemana dia sekarang? Vah bahut sharmanaak hai (Dia sangat membuat malu)..." Omel pak Narendra
"Saber karo daddy, woh zarur lautega (Sabarlah daddy, dia pasti pulang)..." Ucap bu Arunika menenangkan pak Narendra sembari mengusap lembut dada kiri pak Narendra yang kini duduk bersama di sofa ruang tamu
Bintang yang masih berada disana juga duduk di sofa ruang tamu dirumah mewah mereka ini. Ia tampak diam namun berusaha mencari tahu tentang keberadaan Agashtya.
"Daddy, mommy, main ab ja raha hoon (Daddy, mommy, aku pergi dulu)..." Ucap Bintang berpamitan pada kedua orang tuanya itu
Pak Narendra yang masih mengatur nafasnya itu pun mendongak ke arah putra sulungnya itu barulah bertanya kepada putranya itu akan kemana.
"Tum kahan ja rahe ho? (Mau pergi kemana kau?)..." Tanya pak Narendra tegas
Pemuda itu pun menoleh ke hadapan ayahnya dan menjawab dengan santun.
"Main bade bhai ke apartment mein jaana chahta hoon. Mujhe yakeen hai ki wah wahin hai. (Aku ingin pergi ke apartemen kakak. Aku yakin dia pasti ada disana)..." Jawab Bintang yakin
"Ok, Hati-hati dijalan besok ajak dia pulang. Berkatku selalu menyertaimu nak..." Jawab pak Narendra lembut sembari memberikan berkat pada Bintang
"Ok daddy, mommy Bintang berangkat dulu..." Jawab Bintang santun
Perangai Bintang memang jauh lebih tenang dan juga selalu patuh pada kedua orang tuanya sejak kecil.
Walaupun Agashtya sebenarnya juga sama saja dengan Bintang hanya saja dirinya sejak awal ingin menolak perjodohan yang ada.
...****************...
Dikediaman keluarga Permana sendiri juga suasana saling ribut sendiri-sendiri.
"Heran deh sama anak-anak zaman sekarang ini, udah dijodohin sama pilihan yang terbaik malah banyak drama..." Gerutu pak Baskara, kesal
Kaniya yang mendengarkan celotehan sang ayah pun hanya bisa menggeleng kepala dan memutar bola mata jengah. Sementara Shanaya hanya jadi tim pendengar sembari memakan kacang atom yang ia beli tadi.
"Heran banget, waktu itu yang satu pamitan pergi gitu aja, eh...sekarang yang satunya main ngilang gitu aja, entah apa maunya mereka ini, pusing papa..." Cicit pak Baskara, makin menjadi.
"Kan udah dari awal Kaniya bilang gak mau dijodohin pah, tapi kalian gak pernah ngerti juga..." Sahut Kaniya, yang bosan dengan celotehan ayahnya itu
Sebelum pak Baskara mengucapkan kata-kata apapun lagi, kini bu Anindika yang maju paling terdepan untuk melerai perdebatan keduanya.
"Aa...papa, pasti capek hari ini, mending kita tidur aja, Kaniya sama Shanaya juga pasti capek, kan seharian kerja, jadi kalian boleh ke atas sekarang..." Ucap bu Anindika, lembut, agar perdebatan ini sedikit terminimalisir
Kaniya dan Shanaya pun saling memberi kode, barulah keduanya berpamitan untuk menuju kamar mereka masing-masing.
Setelah mereka naik ke lantai atas menuju kamar mereka masing-masing, barulah pak Arya dan bu Anindika kembali membahas mengenai perjodohan itu.
"Pah...yang sabar, coba kita break aja dulu soal perjodohan ini. Kita tunggu waktu yang tepat sampai Kaniya mau dipertemukan sama nak Agashtya..." Ujar bu Anindika, lembut, sembari memegang telapak tangan suaminya itu
"Tapi...kalau pun mereka gak saling tertarik satu sama lain, ya kita sebagai orang tua tidak bisa memaksakan. Kita tidak boleh menjual kebahagiaan anak kita pah..." Ucap bu Anindika, lembut nan bijak
Pria paruh baya disampingnya hanya bisa menghela nafas panjang dan membuangnya kasar ke udara, sedikit tertegun.
"Baiklah mah, papa coba saran dari mama itu, tapi kalau anak-anak tidak cocok, ya sudah, apa boleh buat..." Jawab pak Baskara, bijaksana
"Ya pah, ya udah, ayo kita istirahat, hari sudah larut..." Ajak bu Anindika, lembut
Keduanya pun berjalan menuju lantai atas, untuk ke kamar mereka yang berada tepat di hadapan kamar ketiga anaknya.
Ya, pak Baskara dan bu Anindika memiliki tiga orang anak. Yang paling sulung tak lain adalah Tristan, yang kini sudah menikah dan sudah mandiri dengan keluarga kecilnya.
Tinggal lah Kaniya dan Shanaya, yang masih menjadi kesayangan kedua orang tua ini.
...****************...
Bintang yang tiba di kawasan apartemen milik Agashtya itu pun mulai menekan tombol pin apartemen kakaknya itu.
Saat ia memasuki apartemen itu, tak di dapatinya sosok yang ia cari. Hanya ada aroma tembakau yang sudah terbakar menguar di udara ruangan ini.
Satu tempat yang tak lain adalah kamar utama atau kamar Agashtya menjadi tujuannya saat ini. Ya, sosok yang dicarinya itu berada disana, duduk di lantai dekat ranjang king sizenya.
"Bhaiya..." Ucap Bintang, sedikit berhati-hati
"Ha...ada apa?" Tanya Agashtya, pelan
"Kenapa bhaiya bersikap seperti tadi? Apa semua ini? Rokok tidak baik untuk kesehatanmu bhaiya..." Ucap Bintang, tetap berhati-hati
"Pergilah Bintang. Jangan ganggu aku, biarkan aku sendiri dulu saat ini..." Ucap Agashtya, lirih
"Apa ada masalah yang tengah kau simpan atau bagaimana? Ayolah cerita padaku, aku siap mendengarkan. Oh atau jangan-jangan bhaiya memiliki kekasih, maka dari itu bhaiya menolak perjodohan itu?" Ucap Bintang, masih saja membujuk seorang Agashtya
Agashtya hanya terdiam, sembari menyesap gulungan tembakau halus yang berada di jemarinya, penuh penghayatan.
"Jika aku menceritakan ini, apa kau bisa menjaga rahasia ini?" Ucap Agashtya, pelan, namun penuh penekanan
Agashtya pun menceritakan mengenai kejadian yang dialaminya kemarin malam dan berakhir pada kejadian siang tadi, saat dirinya kebingungan mencari pemain pengganti dalam film yang akan dirilisnya.
Pada awalnya Bintang agak terkejut dengan pengakuan dari kakaknya itu. Namun, ia mencoba untuk mencernanya lebih dalam.
Bintang mendengarkan cerita Agashtya dengan saksama, ekspresinya berubah dari terkejut menjadi penasaran.
"Jadi, bhaiya menolak perjodohan itu karena...?" Tanya Bintang, ingin memastikan
Agashtya mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab.
"Aku tidak bisa menjelaskan, Bintang. Aku hanya tahu bahwa aku tidak bisa menerima perjodohan itu..."
Bintang mengangguk, mencoba memahami.
"Baiklah, bhaiya. Aku percaya padamu. Tapi, apa yang akan bhaiya lakukan sekarang?"
Agashtya memandang Bintang dengan serius.
"Aku tidak tahu, Bintang. Aku hanya ingin mencari cara untuk keluar dari situasi ini tanpa melukai perasaan orang lain..."
Bintang tersenyum. "Aku akan membantu bhaiya. Kita akan cari solusi bersama-sama..."
Agashtya tersenyum lembut, merasa sedikit lega. "Makasih, Bintang. Aku gak bisa melakukannya tanpa kamu..."
Bintang dan Agashtya duduk berdampingan di tepi ranjang bersama, memikirkan strategi untuk membujuk kedua orang tua mereka agar membatalkan perjodohan itu.
"Bhaiya, kita harus punya alasan yang kuat untuk membatalkan perjodohan ini," ucap Bintang, serius
Agashtya mengangguk. "Aku tahu, Bintang. Aku sudah berpikir tentang itu. Aku akan bilang pada mereka bahwa aku tidak siap untuk menikah sekarang..."
Bintang menggelakkan kepala. "Tidak cukup, bhaiya. Mereka pasti akan bilang bahwa perjodohan ini adalah kesempatan baik untukmu..."
Agashtya terdiam, memikirkan strategi lain. "Apa kalau kita bilang bahwa aku tidak cocok dengan gadis itu?"
Bintang berpikir sejenak. "Mungkin bisa, bhaiya. Tapi kita harus pastikan bahwa gadis itu juga setuju..."
Agashtya mengangguk. "Aku akan bicara dengan gadis itu. Semoga dia mau membantu kita..."
Bintang tersenyum. "Aku yakin dia akan membantu, bhaiya. Aku akan bicara dengan adiknya yang bernama Shanaya, siapa tahu dia bisa membantu kita dari sisinya..."
Agashtya tersenyum, merasa sedikit lebih percaya diri. "Kita akan lakukan ini, Bintang. Kita akan keluar dari situasi ini bersama-sama..."
Bintang malam ini tidur di kamar Agashtya dikarenakan keduanya saling mengobrol satu sama lain mengenai unek-unek hati masing-masing.
Bersamboo dulu...