NovelToon NovelToon
STREET FIGHTER

STREET FIGHTER

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang pria yang jago berkelahi dan memulai petualangannya di sebuah kota dan bertemu cinta sejati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 4

Andi tidak punya waktu untuk bernegosiasi dengan sistem digital atau menunggu bantuan dari luar. Gas saraf itu mulai membuat pandangannya kabur dan paru-parunya terasa seperti terbakar. Dalam situasi antara hidup dan mati, ia kembali ke insting dasarnya: kekuatan destruktif yang terkontrol.

Pelarian yang Brutal

"Vektor, tiarap!" bentak Andi.

Andi melihat sebuah tabung pemadam api carbon dioxide (CO2) besar di pojok ruangan. Ia menyambarnya, lalu dengan sisa tenaganya, ia menghantamkan tabung itu ke pipa pendingin cair (liquid cooling) yang mengalir di langit-langit ruangan.

PRAAAK!

Cairan nitrogen dingin menyembur keluar, menciptakan kabut putih instan yang menetralkan gas saraf tersebut. Namun, suhu ruangan turun drastis di bawah nol derajat dalam hitungan detik. Sambil menggigil, Andi mengambil tabung pemadam api tadi dan menggunakannya sebagai palu godam untuk menghantam kaca pengaman yang menuju lorong luar.

Satu hantaman... dua hantaman... Pada hantaman ketiga, kaca itu retak seribu. Andi menabrakkan bahunya dengan kecepatan penuh.

BYAARR!

Andi terjerembap di lorong luar, napasnya tersengal-sengal. Vektor merangkak keluar di belakangnya, gemetar hebat.

"Kau gila," bisik Vektor. "Tidak ada yang bisa selamat dari gas itu."

"Aku sudah terbiasa menghirup asap pelabuhan," geram Andi sambil bangkit berdiri. "Di mana Bara?"

Reuni Berdarah di Jurong

Andi tidak menunggu jawaban. Ia mengikuti kabel serat optik utama yang menuju ke lantai paling atas. Di sana, di sebuah ruangan kantor mewah yang menghadap ke gemerlap lampu Singapura, Bara sedang menunggu sambil menyesap wiski. Ia tidak sendirian; enam orang tentara bayaran dengan senjata lengkap berdiri mengelilinginya.

"Kau selalu keras kepala, Bos," ucap Bara, meletakkan gelasnya. "Kenapa tidak mati saja di Jakarta? Kita bisa saja berbagi kekuasaan ini."

"Kau mengancam Andin, Bara. Itu adalah kesalahan terakhirmu," sahut Andi. Ia berdiri tegak, meski luka di bahunya kembali terbuka dan darah merembes di kemejanya.

Bara tertawa sinis. "Andin? Wanita itu hanyalah jangkar yang menyeretmu ke dasar laut. Lihat dirimu sekarang, gemetar karena kedinginan dan luka. Mana 'Sang Cobra' yang dulu ditakuti seluruh Jakarta?"

Bara memberi isyarat pada anak buahnya. "Jangan gunakan peluru. Aku ingin melihat dia hancur perlahan."

Keenam pria itu maju serentak. Ini bukan lagi perkelahian jalanan; ini adalah pembantaian profesional. Namun, mereka lupa satu hal: Andi adalah petarung yang lahir dari keputusasaan.

Andi bergerak seperti bayangan. Ia menggunakan ruang sempit di antara furnitur kantor untuk memecah formasi lawan. Ia tidak memukul—ia menghancurkan. Sikutnya menghantam pelipis lawan pertama, sementara kakinya mematahkan lutut lawan kedua. Setiap gerakan Andi adalah balasan atas ketakutan yang dialami Andin selama ini.

Dalam waktu kurang dari tiga menit, ruangan itu sunyi. Hanya menyisakan Andi dan Bara.

Pilihan Terakhir Sang Legenda

Bara mencabut pisau lipat yang dulu ia curi dari Andi. "Ayo, Andi. Tunjukkan padaku siapa raja yang sebenarnya!"

Pertarungan antara dua sahabat lama itu pecah. Bara menyerang dengan amarah yang buta, sementara Andi bertahan dengan ketenangan yang mematikan. Pisau Bara berkali-kali menyayat udara, namun Andi selalu selangkah lebih maju.

Hingga akhirnya, Andi berhasil menangkap pergelangan tangan Bara, memutarnya ke belakang, dan menendang bagian belakang lututnya. Bara jatuh berlutut di depan jendela kaca besar yang menghadap ke laut.

Andi menempelkan pisau itu ke leher Bara. "Aku bisa menghabisimu sekarang, dan tidak akan ada yang tahu."

"Lakukan!" tantang Bara. "Jadilah monster lagi, Andi! Buktikan bahwa kau tidak pernah berubah!"

Tangan Andi gemetar. Bayangan wajah lembut Andin saat membawakan teh jahe melintas di benaknya. Ia teringat ucapannya sendiri: Masa depan itu seperti tanah liat.

Andi melepaskan cengkeramannya. Ia membuang pisau itu ke lantai.

"Tidak," ucap Andi pelan. "Membunuhmu hanya akan menghidupkan kembali Cobra. Dan aku sudah menguburnya."

Andi mengeluarkan ponsel milik Vektor yang sempat ia ambil. "Daftar The Archive sudah kukirim ke Interpol, Kepolisian Singapura, dan Komisaris Wijaya secara bersamaan lima menit yang lalu. Dalam sepuluh menit, gedung ini akan dikepung. Kau tidak punya tempat untuk lari, Bara."

Wajah Bara pucat pasi. Ia menyadari bahwa kekuasaan yang baru saja ia cicipi telah hancur sebelum sempat ia nikmati.

Pulang Tanpa Nama

Dini hari di Pelabuhan Merlion. Andi berdiri di dermaga tersembunyi, melihat lampu biru-merah polisi mulai mengepung kawasan Jurong dari kejauhan. Komisaris Wijaya muncul dari balik bayangan sebuah kontainer.

"Kau benar-benar membuatku sibuk, Andi," ujar Wijaya sambil menyalakan rokok. "Interpol sedang berpesta sekarang. The Anchor runtuh di seluruh Asia Tenggara malam ini."

"Bara?" tanya Andi singkat.

"Sudah diamankan. Kali ini, aku sendiri yang akan menjaga kuncinya," jawab Wijaya. Ia menatap Andi dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau tahu, secara teknis kau masih punya catatan kriminal yang harus diselesaikan."

Andi terdiam, siap jika harus diborgol.

Namun, Wijaya justru menyerahkan sebuah paspor baru dan tiket kapal menuju Jakarta. "Tapi... aku rasa dunia lebih butuh seorang guru sekolah daripada seorang narapidana. Pergilah sebelum aku berubah pikiran."

Andi mengambil paspor itu. "Terima kasih, Pak Kompol."

Epilog: Di Bawah Rintik Hujan

Satu minggu kemudian, hujan turun rintik-rintik di Jakarta Utara. Andin sedang berdiri di depan gerbang sekolah, memayungi dirinya sendiri sambil menatap jalanan yang mulai gelap.

Sebuah sosok muncul dari balik kabut hujan. Langkahnya pelan, tubuhnya tampak lelah, namun matanya memancarkan kedamaian yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Andin tidak berlari kali ini. Ia hanya tersenyum dengan air mata yang mengalir di pipinya saat pria itu sampai di hadapannya.

"Semuanya sudah benar-benar selesai?" tanya Andin lirih.

Andi mengambil payung dari tangan Andin, memayungi mereka berdua. "Ya. Kali ini, tidak akan ada lagi koin perak. Tidak ada lagi rahasia. Hanya aku, kau, dan sekolah ini."

Andi menggandeng tangan Andin masuk ke dalam rumah. Di belakang mereka, pintu tertutup rapat, meninggalkan kegelapan malam Jakarta di luar. Sang Cobra telah benar-benar pergi, menyisakan seorang pria yang akhirnya menemukan rumah yang sesungguhnya.

Meski pintu telah tertutup dan lampu di dalam rumah mungil itu memancarkan kehangatan, dunia luar tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Di balik rintik hujan Jakarta yang kian deras, sisa-sisa dari sebuah kerajaan yang runtuh mulai mencari arah baru.

Post-Credit Scene: Bara dan Sisa-Sisa "The Venom"

Lokasi: Lapas Kelas I Cipinang – Satu Bulan Kemudian.

Bara duduk di dalam sel isolasi yang dingin. Wajahnya yang dulu angkuh kini dipenuhi bekas luka baru hasil perkelahian di dalam penjara. Namun, matanya tidak menunjukkan penyesalan; hanya ada kekosongan yang berbahaya.

Seorang sipir mendekat, mengetuk jeruji besi dengan tongkatnya. "Bara, ada kiriman untukmu."

Sipir itu menyodorkan sebuah amplop kecil melalui celah bawah pintu. Bara membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya bukan surat, melainkan sebuah foto lama yang sudah menguning. Foto itu memperlihatkan Andi, Bara, dan sepuluh anggota asli The Venom saat mereka pertama kali menguasai jalur logistik Jakarta Utara sepuluh tahun lalu.

Di balik foto itu tertulis sebuah pesan pendek dengan tinta merah:

> "Viper tidak akan pernah membiarkan Kobra mati dengan tenang. Sampai jumpa di luar."

>

Bara meremas foto itu, lalu tertawa kecil yang berubah menjadi tawa liar yang menggema di seluruh lorong penjara. Ia tahu, meskipun ia mendekam di sini, ada faksi rahasia yang ia bentuk sebelum kejatuhannya—faksi bernama "The Vipers"—yang masih bergerak di bawah tanah, menunggu perintah untuk membalas dendam.

Di Sisi Lain Kota: Masa Depan yang Dibangun

Sementara itu, di sebuah sudut sekolah marjinal yang kini sudah direnovasi total, seorang pemuda berusia sekitar 17 tahun bernama Rian sedang berlatih memukul samsak di halaman belakang. Rian adalah salah satu murid kesayangan Andi, seorang yatim piatu yang dulu hampir terjerumus ke dunia geng motor sebelum diselamatkan oleh Andi.

Andi berdiri di kejauhan, mengamati gerakan Rian yang cepat dan akurat. Ia melihat bayangan dirinya sendiri pada pemuda itu—kecepatan, kekuatan, dan kemarahan yang terpendam.

"Pukulanmu terlalu emosional, Rian," tegur Andi sambil mendekat.

Rian berhenti, napasnya tersengal. "Aku ingin menjadi sekuat Anda, Pak Andi. Agar tidak ada yang bisa menginjak-injak aku lagi."

Andi memegang bahu pemuda itu. "Kekuatan tanpa kendali hanya akan membuatmu menjadi monster. Aku menghancurkan hidupku untuk menyadari itu. Jangan ulangi kesalahanku."

Andi kemudian menyerahkan sebuah kunci gudang kepada Rian. "Besok, kita tidak akan berlatih tinju. Kita akan belajar cara memperbaiki mesin traktor. Jakarta butuh pembangun, bukan petarung."

Penutup Sejati

Malam itu, Andi duduk di teras bersama Andin. Ia melihat ke langit yang kini bersih dari mendung. Ia tahu bahwa ancaman mungkin akan selalu ada—entah itu dari Bara, dari sisa-sian kartel internasional, atau dari masa lalu yang tak terduga.

Namun, Andi tidak lagi takut. Ia telah mewariskan sesuatu yang lebih kuat dari rasa takut: Harapan.

Ia meraih tangan Andin, merasakan detak jantung wanita yang telah menyelamatkan jiwanya. Di kejauhan, suara peluit kapal di pelabuhan terdengar bersahutan, tapi bagi Andi, itu bukan lagi panggilan untuk berperang. Itu adalah melodi dari sebuah kehidupan yang akhirnya ia miliki sepenuhnya.

Di bawah sinar rembulan, tato kobra di punggungnya tampak samar, seolah perlahan memudar seiring dengan luka-luka yang mulai mengering.

Kisah Andi "Cobra" Sulistyo berakhir di sini—sebagai seorang pria, seorang suami, dan seorang guru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!