"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."
Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.
Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
...
..
Hening yang memekakkan telinga menyelimuti kamar penthouse mewah itu saat cahaya fajar mulai menyelinap di sela-sela gorden blackout yang mahal. Kalea terbangun dengan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya—sebuah pengingat kejam atas apa yang terjadi beberapa jam lalu. Di sampingnya, Liam Jionel masih terlelap, wajahnya tampak tenang dan nyaris seperti malaikat, sangat kontras dengan sosok "iblis" yang mendominasi Kalea di bawah pengaruh obat semalam.
Kalea mencoba duduk, namun setiap inci kulitnya terasa perih. Matanya tertuju pada noda merah di atas sprei putih yang kini tampak seperti simbol kekalahannya. Air mata yang sejak semalam ia tahan akhirnya luruh. Setiap sentuhan Liam bukan hanya merobek kehormatannya, tapi juga menghancurkan dinding pertahanan yang selama ini ia bangun dengan susah payah. Di tengah deru napas Liam yang memburu dan kabut gairah yang menyesakkan, Kalea menyadari satu hal: dia telah kehilangan segalanya, kehilangan apa yang telah ia jaga.
Dengan tangan gemetar, ia memungut pakaiannya yang berserakan di lantai. Gaun satin hitam yang semalam tampak elegan kini terlihat seperti rongsokan di matanya. Ia bergegas ke kamar mandi, menyalakan pancuran air panas hingga kulitnya memerah, mencoba membasuh jejak sentuhan Liam yang seolah masih membakar permukaan kulitnya. Namun, rasa jijik itu tidak hilang. Ia merasa kotor, bukan hanya secara fisik, tapi jiwanya terasa telah direnggut paksa.
"Aku melakukannya demi Ibu," bisiknya berulang kali di bawah kucuran air, seolah mantra itu bisa memberinya kekuatan. "Hanya satu malam. Setelah ini, semuanya berakhir."
Namun, saat Kalea keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan bathrobe putih milik hotel, ia mendapati Liam sudah duduk di tepi tempat tidur. Pria itu kini mengenakan celana kain hitamnya, membelakangi Kalea. Otot punggungnya yang kokoh terlihat jelas, namun auranya telah kembali menjadi sedingin es, tidak ada lagi kehangatan gairah yang semalam sempat menyesatkan Kalea.
Liam menoleh, tatapannya tajam dan penuh hinaan, seolah-olah wanita di hadapannya hanyalah sebuah barang murahan yang tidak sengaja ia beli. "Kau masih di sini?" suaranya rendah, serak karena baru bangun tidur, namun penuh otoritas.
Kalea mengepalkan tangannya di balik saku bathrobe. "Uangnya. Sesuai kesepakatan semalam."
Liam tertawa sinis, suara yang membuat bulu kuduk Kalea merinding. Ia berdiri, tingginya yang menjulang membuat Kalea merasa semakin kecil dan tak berdaya. Ia berjalan menuju meja kerja, mengambil selembar cek yang sudah tertulis angka fantastis—angka yang menjadi harga bagi seluruh hidup Kalea.
Liam melangkah mendekat, aroma parfum sandalwood dan maskulinnya kembali menyerang indra penciuman Kalea, memicu trauma sesaat. Ia tidak memberikan cek itu dengan sopan, melainkan melemparkannya ke atas tempat tidur yang berantakan.
"Ambil hargamu," desis Liam dingin. "Aku tidak tahu apa yang ada di otakmu sampai rela menjual diri hanya demi selembar kertas ini. Apa hidup mewah sebegitu pentingnya bagimu hingga kau rela merangkak di tempat tidur pria asing?"
Kalea tertegun. Hatinya perih dihina begitu rupa, namun ia memilih diam. Biarlah Liam menganggapnya haus harta, asalkan ia bisa segera pergi dari sana. Namun, saat Kalea hendak memungut cek itu, Liam mencekal lengannya dengan sangat kuat.
"Kau pikir setelah mendapatkan uangku, kau bisa pergi begitu saja?" Liam menarik tubuh Kalea hingga menempel pada tubuh kokohnya. Ia membisikkan sesuatu yang membuat jantung Kalea seolah berhenti berdetak. "Aku tidak suka berbagi miliku dengan orang lain. Kau sudah menjual dirimu padaku, itu berarti kau adalah properti milik Liam Jionel sampai aku bosan. Jangan mencoba lari, atau kau akan tahu apa arti neraka yang sesungguhnya."
Liam melepaskan cengkeramannya dan berjalan keluar kamar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Kalea yang jatuh terduduk di lantai marmer yang dingin dengan cek di tangannya.
...----------------...
Kalea berdiri dengan kaki gemetar, mengabaikan rasa perih yang masih menusuk di bagian bawah tubuhnya. Ia segera mengganti jubah mandi itu dengan pakaiannya yang sudah tidak karuan bentuknya. Dengan cek senilai satu miliar di genggaman tangannya yang berkeringat, ia berlari keluar dari penthouse megah itu seolah-olah iblis sendiri sedang mengejarnya. Ia tidak peduli pada tatapan dingin para staf hotel yang seolah tahu apa yang baru saja terjadi di dalam sana. Fokusnya hanya satu: Rumah Sakit Medika Utama.
Udara pagi yang dingin menusuk kulitnya saat ia keluar dari lobi. Kalea segera menghentikan taksi pertama yang lewat. Di dalam mobil, ia terus meremas kertas berharga itu, takut jika ia berkedip, semuanya hanya mimpi buruk. Namun, rasa sakit di tubuhnya adalah bukti nyata bahwa mimpinya benar-benar telah menjadi abu.
Sesampainya di rumah sakit, bau antiseptik yang tajam menyambutnya, membawa kembali rasa sesak yang familiar. Ia berlari menuju bagian administrasi, mengabaikan napasnya yang tersengal.
S-saya mau melunasi biaya operasi Ibu Elena," ucapnya dengan suara parau, meletakkan cek itu di atas meja kasir.
Petugas administrasi itu tertegun melihat angka yang tertera dan penampilan Kalea yang tampak kacau—rambut berantakan, mata sembab, dan bekas kemerahan yang samar di lehernya. Namun, uang tidak pernah bertanya dari mana asalnya. Setelah proses yang terasa seperti keabadian, petugas itu mengangguk.
"Pembayaran sudah diverifikasi, Nona Kalea. Operasi Ibu Anda akan segera dijadwalkan satu jam lagi. Silakan menuju ruang ICU."
Lutut Kalea nyaris lemas karena lega. Ia berjalan gontai menuju lorong ruang ICU, tempat ibunya terbaring lemah di balik dinding kaca. Di sana, ia melihat wanita yang paling ia cintai, tampak begitu rapuh dengan berbagai selang yang menopang hidupnya. Kalea menyentuh kaca itu dengan ujung jarinya, air mata kembali mengalir tanpa suara.
"Ibu... aku sudah mendapatkan uangnya. Ibu harus bertahan," bisiknya pilu.
Kalea menyandarkan keningnya pada kaca dingin yang memisahkannya dengan sang ibu. Di dalam sana, ibunya tampak begitu tenang, seolah tidak tahu bahwa putrinya baru saja menukar seluruh harga diri dan masa depannya demi detak jantungnya yang masih terdengar di monitor. Setiap bunyi bip dari mesin pendeteksi jantung itu terasa seperti sayatan di hati Kalea—sebuah pengingat bahwa nyawa ini dibayar dengan harga yang sangat mahal.
"Maafkan aku, Bu," bisiknya dengan suara yang pecah. "Maaf karena aku tidak punya cara lain untuk menjagamu tetap bernapas."
Ia menatap telapak tangannya sendiri yang masih terasa gemetar. Rasa sakit di tubuhnya belum juga hilang, namun rasa sakit di jiwanya jauh lebih menghancurkan. Kalea teringat bagaimana ibunya selalu membanggakan kejujuran dan kehormatannya. Ibunya selalu berkata bahwa meski mereka miskin, mereka punya harga diri yang tak ternilai. Namun sekarang, segalanya telah lumat. Kalea merasa dirinya tidak lagi suci untuk sekadar menyentuh tangan ibunya nanti. Ia merasa menjadi noda dalam kehidupan ibunya yang putih.