Kalandra Wiranata adalah seorang Petugas Pemadam Kebakaran yang bertugas di sebuah Kota kecil.
Kota tempat tinggalnya itu terletak cukup strategis karena tepat berada di tengah - tengah dari lima Kabupaten di Provinsi itu.
Karena tempatnya yang strategis, Timnya kerap kali di perbantukan di luar dari Kotanya.
Timnya, bukan hanya sekedar rekan kerja. Mereka sudah seperti keluarga kedua yang di miliki oleh Kalandra.
Karna sebuah kejadian, Kalandra pun di pertemukan dengan seorang wanita yang ternyata merupakan jodohnya.
Selain perjalanan karir dan cinta, ada sebuah rahasia yang akhirnya terungkap setelah selama ini selalu membuatnya penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Si Raja
Sesampainya di Bandara, Kalandra di jemput oleh salah satu Paman juga Sepupunya. Bahkan, Ni Tuwe pun turut ikut menjemputnya hari ini. Meskipun sudah berumur, namun pria itu masih nampak bugar.
Kalandra yang datang bersama Mama Vina, langsung memeluk dan menyalami Ni Tuwe. Tampak kerinduan yang amat sangat pada Ni Tuwe kala memeluk Kalandra, cucu kesayangannya.
"Sudah lama gak jenguk Ni Tuwe. Sudah lupa, kah, kalau Ni Tuwe ini masih hidup?" Tanya Ni Tuwe sambil memukul - mukul pelan bahu cucunya.
"Mana mungkin Kal lupa. Maaf ya, Ni Tuwe, Kal baru sempat karena banyak pekerjaan yang Kal kerjakan." Jawab Kalandra.
"Emang cucu kesayangan tuh beda. Baru juga enam bulan gak ketemu, udah sampe di bilang lupa kalau Ni Tuwe masih hidup. Gimana kalau kayak orang lain? Yang cuma bisa pulang satu tahun sekali." Kekeh Paman Kalandra yang sudah tak heran dengan tingkah Ayahnya.
Bukan lagi rahasia, semua orang pun tau bagaimana kedekatan Kalandra dengan Kakeknya. Kakeknya itu sangat menganak emaskan Kalandra. Meskipun begitu, beruntungnya tak ada cucu lain yang cemburu, karena Ni Tuwe tetaplah hangat pada cucunya yang lain.
Mereka pun segera menuju ke rumah Ni Tuwe. Sepanjang perjalanan, mereka nampak mengobrol dengan hangat. Kedatangan mereka pun di sambut hangat oleh kakak - adik Mama Vina yang tinggal satu Desa dengan orang tuanya.
Dari delapan bersaudara, hanya Mama Vina dan adiknya yang tinggal jauh dari orang tuanya. Enam saudaranya yang lain, tinggal satu desa dengan orang tuanya.
Walaupun terbilang sering berkunjung, namun tetap saja kedatangan mereka bak sebuah hadiah. Mereka di sambut dengan hangat dan meriah setiap kali berkunjung ke sana.
"Kenapa sih, Kal? Ada kerjaan mendadak?" Tanya Mama Vina saat melihat Kalandra yang nampak sibuk memeriksa ponselnya.
"Enggak, Ma." Jawab Kalandra.
"Lalu?"
"Gak apa - apa." Jawab Kalandra sambil tersenyum.
"Eh iya! Nana hari ini sidang skripsi, kan?" Tanya Mama Vina yang di jawab anggukan oleh Kalandra.
"Gimana hasilnya?" Tanya Mama Vina.
"Alhamdulillah lancar." Jawab Kalandra sambil menunjukkan foto Naina yang membawa buket bunga juga memakai selempang keberhasilan meraih gelarnya.
"Maa Syaa Allah, cantik banget." Kata Mama Vina sambil tersenyum.
"Pai, Ndai, lihat ini calon cucu menantu." Kata Mama Vina yang tiba - tiba membawa kabur Ponsel Kalandra.
"Astaghfirullah. Kebiaasaan deh, Mama. Seneng banget ngasih pengumuman." Kata Kalandra sambil menghela nafas saat melihat Mama Vina yang heboh menunjukkan foto kekasih Kalandra pada kedua orang tuanya juga keluarganya yang lain.
Seketika, suasana pun menjadi riuh dan heboh. Pasalnya ini adalah kali pertama Kalandra memberi taukan kekasihnya pada keluarga.
"Cantik kekasihmu, Kal." Kekeh Ni Tuwe.
"Wah ya jelas lah, Pai. Lihat saja gimana tampannya keponakanku ini." Sahut Paman Kalandra sambil merangkul Kalandra.
"Ajak kesini lain waktu." Kata Ni Tuwe.
"Iya, Ni Tuwe. Nanti Kal ajak ke sini kalau mau menikah." Jawab Kalandra.
"Kapan mau menikah? Bulan depan, kah? Paman siap - siap dulu kalau begitu. Nanti Paman bawakan kerbau paling besar untuk pestamu." Ujar Paman Kalandra yang membuat Kalandra terkekeh.
"Belum, Paman. Belum ada rencana untuk menikah. Nana masih baru selesai kuliah, biar dia menikmati perjalanannya dulu." Jawab Kalandra sambil tersenyum.
"Ni Tuwe, ada yang mau Kal tanyakan." Ujar Kalandra.
"Apa? Bilang saja." Jawab Ni Tuwe.
"Siapa sosok yang selalu ada bersama Kal. Pria tinggi besar memakai pakaian kustin dan di pundaknya bertengger burung rangkong?" Tanya Kalandra yang membuat Ni Tuwe dan Pamannya terdiam.
Wajah kedua pria itu pun berubah serius setelah mendengar pertanyaan dari Kalandra.
"Siapa yang tau tentang sosok itu?" Tanya Paman Kalandra.
"Ada beberapa teman Kal dan juga Nana." Jawab Kalandra.
"Nana, kekasihmu itu?" Tanya Pamannya yang di jawab anggukan oleh Kalandra.
"Apakah beliau itu leluhur kita?" Tanya Kalandra.
Ni Tuwe masih terdiam. Ia kemudian menyalakan rokok racikan sendiri dan menyesapnya dalam - dalam sebelum menghembuskan asap putih yang cukup tebal.
"Ya, bisa di katakan seperti itu. Beliau adalah Raja. Kami biasa memanggilnya begitu." Ni Tuwe memulai ceritanya.
"Dulu, Orang tua dari Nenek Buyut Ni Tuwe, lama tak memiliki keturunan. Segala macam cara mereka lakukan termasuk melakukan ritual untuk memohon keturunan pada leluhur. Singkat cerita, Beliau berhasil mengandung setelah melakukan beberapa kali ritual. Beliau mengandung di usianya yang ke empat puluh tahun." Ujar Ni Tuwe.
Kalandra mendengarkan dengan seksama cerita dari Ni Tuwe.
"Setelah itu, lahirlah seorang anak perempuan. Anak perempuan itu adalah satu - satunya putri mereka. Ya, Beliau itulah Nenek Buyut Ni Tuwe. Kehidupan pun terus berlangsung. Putri satu - satunya itu juga menikah dan memiliki keturunan. Hingga suatu saat, Nenek Buyut yang sudah tua renta dan sakit - sakitan itu merasa sangat menderita. Nenek Buyut ingin mati, karena sudah lelah. Selain karena penyakitnya, juga karena usianya yang memang sudah lebih dari seratus tahun. Padahal Nenek Buyut sudah tidak bisa apa - apa, hanya di ranjang dan bahkan sudah sulit merespon pembicaraan. Beliau sudah seperti mayat hidup."
"Karena tak kega, anak - anaknya pun kemudian mencari dukun untuk mengetahui apa yang terjadi, kenapa Ibu mereka itu sulit meninggal padahal kondisinya sudah sekarat. Usut punya usut, hal itu karena Raja yang menjaganya tak mau jika anaknya itu meninggal. Ia masih ingin terus menjaga anaknya, karena si Raja ini tak memiliki anak karena Ratunya mandul. Ternyata, dulu kedua orang tua Nenek Buyut itu membuat perjanjian dengan si Raja. Jika mereka di beri keturunan, maka Raja itu boleh menjaga anak mereka. Memang tak banyak yang di minta, Raja hanya ingin menjaga keturunannya. Tapi ya itu, ia juga tak mau melepaskan keturunannya untuk berpulang." Kata Ni Tuwe. Ia pun menghela nafas lalu kembali menghisap rokok di tangannya.
"Setelah menjalani negosiasi yang alot, pada akhirnya Raja itu rela melepaskan Putrinya, tetapi dengan syarat, ia akan menjaga 'titisannya' yang lain. Siapapun anak yang memiliki darahnya, maka ia akan menjaga anak itu." Kata Ni Tuwe yang menyelesaikan ceritanya.
Kalandra pun terdiam. Setelah mendengarkan cerita Ni Tuwe, ia akhirnya mengetahui sosok yang menjaganya.
"Lalu, kenapa aku?" Tanya Kalandra.
Ni Tuwe menggeleng. Ia terdiam sejenak sembari menikmati hisapan terakhir rokoknya.
"Ni Tuwe pun tak tau. Semua itu atas kehendak si Raja. Kita tidak tau siapa yang di pilih Raja itu untuk ia jaga. Yang pasti, jika orang itu di jaga oleh Raja, berarti orang itu adalah titisannya." Jawab Ni Tuwe.
"Apa nanti aku juga akan sulit meninggal seperti Nenek Buyut?" Tanya Kalandra. Tentu ia merasa takut akan mengalami hal yang sama.
"Tenang saja, Raja akan melepaskanmu jika titisannya yang baru sudah lahir. Tetapi, memang tak di semua generasi ada titisannya." Jawab Ni Tuwe.
"Setelah Kakak pertama Ni Tuwe, ternyata kamulah titisannya." Kata Ni Tuwe.
"Pantas saja, Julak dulu meninggal tak lama setelah Kal lahir." Ujar Paman yang mengambil kesimpulan.
Kalandra terdiam, apa yang di ceritakan oleh Kakeknya, seperti sebuah dongeng belaka. Namun, ia tak mungkin tak percaya. Terlebih beberapa orang sudah melihat sosok Raja itu kerap kali ada bersamanya.